Aku menatap cermin di depanku. Setiap malam aku akan menatapnya. Anehnya yang terpantul dalam cermin bukanlah aku, namun, seekor hewan buas. Serigala, dia adalah seekor serigala, hewan berbulu pemakan daging itu menatapku dingin. Entah kenapa, itu membuatku sedih.
Aku selalu berpsekulasi jika yang aku lihat hanyalah ilusi semata. Namun, hari ini berbeda. Hewan karnivora itu mengaum kencang membuatku seketika berlari ke arah ranjang.
Grrm ... Dia menggeram tertahan, aku semakin mengeratkan selimut yang menutupi seluruh tubuhku. Aku takut sekali. Dalam hidupku aku hanya pernah berinteraksi dengan hewan-hewan peliharaan seperti kucing, kelinci, burung, atau lainnya. Mungkin ular dan harimau adalah hewan buas yang pernahku lihat. Tapi, kali ini aku harus berhadapan dengan seekor serigala besar. Walaupun serigala itu hanya terlihat di cermin, suara geramannya saja sudah membuatku gemetaran takut.
"Ayah, ibu, aku takut." Aku bergumam menyerukan ayah dan ibuku yang mungkin sudah tertidur. Segala doa-doa kupanjatkan agar Tuhan melindungiku.
Setelah beberapa menit tak mendengar suara auman ataupun geraman, aku perlahan-lahan menyibakkan selimut. Sejujurnya pernapasanku agak terganggu jika tertutupi benda terlalu lama.
"Aaaaaa!!" Aku berteriak sesaat setelah selimut yang menutupi tubuhku telah berpindah.
"Ini ... di mana?"batinku bertanya-tanya; sedang berada di manakah aku?
Ini bukan kamarku. Ini lebih seperti hutan. Sejenak aku terpana oleh keindahan hutan ini, walaupun hutannya gelap, akan tetapi, keindahannya tak tertutupi sedikitpun.
"Kau berada di hutan Alemis." Sebuah suara terdengar seakan menjawab kebingunganku. Namun, bukannya terjawab, suara itu membuat tanda tanya besar di benakku.
"Siapa di sana?!" Aku berteriak panik.
"Ini aku, Flores."
Tiba-tiba saja, sebuah kepulan asap terbentuk di sekelilingku. Menyebabkan aku harus menutup hidung. Tak lama setelah asap menghilang, bayangan seekor hewan berdiri menjulang di depanku.
Itu, dia! batinku.
Di depanku saat ini menampakkan serigala besar berwarna putih dengan mata merah menyala. Aku ingat, serigala itulah yang setiap malam berada dalam cerminku.
"Se-serigala?" Aku melangkah mundur. Seperti naluri biasanya, siapapun akan berusaha kabur dari bahaya. Apalagi kali ini serigala di hadapanku bisa berbicara.
Tunggu ... Berbicara?!
"Ka-kau bisa berbicara?!"
"Tentu saja." Dia menjawab santai seolah-olah ini bukanlah permasalahan yang besar.
Perasaanku campur aduk antara takut dan penasaran. Tanpa sadar aku bertanya, "Bagaimana bisa k-kau yang seekor serigala ... bisa berbicara? Maksudku, ini aneh. Serigala bukan manusia! Mereka tidak bisa bicara."
"Aku tau ini pasti hal yang baru bagimu. Namun, ketahuilah aku adalah sisi serigalamu." Aku terbelalak, ini sungguh diluar dugaan.
"Kau, aku, apa?" Dalam keadaan seperti ini aku berbicara padanya tanpa rasa takut sedikitpun.
"Singkatnya, kau adalah manusia serigala." Aku menangkap nada sedih di dalam ucapannya.
"Hei, kenapa sedih?" Entah keberanian dari mana aku mengelus kepalanya. Bulunya lembut.
Di sisi lain, aku juga memperingatkan diriku sendiri bahwa di depanku ini bukanlah kucing yang bisa diunyel-unyel seenaknya, tetapi, serigala pemakan daging; hewan yang kapan saja dapat menjadikanku santapannya.
"Aku takut kau akan memakiku seperti mereka."
"Memangnya kau salah apa sampai aku harus memakimu?"
Dia menggeleng. Kepalanya menunduk dalam menikmati usapanku. Sebenarnya, aku masih bingung dengan situasi saat ini.
"Ah! namamu Flores, 'kan?" Dia mengangguk sebagai jawaban.
"Namamu dan namaku beda tipis, bagaimana bisa?" aku bergumam pelan, benar adanya, namaku dan namanya memiliki kesamaan, juga perbedaan yang terletak di belakang. Namaku Floresa sedangkan namanya adalah Flores.
"Karena kita satu. Ada dalam satu tubuh. Satu raga. Dan, satu kehidupan."
Aku tak paham. Bisakah manusia dan serigala hidup dalam satu ... tubuh? Oh, tidak. Itu adalah hal yang paling mustahil. Sekalipun, nanti seorang ilmuwan ataupun profesor menemukan penemuan ajaib yang bisa membuat manusia dan hewan saling berbagi kehidupan. Hewan dan manusia hidup dalam satu lingkup (re: satu tubuh) tetaplah mustahil.
Lalu, jika apa yang dikatakan Flores benar. Apa itu artinya, aku seorang werewolf?
.
.
.
"Em, bagaimana kalau kita jadi teman hidup?"#😊😁
"Grr. Akan kupikirkan."#😒((˵>ω<˵))
o0o
Saat pagi tiba, aku sudah stay di depan cermin sembari menyisir rambut.
Jauh di lubuk hatiku, aku mengharapkan kehadirannya setiap saat bukan cuma malam. Ada di pagi, siang, sore, bahkan sampai malam. Aku ingin bertemu dengannya lagi, berbagi cerita, lalu menjadi teman akrab.
Namun, aku tahu, sesuatu yang aku harapkan itu hanya bisa muncul di malam hari ketika aku sudah tertidur.
Karena, kenyataan bahwa pertemuan antara aku dan Flores bukanlah nyata, melainkan ...
Hanya mimpi semata.
"Aku ingin punya teman. Agar nanti, aku tidak gila karena mimpi lagi."
Sejauh ini, mimpi yang paling terlihat nyata adalah pertemuan antara Flores dan Floresa.
Bayanganku yang berwujud serigala karena betapa inginnya aku mempunyai teman.
Meskipun begitu, aku tak begitu merasa kesepian lagi. Sebab, aku masih bisa bertemu dengan 'Flores'.
-end-
Kujuga pengin punya (temen)srigala, yang warna emas biar bisa digadai bulunyaಥ‿ಥ.g,canda.
.
Terima kasih sudah membaca~