Saat sesuatu yang membuatmu berkesempatan mendapatkan segalanya tapi, kesempatan tersebut terlihat mengerikan... apa yang akan kau lakukan?
Apa kau akan membiarkan kesempatan itu terbakar habis sampai tak tersisa? Atau mengambilnya dengan spontan tanpa melihat seperti apa resikonya?
Saat itu aku di datangi dua makhluk yang menyebut diri mereka utusan yang diatas. Aku tentu tak percaya. Bisa-bisanya mereka berkata seperti itu.
Aku tahu bahwa aku sedang putus asa. Tapi, apa harus dengan keadaan yang seperti ini? Aku hanya menatap mereka tidak percaya dan penuh kecurigaan. Curiga bahwa mereka adalah penipu-penipu yang layaknya seperti sampah di luar sana.
"Hei, hei. Jika kau tidak mau percaya," kata salah seorang dari mereka.
"Tebak saja apakah diantara aku dan dia, mana yang malaikat dan mana yang iblis." Salah seorang lagi melanjutkannya.
Aku menulis di secarik kertas. Tertulis bahwa 'apa keuntungan dan apa kerugian yang aku dapat dalam omong kosong ini agar kalian segera pergi?' Begitulah. Mereka membacanya dengan seksama.
"Apa kita tidak salah target?" Tanya seseorang yang berpakaian putih. Atau sebut saja si putih.
"Kita lanjutkan saja, agar pekerjaan ini selesai." Jawabnya. Dia berpakaian serba hitam, maka sebut saja si hitam.
Mereka berbisik satu sama lain dan sesekali melihatku yang tengah duduk di salah satu pojok ruangan. Aku menatap bosan pada mereka. Lalu mereka menghadap padaku setelah diskusi tadi selesai.
"Keuntungannya kau bisa mendapatkan segalanya!" Kata si putih.
"Kerugiannya kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Tapi, kau akan tinggal di kehampaan dan hukuman yang setimpal lainnya." Kata si hitam.
Aku menulis lagi. Kali ini lebih pendek. Tertulis 'Lalu apa?'
"Ya... kau tahu, jika kau benar kau dapatkan segalanya. Segalanya!" Jawab si putih.
"Dia benar. Namun jika kau menolak, kau akan mendapatkan ganjarannya. Bagaimana?" Tawarnya padaku.
Tanganku bergerak lagi. 'Asal kalian pergi setelah semua ini, baiklah.' Mereka mendekat dan aku langsung menyerahkannya pada wajah penasaran mereka.
"Lalu, apa kau tahu dimana diantara kami yang malaikat? Dan apa alasannya?" Kata si putih.
"Lalu, mana yang iblis dan apa alasanmu? Hanya itu. Apa kau sudah tahu atau tidak?" Kata si hitam.
Aku mendengarkan mereka dengan jeli. Kata-kata yang mereka keluarkan sudah cukup berbeda. Penyampaian informasi yang sangat omong kosong pun berbeda. Aku tidak begitu yakin dengan penilaian suara. Tapi, yang ada mereka masih berpura-pura.
Mereka penasaran dengan jawabanku.
Penampilan mereka yang terkesan acak yang dimana si putih memiliki sayap hitam dari kulit. Sementara si hitam memiliki sayap putih dari bulu. Hanya si putih yang bertanduk tapi, tidak dengan si hitam.
Jadi... begitukah? Lalu apa intinya?
Aku berpikir sejenak. Entah sudah berapa lama mereka memperhatikanku dengan tatapan seperti itu. Tatapan rasa penasaran. Itu membuatku mual.
Dan... ya. Kupikir, aku tahu apa jawabannya sekarang.
Aku menarik kertasku lagi. Tanganku menari dengan mantap kali ini. Semua kata yang aku tulis, harus dengan hati-hati dan sedikit dipercepat. Ada dua lembar kertas yang aku buat.
Mereka menatapku lagi. Kali ini ekspresi apa yang akan kalian katakan?
Lembaran pertama aku berikan dengan sedikit menahan tawa.
Tertulis 'pergi saja kalian orang-orang aneh! Apa kalian bodoh memperlihatkan diri kalian yang seperti badut?! Cepat pergi tinggalkan aku sekarang! Dasar orang-orang be** yang tahunya mengganggu orang saja!' Seperti itu.
Haha... aku benarkan sekarang? Si putih sedikit kesal namun, tetap menarik ujung bibirnya membentuk sudut lengkungan. Senyuman itulah yang aku duga.
Bagaimana dengan si hitam? Wajahnya agak datar namun, menampakkan sesedikitnya rasa kesal. Kesabaran yang menahan rasa ledakan dari amarah. Dia menarik nafas.
Si putih langsung meremasnya setelah membaca keseluruhannya. Si hitam hanya mendepak jidatnya sendiri. Kertasku yang kedua disambar diatas meja oleh si putih.
"I-iya sih... memang benar... tapi... hah... sepertinya kita ketahuan." Kata si putih setelah membaca tulisanku tadi.
Si hitam yang mendengarnya berhenti menunduk dan mengambil kertas yang si putih tawarkan tanpa kata. Mereka membacanya dengan teliti dan rasa malu. Meski sebenarnya itu sedikit.
"Hah... yah, kita menemukan pemenangnya kurasa." Kata si hitam.
"Tapi, kan tertulis disini bahwa--"
"Tak apa. Kita berikan dia sebuah piagam saja. Bagaimana?" Tanyanya sembari memotong si putih.
"Oh~ kalau itu... apa tidak berlebihan?" Tanya si putih.
"Ini akan jadi rahasia kita. Jadi setelah rahasia ini terkuak, kita juga mendapatkan sesuatu yang setimpal." Jawab si hitam.
"Bagus juga! Baiklah..." si putih kini memperhatikankun.
Aku tidak mengerti awalnya, tapi kurasa aku paham. Hanya aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan piagam itu.
Mereka pergi setelahnya.
Apa yang membuat mereka yakin bahwa aku dimaafkan begitu saja setelah mereka membaca tulisan makian tadi? Aku tak yakin kalau kertas terakhir adalah jawabannya. Aku hanya asal menebak.
Isinya 'aku sudah tahu siapa diantara kalian yang putih dan hitam. Mengapa aku menyebutnya seperti itu? Agar lebih singkat saja.' Paragraf pertama yang aku tulis.
Diikuti dengan paragraf kedua. 'Bukankah plot twis nya terlihat begitu jelas? Sepertinya kalian harus mencoba trik baru dalam hal ini. Aku sengaja menulis tulisan makian agar kalian memperlihatkan sifat asli kalian.'
Paragraf ketiga adalah penentuan. 'Putih, kau adalah iblis. Kau menahan senyumanmu sebaik mungkin. Tapi, tidak semaksimal mungkin. Lalu, hitam. Kau adalah malaikat. Tentu saja semua ini mudah ditebak.'
Lalu yang keempat. 'Tapi, jikalau aku salah. Akan aku terima hal itu. Kalau aku benar? Berikan saja pada orang lain. Secara acak. Bukankah itu suatu kebaikan? Lagipula, apa itu segalanya?'
Yang kelima adalah yang terpanjang.
'Kalian mungkin akan mengernyitkan dahi atau mungkin apapun itu. Aku tak peduli. Mengapa aku menolak tawaran kata -untuk mendapatkan segalanya- diawal? Itu karena, bukan berarti kau mendapatkan segalanya. Kau akan berpikir kata segalanya adalah kata dari banyak hal. Tapi, pasti kau akan melewatkan satu hal yang mungkin saja penting.'
Tulisan ini menuju puncak akhir.
'Dan setelah kau mendapatkan segalanya itu, lalu kau berbalik melihat satu hal yang penting tersebut... maka kau akan merelakan segalanya dan memilih hal penting tersebut. Tapi, semua sudah terlambat.'
'Ketika kau inginkan kesempatan, maka hal itu harus kau terima. Tak apa jika kau menolaknya. Maka kau akan kehilangan kesempatan tersebut. Saat itu kesempatan tidak bisa ditarik lagi.'
Lalu,
'Ya, waktu. Waktu yang diberikan adalah kesempatanmu untuk mendapatkan segalanya. Itulah kesempatan. Aku menolak karena tidak ingin ada satu hal penting dalam hidupku terlupakan. Dan hanya itu saja. Kurasa kalian akan berkata bahwa aku terlalu melebih-lebihkan sesuatu yang tidak perlu. Tapi, itu tergantung kalian dalam mengambil makna dalam setiap peristiwa.'
Itu adalah kata-kata terakhir dari tulisanku.
Aku tidak bisa bicara. Seseorang yang bisu. Aku dianggap aneh karena tulisanku yang tidak mudah dimengerti. Jadi kenapa dua makhluk itu mengerti? Kuharap aku tak melakukan kesalahan.
Karena, hidup saja aku sudah kelelahan.
Sangat... lelah...
End...
Tulisan untukmu, maukah kau membacanya?
Ada lebih banyak kesempatan diluar sana. Ada juga kesempatan yang telah kau buang begitu saja. Itu tak mengapa. Semua manusia sama. Bahkan makhluk lainnya pun sama. Itu bukan salahmu. Tak ada yang salah. Hanya saja...
Kau hanya perlu membuat lebih banyak hal tentang suatu hal yang benar-benar kau inginkan. Lalu seimbangkan dengan hal yang perlu kau lakukan. Aku tahu ini sulit, tapi aku hanya bisa mengatakan satu kata untukmu yang telah membaca ini sampai habis.
Semangatlah!
Huff... akhirnya... kira-kira piagam apa ya? Hais... tauk ah, yang penting ada maknanya!
Thank for reading~