Perkenalkan namaku adalah Tio, usia 22 tahun. Awal ceritanya aku mempunyai pacar bernama Monica, usia 20 tahun.
Kami berpacaran baru genap 1 tahun. Selama 1 tahun itu, jangan tanya apakah kami pernah beradu argumen alias ribut.
Tentu saja pernah, bisa dibilang juga sering. Karena itu adalah hal yang wajar saja dalam sebuah hubungan. Apalagi masih berpacaran, yang sudah menikah saja suka ribut.
Suatu hari, aku dan Monica ribut tingkat tinggi. Tidak ada yang mau kalah, lebih mementingkan ego masing-masing.
Alhasil kami pun mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan kami. Berawal dari hal kecil yang menjadi besar. Sampai akhirnya jadi seperti sekarang ini.
Beberapa hari setelah aku putus dengan Monica. Aku mulai merasa bersalah juga menyesal, atas kejadian waktu itu. Kenapa aku bisa begitu egois, tak berpikir secara jernih.
Padahal sebenarnya aku masih mencintainya. Kenapa aku memutuskannya hanya karena egoku yang berlebihan. Tak seharusnya aku melakukan itu padanya.
Apakah Monica mau memaafkan aku yang egois. Semoga saja dia mau memaafkanku. Sebaiknya coba minta maaf, dengan mengirimkan pesan kepadanya.
"Hai Monica, aku ingin minta maaf atas ke egoisanku waktu itu." Pesan yang aku kirimkan, tak lama kemudian monica membalas.
"Iya engga apa-apa kok, aku juga salah waktu itu." Balasan Monica.
"Terimakasih sudah mau memaafkan aku." Balasku pada Monica dengan emoticon senyum pada akhir kalimat.
"Iya Rio, maafkan aku juga ya." Balas Monica.
"Kamu gak perlu minta maaf, karena kamu gak salah kok." Balasanku, kembali dengan emoticon senyum.
"Terimakasih ya Rio atas pengertiannya." Balas Monica.
Selesai meminta maaf pada Monica, hati dan pikiran terasa sedikit lega. Setelah beberapa lama tidak mengirim pesan kepada monica. Tiba-tiba muncul sesuatu rasa di dalam hati dan pikiran tentang monica.
Sepertinya rasa ini karena aku belum bisa melupakan monica seutuhnya. Karena perasaan tidak bisa di bohongi, bahwa aku masih mencintainya.
Aku harus menemui monica, dan berterus terang bahwa sebenarnya rasa cintaku padanya masih ada. Tapi takutnya mengganggu, soalnya aku tidak tau apa dia sudah memiliki pacar atau belum saat ini.
Beberapa hari kemudian, aku coba mencari tau lewat sosmed. Ku cari sosmednya, ternyata kami masih berteman.
Terlihat informasi data diri sampai semua isi berandanya. Tidak ada dia membuat status seperti sedang berpacaran.
Apakah dia belum punya pacar sekarang alias masih jomblo. Tiba-tiba aku ingat, bahwa Monica punya WhatsApp. Aku tinggal memantau isi snap WhatsAppnya.
Suatu hari aku melihat snap WhatsAppnya, seperti sedang jatuh cinta. Apakah dia sedang dekat dengan seseorang, atau sudah punya pacar lagi. Pikiranku tidak karuan setelah melihat isi snap WhatsAppnya Monica.
Bisa dibilang aku sedang cemburu, tapi kenapa aku harus cemburu. Dia kan bukan pacarku lagi, itu hak dia.
Tapi tetap saja hati terasa sakit, tahu akan hal itu. Aku pun mulai jarang melihat snap WhatsAppnya Monica.
Beberapa bulan berlalu, aku masih suka kepikiran Monica. Sepertinya aku tidak bisa membohongi hatiku ini.
Bahwa aku masih memiliki rasa dengan Monica. Aku pun mencoba mengirim pesan kepada monica.
"Hai Monica, apa kabar?."
"Alhamdulillah baik, kalau kamu sendiri?." Isi Balasan pesan monica.
"Alhamdulillah baik juga, kegiatan kamu sekarang apa aja?." Bisa dibilang basa basi lah hehe.
"Kerja."
"Kerja dimana kamu?."
"Kerja di sebuah toko."
"Oh, kerja di toko, kirain dimana."
"Iya hehe."
Beberapa hari berselang, ku kirim pesan kepada Monica. Aku seperti melihat Monica dijalan, aku pun coba mengikutinya. Tak lama kemudian kulihat Monica menuju sebuah toko.
Mau apa dia kesana? Apakah dia bekerja disana. Setelah dia masuk, aku pun mendekati toko tersebut.
Karena penasaran, aku pun masuk kedalam toko. Kulihat Monica berada di bagian kasir, lalu ku sapa dia.
"Monica." Ucapku.
"Eh, rio." Jawab monica dengan ekspresi sedikit kaget melihatku.
"Kamu kerja disini ya." Ucapku.
"Hehe, iya rio, aku kerja disini. Tumben kamu?." Ucap Monica, karena aku memang jarang ke arah tempat dia bekerja ini.
"Mau ke rumah temen, sekalian mampir kesini." Jawabku, padahal aku tadi mengikutinya.
Aku pun beranjak keluar toko, lalu pergi meninggalkan toko dan pulang kerumah. Sesampainya dirumah, aku berpikir untuk menyusun sebuah rencana.
Rencananya adalah datang lagi ke toko tempat Monica bekerja. Tapi saat jam pulang kerjanya, agar bisa mengobrol lebih leluasa.
Esok harinya aku pun kesana, sesampainya disana kulihat motornya masih ada.
Aku pun menunggunya, tak lama kemudian Monica keluar. Ini saatnya beraksi, aku langsung menghampirinya.
"Eh monica, mau pulang?." Tanyaku.
"Eh rio, iya nih mau pulang." Jawab monica.
"Bisa ngobrol bentar gak?." Ucapku, karena disini ada tempat untuk duduk juga.
"Boleh, mau bilang apa?." Ucap Monica.
"Kamu udah punya pacar belum?." Ucapku, terlihat ekspresi seperti kaget dari wajah Monica.
"Kenapa kamu bertanya seperti ini rio?." Ucap Monica.
"Sebenarnya aku masih menyimpan rasa padamu." Ucapku dengan ekspresi malu.
"Misalkan aku belum ada pacar, terus kamu mau apa?." Ucap Monica menatap ke arahku.
"Aku mau jadi pacar kamu lagi, aku ingin memperbaiki kesalahanku yang dulu." Jawabku.
"Apa aku bisa mempercayai ucapanmu?." Ucap Monica menatap tajam ke arahku.
"Aku berjanji, kamu bisa memegang ucapanku, aku kali ini serius. Bahkan aku akan mengajakmu menikah jika kamu siap." Ucapku menatap ke arah Monica sembari memegang tangannya. Seketika air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Apa aku tidak salah mendengarnya?." Ucap Monica sambil meneteskan air matanya.
"Tentu saja monica, kamu tidak salah mendengar. Sejujurnya dari dulu perasaanku padamu tetap sama. Hanya baru sekarang aku mampu mengungkapkannya. Jadi bagaimana Monica, apakah kamu mau menerimaku kembali?." Ucapku meyakinkan Monica.
"Kalau memang begitu, aku mau menerimamu kembali. Asalkan kamu benar menepati perkataanmu." Ucap monica sembari tersenyum.
Setelah beberapa bulan kemudian. Aku berencana akan melamar Monica sesuai janjiku padanya.
Aku pun memberi tahu orang tuaku dan orang tua Monica akan niat baikku ini. Alhamdulillah semuanya merespon dengan baik. Baik Orang tuaku juga orang tua Monica pun setuju.
Aku pun memberi tahu akan rencanaku. Jangan langsung beritahu Monica, karena ini akan menjadi kejutan untuknya.
Semua sepakat, lalu kami mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika aku melihat jam, seperti sebentar lagi Monica pulang dari tempat kerjanya.
Aku dan kedua orang tuaku keluar bersembunyi ke rumah tetangganya Monica. Tentu saja dengan kendaraan yang kami pakai juga disembunyikan.
Tak lama kemudian, aku melihat Monica. Sesampainya dia di rumah, aku pun datang. Monica pun kaget, kenapa aku ada disini tiba-tiba.
"Rio, kamu kok ada disini tiba-tiba." Ucap Monica dengan ekspresi wajah bingung. Jelas dia bingung, karena aku tidak memberi kabar. Tiba-tiba datang, tanpa ada suara kendaraan.
"Loh kenapa emang, apa aku salah datang kesini?." Ucapku sambil tersenyum.
"Enggak, tapi kenapa gak bilang?." Ucap Monica yang bingung.
"Biar surprise, hehe." Ucapku sambil tersenyum.
Sesuai rencana orang tua Monica pun keluar kamar. Lalu berkata, ada tamu kok gak disuruh duduk.
Akhirnya kami pun duduk, Monica pun disuruh masuk untuk berganti pakaian. Lalu kembali lagi bergabung, kami pun mengobrol. Aku merasa sepertinya sekarang saat yang tepat.
"Monica, aku mau ngomong sesuatu?." Ucapku.
"Mau ngomong apa Rio?." Ucap Monica.
"Mau tidak kamu menjadi istriku?." Ucapku menatap ke arahnya. Monica pun kaget mendengarnya. Tiba-tiba aku bilang seperti itu di hadapan orang tuanya.
"Kamu jangan bercanda gitu dong." Ucap Monica sembari melirik ke arah orang tuanya.
"Aku serius, aku mau melamar kamu." Ucapku meyakinkannya. Aku pun miscall orang tuaku kode untuk datang, tanpa sepengetahuan Monica. Betapa kagetnya monica tiba-tiba datang orang tuaku.
"Ini adalah bukti bahwa aku serius." Ucapku menatap ke arah monica sambil berdiri mendekat pada orang tuaku. Terlihat monica bingung akan kejadian ini. Lalu orang tuaku berkata.
"Apakah kamu ditolak nak?." Tanya orang tuaku.
"Belum dijawab yah." Jawabku.
Monica pun menoleh ke arah orang tuanya. Lalu orang ibunya berkata, semua keputusan ada di tanganmu Monica.
Sekarang kamu tinggal menjawab iya atau tidak. Mendengar ucapan Ibunya, seketika Monica menangis. Lalu memeluk kedua orang tuanya. Ayahnya pun berkata, kok malah nangis nak. Jawablah pertanyaan Rio.
"Aku mau jadi istrimu." Ucap monica yang masih menangis.
#The_End
Terimakasih telah membaca cerita barusan.
Semoga kalian semua terhibur.