Hana baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 80 tahun. Ditemani oleh lima anaknya, dua puluh cucunya dan enam cicitnya.
Boleh dibilang Hana termasuk panjang umur. Tapi bagi Hana fungsi telinganya sudah menurun sehingga harus memakai alat bantu dengar. Matanya juga sudah kabur. Belum lagi giginya yang sudah tanggal sehingga harus memakai gigi palsu. Belum lagi saat berjalan, ia hanya bisa berjalan pelan.
Acara ulang tahun selesai. Semua anggota keluarga pulang ke rumahnya masing-masing.
Hana masuk ke dalam kamarnya ditemani suster.
Hana berebah di ranjang. Sebelum tidur ia melihat foto almarhum suaminya. Foto mereka berdua saat mereka baru saja menikah. Foto saat mereka muda. Foto saat Hana masih kuat untuk berjalan, memakan apa yang ia ingin makan.
Aku tinggal menunggu waktu.
Hana memejamkan matanya dan tertidur.
Dalam mimpinya ia bisa berjalan dengan baik. Hana terkejut. Ia melihat kakinya kemudian tangannya.
Tak ada bintik-bintik hitam.
Tak ada kerutan.
Mataku juga tidak kabur.
Hana lalu menyentuh wajahnya.
Masih mulus.
"Hana ..." Seseorang memanggilnya. Suara yang tidak asing lagi. Suara Joshua, suaminya. Joshua terlihat begitu muda. Persis foto mereka ketika mereka baru saja menikah.
Joshua mendekati Hana dan memeluknya, "Aku sudah begitu merindukanmu."
"Aku juga."