Pada suatu hari dan pada hari yang ditentukan bersama, para bidadari itu turun ke bumi untuk bermain dan mandi di danau pelangi tempat 7 bidadari biasa berkumpul untuk bermain dan mandi bersama.
Pagi itu 7 saudara bidadari pada turun ke danau pelangi untuk bermain dan mandi bersama sama. Mereka sangat bahagia, bermain, bergurau dan bercanda bersama.
Setiap kedatangan mereka secara diam diam ada seseorang yang selalu memperhatikan mereka semua dari kejahuan dari awal sampai akhir. Dan dengan diam-diam orang itu mendekat perlahan dan saat para bidadari itu tak sadar dan memperhatikan gerak geriknya dia dengan cepat mengambil salah satu selendang dari ke 7 bidadari tersebut dan menyembunyikannya, lalu dia kembali kepersembunyiannya untuk memperhatikan para bidadari itu lagi dengan tenang.
Saat hari sudah mulai petang para bidadari itu mulai mengenakan selendang mereka masing-masing agar mereka bisa terbang dan kembali ke kayangan. Namun salah satu dari ke 7 bidadari itu kehilangan selendangnya. Selendang nawang wulan sang bidadari pink tidak ditemukan dimana pun, walo semua saudaranya uda membantunya mencari.
"Nawang dimana sebenarnya kamu meletakkan selengdangmu kok tidak ada dimana mana" Tanya bidadari kuning pada nawang wulan
"Aku tidak tau kakak, kemana selendang ku hilang. Karna aku meletakkannya disebelah selendang kakak semuanya" nawang wulan panik mencari selendangnya yang hilang
"Nawang kalo gitu kami pergi dulu, kamu cari sampai ketemu dulu selendangmu dan susul kami" kata bidadari merah pada nawang wulan
"Jangan tinggalkan aku sendirian kakak-kakakku" pinta nawang wulan pada saudaranya yang mulai terbang satu persatu
"Tapi kita sudah terlalu Lama di bumi nawang untuk membantu mu mencari selendangmu dan bermain. Jika ketahuan romo kami bisa dimarahi" jawab bidadari biru
"Tapi bagai mana dengan ku kakak?" tanya nawang wulang yang mulai sedih melihat para saudaranya terbang ke langit yang semakin Lama semakin jauh dan menghilang.
Begitu ke 6 bidadari itu menghilang, nawang wulan masih berkeliling di sekitar danau untuk mencari selendangnya. Dalam keputus asaan dia bersimpuh di atas batu dan membuat nadzar.
"Penguasa alam tolong bantu aku menemukan selendang ku. Jika tidak kirimkanlah seseorang untuk menolong. Aku janji akan melakukan apa pun yang bisa ku lakukan" do'a dan nadzar nawang wulan yang sudah putus asah mencari selendangnya dari tadi sampai malam sudah datang masih juga belum di temukannya.
Seseorang yang memperhatikan dari jau sejak tadi merasa kasihan dan dia mulai mendekatinya dan pura-pura tidak tau siapa nawang wulan sebenarnya.
"Siapa kau wanita cantik, kenapa kau duduk disini sendirian di malam hari yang sepi ini" tegur jaka yang melihat nawang wulan duduk di atas batu
"Katakan pada ku apa kamu bisa menolong ku dan membawah ku pergi dari sini? Aku kedinginan dan juga sangat lapar" jawan nawang wulang memelas.
"Tapi siapa kamu sebenarnya dan kenapa kamu ada disini sendiri malam-malam begini?"
"Aku adalah..." Kalimat nawang wulan terhenti karna dia gak mungkin bilang pada jaka kalau dia adalah seorang bidadari
"Iya. Aku apa?" Jaka menanykan ulang kalimat nawang wulan yang terhenti
"Tidak bukan apa apa. Aku tanya apa kamu bisa menolong ku?" Tanya nawang wulan lagi pada jaka
"Tentu tapi ada syaratnya" jawab jaka
"Katakanlah aku akan melalukannya"
"Kamu janji akan melalukannya apa pun itu?"
"Aku janji dan aku tak akan melanggarnya, asal itu tidak bertentangan dengan agama dan keyakinan ku"
"Menikahlah dengan ku. Itu tak bertentangan dengan agama dan keyakinan mu bukan?"
"Baiklah aku akan melakukannya. namaku nawang wulang, kau bisa memanggilku wulan" jawab nawang wulan tanpa pikir panjang.
"Baiklah wulan. nama ku jaka, ayo ke rumahku tubuhmu sudah menggigil kedinginan"
Jaka pun membawah nawang wulan pergi ke rumahnya, tak Lama setelah itu jaka menikahi wulan, menjadikan wulan istri kesayangannya. Jaka begitu bahagia karna dia bisa menikahi dan hidup bersama orang yang sangat dia cintai selama ini.
Hari-hari telah berlalu. Jaka dan wulan menjalani hidup mereka dengan sederhana dan bahagia seperti pasangan keluarga manusia pada umumnya.
Setelah sekian lama membina rumah tangga, kini mereka di karuniai seorang putri yang sangat lucu dan juga cantik, kecantikan putrinya mewarisi paras wajah ibunya nawang wulan. Jaka sangat bahagia melihat istri dan anaknya yang sedang tertidur lelap. Kebahagiaan jaka bagai tiada duanya, dia sudah tak menginginkan apa-apa lagi di dunia ini.
Bagi jaka keluarga kecilnya ini sudah harta yang tiada duanya di dunia ini.
Jaka mendekati istri dan putrinya yang sedang terlelap. Dia mencium kening putrinya dan juga iatrinya. Jaka membelai pipi istrinya dan mengecup Lama bibir istrinya, hingga wulan terusik dengan ulah jaka dan mulai terbangun.
"Kamu sudah pulang mas." kata wulan yang terbangun dan melihat jaka yang sedang menatap dirinya lekat seolah ada sesuatu yang ingin diucapkan tapi tak bisa keluar
"Iya. Maaf wulan. Aku mengganggu tidurmu ya" ucap jaka liri
"Tidak apa apa. Apa kamu lapar mas?" Tanya wulan pada jaka
"Tidak. Aku sangat merindukanmu, aku akan mandi dan tidur" jawab jaka lalu berlalu pergi
"Aneh baru juga tak ketemu setengah hari sudah bilang rindu" gerutu wulan dan kembali tidur
Beberapa saat kemudia jaka datang dan tidur di sebelah wulan. Dia tidur sambil memeluk wulan dengan erat, seolah takut kehilangan istri yang sangat di sayangi itu.
"Wulan maafkan aku, apa kamu tidak menyesal telah menikah dengan ku?" Tanya jaka pada istrinya
"Aku tidak menyesal. Ini adalah nadzar ku, dan aku bahagia bersama mu dan juga nawang masih putri kita" Jawab wulan
"Hem, syukurlah" jawab jaka singkat
"Tapi kamu kenapa mas dari tadi ku perhatikan kamu terus mengucapkan maaf pada ku, dan seperti orang yang sedang bingung" sambung wulan
"Kamu hidup susah dengan ku wulan, aku tak bisa memberi mu kehidupan yang lebih baik, itu yang membuatku kepikiran" jawab jaka
"Kita sudah menjadi suami istri mas, untuk apa kamu berkata begitu" jawab wulan lagi
"Maafkan aku wulan" jaka mendekat dan mengecup bibir istrinya
"Tidak papa mas. Aku sudah bahagia begini" jawab wulan
Malam itu mereka bertiga terlelap dengan sangat damai.
Di suatu petang wulan mencari cari jaka karna beras yang mau di masak untuk malam itu sudah tinggal sedikit. Wulan mencarinya berkeliling namun jaka tak ada di tempat, wulan pun masuk ke dalam gudang untuk mencari beras dan disana tanpa sengaja wulan menemukan selendangnya yang selama ini dia cari-cari.
"Wulan dari mana kamu, anak kita menangis dari tadi mencari kamu, dan apa itu yang sedang kamu bawah?" Tanya jaka saat mendapati istrinya keluar dari gudang rumahnya
"Aku menemukan selendangku yang selama ini aku cari mas" jawab wulang
"Wulan jangan pergi ke kayangan, jangan tinggalkan aku dan anak kita wulan"
"Jadi selama ini kamu tau siapa aku mas?"
"Ya. Aku tau siapa dirimu yang sebenarnya"
"Jadi kamu kah yang telah mencuri selendang ku mas?"
"Maafkan aku wulan. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan mu. Dan aku nekat mencuri selendangmu"
"Maaf mas, tapi aku harus kembali tempat ku bukan di sini"
"Tapi wulan bagai mana dengan putri kita?" jaka melangkah mendekati wulan sambil menggendong putrinya dalam dekapannya.
"Dia masih kecil dan dia masih membutuhkan mu wulan" sambung jaka mengibah dihadapan istrinya
"Dia sudah besar mas, kamu bisa menjaganya dengan baik"
"Bagai mana jika dia bertanya dan merindukan mu?"
"Kamu bisa menunjukkan padanya bulan yang ada di langit sana. Aku akan mengawasi dan melihat kalian dari sana dan aku akan menenagkannya"
"Aku mencintaimu wulan, tolong jangan tinggalkan aku. aku tak akan bisa hidup tanpamu"
"Hiduplah untuk putri kita mas" memeluk jaka dan mencium putrinya lalu terbang dan menghilang di kegelapan malam.
Di alam kayangan nawang wulan menyembunyikan akan jati diri anak dan suaminya. Dia belajar dengan sangat giat untuk bisa naik level ke tinggat lebih tinggi dengan ilmu yang kuat supaya dia bisa diangkat menjadi dewi dan bisa melindungi keluarganya yang berada di bumi.
Tinggal sedit lagi nawang wulan berhasi mencapai levelnya untuk meningkatka ilmunya, namun ingatannya di curi oleh salah satu bidadari dan mengetahui dari ingatan nawang wulan kalo dia memiliki keluarga di bumi.
Nawang wulan yang sudah ketahuan dijatuhi hukuman karna dia telah menikah dengan seorang manusia. Nawang wulan dikurung dalam bulan yang sepi. Itulah sebabnya kenapa saat bulan purnama bentuk bulan sekolah ada seorang wanita yang duduk disana kelihatan sangat sendu. Dan itu adalah nawang wulan yang sedang melihat anak dan suaminya yang selalu mengamati sinar bulan di setiap malamnya, rasa sepi di bulan membuat nawang wulan merindukan keluarganya di bumi.
Suatu ketika kesedihan nawang wulan sangatlah besar karna dia sangat merindukan anak dan suaminya. Namun dia mendengar para dewa akan menjatuhi hukuman pada jaka yang telah mengelabuhi nawang wulan dan juga anaknya yang seharusnya tak terlahir di dunia ini.
Nawang wulan marah besar mendengar hal itu, dan dia merasa tak adil dengan keputusan para dewa dan juga romonya, karna apa yang terjadi pada dirinya bukanlah kesalahan yang sengaja dibuatnya.
"Kenapa romo? kenapa mereka harus dihukum juga?!" teriak nawang wulan pada persidangan yang diadakan para dewa dan romonya
"Karna itu adalah kesalahanya. Manusia sepertinya tak pantas untuk hidup lebih Lama lagi, dia telah melakukan kesalahan besar dengan menipu dan mengelabuhi kamu, sehingga kamu menikah dengannya dan melahirkan anak dengan dia"
"Lalu kenapa romo juga ingin menghukum anak ku? Dia tidak tau apa-apa dan tidak bersalah. Kelahirannya bukanlah dosanya." Tangis nawang wulan mulai pecah
"Tidak. Dia bersalah kelahirannya ke dunia ini adalah kesalahan. Dia tak seharusnya terlahir di dunia ini, dan dia adalah makhluk yang tak sempurna, karna dia makhluk campuran antara bidadari dan manusia biasa. Itu tidak boleh ada di dunia, itu menyalahi aturan" tegas romo nawang wulan
"Tidak romo. Romo bisa menghukum aku karna itu adalah keputasan ku. Jangan ganggu mereka, jangan sakiti putriku dia tidak bersalah. Bukankah romo dan kalian semua yang ada disini sudah tau dan bisa melihat ku dari sini. Kenapa.?! Kenapa kalian hanya mesaksikan saja tanpa menolong ku, dan sekarang mau menghakimiku dan menghancurkan keluarga ku. Kenapa?!" Nawang wulan berteriak histeris dihadapan persidangan itu
"Kami tak tau kalo kamu akan mengambil tindakan sejauh itu, dan pengaruh keluargamu itu bisa mengotori pikiranmu. Sebagai seorang bidadari kamu seharusnya tidak memiliki keterikatan dengan apa pun. Tapi lihatlah dirimu sekarang nawang wulan, bahkan keluarga yang tak seharusnya terjalin itu telah mempengaruhi emosimu" penjelasan panjang lebar dari salah satu dewa yang ada di situ
"Ini tidak adil, kalian hanya membesar-besarkan masalah yang ada saja. Aku menuntut keadilan pada kalian semua." Teriak nawang wulan di selah isak tangisnya
"Bawah nawang wulan kembali ke bulan dan kurung dia selamanya di sana agar tak bisa keluar masuk lagi" perintah dari romo nawang wulan kepada perajurit kayangan yang ada di situ.
Penjaga kayangan itu pun menyeret nawang wulang ke luar dari ruang sidang kayangan dan memasukkannya lagi kedalam bulan dengan susah paya, karna nawang wulan selalu berontak untuk meminta keadilan pada para dewa dan juga romonya yang melakukan persidangan untuk dirinya dan keluargnya di bumi.
Nawang wulan yang merasa sedih dan putus asah itu terus menangis dan dia melihat ke bumi, disana dilihatnya jaka dan putrinya yang tertidur di teras rumahnya sambil menatap bulan yang jau di langit. Wajah putrinya terlihat sendu seperti habis nangis, jaga terus mengusap kepala putrinya dan menunjuk ke arah sinar bulan.
Kesedihan nawang wulan semakin bertambah, amarahnya yang ada dalam hatinya memuncak atas apa yang telah diputuskan boleh para dewa dan juga romonya, yang seolah menganggap dirinya dan keluarganya tak berharga dan tak memiliki hak untuk hidup di dunia ini. Dan akhirnya nawang wulang dalam kemarahannya yang sudah memuncak itu dia memutuskan untuk menjual jiwanya pada penguasa dunia hitam dan dia menghancurkan dirinya sendiri untuk bersekutu dengan bangsa dunia hitam. Kekuatan besar dari bangsa dunia hitam menguasai diri dan jiwanya hingga membuat sinar bulan hilang tertutup sesaat dengan gegelapan yang sangat pekat yang bisa disebut dengan gerhana bulan.
Nawang wulan mengepakkan sayap hitamnya yang besar dan kokoh, dia terbang di atas langit kayangan dan memberi peringatan pada semua bangsa kayangan agar mereka jangan ada yang berani dan sekali kali mendekati, menyentuh dan mengusik keluarganya dengan alasan apa pun. Karna jika itu terjadi makan nawang wulan tak akan segan-segan lagi untuk menghancurkan kayangan tanpa bersisah.
Gertakan dan ancaman dari nawang wulan itu membuat semua penghuni kayangan merasa takut. Apa lagi kemunculannya dengan sayap hitam yang begitu besar membuat mereka semua merasa terkejut dan takut.
"Nawang asih jangan bersedih lagi nak, lihatlah bulan yang bersenar terang itu, disana ibumu sedang mengawasi kita" hibur jaga pada putrinya yang menangis karna merindukan sang ibu
"Hiks, apakah ibu tidak akan kembali lagi?" Jawab nawang asih dengan wajah sedihnya
"Sayang, ibu adalah seorang bidadari yang cantik. Ibu harus kembali ke kayangan supaya bisa menjaga asih dan ayah dengan baik dari atas sana" jawab jaka berusaha menenangkan putrinya yang masih menangis sesenggukan
"Kenapa tidak menjaga asih dan ayah di sini aja seperti dulu, asih rindu ibu ayah" isak tangis asih menyayat hati jaka yang tidak lagi bisa memberi penjelasan pada putrinya yang sekarang sudah besar dan pandai bicara itu.
"Wulan, aku juga sangat merindukanmu" guman jaka dalam hatinya
Ketika jaka memeluk putrinya dalam dekapannya, tiba tiba suasana menjadi gelap gulita dan sinar bulan yang tadinya terang tiba-tiba tertutup boleh kegelapan yang sangat pekat dan tak menyisakan sedikitpun sinarnya.
Jaka terus mendekap putrinya dan menyaksikan bulan yang tertupuk boleh kegelapan itu, dia merasa heran dan bertanya tanya ada apa gerangan, kenap tiba-tiba sinar bulan menghilan dan digantikan boleh kegelapan yang begitu sangat pekat.
Saat sinar bulan perlahan mulai kembali jaka melihat dari kejahuan seolah ada bayangan hitam yang begitu besar yang seakan akan terbang dari langit dan menghampirinya.
Nawang wulan yang sudah memberikan peringatan dan ancama pada semua penghuni kayangan langsung terbanga ke bumi untuk menunjukkan wujud dirinya yang sekarang kepada jaka dan memberikan kekuatan perlindungan pada para keturunannya, lalu dia pergi menenggelamkan dirinya ke dasar lautan terdalam dan menjadi penguasa di sana. Dia pun berganti nama menjadi Nyi Roro Kidul penguasa pantai selatan.
~TAMAT~