"Kamu sendiri yang menciptakannya, Ay. Cobalah cari seseorang yang dapat meneranginya. Kamu tidak bisa terus bertahan dalam kegelapan," ucap seorang pada Ayu.
Ayu adalah seorang perempuan berusia kurang lebih 20 tahun. Setelah kematian kedua orang tuanya, semua hidup Ayu seakan hancur. Merasa kematian itu adalah salahnya hingga sampai sekarang dia hidup dalam kegelapan yang dia ciptakan tanpa sadar. Wajahnya terlihat suram. Memang disekitarnya banyak orang-orang baik, tapi tetap saja Ayu merasa bahwa dia sendirian.
Hari ini jadwalnya ke dokter untuk melakukan pengobatan lanjutannya. Selama beberapa tahun Ayu datang kemari, tapi belum banyak perubahan dalam dirinya. Namun, dokter masih terus bersabar.
"Ay?" panggil dokter itu.
"Ya?" tanya Ayu terkejut, sepertinya lagi-lagi dia melamun. Memang isi kepalanya sedang tawuran.
Banyak sekali pikiran-pikiran di dalam kepalanya selama ini dan pikiran itu tidak pernah akan hilang. Terlihat dokter itu menghembuskan napasnya.
"Kita akhiri sampai di sini saja. Kamu bisa istirahat terlebih dulu di rumah."
Ayu hanya mengangguk setuju. Lalu, dia pun pamit dan meninggalkan kediaman dokter itu. Mereka sering melakukan percakapan di rumah atau terkadang di luar. Tempat selalu berpindah agar tidak bosan, begitu kata dokter.
Ayu berpapasan dengan salah seorang anak dokter itu. Perempuan itu hanya menyapa seadanya, dia tidak cukup dekat dengan anak-anak dokternya. Bahkan, Ayu merasa belum cukup dekat dengan dokternya. Ayu masih memasang jarak di antara mereka.
"Ma, tadi itu Ayu?" tanya Narel.
"Lho? Kamu pulang kenapa nggak kabarin Mama dulu? Iya tadi Ayu baru dari sini."
"Narel udah chat Mama tadi, mungkin karena tadi masih sama Ayu jadi Mama nggak buka chat Narel," jawabnya. "Mama sampai sekarang masih belum cerita ke Narel, si Ayu sakit apa."
"Mama nggak akan pernah cerita, itu privasi pasien. Bisa-bisa Mama melanggar kode etik kedokteran kalau kasih tau kamu. Kalau kamu penasaran, tanya langsung ke orangnya."
Mendengar ucapan mamanya, membuat Narel memiliki sebuah ide. Memang kurang lebih dua tahun yang lalu, Narel sering diam-diam memperhatikan Ayu yang sedang berkonsultasi pada mamanya.
Namun, setelahnya Narel harus bekerja di luar kota sehingga sudah tidak bisa bertemu dengan perempuan itu. Kebetulan hari ini Narel memiliki hari libur yang cukup lama. Dia memutuskan untuk pulang ke rumah dan kebetulan tadi bertemu dengan Ayu yang sepertinya baru selesai bertemu dengan mamanya.
Narel ingin berteman dengan Ayu. Tidak ada alasan khusus untuk Narel ingin berteman dengan Ayu, pria itu hanya merasa ingin mengenal Ayu. Kebetulan hari ini mereka kembali dipertemukan. Pertemuan yang tidak disengaja lebih tepatnya. Hari ini Narel mengunjungi kampusnya dulu untuk bertemu dengan seorang teman yang menjadi dosen di kampus ini. Ternyata Ayu juga kuliah di kampus ini.
"Ayu?" panggil Narel mendekati perempuan itu yang sedang duduk di salah satu bangku yang ada di taman kampus.
"Ya?" tanya Ayu, dia melepas headset yang terpasang di telinganya.
"Saya Narel, anak Dokter Bening."
Ayu hanya mengangguk sebagai jawabannya. Memang dia pernah mendengar jika Bening memiliki anak bernama Narel. Namun, Ayu belum pernah bertemu dengan anak Bening.
"Ah iya, saya Ayu," jawab Ayu.
Entah bagaimana awalnya bermula, Narel berhasil ngobrol bersama Ayu. Walaupun hanya Narel yang banyak bicara dan Ayu hanya menjawab saat di tanya saja. Namun, hal itu sudah membuat Narel sangat senang. Mendekati Ayu adalah sebuah tantangan bagi Narel, pria itu benar-benar tertarik pada perempuan yang duduk didepannya itu. Sementara itu, Ayu merasa tidak nyaman. Ingin segera pergi dari sana tapi merasa tidak enak karena Narel adalah anak Bening.
"Oh ya, kamu udah selesai kelas?" tanya Narel.
"Sudah, Kak," jawab Ayu.
"Mau kuantar pulang? Kebetulan urusanku di sini juga sudah selesai."
"Terima kasih, tapi saya masih ada perlu."
"Perlu apa? Biar aku an...."
"Tidak perlu, terima kasih. Maaf, saya permisi dulu," ucap Ayu dan segera pergi meninggalkan Narel.
🏵🏵🏵
Hari libur Narel digunakan untuk mendekati Ayu, hampir tiap hari dia nongkrong di kampusnya dulu. Tentu hal itu membuat Bening merasa heran, tapi wanita itu mendukung Narel. Bening juga ingin Ayu segera membuka diri, menerima takdir yang ada dan berani keluar dari ruang gelapnya. Semoga Narel dapat menjadi cahaya bagi Ayu.
Tentu bukan hal mudah bagi Narel, tapi pria itu terus gigih. Dia terus menunggu Ayu hingga mau menceritakan kisah hidupnya. Namun, ternyata Narel salah. Ayu belum menganggapnya sebagai seorang teman. Perempuan itu masih memasang dinding di antara mereka dan Narel masih belum berhasil memanjat dinding tinggi yang membentang itu. Bahkan Narel bertanya-tanya, segelap apa kehidupan Ayu.
🏵🏵🏵