Sebuah kelas sedang berjalan dengan bimbingan seorang guru yang sedang menerangkan sebuah materi dasar. Sebagian anak mendengarkan, dan yang lain sedang asyik dengan kegiatannya sendiri. Sang guru tidak terlalu mempedulikan karena dia tau, mereka sudah SMA dan seharusnya bisa lebih mandiri.
Saat materi yang ia terangkan sudah habis, dia menulis tugas di papan dan memerintahkan muridnya untuk mengerjakan tugas tersebut. Tanpa sebuah pertanyaan apa pun, anak-anak menyanggupi dan mengerjakannya dengan serius. Sang guru tersenyum tipis.
“Segera diselesaikan, ya.” Celetuk sang guru melangkah duduk di kursinya.
“Ya, Bu.”
Anak panah jam dinding menunjukkan pukul 01.41 dengan jarum panjang merahnya yang terus berputar. Suara itu mengisi kesunyian kelas saat anak-anak sedang serius mengerjakan tugasnya dengan sesekali suara mereka yang bercampur.
Tidak lama kemudian, sang guru menanyakan tugas itu dan rupanya sudah ada beberapa anak yang selesai.
“Tolong yang lain lebih cepat, ya. Setelah ini akan ada rapat pada jam—lho sudah waktunya!” seru Bu guru secara tiba-tiba setelah melirik ke arah jam.
“Yang sudah selesai silakan dikumpulkan. Yang belum tolong di selesaikan dan nanti diantar kemeja saya, ya.” Wanita itu tampak terburu-buru merapikan perlengkapannya.
“Baik, Bu.”
Sesaat setelah ibu guru meninggalkan kelas, anak-anak mulai kembali ribut mencari jawaban mereka dan menanyakan kepada teman-temannya. Saat dalam pengerjaan, salah satu anak menatap ke arah jam dan saat itu jam menunjukkan pukul 02.06 dan dia kembali mengalikan pandangannya kepada temannya.
“Hei, setelah ini ada acara, gak?” celetuk seorang anak laki-laki pada beberapa teman di sampingnya.
“Gak ada, kenapa?” salah satu mewakili.
“Gimana kalau kita main sebentar ke taman, katanya ada tempat resto baru.”
“Iya, seru tuh.” Sahut yang lain.
Dalam pembicaraan mereka, salah satu anak tampaknya tidak terlalu mendengarkan dan berusaha mengerjakan tugasnya karena tertinggal.
“Gimana, Han? Kamu ikut gak?”
“Hah—Iya! Aku ikut, kok!” sahut Rahan, tergesa dengan senyuman tipisnya.
Tampaknya semua menyanggupi tawaran tersebut dan mereka menentukan waktu yang paling tepat sore ini yang bisa disetujui semua.
Sama seperti yang diarahkan gurunya, mereka mengumpulkan tugasnya menjadi satu dan mengumpulkannya di meja ibu guru saat jam sekolah berakhir. Saat itu, sebagian besar anak-anak sudah meninggalkan kelas dan pulang.
Namun masih ada beberapa anak yang ada di dalam kelas dan melakukan sesuatu. Mereka masih tampak saling bercanda ramai di dalam kelas, namun akhirnya mereka diusir oleh petugas kebersihan kelas karena sudah terlalu sore di sekolah.
Seorang pria paruh baya dengan kumis hitam tipis dan pakaian sederhana, sedang mengunci pintu kelas tersebut. Dari balik jendela, ia melirik ke arah jam. Tampak dia menyitipkan matanya untuk meningkatkan fokus pandangannya, namun kemudian ia tampak seperti sedikit terkejut dan mengangkat bahunya melangkah pergi meninggalkan kelas.
Keesokan harinya di kelas yang sama, anak-anak mulai masuk dan sebagian besar duduk di tempatnya masing-masing, sedangkan yang lain tampak bercanda di teras kelas.
Dari kejauhan terdengar bel masuk dengan lantunan lagu Indonesia Raya yang dilaksanakan dengan saksama oleh anak-anak di teras kelas seperti hari-hari biasanya dan berbaris rapi di depan kelas. Secara tidak sadar, salah satu anak itu menolehkan kepalanya dan melirik ke arah jam.
Namun ia tampak terkejut karena jam itu menunjukkan waktu yang salah dengan jarum merahnya yang sudah berhenti berputar. Jam itu menunjukkan waktu tepat pada pukul 03.15 tepat dengan anak panah merahnya yang hampir menyentuh angka 12 dalam jam.
“Hoi!” terdengar dari seseorang yang tidak jauh dengan nada yang kasar, mengejutkan dirinya.
Sontak ia segera memalingkan wajahnya dan berdiri tegap menyadari itu adalah guru BK yang sedang menatapnya dengan tajam.
Saat lagu selesai dinyanyikan, anak-anak segera masuk ke dalam kelas dan duduk di kursinya masing-masing. Saat itulah semua orang mulai sadar, ada seorang anak yang hari ini tidak masuk.
“Lho? Rahan di mana? Dia gak masuk?” celetuk salah seorang anak laki-laki yang duduk agak jauh dari tempat duduk Rahan.
“Kau tidak dengar kabarnya!” seru seorang gadis yang duduk bersebelahan dengan kursinya.
“Apa? Oh, ya. Kemarin dia juga tidak datang di taman. Ada apa dengannya, ya?”
“Radit!” saru gadis lainnya dengan nada yang keras menatap ke arahnya.
“Yak—ya?” Radit tampak terpojok dengan tatapan gadis di depannya.
“Kemarin sepulang sekolah Rahan segera dilarikan ke rumah sakit karena kecelakaan. Dan tadi pagi sekitar jam tiga, dia dinyatakan meninggal karena kerusakan pada otak.” Tampak gadis itu menundukkan wajahnya dan memalingkan matanya.
Radit hanya terdiam dengan wajahnya yang terus menatap gadis di depannya seakan tidak percaya. Baru kemarin mereka saling bercanda dan sekarang dia sudah.
Sesaat kemudian, seorang pria berjalan masuk ke dalam kelas dan hanya berdiri di depan pintu dengan membawa secarik kertas.
“Maaf, Bapak membawakan pengunguman dari sekolah hasil rapat kemarin. Dimohon kepada anak-anak untuk tidak membawa kendaraan motor sendiri terutama anak yang masih belum memiliki SIM dan—“ pria itu tampak menghentikan kalimatnya setelah melihat muridnya menunduk sedih.
“Kalian pasti sudah tau yang ini, ya. Tentang Rahan, Bapak juga ikut prihatin dengan dirinya. Namun mau bagaimana pun juga, bila itu adalah waktu yang tepat, maka tidak ada yang bisa menentangnya. Semoga semua doa dapat tersampaikan kepadanya.”
Karena Waktu yang Menelan Segalanya.