Wajah Riana sudah sangat tidak enak dipandang saat ini. Dia duduk di sebelah Aaron yang sedang fokus pada layar laptopnya. Menonton anime Naruto Shippuden yang jumlah episodenya ratusan bahkan ribuan itu. Tadi Riana sudah membayangkan bahwa dia akan uwu-uwuan bersama dengan Aaron yang hanya bisa bertemu satu kali dalam seminggu.
"Berasa patung gue, cuma dianggurin," gumam Riana dongkol.
Sementara Aaron tidak terganggu dengan kehadiran cewek itu. Wajah cowok itu terlihat berseri-seri dengan mata berbinar. Riana yakin jika Aaron sudah mengulang ratusan kali anime itu. Namun, sepertinya cowok itu masih belum bosan.
Kejengkelan Riana sudah berada diambang batas saat ini. Dia pun bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. Lagi-lagi Aaron tidak menghentikannya, boro-boro melihatnya keluar. Melirik saja tidak.
Sungguh miris hubungan antara Aaron dan Riana. Cewek itu memutuskan untuk pulang tanpa berpamitan pada sang pemilik rumah. Di rumah ini hanya ada dirinya dan Aaron, sementara kedua orang tua Aaron sedang sibuk bekerja.
Riana sudah sampai perempatan jalan perumahan Aaron. Dia harus berjalan menuju jalan raya terlebih dulu untuk mencari angkutan umum yang akan membawanya pulang. Tadi memang Riana tidak membawa kendaraan sendiri, karena dia berharap nanti bisa jalan berdua dengan Aaron dan meminta cowok itu mengantarnya pulang. Juga Riana saat ini sedang malas memesan ojek online.
Baru ingin menyeberang jalan, ponsel yang berada di saku Riana berdering. Dia pun segera mengambil ponselnya di dalam saku untuk melihat siapa yang menelponnya. Riana mendengus melihat sebuah nama yang terpampang di layar ponselnya.
"Telat lo, Bambang," gumam Riana.
"Hm," dehem Riana malas-malasan menjawab panggilan dari Aaron.
"Lo di mana?" tanya Aaron dari seberang sana.
"Nggak tau nama tempatnya. Kayaknya gue kesasar," jawab Riana berbohong.
"Kok bisa kesasar? Shareloc sekarang! Gue ke sana." Suara Aaron terdengar panik dari seberang sana. Tentu hal itu membuat Riana terkikik senang.
Riana benar-benar mengirim lokasinya saat ini, dia memutuskan menunggu Aaron di sebuah warung yang menjual es dawet. Dia duduk di bawah pohon sembari menikmati es dawetnya. Sangat pas minum es dawet saat hari dan hatinya terasa panas.
Hampir saja es dawet yang berada di dalam mulut Riana menyembur keluar saat melihat Aaron berdiri di seberang jalan. Cowok itu terlihat celingak-celinguk mencari keberadaan Riana.
"Ron!" panggil Riana dengan lambaian tangan.
Sebenarnya Riana hendak membiarkan Aaron lebih lama, tapi dia tidak setega itu. Aaron yang melihat keberadaan Riana langsung berlari menghampiri cewek itu.
"Katanya kesasar? Ini deket dari rumah gue," ucap Aaron kesal.
"Apa-apaan tuh celana lo?" tanya Riana menunjuk celana yang dipakai Aaron saat ini.
Celana boxer dengan gambar Nezuko dengan warna merah muda yang sangat mencolok. Kata Aaron, boxer yang dipakainya saat ini adalah limited edition.
Aaron membawa Riana pulang ke rumahnya. Sementara Riana benar-benar malu dengan penampilan cowok itu. Merasa sangat menyesal tadi memanggil Aaron, seharusnya dia pura-pura tidak kenal saja. Namun, sepertinya cowok itu tidak merasa malu sama sekali. Ekspresinya terlihat biasa saja.
"Kenapa pergi nggak bilang-bilang sih? Kalo lo diculik terus dibawa ke Konoha, disandera di sana. Siapa yang mau selamatin lo?"
"Nanti gue bisa minta tolong Naruto buat selamatin gue," jawab Riana memutar bola matanya malas. Pacarnya ini benar-benar absurd.
"Maaf, lo udah makan?" tanya Aaron.
"Udah kenyang abis minum dawet," jawab Riana menunjuk plastik bungkus dawetnya.
"Ayo keluar," ajak cowok itu.
"Kemana?"
Namun, tidak ada jawaban dari Aaron. Cowok itu malah masuk ke dalam kamarnya dan beberapa saat kemudian sudah rapi dengan memakai pakaian yang lebih manusiawi.
Entah kemana Aaron mengajaknya saat ini. Riana menengok ke belakang, di kursi belakang mobil ada sebuah tas berukuran cukup besar. Tentu membuatnya penasaran, apa isi tas itu.
"Tas itu isinya apa?" tanya Riana.
"Baju," jawab Aaron yang masih fokus pada jalanan di depannya.
Tidak lama kemudian mereka sampai di sebuah tempat. Setelah memparkirkan mobil, Aaron mengajak Riana turun. Namun, sebelumnya cowok itu mengambil tas yang katanya berisi baju. Mendadak perasaan Riana tidak enak. Firasatnya mengatakan ada hal buruk terjadi sebentar lagi.
Benar saja, Aaron mengajak Riana ke acara cosplay. Memang penampilan Aaron saat ini terlihat sangat tampan dan sedikit laki, tapi tetap saja Riana tidak terlalu suka ikut menghadiri acara seperti ini. Aaron memakai kostum Levi Ackerman dari anime Attack on Titan.
"Kenapa ajak gue ke sini sih? Gue mau pulang aja," ucap Riana, wajahnya benar-benar sudah tidak enak dipandang.
"Sebentar aja, nanti gue anter lo balik setelah ini."
Riana masih berusaha bersabar untuk Aaron. Akhirnya dia mengalah dan mengikuti langkah cowok itu.
Namun, lama-lama Riana merasa lelah. Lagi-lagi dia pergi tanpa sepengetahuan Aaron. Riana duduk di sebuah bangku yang ada di tempat ini. Sedikit menepi dari keramaian. Riana lelah, lelah dengan hubungannya. Namun, di sisi lain Riana tidak mau melepas Aaron karena cintanya sangat besar pada cowok itu.
Hanya anime yang berada di kepala Aaron, entah di sebelah mana nama Riana tersemat di kepala cowok itu. Air mata berkumpul di pelupuk mata Riana. Sesaat kemudian air mata itu meleleh keluar membasahi pipinya.
"Na, gue cariin ternyata di sini..., lho? Kenapa nangis?"
Riana segera berbalik dan menghapus air matanya kasar. Mata dan hidungnya masih memerah, tapi air matanya berhasil dia hentikan.
"Ron, gue mau ngomong sama lo," kata Riana menatap wajah cowok itu.
Aaron mengernyitkan dahi, penasaran juga dengan apa yang ingin Riana katakan kepadanya. Dia pun duduk di sebelah Riana dan menatap wajah cewek disampingnya itu.
"Gue capek," ucap Riana.
"Capek?"
Riana mengangguk. "Capek sama hubungan kita. Selama ini gue udah cukup bersabar. Tapi, kayaknya sekarang udah nggak bisa lagi."
Air mata itu kembali meleleh keluar, kekehan keluar dari mulut cewek itu. Riana menatap wajah Aaron dengan senyum samar.
"Jadi lebih baik sekarang kita...."
"Tunggu!" potong Aaron, tangan kanannya membekap mulut Riana. "Jangan diterusin kata-kata lo, gue tau lo mau ngomong apa selanjutnya," lanjut Aaron.
Cowok itu merogoh saku celananya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih stay di mulut Riana. Cewek itu mengernyitkan dahinya melihat tingkah aneh Aaron. Riana mencoba melepas bekapan itu, tapi seketika terhenti saat melihat sebuah benda yang keluar dari saku Aaron.
"Jangan minta putus, nih gue mau lamar lo," ucap Aaron menunjukkan kotak berisi cincin.
Riana membulatkan matanya mendengar ucapan cowok itu. Lalu, dia memukul tangan kanan Aaron agar melepaskannya.
"Jangan bercanda lagi, Ron!" kata Riana.
"Siapa yang bercanda? Ini beneran, tuh lihat cincinnya asli."
Riana menghembuskan napasnya. Aaron memang tipe cowok yang tidak pernah bisa serius. Benar, Riana yang salah telah jatuh cinta pada cowok seperti Aaron. Hembusan napas itu keluar lagi dari hidung Riana. Namun, netarnya melihat Aaron yang tiba-tiba berlutut.
"Ngapain?" tanya Riana.
"Riana! Mau nikah sama gue?"
"Ya?" Mendengar pertanyaan atau pernyataan dari mulut Aaron membuat Riana blank seketika.
"Yes! Makasih, Na," ucap Aaron kembali berdiri dan memakaikan cincin yang dibawanya.
"Tunggu! Gue belum jawab."
"Gue yakin lo pasti mau. Gue udah siapin semuanya. Lo mau tanggal berapa akadnya?"
"Kenapa buru-buru? Kenapa nggak dibahas dulu?"
Aaron menggeleng tegas. "Nggak perlu, gue udah siapin semuanya. Gue udah diserobot Sasuke yang lebih dulu nikahin Sakura. Jadi, besok giliran kita."
Jawaban dari Aaron itu benar-benar membuat Riana kehilangan kata-katanya. Namun, ada rasa senang juga dalam hatinya. Riana tersenyum melihat cincin yang tersemat dijarinya juga tangan hangat Aaron yang sedang menggenggamnya.
💍💍💍