"aah... "
"haaah.... "
suara berat yang mendayu-dayu membuat ku menikmati rasa sensasi yang tak terbayangkan, genggamannya begitu kuat seakan joki profesional dalam arena balap kuda. tatapan sendunya selalu berkata bila ia mencintai ku...
"gimme faster... boy" tulus dari hati ku
"okay.. bebh" balasnya
***
"Sinta... aku benar-benar mencintaimu" ucapnya
"(aku tersenyum dan mencium keningnya) aku pulang dulu ya, sampai ketemu di kantor besok"
aku pergi dari tempat nya, membawa perasaan bersalah pada nya juga pada suami ku, namun entah sejak kapan aku terjebak dalam situasi ini, hubungan kami awalnya tidak lebih dari sekedar teman... friend with benefits.
"halo... mas, kamu udah pulang belum? mau aku jemput enggak? "
"gak usah yank mas naik busway aja, lagi di kantor masih banyak karyawan yang lembur yank" jawab suami ku dengan suara lelahnya
"kalau gitu aku langsung jemput Dinda ya di rumah mama" jawab ku tetap fokus menyetir.
"iya yank, makasih banyak ya yank" ucapnya dan aq bergegas untuk menjemput anak ku
***
setelah sampai rumah seperti biasa aku hanya merawat diri ku juga anak ku, karena urusan rumah, suami ku sudah mengurusnya dengan baik. aku merasa kasihan padanya tidak di kantor dan juga di rumah ia selalu mengurus segala kebutuhan. berbeda dengan ku yang hanya bisa meeting mengurus dokumen dan semacamnya, banyak proyek besar yang aku tangani sampai-sampai aku lupa padanya juga cinta ku untuk nya.
"yank... aku pulang" ucapnya sambil membuka pintu kamar.
"mas... udah makan belum? " tanya ku sambil berusaha melihat jelas wajahnya.
"mas udah makan, Sinta tidur aja" ucapnya sambil menutup pintu kamar.
***
aku melihat suami ku pagi-pagi sudah bangun menyiapkan sarapan untuk kami, aku meminum kopi buatannya.
"mas udah rapih, mau berangkat sekarang?" tanya ku
"iya mas harus berangkat pagi-pagi, mau ada rapat direksi yank, jadi harus nyiapin ini itu dulu" jawabnya sambil menyiapkan bekal untuknya
"aku juga ada rapat nanti yank"
"oh ya... di mana yank? di kantor Sinta atau di kantor klien? "
"di J-Center" ucap ku, suami ku sepertinya terkejut dan tidak lama berpamitan lalu pergi.
ia pasti merasa rendah diri lagi terhadap ku, yang saat ini akan mengunjungi kantor nya sebagai rekan-rekan atasannya.
***
"wah bu shinta... ini memang sangat cantik, beruntung laki-laki yang bisa mendapatkan bu shinta" ucap pak Roy sambil berjapat tangan menyambut kedatangan kami.
"bapak bisa aja..." jawabku.
lalu duduk pada kursi yang telah di sediakan. semua rekanan dan direksi perusahaan dari beberapa anak perusahaan pun telah berkumpul.
"oliv tolong panggil Dimas kesini" suruh pak Roy pada sekertaris nya.
*mas... *
selang beberapa lama suami ku menyuguhkan beberapa kopi di meja kami, wajahnya memerah tertunduk dan malu, aku mengerti dan aku hanya bisa menyembunyikan kesedihan ku.
dahulu aku hanya seorang istri yang berbakti, namun ketika aku bekerja hanya ambisi yang menyelimuti hati ku, ambisi untuk keluar dari keadaan yang susah secara ekonomi.
suami ku selalu mendukung setiap hal yang aku kerjakan, dan begitu pun aku padanya, alhasil aku sekarang menduduki jabatan tinggi sedang suami ku masih menjadi pesuruh di kantor nya.
setiap kali aku mengingatnya aku hati ku terasa teriris pada tiap bagiannya. begitu tidak adilnya nasib pada suami ku dan terlebih penghianatan ku pada nya.
rapat pun selesai ketika aku ingin menaiki mobil, suami ku berlari dengan perasaan sedihnya sambil memeluk ku, ia merasa sangat hina dan rendah akan jabatannya dengan ku.
"mas... sabar ya yank, aku akan bawa kamu di kantor ku, sekarang aku lagi usahain mas"
"gak apa-apa, mas bisa... mas minta doa nya aja supaya mas dapat pengangkatan tahun ini"
"mau sampai kapan mas?!! kamu udah bertahun-tahun di sini tapi gak ada pengangkatan, sedangkan teman kamu yang kondite nya gak bagus udah di angkat jadi karyawan tahun kemarin, kamu yang selalu jadi andalan kenapa gk pernah ada pengangkatan!!" ucap ku marah
"sabar yank pasti ada nanti, kalau gitu mas balik lagi ya" ucapnya sambil mencium kening ku.
terkadang aku mengerti kenapa aku seperti ini, itu karena sifat keras kepala nya yang tidak pernah berubah.
***
"shinta...ini tolong periksa lagi kerjaan ku, aku sudah memperbaikinya"
"ok, nanti aku periksa... " jawab ku tanpa mempedulikan nya
"kamu kenapa?" ucapnya sedikit kawatir
"ah... aku gak apa-apa, kamu masih ada yang perlu diomongin? kalau gak ada hal lagi keluar dulu ya Hans aku pengen sendirian" pinta ku yang memang saat ini aku benar-benar ingin sendiri.
ia keluar dengan wajahnya yang sedikit kesal, ia tahu bila sikap ku seperti ini pasti karna aku sedang kesal dengan suami ku.
***
"bu shinta... saya pamit pulang dulu ya bu... "
"oh iya rena... makasih ya, Anak-anak yang lain udah pada pulang semua? "
"sudah bu, tinggal pak Hans aja bu yang masih lembur"
*dia belum pulang*
"oh Iya sudah kalau begitu hati-hati ya ren... "
"baik bu... "
***
sudah jam 10 aku menghabiskan waktu di sini kebetulan kerjaan ku juga sudah selesai.
"halo... kenapa mas? " tanyaku terdengar suara ceria dari sebrang sana
"eh mas udah di rumah ya... aku masih di kantor mas sebentar lagi pulang" sambung ku
"iya yank, ini dinda biasa kangen yank... iya udah kalau gitu hati-hati nanti ya yank"
"iya mas, paling jam 12 sampe rumah karna macet banget pasti di tol"
"iya gak apa-apa yang penting shinta hati-hati ya di jalan, dah mamah.... coba dinda bilang.... dah mamah"
"dah sayang" telepon pun terputus, dan aku segera membereskan pekerjaan ku sedikit lagi.
***
"shinta... " ucap nya yang setengah berlari ke arah ku.
aku terus berjalan berpura-pura tidak mendengar nya, jujur saja aku lelah dengan hubungan dan perasaan ini.
"jangan begini shinta... " ucap nya yang berhasil menahan ku
"Hans sudahi saja aku lelah... " keluh ku
"tidak... dan tidak akan pernah, sudah sejauh ini aku mendapatkan mu shinta walaupun tidak dengan hati mu" ucap nya dengan tatapan kecewa
"kalau begitu untuk apa dilanjutkan? kalau sudah tahu akhirnya" ucapku lirih
"bodohnya aku, selalu ingin disamping mu dan disisi mu" ucap nya membelai rambut ku
"kau mencintai orang yang salah Hans... " jawab ku berlalu dan pergi ke dalam mobil.
"bukan kamu yang salah melainkan waktu yang tidak tepat, shinta... tunggu"
"Hans aku mohon jauhi aku... " ucap ku pada nya ketika ia memaksa masuk kedalam mobil.
"tidak... dan tidak akan pernah" ucap nya menggenggam tanganku dengan mata yang berkaca-kaca
"aku sudah menikah kamu tahu itu, suami ku, anak ku... " aku putus asa menyadarkannya
"aku tahu dan aku tidak perduli, itu keluarga mu bukan Keluarga ku, aku tidak perduli bila harus jadi yang ke dua, bila harus jadi simpanan mu, bila harus jadi bit**h untuk mu, aku hanya ingin kamu bagi ku itu cukup"
"kamu gila...! "
"iya aku gila karna kamu!!" bentaknya lalu mencoba paksa untuk mencium ku.
sekuat tenaga aku menolak nya sekuat itu juga ia mendorong ku ke dalam pelukannya. nafasnya berderu kencang, saat ini ia marah dan melampiaskan nya, sudah sering aku meminta untuk berpisah dengannya, sesering itu pula ia menolak untuk berpisah dengan ku.
aku mulai kehabisan akal sehat ku, tidak bisa menolaknya lagi bahkan saat ini pasrah pun bukan jalan terbaik, nafasku mulai habis, ia tidak memberi ku kesempatan, saat ini aku harus mengikuti cara mainnya biar ia puas dan melepaskan ku.
aku membalas tiap serangannya dengan sempurna, perlahan membuatnya sedikit tenang, dan melepaskan ku.
"kamu milikku shinta... " ucap nya sedikit memberi ku kesempatan bernafas.
tangannya mulai menahan kedua tanganku, jok mobil mulai di turunkan sampai merebah, secara paksa ia memasuki area ku.
pikiran ku melayang tidak terkendali, ia mulai menjelajahi tubuhku dengan lidahnya. aku meronta namun, tidak bisa lepas dari cengkraman nya.
"cinta sepihak memang sangat menyakitkan... " ucap nya lemas berbaring di atas tubuh ku.
entah harus bagaimana lagi aku menyudahi ini semua, rasa cintaku pada suami ku memudar. gairah ku menghilang namun dengannya aku merasa kembali hidup.
haruskah aku memilihnya dan meninggalkan keluarga kecil ku?? perasaan ku pada suami ku saat ini hanya sebatas kasihan, sayang dan bapak dari anak ku, tidak ada kata cinta lagi untuk nya.
***
"yank... capek ya... " kode suami ku
"iya yank, aku pengen tidur malam ini, besok ya yank aku janji... " ucap ku namun melihatnya aku merasa bersalah.
"iya gak apa-apa yank, maaf ya mas gak tahu diri padahal mas tahu kamu capek lembur... met bobo ya yank" ucap nya mencium kening ku.
aku merasa lelah dengan perasaan dan keadaan ku, tidak seharusnya api ini aku hidupkan. aku memeluk tubuh suami ku dari belakang tanpa sadar menangis sambil memeluknya yang telah tertidur.
***
"mamah.... itu... ada, apa tuh mah... om mah" ucap anakku dinda yang masih belum jelas
"kenapa nak...mama lagi masak dulu ya" balas ku
"om mah... "
"apa nak... sebentar ya... " balas ku sambil mengusap rambut dinda
"mamah... nen... huwaaaaaa" rewel dinda
"iya sayang sebentar dulu nak" ucapku sambil mematikan kompor dan membawa dinda ke kamar.
setelah dinda tertidur aku kembali ke dapur dan membuatkan kopi untuk suami ku, samar aku mendengar suami ku sedang berbincang mungkin saja saat ini ia sedang video call dengan keluarga nya di kampung.
"yank ini kopinya... lho pak Hans?!" ucapku setengah terkejut
"maaf saya gak WA bu shinta dulu, kebetulan saya lewat sini jadi sekalian mampir kasih surat dinas untuk bu shinta"
"lho kok mendadak ya pak" ucapku yang tanpa sadar duduk di samping suamiku
"yank... itu" kode suamiku menunjuk pakaian ku saat ini
aku tidak menyadari bila aku masih memakai piyama sutra sedikit transparan dan tertutup motif tulip dibagian tertentu saja. sontak aku berlari ke kamar namun Hans mencegah dan langsung pamit dari kediaman ku dengan wajah sedikit memerah.
***
-drrrt. drrrt. drrrt-notif WA
-shinta! kamu gila?! bagaimana bisa kamu dengan dimas??!! - Hans
-wajar saja dimas suami ku, untuk apa dipertanyakan-
-kamu akan menyesal!-Hans
"haah.... " aku menghela nafas
terdengar langkah kaki sedikit menekan mengarah padaku, ya suamiku marah atas kecerobohan ku berpakaian seperti itu ketika ada Hans, tentu aku tidak Terima karena semalam ia memintaku untuk mengenakan ini, ditambah aku pikir tidak akan ada tamu yang datang karena biasanya seperti itu.
"maafin mas ya yank" suami ku mengalah
"... " aku terdiam karena kesal padanya
"oya perjalanan dinas kali ini cukup lama, gimana dengan dinda? "
"aku juga bingung mas... gimana kalau kita pergi bareng-bareng aja mas" ajakku
"mas gak bisa ijin mendadak"
"selalu!" ucapku kesal
"coba ajak mamah, atau tante iren" usul suamiku
"mama gak mungkin karena gak bisa ninggalin papa juga dedek kan masih harus sekolah, ajak tante iren pun sama gk bisa juga... Anak-anak nya masih sekolah" keluh ku mengingat perjalanan ini memakan waktu 7 hari 6 malam.
"kalau gitu dinda aku bawa aja mas, nanti kamu nyusul, mobil aku tinggal, karena kesana ny sama pak Hans nanti aku coba nebeng dulu sama dia mas" usul ku
"iyaudah begitu aja, paling hari ke 3 mas sampai" ucap nya sambil menciun kening ku lalu pergi untuk mandi.
***
perjalanan kami dimulai, aku bersama dinda pergi dengan hans, saat ini hans tidak berhenti tersenyum melihat kami, aku mengerti ia sangat bahagia membayangkan bila ini keluarga kecilnya, setidaknya aku bisa memberi sedikit kenangan indah walaupun itu semu.
"sin... makasih banyak ya" ucap hans sambil menyetir
"Terima kasih untuk apa?"
"semuanya tentang mu, Terima kasih telah melahirkan dinda... " ucapnya sambil mengusap kepala dinda yang tertidur di pangkuan ku.
"lucu banget sih kamu hans, dinda kan anak aku... "
ucap ku dengan senyum sipu
"karena itu anak mu, aku menyayanginya, aku mencintaimu dan dinda adalah separuh dari belahan hati mu, perjuangan mu dan cinta mu, aku... " ucap hans berkaca-kaca lalu diam kembali serius mengemudi
suasana kembali hening, entah kenapa aku merasa canggung, mungkin ia mengingat kejadian 12tahun lalu saat kami kuliah bersama, seandainya waktu dapat ku ulang kembali, aku memilih untuk tidak bertemu dengan mu juga dimas.
hans tetap fokus mengemudi namun seperti nya ia marah pada ku atas kejadian 12 tahun lalu. pandangan nya tetap fokus sambil mencari lagu di radio.
*Hai sobat GEN, yang lagi galau2 mana nie suaranya coba diangkat tangannya hehehe, ni mimin mau kasih lagu yg vibes nya positif lovely, sweet lah pkoknya staytune di Gen*
-Be my only one... lee hi-
****
"kamu gendong dinda aja ya, biar ini aku yang bawa" ucap hans lalu mengantar kami ke kamar hotel.
"makasih ya hans"
"jangan sungkan... kalau gitu aku ke kamar dulu ya, kalau ada apa-apa panggil aja ok" ucapnya sambil mencium kening ku lalu pergi ke kamarnya yg tepat di depan kamar ku.
aku cepat membuatkan makanan untuk dinda, alih-alih kalau ia kebangun nanti, saat ini dinda sudah tertidur nyenyak mungkin ia merasa lelah karena ini perjalanan jauh pertamanya. aku bergegas mandi takut bila dinda terbangun.
"yank... udah sampe belum?" suara lelah suamiku
"udha ni, baru aja aku selesai mnadi, dinda juga lagi bobo yank, mau vc?" ucap ku
"mau yank"
"tuh udah bobo anak nya, kamu udah makan belum mas?" tanya ku
"udah yank, iyaudah istirahat ya pasti capek, kalau gitu mas mandi dulu ya yank kebetulan sama mas juga baru sampe" ucap nya lalu telepon kami berakhir.
tok tok tok
"hans... kenapa?" tanya ku dari celah pintu
"malam ini saja aku ingin tidur dengan dinda"
"kamu gila?! enggak bisa hans!"
"Sinta aku janji kali ini aja ok, atau aku dobrak pintu ini" ancam nya
dengan kesal aku membuka dan mengizinkannya masuk. ia langsung berbaring disamping dinda...
"pa... pa" dinda mengigau
"iya sayang ini papah" ucap hans dan mencium kening dinda
lalu kami pun tidur bersama...
*continue...