Malam ini, malam pertama di mana Elang di perbolehkan untuk keluar dari ruang rawat inap nya. Dan juga, malam ini ialah malam di mana Elang bisa tersenyum bahagia dengan mengusak batang hidung nya di perut dengan lapisan baju sang istri.
Malam ini, ialah malam di mana Elang bisa merasakan pelukan mengganjal karena rahim sang istri di isi oleh segumpal darah daging nya.
Membayangkan hal itu membuat senyum Elang mengembang.
"Pakai kupluk nya, kak." Elang mengangguk kan kepala nya pada sangat istri yang datang dengan kursi roda yang si cantik pinta pada salah satu suster yang berjaga di pintu ruang inap.
"Sayang, kamu aja yang duduk di kursi roda, ya? Biar aku yang dorong kamu." Bintang terkekeh sinis mendengar ucapan sang suami. Ia berdecih pelan. Menggenggam tangan kanan sang suami, lalu menarik Elang dengan perlahan hingga sang suami terduduk di kursi roda dengan nyaman.
"Lagi hamil bukan berarti ga kuat bawa kursi roda, kak. Bintang baik baik aja. Kakak duduk dan turuti aku, ya?"
___
Hal sederhana yang membuat banyak pasang mata menatap sepasang suami istri bersantai di bawah rumput dekat danau dengan si pria menidurkan kepala nya dengan nyaman di paha sang istri sembari memeluk perut buncit si cantik yang selalu ada untuk membantu Bulan menerangi gelap nya malam.
"Hai, adek. Ini Ayah." Bintang tak sanggup melihat wajah tulus yang bersedih itu menempelkan pipi nya pada perut besar nya. Ia memalingkan tatapan ke arah lain. Yang terpenting, sekarang, ia tak dapat melihat wajah sang suami.
Sungguh, mata seorang Pelangi Antariksa berkaca-kaca.
Dengan semburat rindu pada kedua malaikat yang Tuhan berikan pada dirinya.
Ia yakin, ini tak akan lama.
Ia yakin, waktu akan terus berputar hingga saat di mana seorang Pelangi Antariksa menghembuskan napas terakhir nya sebelum melihat wajah sang anak yang ada di kandungan sang istri.
"Malam ini, berapa bulan?"
"Tujuh, kak."
"Pekan?"
"Dua puluh lima." Elang mengusap perut Bintang dengan ibu jari nya. Ia menatap perut tertutup sweater itu dengan sendu.
"Dek, kalau kita gak ketemu, gapapa, ya?" Tak dapat menahan, Bintang menatap bulan di langit dengan air mata yang menetes deras tanpa isakan.
"Bintang tau, kakak lelah. Bintang tau, kakak ingin pergi dari dunia agar kakak bahagia. Tapi, bisa kah kakak bertahan? Beri waktu sebentar saja. Setidaknya, kak Elang bisa melihat wajah baby blue." tangan kiri si tampan bergerak perlahan. Ia mangusap pipi tembam sang istri. Menghapus air mata si cantik.
"Bintang Arinka, wanita ku, cinta pertama dan terakhir ku, ibu dari anak ku, dan pendamping hidup ku. Kami menikah pada Hari Senin, tanggal sepuluh bulan Maret tahun dua ribu dua puluh satu." Elang menurunkan tangan nya dari pipi Bintang. Ia menggunakan tangan kanan nya dengan memeluk pinggang sang istri dengan tangan kiri nya yang menggenggam tangan kanan Bintang.
"Banyak masalah yang kita lewati bersama. Berjuang bersama, saling terbuka, hingga Tuhan dengan baik hati memberi segumpal darah yang sebentar lagi akan lahir menjadi si kecil yang kuat seperti ayah dan memiliki hati yang lemah lembut seperti bunda nya." tidak, bintang menggeleng kan kepala nya di saat mata sang suami menatap manik mata nya. Sedangkan pria yang menatap mengerat kan pegangan nya pada tangan Bintang.
"Kak, bertahan, 'kan? B-bintang ga bisa hidup tanpa pegangan, kak." Elang terkekeh pelan. Ia tersenyum dengan tangan kiri nya yang mengusap pinggang Bintang.
"Syukur nya, ada mas Jean. Yang sampai sekarang masih memendam rasa sama kamu. Ada Jio, Bang Marzen, Papa, dan Bunda."
"-kak, bintang boleh nangis kencang?" dengan senyum sendu, Elang mengangguk pelan. Mengizinkan sang istri menangis sepuas nya.
Kaki Elang kaku. Tak seperti dulu sebelum ia terus tertidur di ranjang rumah sakit. Tubuh nya rapuh, tak sekuat di mana ia memeluk sang istri yang menangis karena keinginan nya dan si bayi belum tersalurkan.
"Keluarin, dek." isakan deras mengalun membuat Elang memejamkan mata. Ia tak menyukai tangisan bintang. Namun ia tahu, bahwa bintang sama lelah nya dengan dirinya. Bintang ingin mengeluarkan keluh kesah nya pada 'sandaran' terbaik nya.
"Jujur, Bintang bener bener gak akan siap kak Elang pergi ninggalin kita. Bintang ga rela, Kak Elang ketemu Tuhan lebih dulu. Bintang.." Ucapan itu terhenti, telunjuk Elang berada di bibir manis Bintang. Membuat Bintang terdiam dengan mata yang mulai memejam.
Merasakan debaran angin malam yang tak terlalu baik bagi tubuh. Namun dapat membuat siapa saja yang merasakan nya menjadi lebih tenang.
"Aku bukan Tuhan. Aku ga akan tau takdir Tuhan gimana. Kalau Tuhan kasih waktu ke aku untuk berhenti, aku berhenti. Namun, jikalau diri-Nya memberi waktu, aku akan bertahan.
Aku juga mau kayak suami suami yang lain. Di mana tangan nya di genggam istri nya untuk di jadikan sebagai pelampiasan, di mana ia menjadi orang pertama yang melihat wajah si kecil, dan saat, di mana aku bisa mengecup kedua pipi anak ku.
Suatu hal, yang selama ini aku bayangkan. Namun aku tahu, mungkin saja, Tuhan tak akan mengabulkan nya. Karena ia tahu mana yang lebih baik di banding apa yang ku pikirkan selama ini."
Elang mencengkram sweater yang Bintang pakai. Membuat bintang menunduk dalam.
Elang kesakitan lagi.
"Bintang, dekatin wajah nya, dek. Kakak mau cium kening kamu." tanpa aba aba, Bintang mendekat kan wajah nya pada wajah Elang. Membuat sang suami tersenyum tipis.
Cup.
Kening si cantik di kecup. Dan setelah nya, si tampan tersenyum menatap mata sang istri yang sembab.
"Dek, bacain cerita, dong. Kakak mau tidur, nih." bintang menangis. Lagi dan lagi.
Suami bodoh nya ini meminta dirinya untuk membaca kan sebuah cerita. Agar si tampan tertidur. Seperti anak balita yang ingin di tidurkan dengan sebotol susu dan satu cerita tentang makhluk hidup.
"Kak, adek ga tau, kalau seandainya kakak pejamin mata, kakak akan membuka lagi atau tidak. Tapi Bintang berharap, kalau nanti mata kakak tak terbuka lagi, kakak bahagia, ya? Adek yakin, adek bisa jadi ibu yang terbaik buat baby blue kita."
Elang tak terlalu mendengar perkataan Bintang. Telinga nya seolah tertutup dengan mata yang perlahan memejam.
"Dek, kakak tidur ya.." Bintang menggigit bibir nya dengan air mata yang keluar deras.
Mata favorit nya, memejam bersama dengan cengkraman erat di pinggang perlahan melemas.
Bersama, dengan tangan mereka yang saling menggenggam, terlepas begitu saja.
"Bahkan Bintang belum cerita satu kata pun loh, kak. Tapi kakak udah tutup mata duluan." Bintang terkekeh pelan. Wajah nya mendekat ke wajah Elang. Menyatukan kening kedua nya.
"Untuk pria yang berada di dekapan ku, yang menghembuskan nafas terakhir nya beberapa detik yang lalu, yang rela menghabiskan waktu terakhir nya bersama ku."
Air mata bintang menetes membasahi wajah Elang.
"Ayah, selamat beristirahat. Ayah sudah melakukan semua nya dengan baik..
.. Bunda mencintaimu. Selamat tidur, Antariksa."
___
"Halo mas Jean.. "
"Iya dek? Ada sesuatu yang mau bintang bicarakan sama mas?"
"Iya mas."
"Perlu bertemu?"
"Perlu. Tapi sebelum nya, mas Jean jangan marahin Bintang, ya?"
"..."
"Dek.. "
"Mas Jean, Kak Elang meninggal.. "
___