Yuna gak mau main sama anak-anak yang lain. Yuna maunya main sama Marsha.
Marsha selalu datang disaat magrib tiba. Sesosok anak kecil seumuran dengan Yuna, sering menggunakan baju gaun putih selutut, rambutnya di kepang jadi dua.
"Shin Yuna jangan keluar magrib!"
Yuna tetap saja tak mendengarkan Mamanya. Yuna selalu bermain bersama Marsha di waktu magrib. Mereka suka main petak umpet, kejar-kejaran, ciluk ba dan permainan lainnya.
Mereka tertawa bareng. Meskipun Marsha tak mengeluarkan suara tapi Yuna senang bermain dengan Marsha. Jadi, cara mereka mengobrol dengan cara menggeleng dan mengangguk bagi Marsha. Selama mereka main bersama Marsha gak pernah ngomong bahkan ketawa pun tanpa suara.
Marsha itu nama pemberian dari Yuna sendiri. Marsha ini baik, hanya mengajak Yuna bermain hanya saja di waktu yang tidak tepat saja mengajaknya, namanya juga orangtua pasti melarang anaknya keluar diwaktu magrib.
Yuna udah bilang ke Marsha kalau mainnya jangan waktu magrib, tapi Marsha menggeleng, Marsha selalu datang di waktu magrib dengan senyuman manisnya saat melihat Yuna.
"Shin Yuna!"
Yuna ditarik paksa secara kasar oleh Mama menjauh dari Marsha.
"Pergi kamu! Jangan ganggu anak saya!"
Dimata Yuna, terlihat kalau Marsha menangis. Menangis tanpa suara.
"Mama jangan gitu. Liat, gara-gara Mama kan Marsha jadi nangis."
Yuna dipaksa dibawa masuk ke dalam rumah. Mama Yuna menceritakan tentang kejadian ini ke suaminya. Seminggu kemudian, keluarga Yuna pindah dan rumah itu di tempati oleh keluarga bibi Yuna.
20 tahun berlalu. Yuna kembali ke rumah itu, gak sendiri bareng sama keluarga.
Karena ada acara keluarga jadi mereka menginap.
Awalnya tidak ada yang aneh. Tapi saat pagi datang, boneka beruang yang ada di meja berpindah jadi disamping kiri Yuna.
Yuna biasa saja, orang baru bangun tidur tak peduli dengan apapun. Tapi, saat Yuna menoleh ke arah kanan ada Marsha dengan mulut yang menyubut nama Yuna tapi tak bersuara.