'Cinta sampai mati' Itulah kata-kata yang sering diucapkan oleh para pasangan yang sedang dimabuk cinta.
Kata-kata itu terdengar sangat sepele, tapi tidak untuk para pasangan yang sedang terjebak dalam sebuah arena gulat raksasa.
Para pasangan ini mendapat sebuah tiket tantangan untuk menguji cinta mereka masing-masing.
Tiket itu diberikan oleh seorang wanita berambut pirang dan bermata hijau. Tangan kiri wanita itu terlihat patah, itulah sebabnya ia memakai gips.
Wanita itu berkeliling mencari-cari pasangan yang terlihat mesra. Pasangan yang terlihat mesra itulah yang mendapatkan tiket tantangan dari wanita itu.
Tantangan dari wanita itu berupa sebuah game untuk menguji percintaan, sayangnya sebelum datang ke tempat wanita itu berada, para pasangan yang merasa tertantang itu tidak terlalu memperhatikan pengumuman peraturan dari wanita itu.
Para pasangan yang menerima tiket tantangan itu, terlalu bersemangat untuk mengikuti game itu sampai-sampai tidak memperdulikan peringatan yang sudah diberikan oleh wanita tersebut.
Para pasangan itu mengira game itu hanyalah sebuah game pasangan biasa, tapi kenyataannya game itu adalah game yang memberi perintah para pasangan untuk membunuh satu sama lain.
Peraturan game itu adalah salah satu di antara pasangan-pasangan itu harus 'MATI'
Tidak peduli si wanita atau si pria yang mati, yang pasti game ini menguji kesetiaan para pasangan, sayangnya para pasangan yang ikut serta dalam game itu tidak ada yang menyadari tujuan game 'Love to Death' itu.
Terhitung ada ratusan pasangan yang mendapat tiket tantangan dari wanita itu dan para pasangan itu tertantang untuk mengikuti game itu.
"Wah besar sekali!" Ucap salah satu wanita.
"Iya kau benar, tempat ini mirip seperti arena gulat raksasa!" Ucap pria, pacar wanita itu.
Semua pasangan yang menjadi peserta game itu, terkagum-kagum melihat arena bermain game mereka, tanpa curiga sama sekali apa yang akan terjadi selanjutnya.
setelah semua peserta masuk ke dalam arena, gerbang menuju arena pun ditutup. Semua peserta berkumpul di tengah-tengah arena gulat raksasa itu.
Saat para peserta sedang melihat-lihat sekeliling, datanglah wanita rambut pirang yang memberi mereka tiket tantangan. Wanita rambut pirang itu sendiri, ia diikuti oleh para pria dibelakangnya.
Tidak hanya yang ada dibelakangnya, para pria itu juga berkumpul mengelilingi arena gulat raksasa itu.
Para pria itu mengenakan pakaian serba hitam,. hoodie berwarna hitam dan memakai masker berwarna hitam.
Wanita itupun menyampaikan sambutan kepada para peserta melalui lantai dua yang terhubung dengan tralis besi gulat itu.
"Selamat datang untuk para peserta yang sudah datang ke sini. Wah~ wah~ kalian semua terlihat sangat mesra dengan pasangan kalian. Bahkan ada yang bersandar bahu disaat aku sedang menyapa kalian..." Ucap wanita itu dingin.
Sontak saja, perkataan wanita itu membuat semua mata tertuju pada pasangan yang sedang saling menyandarkan bahu mereka.
Tiba-tiba saja wanita itu mengangkat tangan kanannya seolah-olah memberi isyarat pada CCTV yang terpasang di sudut-sudut arena gulat itu.
Baru saja ia mengangkat tangannya, tiba-tiba saja ada sebuah anak panah melesat dari bawah CCTV. Anak panah itu mengenai kepala pasangan yang sedang bersandar bahu di barisan paling belakang itu.
*Jrep!
*Splat!
Setelah terkena anak panah, para pasangan yang berada tepat di depan pasangan yang bersandar tadi, terkena cipratan darah yang terus menyembur dari pasangan itu.
Para peserta yang melihat kejadian itu sangat syok, bahkan mereka ada yang berteriak histeris karena melihat pasangan itu yang sudah tergeletak tidak bernyawa.
Wanita berambut pirang itu pun, memerintahkan para pria berhoodie hitam yang berada di sekeliling arena gulat, untuk menyingkirkan mayat keduanya.
Bukan diangkat, mayat pasangan itu malah diseret keluar dari arena. Setelah dibawa jauh dari arena, beberapa pria hoodie hitam lainnya membersihkan noda bekas darah di arena itu.
Setelah bersih, wanita berambut pirang itupun kembali menjelaskan aturan dari permainannya. Ketika wanita berambut pirang itu sedang berbicara, para pasangan yang hendak bertanya dan memprotes, mengurungkan niatnya, agar tidak menjadi sasaran berikutnya oleh wanita itu.
"Baiklah. Arena sudah bersih, mari kita lanjutkan pembicaraan kita. Sampai mana ya...? Ah! Aku belum memperkenalkan namaku. Perkenalkan namaku adalah Vanessa.
Kalian adalah pasangan-pasangan yang terpilih untuk mengikuti game buatan ku. Nama game ini adalah game 'Love to Death' Kalian pasti tidak asing dengan kata-kata itu kan?
Itu adalah kata-kata yang sering diucapkan pasangan-pasangan muda zaman sekarang bukan?
Game ini sangat sederhana, aku akan memberikan kalian masing-masing sebuah pistol di tangan kalian.
Peraturan dari game ini cukup sederhana, kalian bisa menyebut game ini seperti duel. Salah satu dari kalian harus MATI! Salah satu pasangan yang berhasil membunuh pasangannya, kalian akan bebas dan kalian akan mendapatkan 10 koper uang tunai dan 100 batang emas. Itu saja cukup mudah bukan?"
"MATI?! Yang benar saja! Dasar gila! Bukankah itu sama saja menyuruh kami untuk membunuh satu sama lain?! Mana mungkin kami akan membunuh pasangan kita sendiri hanya demi uang?!" Ucap salah satu pria.
"Oh?~ Begitukah? Itu kan menurut mu~ Apa kau tidak melihat pacarmu, yang tergiur dengan hadiah yang aku tawarkan?" Ucap Vanessa sambil menyeringai.
Benar saja. Pacar wanita si pria itu menelan ludahnya karena tergiur dengan reward yang disebutkan oleh Vanessa.
Tentu saja hal itu membuat pria itu sangat syok, karena ia tidak habis pikir dengan pasangan yang selama ini ia cintai. Ternyata wanita yang dicintainya hanya mencintai hartanya saja bukan dirinya.
"Baiklah. Pegang pistol kalian masing-masing yang sudah diberikan oleh para pelayan ku. Game akan dimulai dalam 10 detik. Aku akan mengawasi kalian semua dari CCTV itu. Tunggu aba-aba dariku."
Ucap Vanessa sambil berjalan pergi diikuti 10 pria berhoodie hitam.
Setelah beberapa menit berjalan, Vanessa pun masuk ke sebuah ruangan pengawas untuk mengawasi permainan 'Love to Death' itu.
Vanessa pun duduk dan mengambil microphone, untuk memberi aba-aba bersedia kepada para peserta.
*Duk duk duk
"Tes~ tes~ Baiklah... Kalian akan mulai bermain game ini. Aku akan mulai hitungan mundur." Ucap Vanessa sambil tersenyum menyeringai.
Tentu saja, para peserta yang mendengar aba-aba dari Vanessa, bergetar hebat. Jantung mereka berdebar kencang karena ketakutan, tangan mereka yang sedang memegang pistol pun ikut bergetar.
"10... 9... 8... 7... 6... 5... 4.... 3... 2... 1... 0!" Ucap Vanessa sambil tersenyum menyeringai.
Setelah aba-aba mulai dari Vanessa, tembak-menembak antar pasangan pun tidak dapat terhindarkan.
Hal itu semakin dipicu dengan salah satu pasangan yang serakah, ingin mendapatkan reward dari Vanessa. Kemesraan, sudah tidak terlihat lagi dari pasangan-pasangan yang sama-sama serakah itu.
*Dor!
*Dor!
*Splat!
*Crat!
"AAARGHHH!"
Tembakan, darah, dan teriakan memenuhi arena. Pasangan yang berhasil membunuh pasangan mereka sendiri, malah tertawa girang. Tidak ada tatapan wajah bersalah dari salah satu pasangan yang sudah membunuh pasangannya sendiri itu.
Ada satu pasangan yang masih utuh diantara pertumpahan darah itu. Pasangan itu rupanya sama-sama memakai cincin pertunangan. Mereka adalah Chloe dan Steven.
Rupanya mereka mengikuti game ini, memang untuk tujuan menguji kesetiaan di antara keduanya. Mendengar ada reward yang sangat banyak, membuat mereka berdua bertekad untuk memakai hadiah itu, untuk biaya tambahan persiapan keduanya menikah.
Sayangnya, persyaratan pemberian hadiah itu, tidak sesuai yang mereka bayangkan. Tentu saja hal itu membuat keduanya dilemma.
Mereka tidak sanggup mengacungkan pistol di tangan masing-masing. Mereka hanya memegang pistol itu dengan posisi menggantung di tangan mereka.
Keduanya hanya bisa saling menatap dengan tatapan sedih dan berlinang air mata.
"Chloe... Bunuh aku..." Ucap Steven sambil membuang pistolnya.
Tentu saja, kata-kata Steven, membuat Chloe sangat Syok.
"Apa yang kau bicarakan! Jangan bertingkah bodoh! Aku tidak ingin membunuhmu dasar bodoh! Siapa yang harus aku nikahi, jika kau MATI?! Dasar Payah! Steven payah! Steven bodoh!" Ucap Chloe yang juga membuang pistolnya sambil menangis kejar.
Chloe pun berlari ke arah Steven dan memeluk Steven dengan erat. Keduanya pun menangis pasrah dengan keputusan yang akan diambil oleh Vanessa selanjutnya.
"Chloe! Kenapa kau tidak membunuhku? Jika kau tidak membunuhku, kau juga akan mati!" Ucap Steven yang mencoba melepaskan pelukan Chloe.
"Jika kau mati, aku juga harus mati." Ucap Chloe pelan.
Vanessa yang melihat kejadian dari CCTV, langsung tersenyum menyeringai dan puas.
Setelah beberapa jam terjadinya pertumpahan darah, akhirnya tersisa lah 10 orang peserta yang sudah berhasil membunuh pasangannya dan Pasangan yang masih utuh, Chloe dan Steven.
10 peserta yang berhasil selamat terdiri dari 5 orang pria dan 5 orang wanita. 10 orang itu berhasil bertahan dengan baju yang berlumuran darah.
Setelah permainan itu selesai, Vanessa pun keluar dari ruangannya dan pergi ke lantai 2 lagi.
*Prok prok prok
Vanessa berjalan ke lantai 2 sambil bertepuk tangan. Ia bertepuk tangan sambil tersenyum menyeringai dan puas.
"Wah! wah! Tadi itu adalah pertunjukan yang sangat hebat! Wah! Lihatlah apa yang aku dapatkan ini? Ada pasangan yang masih utuh dan saling berpelukan! Wah~ Romantis sekali kalian berdua~" Ucap Vanessa.
"Ahahahaha! Dasar pasangan bodoh! Bunuh saja mereka berdua!" Ucap salah satu pria yang sudah membunuh pacarnya.
"Pfft... Mereka tidak mengerti cara permainan itu." Sambung wanita yang sudah membunuh pacarnya.
Vanessa kembali mengangkat tangan kanannya. Ia memberi sinyal kepada CCTV untuk memberi perintah eksekusi.
Melihat hal itu, Steven dan Chloe hanya bisa pasrah, mereka berdua berpelukan sambil memejamkan mata. Mereka berdua siap mati bersama.
10 orang yang sudah membunuh pasangan mereka malah tertawa girang melihat Chloe dan Steven yang ketakutan. Mereka tidak sadar, sensor panah CCTV itu malah mengarah ke arah mereka ber sepuluh.
*Ping!
*JREP!
*CRAT!
Anak panah itu kembali tepat sasaran. Anak panah itu melesat tepat mengenai kepala 10 peserta yang sudah membunuh pasangan mereka sendiri.
Steven yang merasa ada sesuatu yang basah mengenai pakaiannya, langsung membuka matanya. Ia memeriksa keadaan Chloe yang ternyata baik-baik saja. Ia pun melepaskan pelukannya dengan wajah kebingungan.
"Hah! Apa ini? Hah! Chloe apa kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Tanya Steven panik.
"Ti... tidak ada..." Ucap Chloe sambil memeriksa keadaan Steven juga.
"Selamat~ Kalian adalah pasangan yang berhasil memenangkan permainan ini." Ucap Vanessa tersenyum puas.
"A... Apa maksudnya semua ini?!" Tanya Steven tidak percaya.
"Apa kalian tidak melihat? 10 orang yang sudah berhasil membunuh pasangannya itu? Mereka malah kegirangan dan tergiur dengan hadiah yang aku janjikan.
Mereka tidak mengerti tujuan dari game 'Love to Death' ini. Cinta sampai mati itulah kata-kata mereka kepada pasangan mereka, tapi sangat disayangkan... Mereka malah rela membunuh pasangan mereka sendiri hanya demi harta.
Daripada pasangan, yang mereka pikirkan hanyalah harta. Kalian berdua berhasil membuktikan jika pasangan lebih penting dari apapun. Selamat untuk kalian berdua."
Vanessa pun, memberi isyarat kepada pria berhoodie hitam, untuk memberi hadiah kepada Chloe dan Steven.
"Baiklah. Ayo ambil hadiah kalian. Jangan malu-malu. Kalian sudah bebas, kalian bisa menggunakan hadiah kalian sesuka hati kalian. Ayo cepat pergi! Aku harus membersihkan kekacauan ini segera.
Kekacauan ini, membuat selera makanku menjadi semakin bertambah. AHAHAHAHA! Baiklah. Selamat tinggal kalian berdua. Sepuluh pelayan ku akan mengantarkan kalian sampai pintu depan. Dah~" Ucap Vanessa yang tertawa girang sambil melambaikan tangannya ke arah Chloe dan Steven.
Chloe dan Steven yang menerima hadiah yang banyak itu, hanya bisa menatap bingung. Mereka berdua pun diantar oleh 10 orang pria berhoodie hitam yang sudah diperintahkan oleh Vanessa.
Tidak lama setelah Chloe dan Steven meninggalkan tempat itu, Vanessa kembali ke ruangan pengawasnya.
Ia duduk di kursi pengawas sambil terus tertawa girang, di sela-sela tertawanya, ada seorang pria berhoodie hitam yang dari tadi mengikutinya itu, berjalan mendekat ke arahnya.
Pria berhoodie hitam yang mendekati Vanessa yang masih tertawa girang, adalah yang paling muda di antara pria berhoodie hitam lainnya.
Anak laki-laki itupun melepas maskernya dan berbicara kepada Vanessa.
"Ibu. Permainan sudah selesai, tapi Kenapa ibu masih tertawa girang sambil mengeluarkan air mata? Dan juga, kenapa ibu membunuh pasangan yang sedang saling bersandar punggung itu?" Tanya anak laki-laki itu.
Vanessa pun melirik ke arah anak laki-laki itu. Setelah melirik ke anak laki-laki itu, tiba-tiba saja Vanessa membuka wajahnya, rupanya wajahnya itu bukanlah wajah aslinya. Wajah yang masih terlihat muda itu ternyata adalah topeng untuk menyembunyikan wajah aslinya.
Wajah aslinya adalah wajah wanita berusia 40 tahun. Ternyata Vanessa bukanlah wanita muda, melainkan seorang Ibu yang sudah memiliki anak laki-laki berusia 17 tahun.
Anak laki-laki yang sedang berbicara dengannya itu adalah anaknya, ia pun memeluk anak laki-lakinya itu, sambil menjawab dari putranya itu.
"Jason putraku yang paling tampan, alasan ibu membunuh pasangan yang sedang saling bersandar itu karena, ibu sudah tahu jika mereka tidak benar-benar saling mencintai.
Sebenarnya cinta mereka hanya satu pihak saja. Wanita itu memang benar-benar mencintai pria itu, tapi sang pria mencintai gadis itu, hanya karena wajahnya yang cantik. Itu bisa terlihat dari tatapan wajah pria itu.
Hal itu sama seperti yang dilakukan ayahmu dulu. Jika saja, ia tetap mencintaiku walaupun wajahku yang sudah mulai menua, pasti aku tidak akan MEMBUNUHNYA." Ucap Vanessa sambil berjalan ke arah sebuah lemari pendingin di ruangan pengawas itu.
Jason yang mengikuti ibunya pun, langsung membuka pintu lemari pendingin itu. Ternyata di dalamnya tersimpan mayat suaminya dan selingkuhannya yang sudah menjadi beku.
Vanessa sendirilah yang telah membunuh suaminya karena suaminya tidak setia, sedangkan Jason lah yang membunuh wanita selingkuhan ayahnya itu.
Game 'Love to Death' itu rupanya adalah game yang dirancang oleh Vanessa dan Jason sendiri. Mereka berharap, dengan adanya game buatan mereka, pasangan di dunia itu tidak ada lagi yang selingkuh.
Setelah beberapa jam dibersihkan, akhirnya arena untuk game 'Love to Death' pun bersih dari noda darah.
Vanessa dan Jason memulai kembali permainan mereka. Jason kembali memakai hoodie bewarna hitam dan menggantikan maskernya dengan topeng hitam untuk membedakan ia dengan para pelayan pria berhoodie hitamnya, sedangkan Vanessa kembali memakai topeng wajah wanita muda lagi, untuk berkeliling mencari pasangan-pasangan yang tidak setia...
~START GAME~
Tamat.....