"Kamu sejak kapan suka berkebun kayak gini Mell?", tanya Evan sambil berjongkok di sebelahku. Kami sedang di kebun mencabut rumput liar di sekitar tanamanku.
"Sejak ngelihat wajah ayah ketika panen sayur. Di situ aku melihat ada wajah bahagia dan puas. Entahlah, tiba - tiba pengen ikut ngrasain sensasinya juga. Mulai SD mungkin"
"Oohh.."
"Eh, kamu pernah ke Garden Boutique nggak?"
"Belumlah, aku nggak hobi datang ke tempat gituan. Yang di dekat Garden Mall itu kan?"
"Iya bener. Lusa maen ke situ yuk. Ntar aku kenalin sama ownernya. Dia baik banget"
"Cowok?"
"Iya. Itu satu angkatan sama kita tauk. Ronald anak IPS. Kenal?"
"Enggak"
"Ya udah, besok lusa anterin aku beli bibit sayur sama bunga ya. Mau kan? Pasti mau doonngg..?"
"Iyaaa.. Mauuu...", kata Evan sambil pencet hidungku gemas.
"Idihh.. Kotor tau. Cuci tangan dulu sana. Pakek sabuunn.."
Evan berdiri menuju kran air untuk membersihkan tangannya.
"Nih, uda bersihkan? Airnya dingin, seger", Evan menempelkan kedua telapan tangannya di kedua pipiku. Dia sedikit menekan sehingga bibirku menjadi sedikit monyong. Sementara wajahnya juga semakin dekat denganku.
Aku deg - degan. Mungkin Evan akan menciumku atau ini hanya prank seperti di media sosial, cuma buat aku GR aja. Apa pipiku memerah?
"Mbak Meeelll...", suara teriakan Desi sedikit fals menghancurkan konsentrasiku. Konser lagu So In Love milik Marion Jola di hatiku tiba - tiba berhenti. Aarrgghh..
"Iyaaa..", teriakku.
"Disuruh ayah bantu - bantu di rumah"
"Iyaa.. bentar lagi aku masuk"
"Umm.. Ya udah kalo gitu Mell, aku balik ke kos dulu ya. Sampaikan makasihku ke ayah ibu, beliau baik banget. Sampe ketemu besok di sekolah. See you", Evan melepas tangannya.
Aku tersenyum dan mengangguk.
***
"Pagi Mell"
"Ka, loh kamu uda baikan? Kok uda masuk sekolah"
"Alhamdulillah, uda Mell. Obat juga udah habis kemarin"
"Syukurlah. Kamu makannya dijaga dong, yang teratur. Capek boleh, tapi harus istirahat. Jangan dipaksain. Ntar typus kamu kambuh lagi lho"
"Iya iyaaa... Kemarin kamu telpon kan udah bilang gitu ke aku. Makasih ya bestikuuu..", kami berpelukan. Dia Siska. Teman sekelasku, baik banget. Tapi kami tidak duduk satu bangku. Karena kami baru akrab setelah pertengahan tahun.
"Eh, tau nggak Ka, sekarang si Evan kos di deket rumahku lho. Jadi tiap hari bisa ketemuan. Senangnyaaa..."
"Kemarin aku lihat dia sama cewek lain. Bukan kamu"
"Hah, dimana?"
"Boutique Garden"
"Kamu seriusan Ka? Nggak bohong? Ini bukan prank kan?"
"Yaelah kamuuuu.. Ya udah kalo gak percaya"
"Nanti aku mau tanyain langsung ke dia. Aku jeleeeessss..."
"Kenapa? Hubungan kalian kan nggak jelas. Pacar juga bukan kan? Slow motion aja Meell.."
"Slow down, Siskaaaa. Bukan slow mo. Hiihh.. Pengen jambaaakkk rambut kunti"
"Hahaha... Istighfar Mell. Sabaarr.."
Besok aku ke Gerden Boutique, coba aku tanyain ke dia. Maksud dia apa sih. Hiihh.. Jeleeess.."
***
Boutique Garden itu tempat yang lumayan besar. Tempat ini adalah pusat penjualan bibit di kotaku. Dikelola secara apik dan teratur. Pecinta bunga pasti betah berada di dalam. Design interiornya dibuat seperti sedang berada di dalam hutan.
"Kamu, kemarin lusa udah datang kemari ya?"
"Aku?", wajah Evan kaget.
"Iya, sama cewek. Ngaku deh"
"...", Evan diam nggak jawab apa - apa.
"Van, aku tanya lho. Katanya kamu nggak pernah ke tempat ini, tapi kayaknya kamu malah udah sering"
"Kamu jangan ngomel - ngomel dong. Kamu itu marah karena aku ke sini duluan atau cemburu karena aku sama cewek lain sih?"
"Dua - duanya"
"Okay"
"Cuma gitu aja? Hiihh..", aku sebel.
"Ya mau jawab gimana lagi? Kan udah ketahuan"
"Kamu udah punya pacar?"
"Enggak"
"Terus cewek itu siapa?"
"Itu kakakku. Kemarin ibu ulang tahun, aku nggak bisa pulang. Akhirnya kakak yang datang minta diantar beli bunga buat kado. Aku inget kata kamu kalo tempat ini bagus. Ya udah aku antar kakakku ke sini"
"Oohh.."
"Puas?"
"Udah, hehehe.. Nitip salam buat ibu kamu, happy birthday. Makasih uda ngelahirin anak keren kayak kamu"
Evan tersenyum.
"Meell.."
"Haaii.. Ronald. Sini aku kenalin temenku", aku menarik tangan Ronald yang menyapaku. Wajah Evan terlihat aneh.
"Ronald, ini Evan. Van, ini Ronald. Owner Boutique Gardern yang sangat dermawan meskipun anak orang kaya raya. Idaman para gadis pokoknya", tambahku.
"Hust.. Apaan sih Mell. Nggak perlu kayak gitu perkenalannya"
Kami bertiga tertawa bersama.
"Ya udah, kalian enjoy di sini ya. Silahkan pilih yang kamu suka, ntar tinggal bawa ke kasir, aku kasih diskon khusus buat kamu", kata Ronald sambil meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku.
"Beneran? Makassiihhh..", sahutku. Ronald tersenyum sambil meninggalkan kami berdua.
"Oh iya, Siklok pesanan kamu ada di ujung sana. Beli 2 gratis polibag", kata Ronald sambil menunjukkan arah.
"Siap Boskuu..", aku berteriak.
"Mell.."
"Iya"
"Hubungan kita ini apa sih?"
"Maksud kamu?"
"Ya hubungan kita ini statusnya apa?"
"Umm.. Nggak tau Van. Kamunya nggak nembak aku, hahaha.."
"Ya udah, yuk jalan ke arah Siklok kamu"
Dalam hati aku bilang, tembak aku sekarang dong. Mumpung tempatnya romantis.