Pria itu membuka layar ponselnya. Ponsel yang dilengkapi segala kecanggihan yang ada hingga mampu menampilkan sebuah objek tiga dimensi seperti hologram yang terpampang jelas di depannya setelah ponselnya ia letakkan di sebuah meja khusus.
'WELCOME TO BORDERLAND'S MR. SUGA'
Suga tersenyum tipis. Lantas mematikan layar ponselnya hingga hologram berisi undangan tadi menghilang. Undangan yang tak biasa. Dan Suga menantikan itu.
Borderland, sesuai artinya pulau ini disebut pulau perbatasan. Bukan perbatasan antar wilayah atau negara. Pulau ini adalah perbatasan antara hidup dan mati. Tempat dimana berlangsungnya sebuah permainan yang diikuti oleh sepuluh orang terpilih. Biasanya para Crazy rich yang tak lagi punya tujuan hidup. Bisa dibilang game ini mempermudah seseorang menemui kematian.
Tidak ada nama khusus untuk game ini, semua bisa menyebutnya apa saja. Namun tak semua orang bisa memasuki borderland. Selain akses jalannya yang hanya bisa ditempuh menggunakan helikopter, akses masuknya juga harus menggunakan sebuah undangan khusus yang telah diberikan.
Masing-masing peserta mempertaruhkan semua miliknya, hartanya, aset-aset berharga dan tak lupa nyawa juga. Bagi sekelas orang putus asa mati bukan sesuatu yang menakutkan.
Untuk peraturan game ini, sepuluh peserta akan dibagi menjadi dua team. Menjadi team bukan berarti mereka akan bekerja sama untuk menang. Justru teman satu team adalah yang paling berbahaya. Peserta dihadapkan dengan dua pilihan. Menyelesaikan misi dengan cepat? Atau membunuh semua anggota team nya.
Sudah tiga kali Suga memainkan game ini. Bukan hanya tentang teknik membunuh tetapi juga caranya bertahan hidup dari serangan tak terduga. Baik dari teman team ataupun gangguan dari sistem. Bagi Suga semuanya biarlah berjalan semestinya.
"Kita bertemu lagi." Suga menoleh begitu sampai di aula Borderland. Terlihat pria yang juga sama gila nya seperti Suga, rival yang anehnya selalu keluar sebagai juara selain dirinya. Dia Lino.
"Apa kita akan bersama sebagai juara lagi?" Tanya Suga, mungkin sedikit meremehkan. Lino terkekeh. "Aku sebenarnya lelah, ingin mati. Tapi melihat mu mati terlebih dahulu ... not bad." Ucap Lino.
Sudah tiga kali, Lino dan Suga bertemu dalam game ini. Dan tiga kali pula mereka selalu berada di team berbeda. Dan tiga kali mereka keluar sebagai juara dari masing-masing team.
Suga, setelah pria itu kehilangan istri dan anaknya akibat kecelakaan tak ada yang ia pikirkan lagi selain mati, mati, dan mati. Sementara Lino? Setelah kehilangan adik perempuannya, ia pun seperti enggan hidup. Semua terlihat membosankan. Mereka berdua punya segalanya tapi entah kenapa tetap merasa hampa. Pada akhirnya semua percuma.
Kesepuluh peserta dikumpulkan di sebuah aula luas. Kemudian seperti layar hologram besar muncul dengan nama-nama peserta dan pembagian team. Lalu setelah paham mereka diberikan sebuah Handwacth yang dilengkapi teknologi serta benda yang harus mereka temukan. Sekaligus sebagai pemberi tanda jikalau ada musuh di dekat mereka.
Layar menampilkan tentang peraturan lomba. diantaranya:
1. Peserta dilengkapi dengan pistol yang jumlah pelurunya sama, tidak bisa diisi ulang.
2. Dua orang yang memenangkan pertandingan akan langsung dibawa menuju Aula untuk menerima hadiah.
3. Sistem akan langsung membawa peserta gugur.
4. Selama game sudah dimulai tidak boleh mengundurkan diri. Jika ingin mengundurkan diri lebih baik mulai dari sekarang.
5. Peserta diberi kesempatan untuk mendapat perlindungan setelah mendapat satu benda tersembunyi. Perlindungan bersifat sementara, hanya berlaku lima belas menit dari setelah menemukan benda tersembunyi.
6. Peserta yang lebih dulu menemukan lima benda tersembunyi otomatis akan menang.
7. Peserta yang dapat menggugurkan semua anggota team nya otomatis akan menang.
8. Para juara dapat menentukan nasib dari peserta yang gugur.
9. Semua dipantau ketat oleh sistem.
Peraturan tersebut dicermati baik oleh kesepuluh peserta. Mereka diberikan tanda pengenal team agar tidak salah sasaran. Sebenarnya membunuh anggota team lain diperbolehkan, tetapi sia-sia karena tidak terhitung. Pada akhirnya mereka hanya punya dua pilihan jika ingin menang. Menyelesaikan misi dengan cepat, atau membunuh keempat anggota team mereka.
Semua peserta dipakaikan penutup mata untuk diarahkan menuju titik mereka mulai. Setiap anggota diletakkan di titik terpisah, namun sejalan. Pada akhirnya, alih-alih fokus pada misi. Semua lebih fokus kepada seseorang yang akan mereka bunuh nantinya. Terbunuh atau membunuh.
Suga menatap sekelilingnya dengan teliti. Signal di Handwacth nya menyatakan jika ia sedang dalam zona aman. Artinya tidak ada anggota team nya dalam jarak sepuluh meter. Di Borderland ini sengaja dibuat seperti hutan. Banyak pohon tumbuh semakin membuat para peserta kesusahan.
Temukan misi, atau membunuh teman team sendiri. Itulah yang sedari tadi membayangi Suga. Sembari terus mengamati keadaan sekitar, benda pertama yang harus Suga temukan adalah Berlian merah yang disimpan tak jauh dari tempatnya berdiri. Namun dimana benda itu disembunyikan tidak ada yang tahu. Bisa jadi diatas, dibawah ataupun dimana saja.
Saat sedang sibuk mencari keberadaan berlian itu, Handwacth Suga tiba-tiba memancarkan sinar biru yang artinya ada anggota team lain yang berada tak jauh darinya. Seharusnya bukan ancaman, sebab membunuh anggota team lain sama saja sia-sia. Tapi melihat yang berdiri di depannya sekarang adalah Lino Suga tau niat pria itu.
"Ingin membunuh ku sekarang?" Tanya Suga. "Kita baru mulai." Imbuhnya.
Lino tersenyum. "Memangnya kenapa? Takut mati?" Suga tersenyum sinis. Ia melemparkan pistolnya ke tanah lanjut merentangkan kedua tangannya. "Silahkan saja, bantu aku bertemu adikmu." Jawab Suga.
Lino mengepalkan tangannya erat. Bagaimana Lino bisa sangat membenci Suga, tentu saja sebab rasa keputusasaan mereka berasal dari satu nama. Adik Lino yang juga merupakan istri dari Suga. Korban kecelakaan mobil yang waktu itu dikendarai oleh Suga. Akibat kecelakaan itu istri dan anak Suga meninggal di tempat, sementara Suga terbaring koma selama dua bulan.
"Kau tetap egois." Lino menatap tajam ke arah Suga. "Kau merebut nyawa adikku dan keponakan ku, lalu kau ingin bertemu dengannya terlebih dahulu?" Tanya Lino. Mereka bahkan lupa jika keduanya tengah berada di Borderland. Mereka juga lupa dengan game. Di mata Lino hanya ada dendam dan di mata Suga hanya ada kematian. Ingin segera bertemu dengan istri dan anaknya. Suga dan Lino benar-benar putus asa.
"Kau pikir hidup sendiri dengan rasa bersalah itu enak? Aku terus mengutuk diri kenapa waktu itu aku tidak ikut mati bersama mereka." jawab Suga. "sekarang apa? Kau ingin membunuh ku kan? Bunuh saja, bunuh saja aku kak." Suga lupa sejak kapan terakhir kali ia memanggil Lino dengan sebutan kakak. Dulu semuanya berjalan indah. Lino dan Suga bukan dua orang yang saling ingin membunuh. Tapi semenjak kecelakaan itu Lino terus menyalahkan Suga, dan Suga terus hidup dalam rasa bersalahnya.
"Kenapa kau biarkan adikku mati?" Tanya Lino dengan tatapan murka. "Kenapa Suga?" Suga terduduk dengan tatapan menunduk.
"Cepat bunuh aku, aku mohon." Ucap Suga dengan wajah menahan Isak. Berat baginya jika menyangkut istri dan anaknya. Bahkan pria itu pernah bolak-balik ke psikiater karena depresi. Pada akhirnya Suga mengenal Borderland. Tempat dimana dia bisa mati dengan mudah.
"Kau pikir bisa mati dengan mudah?" Lino terkekeh miris.
Suga mendongak, matanya membulat menatap ke arah Lino. Ia segera menarik tubuh pria itu setelah melihat peluru mengarah ke arah Lino. Itu pasti dari anggota team Lino sebab Handwacth Lino yang memancarkan sinar merah.
Tetapi peluru itu justru malah mengenai Suga. Tepat pada dadanya. Lino pun tak kalah terkejut, hingga ia lantas dengan cepat mengarahkan pistolnya ke arah peserta yang hampir menembakkannya. Orang itu lantas tumbang tanpa sempat melarikan diri.
"Kenapa kau menyelamatkan ku?" Tanya Lino disamping tubuh Suga yang bersimbah darah.
"Aku tidak menyelamatkan mu, kau bilang kau ingin melihatku mati sebelum kau mati. Jadi pastikan kita selesaikan semuanya di akhirat." Suga tersenyum sebelum perlahan rasa sakit menguasai. Bahkan disisa hidupnya Suga masih mampu berkata pongah kepada Lino.
Lino menatap Suga yang perlahan menutup mata. Tidak ada jerit tangis atau penyesalan darinya. Ia malah terkekeh. "Kau meninggalkan ku, akan ku pastikan kita berdebat di akhirat." Lino meraih pistol miliknya sebelum menembak kepalanya sendiri hingga ia pun terbaring di samping Suga. sembari tersenyum sinis.
"Tunggu aku, adik ipar."