Nenek Daksa sang Ninihaji Rakai Watan istri dari Sang Lumah I Pastika.
Yang biasa disebut sang Lumah I Pastika adalah Rakai Pikatan.
Biasanya rakai Pikatan dianggap suami dari Pramodawardani. Nyatanya dia adalah suami dari Rakran Watan Pu Tamer. Bahkan para ahli banyak menyebut kalau pu tamer adalah istri keduanya.
Pada prasasti Siwagreha Jatiningrat berperang melawan walaputra di desa iwung. Walaputra dianggap sama dengan Balaputradewa raja Suwarnadwipa.
Dalam Prasasti Wanua Tengah III namanya ditulis sebagai Rakai Pikatan Dyah Saladu yang memerintah pada tahun 768 Saka. Pada Prasasti Mantyasih di tulis Sri Maharaja Rakai Pikatan sebelum Rakai Kayuwangi. Pada percandian Loro Jonggrang disebut pada salah satu candi menggunakan cat warna merah. Pada Plaosan juga ditulis Asthupa Sri Maharaja Rakai Pikatan. Selain itu ia masih di sebut dalam beberapa prasasti pada masa pemerintahannya atau pada masa sesudahnya.
Prasasti Tulang Air dan Wayuku memperingati pemberian sima untuk bangunan di desa Tulang Air dan Wayuku. Sementara prasasti Prambanan yang di tulis dibalik prasasti Siwagreha bunyinya sulit dibaca karena huruf-hurufnya sudah aus. Namun jelas menggunakan huruf Siddham seperti prasasti para raja Syailendra lainnya. Jadi usianya kemungkinan lebih tua dari prasasti Siwagreha yang di tulis oleh Dyah Lokapala. Isinya mungkin menceritakan tentang suatu peristiwa atau peresmian suatu sima bagi bangunan tertentu, pada masa raja-raja sebelum Lokapala. Kemungkinan sekali dibuat oleh Rakai Panangkaran atau Samaratungga, karena seperti diketahui huruf tersebut biasa dipakai pada masa raja ini berkuasa.
Sementara menurut bacaan beberapa ahli, prasasti Siwagreha menceritakan tentang perebutan kekuasaan antara Jatiningrat dengan Walaputra yang akhirnya dimenangkan oleh Jatiningrat atau nama lain dari Rakai Pikatan. Jati berati kelahiran dan Rat berarti dunia, terjemahan secara umumnya suatu awal kehidupan di dunia sebagai seorang yang bersih. Gelaran ini mirip dengan yang dipakai oleh raja Airlangga saat menjadi pandhita, mengundurkan diri dari keduniawian. Singkatnya nama itu dipakai oleh seorang raja yang telah mundur dari pemerintahan. Setelah menang kemudian mendirikan sebuah candi pendarmaan. Namanya juga dituliskan dengan tinta merah pada salah satu Candi Prambanan yang menandakan dan sebagai bukti tambahan bahwa ia ikut serta membangun komplek candi kerajaan itu. Selain itu di Candi Plaosan namanya juga ditulis bersama-sama pembesar kerajaan lain. Adanya prasasti pendek ini mengindikasikan suatu kerjasama yang erat antara Pikatan dengan Keluarga Syailendra, tentunya jika saja dia berasal dari wangsa yang berbeda. Tapi kenyataan bahwa dia juga dari wangsa Sailendra, maka hubungan ini kemungkinan karena para penerusnya yang ikut andil dalam pembuatan serta pengelolaan candi-candi yang dimaksud.
Masih berdasarkan catatan para ahli, saat itu, Jatiningrat berseteru dengan Walaputra. Hal ini di baca pada prasasti Siwagreha yang bagian tersebut sudah aus hurufnya dan banyak menimbulkan penafsiran berbeda dari para ahli. Pikatan dianggap sebagai menantu raja Samaratungga. Istrinya adalah Pramodawardhani. Samaratungga mempunyai anak lain bernama Walaputra. Jatiningrat merasa berhak atas tahta berdasarkan istrinya yang putra mahkota sebagai permaisurinya. Sedangkan Walaputra yang juga disebut Balaputra menurut prasasti Nalanda anak Dewi Tara putri Darmasetu, juga merasa berhak atas tahta karena ia keturunan laki-laki dari raja sebelumnya. Dimungkinkan ia anak selir. Jika bukan, ia anak kandung Samaratungga tetapi bukan yang pertama. Karena anak yang pertama adalah Pramodawardhani. Samaratungga lengser dari tahta, mungkin mandita mundur dari dunia ramai atau meninggal, tapi kelihatannya telah meninggal, karena jika masih hidup walaupun menjadi pertapa ia bisa melerai pertikaian antar saudara tersebut. Sebagai perbandingan dalam Pararaton ketika Suhita perang dengan Wirabumi, ayahnya yang telah mundur dari pemerintahan menjadi raja kembali dan berusaha memadamkan pertempuran.
Ketika terjadi pertempuran yang terjadi selama satu tahun, Jatiningrat berhasil mengalahkan musuhnya Walaputra yang tinggal di keraton Walaing. Mestinya Pikatan tinggal di daerah Prambanan juga karena banyak peninggalannya yang ada di situ. Atau keratonnya ada di Mamrati? Karena pada akhirnya Jatiningrat bertahta di Medang Mamratipura. Tapi kelihatannya Mamrati itu letaknya di Prambanan juga, dengan alasan banyak peninggalan-peninggalan di masa Pikatan, merupakan nama lain dari Jatiningrat yang ditemukan. Contohnya Candi Lorojonggrang dan Candi Plaosan. Andaikata bukan di Prambanan tempat yang paling mungkin adalah di sekitar Candi Borobudur. Disana juga ditemukan peninggalan-peninggalan pada masa itu, khususnya pada jaman raja Samaratungga. Dan peresmiannya ketika ratu Kahulunan bertahta.
Pertempuran antara Jatiningrat dan Walaputra terjadi di desa Iwung. Banyak ahli yang menduga desa ini di pegunungan Boko. Karena ada sisa-sisa keraton dengan parid-parid perlindungan yang sangat pantas untuk benteng pertahanan. Apalagi tempat itu bernama Dawung atau Dowang yang sangat mirip dengan kata Iwung. Itulah beberapa catatan para ahli yang berkembang.
Tetapi ada pemikiran lain ketika terbaca tulisan pada prasasti Rukap yang isinya menceritakan tentang ditetapkannya sima bagi Rakryan Sanjiwana Ninihaji dari Rakai Watukura untuk bangunan pencandian di desa Limwung. Menurut prasasti itu juga pendarmaan tersebut (kamulan) pernah hancur karena letusan gunung. Tetapi mengingat pernah terjadi pertempuran besar dalam perebutan kekuasaan di desa Iwung, mungkin juga tempat itu justru hancur ketika perang terjadi, dimana pihak yang kalah mesti kehilangan harta benda serta nyawa ketika harus menerima kenyataan pahit tersebut. Jika ini benar maka letusan gunung (sangka yang hilang dening guntur) adalah suatu ibarat karena ada peristiwa besar yang tidak diinginkan yakni peperangan. Bahkan menurut prasasti Pereng ada kemah-kemah prajurit diantara ladang-ladang rumput liar itu.
Atau memang terjadi letusan gunung yang sesungguhnya, yang dalam peristiwa ini Merapilah kemungkinan besar penyebabnya. Lihat saja komplek percandian Sambisari yang terpendam hingga enam meter lebih. Dan ada candi yang hingga tertimbun dalam tiga tahap letusan. Mungkin saja pada masa sebelum Balitung dan setelah dibangunnya candi pendarmaan Rakryan Sanjiwana terjadi letusan dahsyat. Namun mengapa hanya candi itu saja yang mendapat perhatian? Dalam hal ini Kamulan yang di tulis pada prasasti Rukap kiranya candi Sojiwan. Sebab namanya berhubungan dengan Sanjiwana. Atau kamulan ini Candi Borobudur? Mengingat kamulan pada prasasti Kahulunan di hubungkan dengan candi Borobudur. Apalagi kemuncak candi tersebut di temukan dalam keadaan rusak yang memang disebabkan oleh sambaran petir. Jika Sojiwan yang dimaksud, mestinya pencandian Lorojonggrang dan sekitarnya juga mengalami nasib sama. Dan kenyataan bahwa candi-candi itu di temukan dalam keadaan tertimbun semak dan tanah, memungkinkan untuk terjadi keadaan yang sama, meskipun tak tercatat pada prasasti.
Yang jelas desa Limwung yang kurang lebih ada di sekitar candi Sojiwan, dari kata Sanjiwana, kemungkinan pernah menjadi ajang perang besar setelah kerajaan ditinggal oleh Samaratungga. Bahkan diantara pencandian Sojiwan dengan Kalongan, pada sisi timurnya pernah ditemukan semacam parit besar, sebagai pelindung candi. Yang mungkin bisa sebagai perlindungan sekelompok orang juga.
Jika demikian mungkin desa ini adalah sebuah daerah terbuka yang luas, ladang atau ksetra, dimana dapat dipakai ribuan prajurit untuk bertempur. Dan disekitar daerah itu dapat didirikan kemah-kemah seperti terbaca dari prasasti Pereng keluaran Pu Kumbhayoni. Kawasan ini juga menjadi areal pertanian dengan padi-padian liar yang mengitari sekitar prasasti dan perkemahan para prajurit tersebut, juga menyebar hingga puncak bukit, paling tidak di sekitar prasasti ditemukan.
Mungkin juga Sanjiwana tewas dalam pertempuran dan candi itu untuk memperingati tempat dimana ia meninggal. Atau kerabat dari Rakryan Sanjiwana yang gugur dan dianggap pahlawan oleh anak keturunan dan keluarganya. Hal ini mengingatkan pada tragedi Singasari dimana raja Kertanegara yang mendapat serangan mendadak dari Jayakatwang, meninggal didalam istana Singasari. Untuk memperingatinya, pada masa Tunggadewi, bekas meninggalnya sang raja dibangun Candi Singasari, tentunya selain Candi Jawi yang merupakan makamnya juga.
Pada masa Pikatan ini ada tokoh bernama Rakai Walaing Pu Kumbhayoni atau Kalasodhbawa yang meninggalkan sedikitnya tujuh prasasti yang berhasil di temukan. Prasasti itu adalah Pereng atau Wukiran, Triyambakalingga, Sambhulingga, Pinakin, Dawung, Kartikawasalingga, dan satu lagi prasasti tidak utuh. Tiga diantaranya terletak atau di temukan pada pendopo istana. Selebihnya tersebar disekitar daerah itu. berdasarkan temuan-temuan itu, maka dimungkinkan keraton Rakai Walaing adalah di Bukit Boko itu.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa ia adalah Rakai Pikatan yang memakai gelar lain. Hal ini jika ditilik dari agama yang dianut, yang hampir semuanya memuliakan Dewa Siwa sama seperti Rakai Pikatan, berdasarkan prasastinya. Dan yang semakin menguatkan, karena prasasti-prasasti itu di keluarkan pada masa raja ini bertahta. Yang sedikit mengherankan adalah Rakai Pikatan tidak mengeluarkan prasasti dengan namanya yang menggunakan gelar tersebut. Bahkan pada generasi berikutnya tak di sebut. Sehingga sulit untuk membandingkannya.
Ada lagi ahli yang menyebut bahwa Rakai Walaing adalah Sang Balaputradewa yang dibicarakan pada prasasti Nalanda. Selain namanya mirip, oleh beberapa ahli terbaca sebuah pertempuran antara Walaputra dengan Jatiningrat. Mungkin saja yang dimaksud memang demikian, Balaputra itu Walaing. Balaputra adalah penganut Budha, karena ia mendirikan pemujaan untuknya dengan ijin raja Dewapala. Sementara Rakai Walaing tidak satupun meninggalkan keterangan tentang pendirian candi Budha. Semua prasastinya memuliakan Dewa Siwa. Namun mengingat pada waktu itu kedua agama di puja dalam porsi yang seimbang, dalam pengertian, sang raja memuja kedua agama tersebut, maka kemungkinan bahwa raja ini identik, tidak tertutup sama sekali.
Balaputra memerintah di Suwarnadwipa, sementara Rakai Walaing memerintah di Jawa dengan wilayah kekuasaannya Tunggang Dawa atau Tunggang Dawet, Langkasereh atau Langkapura, Nirjihara atau Wulakan i Wala, Walaing dan Lodwan. Mungkin raja Suwarnadwipa yang biasa dihubungkan dengan Sumatera adalah pulau Jawa. Mengingat pada kitab Ramayana, Jawa disebut Suwarnarupyakyadwipa, yang artinya pulau emas dan perak.
Apalagi melihat struktur prasasti yang selalu menyebut leluhurnya mulai dari kakek, ayah dan ibu, biasa ditemukan dalam prasasti Balaputra. Hanya sayang pada prasasti Rakai Walaing, nama-nama leluhurnya itu selalu hilang, tetapi disebut sangat mirip. Ada yang menduga nama tersebut sengaja dibuang. Kemungkinan ada lawan pada generasi berikutnya yang kurang setuju dengan adanya silsilah itu dan berusaha membuangnya. Dengan alasan, nama-nama itu tergurat dalam posisi menyerong, jadi tampak kalau sengaja dibuang. Tetapi, jika adapun nama-nama ini tentunya lain dengan yang ada di prasasti Nalanda. Hal ini jika diperhatikan pada prasasti sebelum dan sesudahnya yang memberi gelar berlainan. Entah mengapa. Mungkin karena sang pemahat/ citraleka tidak hafal dengan nama sebenarnya pada sang tokoh, atau mengacu pada nama dewa pujaannya yang banyak dengan gelaran yang lebih dari satu.
Mungkinkah yang dikatakan dengan menimbun batu-batu untuk tempat pertahanan adalah suatu usaha dari Walaputra yang membangun pertahanan pada keraton di Walaing sebagai tambahan bangunan yang pernah didirikan oleh raja Tejahpurnapana Panangkaranan. Terutama setelah ada bukti bahwa tempat itu mempunyai gerbang ganda dan tembok beteng yang ganda juga. Setelah selesai membuat perlindungan, maka raja Jatiningrat mendirikan komplek pencandian Lorojonggrang, diteruskan anak cucunya dari Lokapala hingga raja Balitung. Pada masa Lokapala itu sendiri, kelihatannya sudah selesai pembuatan candinya, paling tidak untuk candi induknya, maka segera di resmikan dan diperingati dengan prasasti Siwagreha. Tetapi untuk hiasan dan perwara berlanjut terus hingga Balitung bahkan mungkin Wawa.
Nama Pikatan dipergunakan mungkin karena ia menguasai daerah Pikatan atau ia berasal dari Pikatan, sebab nama raja-raja kala itu, tak pernah menggunakan nama gelar rakai yang sama, terutama kalau melihat prasasti Balitung dengan daftar namanya. Nama Pikatan ini bisa di perhatikan dengan adanya Bihara di Pikatan yang didirikan oleh Rakryan i Hara, yang merupakan adik Rahyangta i Medang. Atau karena raja ini berhasil memikat sang putri dan menyatukan dua wangsa berbeda, jika mengacu pada keterangan para ahli adanya dua dinasti. Yakni Syailendra dan Sanjaya. Putri yang dimaksud adalah Pramodawardani anak Samaratungga. Tetapi jika benar dugaan bahwa Pikatan sama dengan Pramoda, maka yang memikat tentunya tokoh lain, yakni Jatiningrat. Dia yang kemudian berhasil menduduki tahta, membantu istrinya, serta bergelar Pikatan juga seperti sang istri.
Rakai Pikatan Dyah Saladu adalah nama yang ditulis di prasasti Wanua Tengah III. Ada nama lain yang menggunakan Saladu yakni Rakai Gurunwangi Dyah Saladu. Tulisan itu sedikit berbeda dengan huruf-huruf di prasasti pendek di satu komplek itu. Nama ini dianggap sebagai nama seorang wanita dan ada yang menduga kalau dia anak tertua dari Rakai Pikatan. Tetapi Rakai Pikatan Dyah Saladu juga bukan tulisan pada masanya. Melainkan pada jaman Balitung, yang tidak menutup kemungkinan terjadi kesalahan penulisan juga. Yang jelas pada prasasti Wanua Tengah III adalah resmi keluaran raja, maka kemungkinan betul lebih besar daripada hanya sekedar catatan/ prasasti pendek di candi Plaosan Lor yang tujuannya kurang jelas, bisa saja hanya sebagai pengingat, atau tanda bangunan tersebut buatan siapa, dan mungkin di keluarkan bukan secara resmi.
Dyah Saladu dianggap sebagai nama seorang wanita, didasarkan pada huruf u yang berakhir panjang dan biasa dipakai oleh wanita. Dengan demikian, mungkinkah bahwa Rakai Pikatan itu seorang wanita? Terutama yang menyebut Saladu, yang di tulis pada prasasti Wanua Tengah III. Jika demikian Pramodawardhani adalah Rakai Pikatan. Andai benar maka Rakai Pikatan juga merupakan anak Samaratungga, sang pewaris tahta. Hal ini juga menjadi aneh ketika dia memakai gelar maharaja pada prasasti-prasastinya. Tapi gelar Maharaja tidak hanya dipakai oleh seorang lelaki, bisa juga seorang wanita. Contohnya anak Isana/ Pu Sindok yang bergelar Isanatunggawijaya juga memakai Maharaja pada prasastinya. Juga Tunggadewi memakai gelar Maharaja pada prasastinya. Dan kemungkinan yang lain adalah bahwa kedua suami istri tersebut menggunakan gelar rakai yang sama. Hal ini juga memerlukan keterangan lebih jelas yang belum dijumpai dari prasasti manapun. Terutama untuk memperjelas hubungan ini.
Rakai Pikatan juga menggunakan nama Pu Manuku. Ada yang mengira bahwa Pu Manuku adalah nama anumerta dari raja tersebut mengingat ada nama Rakai Partapan Pu Manuku juga Rakai Kalang Bungkal Pu Manuku, yang disamakan dengan Rakai Watuhumalang. Manuku sama dengan kata manekung atau mengundurkan diri dari pemerintahan. Atau manungku yang artinya memuja. Namun adanya gelar tersebut untuk Rakai Patapan di tahun 807 menurut prasasti Munduan, hal tersebut menjadi meragukan sebab kemungkinan Rakai Patapan masih memerintah. Atau mungkinkah Patapan itu sudah menjadi pertapa dan memakai nama tersebut? Hal ini terutama setelah melihat namanya dengan gelar Patapan atau Partapan yang ada hubungannya dengan bertapa.
Mungkin juga bahwa Manuku adalah nama dari tokoh satu namun menggunakan kata Rakai yang berubah-ubah sesuai dengan masa dimana ia memerintah. Tetapi jenjang waktu yang lama antara tahun 807, 852 hingga 907 yang lebih dari satu abad menjadi pemikiran pula. Kecuali jika terjadi kesalahan penulisan penanggalan di prasasti. Hal ini banyak terjadi pada prasasti kuno yang di temukan. Dan unsur penanggalannya tidak sesuai dengan alur sejarahnya.
Jatiningrat dianggap sama dengan Rakai Pikatan, karena keturunannya yakni Lokapala, yang diserahi kerajaan, adalah nama Rakai Kayuwangi yang pada prasasti Wanua Tengah disebut Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala. Jatiningrat ini mirip dengan gelar Airlangga ketika menjadi pertapa. Atau mungkinkah pada saat itu Pikatan sudah mengundurkan diri dari pemerintahan? Yang menyulitkan jika dilihat pada prasasti Pereng bertahun 862 M, dia masih mengeluarkan prasasti untuk bangunan keagamaan. Ataukah dimasa itu sang raja memang telah mengundurkan diri dan menyerahkan tahta kepada anaknya, tetapi untuk pemberian sima masih dapat dilakukan sendiri? Mengingat prasasti tersebut diperuntukkan buat candi bagi dewa pujaannya.
Menurut para ahli, Walaing adalah nama lain dari Pikatan. Jika demikian setelah Pikatan/ Jatiningrat mengalahkan Balaputra/ Walaputra, ia yang kemudian menguasai keraton tersebut dan bergelar Walaing. Walainggajetra artinya penakluk Walaing, walau hal ini terlihat adanya usaha terhadap negeri ini untuk ditaklukkan. Kenyataan demikian sangat bertentangan dengan pemikiran jika Walaputra sama dengan Pikatan. Tetapi ada lagi Walainggagoptra yang berarti pelindung Walaing.
Ini justru mengindikasikan bahwa raja tersebut benar-benar ahli waris dari pemilik sah bumi Medang, yang semestinya dijaga agar tidak jatuh ke tangan lawan-lawannya. Dengan adanya kontra kata tersebut maka dapat saja tulisan tersebut hanyalah suatu gelaran bagi Walaing yang dibuat oleh citraleka atau penulis catatan tersebut untuk memuliakannya.
Wala dapat berarti anak. Walaputra diartikan oleh para ahli sebagai anak bungsu. Wulakan i Wala artinya air terjun di dalam gua.
Walaing sendiri ada yang berpendapat dari kata Wka Lwah Ing, yang artinya mata air dari suatu sungai. Inipun kelihatannya hanyalah suatu pujian untuk tanah yang menjadi tempat tinggal sang penguasa. Sebab pada daerah tersebut tidak ada mata air yang baik dan layak untuk diidentikkan dengan kata tersebut. Layaknya pada Tuk Mas yang mata airnya disucikan oleh para brahmana. Daerah tersebut hanya terletak pada pinggiran sungai Opak yang sudah jauh dari mata air. Jika ada mata airpun sangat kecil dan tidak tepat menjadi sumber pujaan untuk satu negeri yang besar.
Tetapi jika Wala ing digabung dengan misalkan Medang maka dapat berarti anak dari Medang. Kenyataannya tidak satupun prasasti yang menuliskan demikian. Yang ada Wala ing gajetra dan Wala ing gagoptra. Mungkin jika diartikan anak sang penakluk atau anak sang pelindung, akan lebih tepat dari pada hanya sebagai nama tempat.
Kumbhayoni adalah nama lain dari Siwa Mahaguru atau Agastya. Ini jelas hanya menunjukkan nama gelar dan lebih condong ke abisekanama daripada hanya sekedar nama pribadi, yang biasanya menggunakan kata mudah dikenali. Contohnya Saladu, Balitung atau Badra. Tetapi kata Pu yang mengawali dan identik dengan Dyah menyatakan jelas bahwa kata ini adalah panggilan Rakai Walaing. Hanya saja pada prasasti lain buatannya, ia justru di panggil Kumbajha mungkin kependekan dari Kumbha Raja atau Raja Kumbha. Tetapi yoni adalah unsur dari pihak perempuan jika dipasangkan dengan lingga. Maka Kumbhayoni, yang merupakan nama lain dari Agastya, dapat saja dipakai oleh seorang perempuan. Bandingkan dengan Maharaja Isanatunggawijaya. Meskipun kelihatannya nama itu seperti nama laki-laki, kenyataannya dia seorang wanita.
Kalasodhbawa juga merupakan nama lain dari Rakai Walaing. Jelas sekali ini mengindikasikan namanya disetarakan dengan Siwa Mahakala sang penguasa waktu, meskipun nama tersebut juga sebutan lain dari Agastya. Dan penjaga pintu masuk candi yang berpasangan dengan Nandi. Semua nama gelaran dari Rakai Walaing dan candi-candi yang dibuat mengarah pada satu dewa yakni Dewa Siwa. Bahkan ia juga disebut Nararsaba yang mengandung arti sapi jantan diantara orang lain. Ini identik dengan Nandiswara.
Semakin kentara bahwa dongengan Roro Jonggrang mengarah pada satu tokoh ini. Yang mempunyai gelaran dan sebutan bermacam-macam layaknya Dewa Siwa yang sedikitnya mempunyai nama 48 macam. Lihat saja Karungkala dan Baka.
Rakai Walaing mengaku keturunan dari seorang raja yang memerintah di Jawa yang subur karena tanah tersebut semuanya dapat tumbuh (Jawakyapura bhumi sarwwabhawe). Tetapi leluhurnya juga berasal dari Musalakyarastra. Musala berarti alu, antan, alat penumbuk padi. Dengan adanya kata-kata itu, maka ia kemungkinan keturunan dari Rakai Halu, yang menurut para ahli berarti adik dari Putra Mahkota, paling tidak kalau dihubungkan dengan para raja di Jawa Timur setelah Airlangga. Dan andai di telusur lebih jauh, mungkin ia keturunan dari adik Sanjaya. Atau justru ia ini cicit dari Rahyangta i Hara? Nama raja ini tercatat pada prasasti Wanua Tengah III. Apalagi ia juga membuat Haralingga yang diresmikan pada prasasti yang di temukan di daerah situ juga.
Jika demikian semakin kentara bahwa kakeknya adalah Rakai Panangkaran. Sebab raja ini nama lain dari Rahyangta i Hara (Sankhara) dan diidentikan dengan Wirawairimathana. Ayahnya kemungkinan adalah Samaragrawira atau Samaratungga menurut prasasti Karang Tengah.
Kalau melihat unsur ‘sala’ dari kata Musala, yang ternyata mirip dengan nama Saladu, dapatkah kiranya bahwa nama tersebut juga berhubungan dengan asal leluhur. Keduanya menyertakan kata sala. Hanya di rangkai dengan huruf MU dan DU. Mengingat gelar Rakai juga ada yang berasal dari suatu tempat. Dan yang lebih mengarahkan adalah kata-kata tersebut sejaman. Mungkin saja Saladu dari kata sama yang hanya di beri imbukan suku kata diawal dan akhir dari masing-masing kata sala itu.
Musala ini menurut para ahli, mengarah pada pulau Sumatera, dimana ada kota dengan nama Akhandalapura. Yang sangat mirip dengan catatan dalam bahasa Cina dengan nama Kan-dha-li atau Kan-to-li, yang berikutnya menjadi San-fo-tsi. Mungkin kota atau negara tersebut sama dengan yang di tulis pada prasasti dengan nama Suwarnabhumi. Hanya tidak meyakinkan apakah sama dengan Suwarnadwipa atau tidak. Kalau Suwarnabhumi di prasasti Pagar Ruyung memang menyebut daerah di pedalaman Sumatera. Tetapi Suwarnadwipa masih membingungkan, sebab tak ada bahan pembanding di masanya. Sementara Kandhali sudah menjadi kesepekatan para ahli ada di Sumatera. Maka mungkin saja dalam hal ini istri atau leluhur dari Walaing dahulunya ada yang bertempat di Akhandala, kemudian setelah melalui perkawinan, dia tinggal di Jawa. Tapi bagaimanapun, sang Walaing tetap menganggap dia keturunan dari satu tokoh yang ada di Akhandala.
(Prasasti Tulang Air / OJO V / OJO VI)
Prasasti ini ditemukan di daerah Temanggung, Dekat candi Perot. Ditulis pada batu sebanyak dua prasasti yang sama. Menggunakan bahasa Jawa Kuno dan huruf Jawa Kuno.
Isinya mengenai peresmian sima di Tulang Air oleh Rakai Patapan Pu Manuku pada hari Minggu Pahing Paringkelan Tunglai 15 Juni 850 M. Yang menjadi raja Rakai Pikatan. Disusul dengan daftar pejabat tinggi kerajaan, para pembantu mereka yang hadir pada penetapan sima, para pejabat daerah dan pejabat desa yang bertindak sebagai saksi.
Gelar Manuku dalam prasasti inilah yang oleh para ahli di hubungkan dengan Manekung atau Manungku dimana keduanya memiliki arti pengunduran diri sang raja dari dunia ramai, termasuk pemerintahan.
Mungkinkah ini berarti pada masa sesudah dimulainya pembuatan candi Lorojonggrang? Dan baru di resmikan pada tahun 856 M. Dengan prasasti Siwagreha. Memang dalam prasasti itupun dia sudah mengatakan untuk mundur dari keraton serta menyerahkan tahta itu kepada Rakai Kayuwangi.
23 Hulair si layar matamwak si tamuy mula si tguh
23 Hulair dijabat oleh si Layar, matamwak dijabat si Tamuy, mula dijabat si Teguh
Hulair dijabat oleh si Layar, ini kelihatannya sebuah jabatan yang berhubungan dengan pengurusan air. Terutama untuk pengairan pada persawahan atau pemeliharaan ikan, dan pekerjaan ini yang mempunyai wewenang.
Matamwak dijabat si Tamuy, mungkin berhubungan dengan tambak-tambak atau ikan-ikan yang sengaja di pelihara meskipun dalam pengertian yang tidak seperti sekarang.
Mula dijabat si Teguh, apakah mula ini hubungannya dengan tempat pencandian. Sebab banyak kamulan-kamulan yang dibangun. Hal ini beberapa kali di temukan dalam prasasti-prasasti, khususnya setelah berbahasa Jawa Kuno.
Prasasti Nalanda isinya tentang pendirian bangunan biara di Nalanda oleh raja Balaputradewa, raja Suwarnadwipa, yang menganut agama Budha. Selain itu disebutkan juga kakek raja Balaputradewa yang dikenal sebagai raja Jawa dan bergelar Sailendrawangsatilaka Sri Wirawairimathana atau Permata keluarga Syailendra pembunuh musuh-musuh yang gagah perwira. Ia mempunyai anak bernama Samaragrawira yang kawin dengan Tara, anak raja Dharmmasetu dari Somawangsa. Disebutkan juga permintaan kepada raja Dewapaladewa untuk memberikan tanah-tanahnya sebagai sima untuk biara tadi.
Raja Dewapaladewa memerintah sebelum tahun 850 M. Jadi kemungkinan pembuatannya termasuk catatan prasastinya, sebelum tahun tersebut.
Raja Balaputradewa, raja Suwarnadwipa, yang menganut agama Budha. Hal ini sering di hubungkan dengan Sriwijaya di Sumatera. Kenyataannya tidak ada satu prasastipun pada masanya yang menuliskan nama Balaputra, Walaputra, Walaing dan sejenisnya yang menguatkan bukti bahwa tokoh tersebut pernah bertahta pada istana di Sumatera.
Kakek raja Balaputradewa yang dikenal sebagai raja Jawa dan bergelar Sailendrawangsatilaka Sri Wirawairimathana atau Permata keluarga Syailendra pembunuh musuh-musuh yang gagah perwira. Inilah yang justru membuktikan bahwa Balaputra sebenarnya tinggal di Jawa. Dia menyebut kakeknya tersebut dengan kata Raja Jawa. Meskipun banyak ahli yang mengungkapkan bahwa raja ini hanya memerintah di Jawa, tetapi sang Balaputra sudah ke Sumatera. Bahkan dengan peninggalan-peninggalan arkeologi yang sejaman dengannya. Tapi tetap kurang menguatkan, sebab benda purbakala tersebut tak mencatatkan tulisan, jadi bisa saja oleh raja setelah Balaputra atau sebelumnya, bahkan bisa saja oleh orang-orang biasa yang memang sejaman dengan masa pemerintahan Raja Balaputra. Kakeknya itu biasa di hubungkan dengan raja Indra, hanya setelah di teliti lagi tak ada nama Indra (Daranindarena) maka kemungkinan kakeknya adalah Tejahpurna.
Samaragrawira memang sangat mirip dengan nama Samaratungga di prasasti Kayumwungan. Meskipun setelah membandingkan dengan prasasti lain sesudahnya, bisa saja nama tersebut merupakan gelar abiseka.
Tara ini tak di kenal pada prasasti manapun. Kecuali pada masa Panangkaran, yang cukup jauh selisihnya dengan masa raja Dewapala membuat prasasti. Jadi kemungkinan ratu ini tokoh khusus yang tak ada hubungannya dengan candi Kalasan yang memang untuk dewi Tara.
Raja Dharmmasetu namanya tertulis juga di prasasti pada komplek Candi Sewu. Dan berbahasa Melayu kuno. Inilah yang kemudian menghubungkan bahwa sang raja bertahta disana. Meskipun ahli lain mengatakan bahwa raja ini adalah seorang pejabat di kerajaan Mataram juga, dan tidak bertahta di Suwarnadwipa. Bahkan kalau menilik unsur Dharma yang sejaman dengan Dharmatungga, mungkin kedua tokoh sama. Yakni Tejahpurnapana Panangkarana.
Somawangsa, merupakan gelar sebuah wangsa yang tertulis selain Sailendra. Dan sangat mirip dengan Hsi-mo. Tulisan Cina untuk raja putri di Ho-ling. Mengingat gelar wangsa biasanya berdasarkan nama tokoh nyata, mungkinkah nama ini ditujukan untuk tokoh tersebut?
Disebutkan juga permintaan kepada raja Dewapaladewa untuk memberikan tanah-tanahnya sebagai sima untuk biara tadi. Hal ini menunjukkan adanya persahabatan yang erat. Sehingga terjadi kepercayaan antar dua kerajaan.
Prasati Triyambakalingga ditemukan di daerah Bukit Ratu Baka, Dawangsari, Prambanan. Juga di tulis dalam bahasa Jawa Kuno dan huruf Jawa Kuno. Menyebut nama Walaing. Dan di hubungkan dengan Balaputra.
Memperingati pendirian lingga, yang diperuntukkan bagi penyembahan dewa Siwa sebagai Triyambaka, nama lain dari dewa tersebut.
Rakai Walaing disebut Penakluk Walaing (walainggajetra), mungkin sebelumnya pernah terjadi peperangan yang akhirnya dimenangkan oleh Rakai Walaing itu. Meskipun tokoh yang melawan ini tak di jelaskan siapa. Banyak ahli menduga bahwa lawannya adalah Pikatan. Bahkan ada yang menyebut Rakai Kayuwangi. Tapi kenyataan bahwa Pikatan mungkin gelarnya juga, sementara menurut Siwagreha dia menyerahkan tahta pada Kayuwangi dengan baik-baik, bukan karena serbuan, membuat perkiraan bahwa nama tersebut hanya semacam gelar.
Pelindung Walaing (walainggagoptra) dengan penambahan perlindungan, dia ungkapkan kata-kata tersbeut. Apalagi di temukannya parid-parid dan rangkaian tembok yang kokoh sebagai tempat pertahanan.
Lembu jantan (nararsabha), tentu saja ini berhubungan dengan Nandi yang menjadi kendaraan dewa Siwa. Yang pada masa itu juga di sucikan dan mungkin di puja oleh para kawulanya.
Sri Kumbhaja terlahir dari keturunan raja yang memerintah di Jawa (Yawakhyapura), tanah dimana semuanya dapat tumbuh (bhumi sarwwabhawe), sebenarnya sangat mirip dengan catatan di prasasti Nalanda. Hanya bentuknya yang berlainan. Dan ini pula yang menambah bukti bahwa Balaputradewa sama dengan Walaing.
Prasati Bukit Ratu Baka I/ Pinakin, ditemukan di Bukit Ratu Baka, Dawang Sari, Prambanan. Pada bagian sebelah kiri dari prasasti itu hilang entah kemana. Mungkin saja diambil oleh orang yang tak bertanggung jawab, atau sudah luruh oleh letusan gunung yang berhasil menjangkau daerah tersebut. Isinya memuat Silsilah Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Mulai dari buyutnya tapi namanya hilang. Jadi hampir mirip dengan prasasti lain yang juga di hilangkan nama-nama keluarganya.
Prasasti Bukit Ratu Baka II/ Sambhulingga ditemukan pada Bukit Ratu Baka, Dawang sari, Prambanan, yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno serta huruf Jawa Kuno. Dalam prasasti itu, nama-nama leluhurnya hilang dengan posisi menyerong,
Isinya mulai dari pujian terhadap Dewa Siwa, kemudian di sebut buyut Rakai Kumbhayoni yang namanya hilang. Demikian juga halnya dengan nama anaknya, cucunya, dan cicitnya. Setiap kali kalimat berbunyi ... dari padanya terlahir, ... anak laki-lakinya, ... dan keturunannya, selalu terputus dengan posisi menyerong. Hal ini membuat perkiraan para ahli, bahwa keadaan tersebut karena para penerusnya sengaja menghilangkannya. Mungkin berhubungan dengan ketidakpuasan lawan politik keturunannya.
Akhirnya disebutkan daerah kekuasaan Kumbhayoni yaitu Tunggang Dawa, Langkapura, Nirjjihara, dan Walaing. Hal ini sama dengan yang ada di prasasti Pereng. Hanya namanya yang mengalami perubahan. Hanya walaing yang sama. Bahkan kalau di pikir, nama-nama itu mungkin saja masih di sekitar bukit boko tersebut. Bayangkan nama Hara ada di haralingga, Dawa mirip dengan Dawung, tempat bukit tersebut berada, walaing sendiri daerah tersebut yang kemudian menjadi kraton ratu boko.
Yang jelas istri rakai pikatan itu rakai Watan Pu Tamer.
Ini hubungannya sama Rakai Layu Watang..
Nama yang tertera pada prasasti pendek pencandian di Plaosan Lor .
Juga terdapat di sekitar situs Gunung Wukir.
Tempat legendaris adanya prasasti canggal berikut peninggalan candi di atas Gunung Stirengga yang kokoh dan perkasa.
Dimana susunan candi itu sama dengan yang terdapat pada candi sambisari dan kedulan.
Sehingga member kesan kalau komplek percandian di gunung wukir itu peninggalan rakrayan layu watang.
TapI berikutnya memberi kesan jika pada atas gunung yang sama, yakni candi gunung wukir itu di bangun pada masa raja Sanjaya, dan pada abad berikutnya di perbaiki serta pembangunannya disempurnakan oleh rakryan layu Watang itu.
Jika kenyataannya demikian, maka terasa ada sebuah hubungan yang erat antara dua tokoh tersebut.
Hal ini semakin di perkuat dengan pengakuan daksa serta balitung yang mengagungkan leluhurnya ini.
Sehingga tak mengherankan jika nama pikatan dan watan ini merupakan sosok yang di hormati.
Keduanya keturunan Sanjaya.
Pikatan populer sebagai keturunan raja ini, karena adanya prasasti-prasasti yang menunjukkan demikian. Wanua Tengah 3, prasasti Poh Pitu, semua merujuk pada hubungan sebelumnya yang berpangkal pada rakai medang itu.
Dan Rakai Watan disebut oleh Daksa sebagai neneknya, yang menguasai daerah Gunung Wukir, dan berada di lingkungan candi Plaosan.
Yang aneh adalah nama Pramodawardani tak pernah ditemukan pada candi-candi itu. Namanya hanya tertulis pada prasasti
Bahkan tak pernah ada prasasti manapun yang menyatakan bahwa dia istri dari rakai Pikatan.
Yang berikutnya tertulis adalah nama Kahulunan. Nama ini bahkan dicurigai oleh para ahli merupakan suatu gelar yang bisa jadi lebih dari satu. Ada yang mengatakan kalau dia istri dari Samaratungga, jadi ibu Pramodawardani.
Sementara jelas disebut kalau istri Samaratungga / Samaragrawira adalah Tara. Mungkin Kahulunan ini juga merupakan sebutan bagi Dewi Tara itu.
Dan yang sejaman dengan rakai Pikatan yang selisih dengan pramoda wardani lumayan jauh, adalah rakai Partapan. Sang sama sama memakai nama Pu Manuku. Sehingga ada yang menduga kalau dua nama ini adalah satu tokoh yang sama. Dan bisa saja istrinya juga bergelar Kahulunan, sebagai nama panggil bagi yang sudah atau pernah menjadi permaisuri. Mengingat nama Kahulunan juga lebih dari satu tertera di prasasti pendek itu. Bisa saja itu menunjuk pada beberapa tokoh. Walau nama maharaja juga banyak. Dan ada beberapa nama lagi yang tertera di dua bangunan yang berbeda.
Dari keanehan itu, yang membingungkan adalah sosok Bala Putra atau Walaputra. Ini dianggap adik dari Pramodawardani. Bahkan ada yang mengira dia raja Sriwijaya di Palembang. Tapi di daerah Palembang bahkan sumatera tak ada nama yang tertinggalkan baik pada prasasti maupun kisah. Yang justru banyak ditemukan adalah di sekitaran Medang di Jawa. Disini ada nama Walaputra pada prasasti Wantil, dan Walaing yang lebih banyak lagi ditemukan dengan nama berbeda-beda yang mengiringinya. Walaing pu Kumbayoni, Kumbaja, Kalasodhbawa, Kalasaja. Semua itu melebihi nama Pramodawardhani yang hanya sekali saja tertulis di prasasti Karang Tengah.
Sejak awal, gambaran pertikaian antara Jatiningrat dengan Walaputra itu menggambarkan perebutan kekuasaan antara Pikatan yang membela Pramodhawardani melawan Balaputradewa yang tertulis di prasasti Nalanda.
Jika saja Pramoda itu bukan istri Pikatan, maka bisa saja Walaputra itu dirinya. Walaputra dan walaing itu seakan lelaki. Sebab ada ungkapan putra. Kecuali jika semua itu hanya menunjukkan sebuah sebutan, yang berarti anak bungsu. Jadi perang itu antara Pikatan dengan Pramoda. Memang sedikit mengecewakan. Sebab apa yang sudah dipercaya umum bahkan sering digambarkan sebagai cinta abadi, kenyataannya bertolak belakang. Meskipun begitu sedikit melegakan, kalau ini sebuah kebenaran.
Hal ini juga membuka tabir misteri terhadap satu keanehan dimana para raja hebat sebelumnya, bahwa prasasti yang ditulis selalu menggunakan huruf prenagari dengan Bahasa Sanskerta dan mulai beralih pada Bahasa Jawa kuno.
Tapi andai Walaing ini sama dengan Walaputra juga masih misteri. Sebab dia masih mengeluarkan prasasti pada tahun 860, prasasti Pereng. Dimana peristiwa di desa Iwung sebelum 856, prasasti Siwagreha.
Kecuali jika perang itu hanya tentang kalah menang, tanpa mesti membunuh atau diturunkan. Juga tentang candi yang dibangun kebanyakan beragama Siwa dengan Bahasa yang berlainan juga.
Mungkin hal yang sama juga terjadi ketika Gurunwangi mesti turun tahta, tapi dia masih hidup dan bersama Daksa masih mengeluarkan prasasti.
Referensi data:
1. Marwati Djoenet Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia jilid II. Jakarta. Balai Pustaka.
2. Slamet Muljana. Sriwijaya 1960.
3. Rakai Pikatan, Wikipedia.
4. Kusen, Raja-raja Mataram Kuno dari Sriwijaya sampai Balitung sebuah rekonstruksi berdasarkan Prasasti Wanua Tegah III, Berkala Arkeologi, tahun XIV, edisi khusus, 1994.
5. Raja candi, guwe, 2007
6. Candi Gunung Wukir,
youtube