[part 2]
pak tua pemilik kedai itu tergeletak pingsan tak berdaya, ku cek denyut nadinya dan sekeliling tubuhnya
"gawat !!! dia terkena serangan jantung"
langsung saja ku hubungi ambulan lalu melakukan pertolongan pertama, aku melihat sekeliling area kedai lalu meminta tolong pada penduduk sekitar untungnya ada beberapa dari mereka mau datang membantu
"ini langsung di bawa aja ke rumah sakit ya mas si bapak ini emang belakangan sering banget jantungan kaya gini" ucap mas mas berkacamata
"ehh tapi saya udah panggil ambulan mas.. gimana dong ?"
"ohhh... udah di kasih obat ? biasanya obatnya di taro di laci meja belakang"
langsung saja aku lari dan mencari cari obat yang di maksud.
*ahhh ketemu.. loh tapi kok enteng ?!*
*sialll obatnya habis.. pantas saja dia langsung ambruk*
"mas obatnya di belakang sudah habis.. saya cari cari gak ada yang lain lagi"
"tch... kebiasaan orang tua ini selalu saja lupa untuk membeli obatnya"
untungnya ambulan langsung datang kurang dari 15 menit, petugas langsung dengan sigap bergegas menyiapkan peralatan tandu dan alat pernapasan
"adakah diantara kalian yang keluarganya ? kami sarankan untuk ikut supaya lancar proses kedepannya" ucap petugas
"saya saja, saya kerabat dekatnya" ucap mas kacamata itu
"saya bisa minta tolong ke kamu nggak ? selagi saya pergi tolong jaga kedainya kalo kamu lagi free sekarang"
"i... iya sebisa saya" jawabku ragu
"semua kebutuhan kamu ada di meja belakang, kalo ada masalah nomor saya juga ada disitu"
mas mas kacamata itu pergi bersama ambulan yang membawa pak tua itu. aku heran apakah mereka ayah dan anak ? jika iya, amatlah keterlaluan membiarkan orang tua bekerja sendiri selagi anaknya santai santai didepan menggunakan motor jenis off road. lagian dia juga mempercayaiku untuk menjaga kedai pak tua ini, aku tau aku membutuhkan pekerjaan tetapi aneh rasanya jikalau harus seperti ini jadinya.
aku lalu menuju meja belakang. memperhatikan tiap tiap detil tentang apa yang harus ku kerjakan di hari dadakanku bekerja
semua berjalan biasa tentang "S.O.P" yang berlaku juga nampaknya normal normal saja sampai aku melihat tentang surat tagihan hutang. untuk ini rasanya kubiarkan saja karena rasanya tidak elok melihat lihat urusan pribadi orang.
aku memakai apron lalu mulai sedikit beberes di meja bar. ku lihat daftar menu
*harga yang standar untuk sebuah peralatan yang serba mahal, yahh lagi pula kedai kafe disini sudah menjamur. mungkin saja pak tua itu tadi menggunakan kebijakan ini untuk menarik perhatian pelanggan*
*namun memang ampun, peralatan ini benar benar membuatku takjub dengan pesonanya*
aku lalu melihat sebuah foto yang menggambarkan mas mas kacamata tadi dengan si pak tua, tampak si pak tua seperti memperhatikan juga mengawasi mas mas tadi membuat V60.
seperti hubungan guru dan murid atau orang tua dan anak, entahlah foto itu terlalu menggambarkan keduanya.
*Clinkkkinggg...*
suara pintu terbuka, ahh pelayanan pertamaku nampaknya wanita populer. bisa dilihat dari rambutnya yang sedikit ikal, perhiasan gelangnya dan yahh tentunya wangi yang semerbak bagai bunga di pagi hari
"mau pesen apa kak ?" tanyaku
"hmm... es kopi dehh biasa minum disini aja"
"total jadi 25 k ada lagi ?"
"itu aja deh"
ku siapkan pesananya lalu kuantarkan.
"mas orang baru ya disini ? aku kok kayaknya baru liat"
"iya mbak hehe..."
"pak samchi kemana ?"
*ohh.. jadi nama pak tua itu samchi*
"tadi barusan ke rumah sakit mba dianter mas mas yang kayaknya sih keluarganya"
mba mba yang tadinya riang penuh senyuman berubah menjadi sedih penuh ke khawatiran.
"ada yang salah mba ?"
"nggak mas nggak papa..."
meskipun wanita itu bilang tidak apa apa terlihat jelas raut kecemasan dari wajahnya, bisa saja ku tanyakan mengapa dengan kekhawatirannya namun itu jauh diluar tugasku dan aku enggan berurusan dengan hal hal yang merepotkan
"ada lagi mba yang mau dipesan ?"
"nggak mas ini aja terima kasih ya.."
aku kembali ke meja bar, lalu ku atur musik ke genre yang lebih flow untuk meredakan ketegangan mba mba tadi.
*sepertinya berhasil dia mulai keliatan rilex*
lalu ada notif dari pesanan online yang lumayan banyak yaitu 5 ice latte, segera aku buatkan pesananya.
kemudian datang lagi pelanggan memesan 7 buah pesanan yang berbeda
*siall disaat mulai ramai seperti ini aku malah kerja sendiri*
"ditunggu ya kak ini lagi buatin pesanan lain dulu"
kurir sudah datang, untungnya semua pesananya sama. sesudah dibungkus rapi lalu di take over oleh kurir, sekarang tinggal membuat ke tujuh pesanan lainnya.
jujur untuk pemula sepertiku amatlah menyebalkan ketika bekerja dengan pesanan yang ramai seperti ini.
ke lima pesanan sudah ku antarkan, sekarang tinggal buat yang ke enam V60 japanese style dan V60 yang biasa.
*dari rasa ku pikir sudah aman sekarang tinggal mengantarkan semuanya*
saking fokusnya ke meja bar aku sampai lupa sekelilingku, es batu untuk membuat V60 tercecer dan meleleh membuat jalan yang ku lalui menjadi berair dan licin.
benar saja aku tergelincir saat membawa pesanan
*BRAKKKKKK...*
gelas yang berisi pesanan pecah dan aku harus membuatnya lagi dari awal.
*bersambung~~~