Aku kabur dari rumah.
Bukan tanpa alasan, tapi begitulah yang terjadi. Keadaanku yang sekarang menjelaskan semuanya. Dan aku punya tempat pelarianku sendiri.
Rumah temanku.
Dia sangat baik telah menerima ku di rumahnya. Aku yakin kalau kebaikannya pasti akan terbayarkan.
Itulah menurutku.
Tapi, sekarang aku hanya disini. Menunggu kematian ku.
Sebelumnya,
Temanku menawariku tempat untuk bernaung. Tak ada rumah lagi yang ingin menampungku selain dirinya. Aku datang dengan membawa koper dan membunyikan bel rumah.
Kupikir, seseorang yang membukakan pintu untuk ku adalah kenalanmu. Kau malah berhutang padanya dan berniat menjualku padanya.
Kupikir akan terjadi sesuatu. Kau terikat di kursi dengan wajah penuh lebam. Pria itu memberikan senapannya di tanganku dan tidak melepas genggamannya. Aku gemetar saat dia mendekapku dari belakang.
"Tembak dia. Tenang saja. Tidak akan ada yang mendengarmu menembak. Mungkin." Bisiknya di telingaku.
Aku tidak menarik pelatuknya. Aku hanya diam mematung dan sesekali bergetar ketakutan. Helaan nafas berat terasa olehku.
Dor!
Dia menarik pelatuknya. Seketika temanku terbujur kaku.
"Tepat sasaran! Haha!" Katanya.
Aku seketika pingsan saat dia memukul belakang leherku. Lebih tepatnya tengkuk? Aku tidak tahu. Yang ku tahu hanyalah semua menjadi gelap.
Byuur!
Air dingin tiba-tiba membangunkanku.
Apa yang kau inginkan? Membuatku trauma? Oke, kau berhasil. Aku-akui kau melakukannya hanya untuk itu. Tapi kenapa kau membawaku kemari?
Tempat yang mirip seperti apartemen setengah jadi ini membuatku mengernyitkan dahi.
"Dilla Qers dari keluarga terhormat yang sekarang telah menjadi tersangka karena kasus pembunuhan yang terjadi di tempat X." Dia melirikku. Televisi menyala tepat di hadapanku.
"Lihat! Kau masuk dalam berita!" Katanya tersenyum.
Aku mencoba untuk bersuara. Ingin membantahnya. Tapi, aku baru sadar bahwa mulutku di lakban sampai ke belakang kepalaku. Aku tidak merasakan rambut yang tergerai sampai bahu. Apa dia mengikatnya? Kepalaku terasa berdenyut saat digerakkan.
Tangan dan juga kakiku diikat di kursi. Dan... meja makan? Aku duduk menghadap langsung pada televisi. Sementara pria itu disamping.
Tubuhku berteriak kedinginan dan sakit karena ikatannya terlalu kencang. Mataku terasa terbakar. Tapi, aku hanya bisa diam dan lemas.
"Apa kau mendengar beritanya tadi?" Dia menarik daguku. Aku hanya bisa mengangguk.
Dia kebingungan dengan sikapku.
"Hei, biasanya orang sepertimu akan berteriak meski mereka di lakban. Apa kau tidak takut denganku?" Tanyanya.
Bagaimana aku bisa menjawab? Aku hanya mengangguk pelan untuk menanggapinya. Ya, kau adalah pria gila. Padahal, kau yang membunuhnya dan bukan aku.
"Atau... aku kurang memberi rasa takut padamu?" Dia melangkah pergi lalu mendekat lagi.
Di tangannya ada dua buah benda yang tajam. Tapi, Dia melewatiku. Aku kira bahwa aku selamat. Aku membuang nafas lega.
"Kata siapa kau bisa bernafas lega?" Bisiknya.
Setelah dia mengatakannya, aku ingin berteriak. Pasalnya, sesuatu yang tajam merembes ke telapak tanganku. Dingin dan ngilu. Lalu di ikuti dengan tusukan pada bahu. Tulangku serasa di paku olehnya.
Tang! Tang! Tang!
"Apa kau mau lagi?" Tanyanya.
Aku masih merasakan benda-benda itu. Sepertinya dia tidak mungkin mencabutnya. Air mata basal turun begitu saja dan itu membuat pandanganku kabur. Dia menatapku lalu menarik daguku.
"Apa kau takut padaku?" Tanyanya lagi dengan tatapan yang lebih mengerikan.
Aku tidak bisa menjawab. Tapi, aku harus. Aku berusaha memejamkan mataku dan mengangguk penuh gemetar. Bergerak sedikit saja bahuku serasa putus, mati rasa dan perih.
"Baguslah." Lalu dia pergi turun dari tangga.
Apa aku hanya akan terus seperti ini? Aku menatap lemas pada televisi yang masih membicarakan ku. Yang kupikirkan hanyalah sesuatu yang seharusnya kupikirkan sejak tadi.
Mereka seharusnya memasang foto terbaikku. Itu adalah foto terburuk ku. Pikirku.
Entah sudah berapa lama dia pergi. Aku hanya bisa tertidur dan memejamkan mataku walau harus merasakan sakit yang kurasakan.
Kedinginan, kepala berdenyut, mata yang kian memanas dan merasakan tajamnya benda yang menempel pada tubuhku.
Gelap kembali datang.
Setelah bangun, kulihat matahari menerangi tempat ini. Ternyata ini bangunan yang masih dalam masa proyek. Hanya saja sudah ditinggalkan untuk waktu yang lama. Itulah yang kupikirkan.
Nyeri. Kurasakan bekas benda tajam tadi. Yang ada, aku hanya merasakan luka yang mengangan. Pusing di kepala dan tubuh yang masih lemas.
Aku tidak mendengar suara transportasi apapun. Tempat ini senyap seperti kota mati. Hanya langkah kaki dari pria itu yang mulai mendekatiku. Dia membuka lakban di mulutku dan dengan cepat menyumpal makanan di mulutku.
"Makan jika tidak ingin mati." Katanya.
Aku merasakan sesuatu yang kenyal dan gurih di mulutku. Itu membuatku tambah lapar. Belum sempat aku menguyah dengan sempurna, dia langsung melakban lagi mulutku.
Setidaknya, biarkan aku berbicara sebentar. Batinku.
Duduk dan memperhatikanku menguyah setelah dia menyumpal mulutku dengan lakban. Aku memiringkan kepalaku setelah mengunyah makanan tadi. Aku bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan padaku setelahnya.
"Bagaimana rasanya? Tadi itu daging mentah yang di taburi garam. Belum ku bersihkan darahnya." Katanya tersenyum hangat padaku.
Terkejut dan merasakan sakit yang berkepanjangan. Mendengar hal tersebut, aku ingin sekali memuntahkannya. Sangat! Tapi, karena mulutku tidak bisa terbuka. Terpaksa aku menelan muntahan itu. Meski ada rasa bangkai di dalamnya.
Aku berusaha menahan diri untuk tidak muntah lagi. Mataku terpejam cukup erat. Tubuhku masih bergetar. Entah karena kedinginan semalaman atau mendengar fakta mengerikan itu.
"Haha! Lihat eksperimu itu. Begitu menyenangkan melihatnya." Katanya.
Gila. Pria ini sudah gila. Tapi...
Pandanganku kembali memudar. Pantas saja aku merasakan rasa lain pada makanan itu. Terdapat obat tidur disana.
"Wah... sangat cepat." Katanya. Dia memegang kain yang terlihat seperti selimut dan memakaikannya padaku.
"Tidurlah. Hari pertama pasti melelahkan. Tapi, kau akan terus merasakan yang lebih banyak lagi." Gelap datang lagi padaku. Pada mataku.
Apakah semua harus diakhiri dengan gelap lagi?
Aku tersentak dan terbangun dari tidurku.
Entah mengapa, tubuhku terasa ringan. Selimut tadi tetap menemani tidurku. Sebotol kaca mengelinding ke arah kakiku.
"Jika kehidupan telah berakhir, apa yang akan kau lakukan?" Tanyanya.
"Tidak ada..." aku bicara dengan leluasa.
Lakban tidak lagi menghalangi mulutku. Aku melihat tanganku diperban dan bahu yang sesedikitnya merasakan sakit. Aku melihat perbannya. Lalu melihat bajuku yang telah diganti oleh kaos hitam.
Apa dia yang melakukan ini? Semuanya? Terasa wangi sabun menyerebak dari tubuhku. Seketika aku berpikiran aneh. Wajahku memerah setelahnya.
Dimana dia?
Aku menelusuri sekeliling dengan mataku dan mendapati dirinya tidur di sofa yang usang. Aku mendekatinya. Tubuhku rasanya sedikit bebas walau masih terasa agak nyeri di beberapa tempat.
Terlihat bahwa dia tidur dengan lelap. Jadi yang tadi igauannya? Tapi...
Aku melihat sudut matanya yang berair tiba-tiba jatuh. Aku mengusapnya tanpa sadar. Setidaknya itulah yang bisa aku lakukan untuk berterimakasih padanya.
"Maaf dan terimakasih. Karena telah mengobatiku dan menampungku meski aku adalah penjahat. Penjahat yang telah merepotkanmu saat kau ingin melepas dan membunuhku." Kataku.
Saat itu aku tidak tahu apa yang aku pikirkan. Aku hanya menatapnya begitu lama. Bangkit dan berjalan penuh kehati-hatian agar tidak membuatnya bangun.
Saat aku mendekati tangga, mataku melirik sebentar pada pria itu. Kakiku tak sengaja menendang salah satu botol kaca hingga pecah. Lalu matanya terbuka lebar. Itu membuatku tersentak dan jatuh karena botol kaca yang tergeletak dimana-mana.
Aku tertangkap.
Kini aku hanya menunggu nasib ku. Dia kini merantaiku pada salah satu tiang. Agak mengecewakan memang. Tapi, kurasa ini adalah akhirnya.
Apa aku akan mati?
"Aku tadi berpura-pura tidur. Kupikir kau akan langsung kabur." Lalu dia mendekat.
"A-aku--" ucapanku terpotong.
"Tapi aku salah. Aku mencoba melukaimu tapi, kau tetap tenang. Apa yang salah? Lalu kau mendekatiku yang tengah kesulitan tidur meski dengan obat tidur." Katanya.
"I-itu..." tubuhku kini gemetar. Aku takut. Takut kalau dia hanya akan terus melukaiku. Lagi dan lagi.
"Kenapa kau mengatakan hal itu?" Tanyanya. Dan aku tidak menjawabnya.
Dia berbalik membawa sebutir obat tidur dan memasukkannya ke dalam mukutku dengan paksa. "Tidurlah." Itulah yang dia katakan.
Padahal aku ingin meminta maaf...
Lalu semua kembali gelap. Lagi.
Aku mengedipkan mataku berkali-kali. Kapan aku ada di atas sofa?
Aku melihat matahari yang mulai meninggi. Suara rantai samar-samar berbunyi ketika aku mencoba duduk dari posisiku. Aku melihat rantai yang lebih panjang. Kurasa dia telah menggantinya saat aku tidur tadi.
"Bagaimana tidurmu?" Suara pria itu terdengar jelas di belakangku.
Aku mencoba membalikkan kepalaku untuk menoleh kebelakang. Kepalaku masih terasa sakit. Kulihat tangannya bergelantungan di pinggiran sofa.
Kakinya melangkah kemari. Dia membanting tubuhnya ke sofa dan membuat debu berterbangan. Aku menundukkan kepalaku.
"Kau harus tahu. Aku telah melakukan hal yang sama pada temanmu pada orang lain sebanyak empat kali." Katanya.
Lalu dia menjambak rambutku. Sakit rasanya. Seperti ditarik agar semua rambutku rontok. Dunia terasa berputar.
"Tapi, kenapa sikapmu berbeda dari korban lain?" Tanyanya.
"A-aku... tidak... tahu..." jawabku.
Tangannya langsung mengincar leherku. Mencekik ku seperti aku harusnya tidak hidup. Aku hanya diam menutup mata dan tak melawan. Percuma saja jika aku melakukan hal itu.
Tak ada. Tak ada yang bisa aku lakukan. Memikirkannya saja sudah membuatku merasa lucu. Tanpa sadar aku tersenyum. Dan tangannya melepas leherku.
"Kau pikir ini lucu?" Tanyanya.
"Buk--"
"Baiklah, jika kau menganggapnya begitu. Kita lihat sampai mana kau bertahan." Tantangnya. "Makan ini." Dia melempar sekotak makan instan seperti bekal.
"Terimakasih." Kataku. Tenggorokan ku terasa serak.
Dia pergi. Awalnya aku tidak curiga kalau dia melakukan hal yang sama. Tapi, kurasa mengikuti jalan ceritanya tak masalah bagiku.
Aku tertidur lagi karena makanan yang selalu ia berikan. Kali ini aku terbangun dengan merasakan kaki ku yang di paku dengan kayu yang menempel dibawahnya.
"A-akh..." aku masih belum terbiasa dengan rasa sakit yang selalu dibuatnya.
"Bagaimana rasanya?" Tanyanya. Tatapannya seperti penuh harap bahwa dia berhasil mengalahkanku.
Kemarin lusa atau selumbari, dimana tantangan itu dimulai. Aku merasakan wajahku seperti tersayat. Dia menunjukkan cermin saat aku bangun. Katanya itu adalah hasil karyanya. Aku bilang itu bagus.
Hanya itu. Lukaku di balut oleh perban keesokan harinya. Dan sampai sekarang dia masih melakukannya.
Saat ini aku tersenyum kembali.
"Kau membuatkan sandal untuk ku yang dimana tidak akan pernah hilang?" Tanyaku padanya. Seketika wajahnya cemberut.
"Hah... sampai akhirpun kau tidak takut padaku." Keluhnya saat dia mengobati kaki ku. Aku hanya tersenyum padanya.
Dia duduk di sofa dan menatapku penasaran.
"Kenapa kau tidak takut padaku?" Tanyanya.
"Mungkin karena sudah terbiasa?" Kataku ragu.
"Jawaban apa itu?" Katanya kesal. "Sudahlah... aku kalah." Lalu tangannya menarik kepalaku agar bisa bersandar dibahunya dengan lembut.
Aku terkejut dan mundur darinya. Dia hanya menatapku lalu mengeluarkan kunci. Sebuah kunci untuk melepas rantai yang membelenggu kedua kakiku. Dia membukanya begitu saja.
"Kau bebas. Bisa melaporkanku atau apapun. Terserah kau saja." Katanya dan duduk kembali di sofa.
Aku hanya diam.
"Kau tidak pergi?" Tanya pria itu padaku. Aku heran dan memiringkan kepalaku.
"Bagaimana aku bisa lari dan melapor kalau aku juga seorang tersangka?" Kataku.
Dia diam sebentar.
"Terserahlah." Katanya. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanyanya lagi.
Aku hanya tersenyum hangat padanya. Dia menatapku kebingungan. Kepalaku mendarat di pangkuannya. Dia sedikit terkejut. Aku mengelus wajahnya dengan tanganku yang masih diperban.
"Mungkin... mengambil apa yang seharusnya aku miliki. Harta warisan keluargaku." Jawabku padanya
"Wanita gila." Komentarnya.
End...
Kok absurd ya?🤔