Mataku menatap kosong ke depan. Air mataku menggenang di pelupuk mata sebelum meluncur deras membasahi pipi. Ada rasa tidak percaya kala melihat sosoknya. Sosok yang berdiri tepat di depanku. Sosok asing yang ingin kupeluk erat sebab tahu dia begitu rapuh dan menyedihkan.
Ingin aku mengucapkan maaf dan terima kasih padanya. Atas semua perjuangan dan jerih payahnya.
"Ini pertama kalinya aku mengatakannya. Pa-padahal aku sering sekali mengucapkan terima kasih dan maaf pada orang lain," kataku merasa bersalah.
"Te-terima kasih, terima kasih karena telah bertahan sampai saat ini,"
"Dan maaf karena telah kusakiti berulang kali,"
"Kau pasti sangat menderita ya," Aku tersenyum memandangnya yang ada dibalik benda itu. Sosok gadis bersurai hitam yang berantakan dengan beberapa helainya yang rontok. Iris mata bewarna serupa yang penuh dengan air mata. Make up tebal diwajahnya rusak karena tangisnya. Jangan lupakan pakaian ketat yang menonjolkan bagian tubuhnya.
"Ak-aku, aku benar benar hampir tidak mengenalimu hiks," Aku mengalihkan pandanganku darinya tidak kuat lagi menatap sosoknya.
Sosok yang begitu mirip denganku.
Lebih tepatnya itu bayanganku.
Ya, dia adalah sosok yang kulihat dari balik cermin.
Sosok menyedihkan yang penuh dengan kepura-puraan. Sosok rapuh yang hanya bisa menangis sendirian.
Itu adalah diriku sendiri.
Lilyana Pamela.
Aku seorang gadis berusia 15 tahun, yang dituntut untuk menjadi sempurna. Bertindak layaknya boneka yang diingankan..Ah tidak maksudku dimanfaatkan keluargaku. Dari penampilan, senyum, bahkan sampai cara berjalan.
Semua itu bermula saat aku berumur 3 tahun hingga saat ini.
Apa kalian penasaran kenapa aku tidak melawan?
Aku sudah mencoba. Bukan sekali tapi berkali kali.
Bahkan aku tetap mencoba melawan saat tangan dari orang orang yang seharusnya menyayangiku menampar hingga mencambuk tubuhku dengan kejam.
Aku sudah berusaha. Tapi rasanya sungguh sakit.
Tidak bukan pipiku atau punggungku, tubuhku sudah terbiasa dengan luka. Namun, hati kecilku tak pernah berhenti menjerit.
Rasanya bahkan lebih sakit.
Aku tidak sekuat itu.
Jadi kumohon jangan salahkan aku karena tidak bisa melawan dan memberontak.
Aku sudah dibenci banyak orang, jadi tolong jangan benci aku.
Tatapan menusuk itu seolah bisa membunuhku kapan saja.
Aku ketakutan. Yang ku bisa hanya meringkuk di pojokan. Sambil berdoa supaya waktu dipercepat dan bisa mengurung diri di kamar.
Sendirian.
Itulah yang selama ini aku rasakan. Tidak ada seorangpun yang ingin merangkul atau setidaknya mengulurkan tangan.
Ini menyiksa, tapi aku tetap tidak bisa mengubah keadaan.
Prang
Cermin di depanku pecah saat aku meninjunya sekuat tenaga. Aku terduduk, menangis keras tanpa menghiraukan tanganku yang berlumuran darah.
Aku lelah Tuhan!
Kapan semua ini berakhir?
Apa aku yang harus mengakhirinya sendiri?
Tidak! Kalau akhirnya seperti ini, lalu apa gunanya aku bertahan hingga sekarang? Bukankah akan sia-sia semua perjuanganku jika aku mwngakhirinya sekarang?
Aku harus bertahan! Pasti, pasti ada harapan yang akan muncul saat aku bertahan! Walau aku tidak tahu kapan. Tapi, setidaknya aku mencobanya, bukan? Seperti yang biasa aku lakukan.