Aku sering mendengar berita di tv orang suaminya diambil sama pelakor. Aku tidak pusing. Bagiku yang penting selalu memasak, mengurus anak semua akan aku lakukan sepenuh hati.
“Ya semua lelaki begitu karena kurang komunikasi antar pasangan, sehingga dia akhirnya meninggalkan istri demi gadis lain.” ujar aku menyapu lantai.
“Alah, palingan itu Bu istrinya terlalu nuntut udah biar saya yang nyapu.” jawab Miguela Babysitter kedua putriku.
“Betul, kalau gitu saya ke kamar anak saya dulu mereka belum makan dari tadi pasti lapar.
”
Aku ke kamar kedua putriku. Anak itu asyik bermain game di ponsel. Sehabis mengerjakan pr sekolah. Bukannya beristirahat malah asyik bermain jadi aku menyuruhnya untuk makan. Anak itu menolak alasan Sam belum ada di meja makan.
“Lho kok gak mau makan? Ntar sakit papa pasti marah sama kalian, udah kita makan nanti main lagi.”
“Iya Bu.” jawab salah satu anak paling kecil, meletakkan gadget harga puluhan juta.
Sampai was-was datang menghampiri menemukan kemeja wangi sang suami. Samuel Crowwell Hendry namanya dia paling aku cintai. Memiliki dua anak bernama Sevilla dan Hazel juga aku paling bahagia di dunia. Sampai di mana Hazel jatuh sakit dan Samuel tidak ada di rumah.
“Mas kamu di mana?” Airmataku bercucuran. Sudah pukul setengah dua belas malam belum juga kembali.
Aku mengucap sabar dan kuat dalam doaku. Takut sekali. Samuel pulang memberitahu jika tugas kantor numpuk langsung tidur, bahkan untuk mengecek Hazel saja tidak sanggup. Katanya tinggal kasih obat penurun demam.
“Nanti kamu kasih penurun panas, aku capek habis meeting, padat.” jawab Samuel masuk ke kamar.
Tumben dia berkata dengan nada tinggi.
Mungkin kalian menganggap kisahku ibarat ftv yang sedang trend, atau sinetron berjubel episode tapi ini nyata. Baru saja menonton drakor Married Of The World kecemasan aku tumpah ruah juga. Segera aku merias wajah.
Mencoba memperhatikannya.
“Ada jerawat!” jawab aku.
“Heaven kamu lagi ngapain?” tanya Ibu mertua.
“Dandan Bu, tapi aku gak pede…”
“Samuel pasti terima kamu apa adanya.”
Tersenyum kecil. Padahal hatiku sedang sakit.
Aku membeli keperluan belanja di supermarket besar. Di sana juga menjual berbagai mainan anak, makanan lengkap keperluan rumah-tangga juga lengkap.
Lalu menubruk troli seseorang.
“Maaf, aku nggak sengaja.”
“Tidak apa-apa.” jawabku santai mendorong lagi.
Gadis itu berambut coklat pirang cantik berpakaian layaknya wanita kantoran. Tinggi cukup semampai, beda sama aku pendek dan kecil mungil.
Di sana ada seseorang berdiri membayar belanjaan. Kakiku lemas terkulai airmata bercucuran. Aku bukan wanita lemah ribut di sana, tapi ini menyangkut aku dan anak-anak.
“Jadi Mas selingkuh sama gadis muda ini? Aku kecewa Mas.”
“Kamu salah paham, dengarin aku dulu.”Samuel menarik tanganku berusaha menjelaskan. Matanya menatap tajam ke arahku
“Oke, lima menit.” Menghembuskan nafas, menerima.
“Aku gak kenal siapa dia? Dan dia bukan siapa-siapa aku.”
“Bohong.” Tanyaku melotot jadi bahan tontonan.
“Siapa ya? Kenalkan saya Hellena.”
“Tadi saya kemari cuma mau beli peralatan kantor pulpen sama beberapa alat tulis lainnya dengan kacang soalnya lagi pengen ngemil di kantor.”
“Terus mana belanjaannya?”
“Anu… saya belum beli soalnya lagi nyari pulpen yang biasa udah habis, terus ada telepon mau meeting jadi saya buru-buru tapi tadi ngeliat ini.” Menunjuk kacang atom segera membayar.
Mencoba percaya adalah kunci utama sebuah hubungan. Sampai di mana perasaan sama hadir. Selalu aku merasa curiga sama suami. Aku menyambangi Samuel di kantor tengah mengerjakan banyak file di komputer. Sekertaris masuk membawa buku laporan. Mereka melalukan interaksi kecil.
“Dasar pelakor berani-beraninya pegang tangan suami saya.” Airmata menghiasi pipi.
Penampilanku memang kurang modis, aku tidak berdandan cantik, hanya bergaya seperti Ibu rumah tangga. Mungkin ini alasan Mas Samuel berpaling dariku. “Pelakor itu gak ada sayang, buat aku cinta cuma untukmu.” Sudah malas berkelahi aku diam saja.
“Aku pulang jangan lupa makan sayur asem sama tempe tahu, ayam kecapnya.” jawab aku pergi.
“Argh, selalu saja istriku curiga.” Selepas kepergianku yang mendadak.
Gadis itu berjalan ke sebuah apartemen duduk membuka ponsel. “Dia kelihatan mulai curiga sama kita kamu sih mainnya kurang jauh?”
“Cuma tempat itu yang dekat dari rumahku.” ucapnya menutup WhatsApp.
Di waktu jam makan siang seorang lelaki tengah duduk bersama gadis muda. Tertawa berbincang sembari menikmati kentang goreng di temani jus jeruk dingin.
“Aku akan memberikanmu rumah, kamu mau kan nikah siri sama aku?”
“Aku mau jadi istri sah kamu, bukan siri buat apa?”
Kehidupan indah harus didasari salingnya berkomunikasi ini saja dia jarang menelepon, apalagi sekedar menanyakan kabar anak-anak. Aku bosan membaca majalah memilih ke kafe mencari suasana baru. Anak diawasi sama babysitter.
Di sana aku melihat dengan mata kepalaku orang yang selama ini kupercaya tengah berselingkuh. Ini saatnya aku membuktikkan bahwa aku tidak salah.
“Mas jadi selama ini kamu jahat sama aku?” Berlari dari tempat keduanya sedang berbincang.
“Dengerin aku dulu Heaven dia gak seperti yang kamu pikirkan.”
“Ini yang di supermaket itu kan? Kamu tegas Mas.” Berlari keluar aku segera pulang ke rumah.
Mendapatkan penunjuk akhirnya memilih berpisah.
Samuel pulang dalam keadaan baik saja seolah tanpa dosa. Kemudian mendekap tubuhku lalu aku menolak.
Kelisa Ibu Mertua aku mengetahui pentengkaran kami berusaha melerai dan menjelaskan bahwa Samuel perlu diberi kesempatan.
“Kasih dia kesempatan, Ibu gak mau rumah tangga kalian berakhir seperti ini?” Cemas melingkupi wajah Kelisa.
“Aku memang tidak cantik, aku kurang bersolek, cuma tau masak di dapur, tapi aku tidak pernah berselingkuh sekarang aku mau cerai dari kamu.” Kepalanya terasa pusing semakin berat memikirkan bagaimana tumbuh kembang Sevilla dan Hazel tanpa seorang Ayah.
Di sana ada foto kami menikah waktu itu di Bali betapa indah pemandangan di sana semua tamu hadir menyapa dengan ceria. Ada kebahagiaan datang ketika semua teman kuliah hadir. Bahkan kami dijuluki pasangan serasi.
Sebuah pesan Whatshap masuk mengabarkan hal mengejutkan. Aku meraih ponselnya tapi ditahan oleh Samuel aku perlu kebeneran. Chat mereka selama ini, di mana Samuel selalu menyimpan jauh ponselnya. Mengganti kontak sebagai orang lain agar tidak menaruh curiga.
"Samuel berikan pada Heaven ponsel kamu!”
Terpaksa dia melakukan semua perintah ibunya, sehingga semua ketahuan dan tertulis pesan bahwa Hellena hamil mengandung anak Samuel. Teriris hatiku mengapa baru tahu sekarang aku menyesal. Tertunduk airmataku pecah.
“Aku tetap mau cerai, biar anak aku yang urus.” jawab Heaven memeluk Kelisa Ibu mertua.
Perlahan menutup pintu. Aku menemui kedua anak biarlah takdir memutar balikkan semua hamba boleh terluka, tapi kemudian bangkit tanpa perlu menjadi lemah.
Setelah setahun aku berpisah dari Samuel aku membagikan kisah aku di blog semua orang memberikan apresiasi padaku, aku dianggap kuat. Sedangkan mereka sudah pasti melakukan hal kasar jika suaminya berselingkuh. Tapi aku membantah itu semua.
♡THE END♡