Suara dentuman membuatku yang sedang berjalan seorang diri malam ini terkejut. Langkahku sempat terhenti sebentar. Perlahan kutolehkan kepala ke belakang, ingin mencari tahu suara apa barusan. Mataku membulat kala melihat sesuatu yang seharusnya tak kulihat. Tidak jauh dari tempatku berada, seseorang sedang memainkan pisaunya. Tempat ini minim pencahayaan juga sangat sepi.
Tubuhku gemetar, aku kembali melanjutkan langkahku walau terasa sangat berat. Namun, aku terus menyemangati diriku. Sebentar lagi aku sampai di rumah. Ya, bahkan tembok rumahku sudah terlihat di depan sana. Aku memutuskan untuk berlari hingga sampai rumah. Napas lega keluar dari hidung.
"Sudah aman. Astaga! Apa yang tadi dilakukan orang itu," ucapku bergidik ngeri.
Walau suasana jalanan tadi remang-remang, tapi aku masih dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi. Orang tadi sedang memainkan pisaunya dengan seseorang. Aku ingin melupakan kejadian barusan, tapi kejadian tadi terus membayangiku.
Keesokkan harinya, aku kembali memulai aktivitas seperti biasa. Kucoba lupakan kejadian seram kemarin. Kini aku menikmati sarapanku sembari menonton berita pagi di televisi. Sesendok nasi yang hendak masuk ke dalam mulut, seketika terhenti setelah mendengar sebuah berita yang sangat mengejutkanku.
"Telah ditemukan lagi sesosok jasad di sebuah gang sepi pagi tadi. Jasad itu ditemukan dalam keadaan yang mengenaskan. Banyak sayatan pisau ditubuhnya. Saat ini polisi sedang melakukan penyelidikan untuk kasus ini. Sebelumnya juga, sesosok jasad ditemukan di sebuah gang daerah W...."
Aku terpaku. Gang yang dimaksud oleh pewarta itu adalah gang yang semalam aku lewati.
Suara ketukan pintu mengejutkanku. Perlahan aku berjalan menuju pintu depan, aku takut saat ini setelah mendengar berita tadi. Aku mengintip dari jendela yang masih tertutup gorden. Ternyata seorang dengan seragam polisi yang berdiri di depan pintu rumahku. Tunggu! Polisi? Mau apa mereka datang kemari?
"Permisi!" ucap polisi itu sambil mengetuk pintu.
Aku masih bimbang, hendak kubuka atau tidak. Namun, aku juga penasaran mengapa polisi datang kemari. Akhirnya aku memberanikan diri membuka pintu itu.
"Ya?" jawabku setelah membuka pintu.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja kegelapan menyerangku. Kejadian itu begitu cepat sehingga aku tidak tahu pasti apa yang terjadi dengan diriku. Kini yang kurasakan adalah kepalaku terasa berdenyut. Perlahan aku mencoba membuka mata, bau anyir masuk ke indera penciumanku. Sebuah ruangan dengan pencahayaan minim yang pertama kali kulihat. Aku mengernyitkan dahi dan menatap sekeliling, merasa asing dengan tempat ini.
Suara langkah kaki yang terdengar mendekat membuatku memasang ekspresi waspada. Walau takut, aku harus berusaha tetap tenang. Seorang pria berdiri di hadapanku. Pria dengan masker dan topi hitam. Bahkan semua yang dikenakannya berwarna hitam. Pria itu menatapku tajam, membuat aku bergidik ngeri. Tatapan tajamnya seakan mengulitiku.
"Si... siapa kamu?" tanyaku takut-takut.
Pria itu tidak menjawab, dia malah mengeluarkan sesuatu dari hodienya. Aku membulatkan mata ketika melihat tangan kiri pria itu membawa belati kecil. Apa yang hendak pria itu lakukan padaku?
Rasa perih menjalar di sekujur tubuhku kala belati itu menggores paha bawah yang tak tertutup kain. Darah keluar dari sana. Aku meringis merasakan sakit. Kutatap pria itu dengan penuh pertanyaan.
"Kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa salahku?"
"Salahmu? Kamu bersalah karena tidak menutup mata," jawab pria itu yang kembali memainkan pisaunya di sekitar kakiku.
"Argh!" pekikku merasakan sakit yang luar biasa.
Aku bisa melihat dengan jelas darah sudah mengalir ke kedua kakiku. Sebenarnya aku masih bingung dengan perkataannya barusan. Aku tidak paham dengan maksud pria itu.
Seluruh tubuhku terasa sakit dan aku masih berada di posisiku. Duduk di sebuah kursi dengan kedua tangan dan kaki terikat. Entah kenapa mulutku tidak mau berteriak meminta pertolongan.
"Tol...."
"Tidak akan ada yang mendengarmu, silahkan berteriak sepuasmu," potong pria itu, aku yakin dia sedang tersenyum dibalik masker itu. Matanya menyipit saat ini.
"Di... dimana aku sekarang?" tanyaku.
Namun, pria itu tidak menjawab dan berlalu pergi meninggalkanku di dalam ruangan gelap ini. Bau anyir masih tercium, seperti bau darah. Juga ada bau lain, bau busuk yang membuatku mual.
🪓🪓🪓
Entah sudah berapa lama aku berada di tempat ini. Aku lapar dan haus, tapi pria itu tidak juga datang. Perutku sudah seperti dikocok karena bau tidak enak dari tempat ini. Pintu yang dibuka secara tiba-tiba membuatku terkejut. Pria itu masuk dengan membawa sesuatu. Mataku membulat saat melihat apa yang dibawanya. Sebuah jasad manusia, wajahnya tidak terlihat jelas karena berlumuran darah.
"Makan!" ucap pria itu melempar sepotong roti dan tepat jatuh dipangkuanku.
Dia kembali mengeluarkan belati, mataku spontan terpejam saat belati itu mengarah padaku. Rasa perih itu kembali hadir, tali yang mengikat tanganku berhasil terpotong bersamaan dengan kedua tanganku yang tergores. Sepertinya dia sengaja melakukan hal itu.
Rasa laparku hilang seketika melihat jasad itu di depanku. Pria ini benar-benar tidak waras. Lagipula, apakah tidak ada yang mencari keberadaanku saat ini? Sungguh menyedihkan.
"Tidak makan?" tanya pria itu menoleh padaku.
Aku terdiam melihat pria itu. Masker serta topinya dia lepas, wajah pria itu terlihat jelas oleh kedua mataku. Jantungku berdegub kencang melihat wajah itu.
"Tidak menjawab?" tanyanya lagi, tangannya menjambak rambutku membuat teriakan meluncur dari mulutku.
Akhirnya aku memakan perlahan roti yang terasa sangat tidak enak itu. Sementara pria itu sedang sibuk dengan jasad yang dibawanya tadi. Mataku masih memperhatikan gerak-gerik pria itu. Entah kemana rasa takutku tadi. Tiba-tiba menghilang. Aku sudah melupakan rasa sakit di tangan serta kakiku, digantikan debaran juga gelitikan geli di sekitar perut.
BRAK!
Suara dobrakan pintu terdengar sangat nyaring, mengejutkan pria itu juga aku. Beberapa orang dengan pistol merangsek masuk dam menodongkannya ke pria itu.
"Jangan bergerak! Jatuhkan senjata!" perintah seseorang di antara mereka yang ternyata adalah pasukan polisi.
Pria itu spontan berlari kearahku dan mengarahkan belati ke leher. Kurasakan dingin belati itu menekan leherku. Napasku seketika terhenti, aku menahan napas saat ini. Namun, sialnya debaran di dadaku makin menjadi.
DORR!
Suara tembakan menggema di seluruh ruangan ini, bersamaan dengan lampu yang dinyalakan tiba-tiba. Aku spontan mendongak melihat pria itu seketika tumbang. Peluru itu berhasil mengenai kaki kanan pria itu. Aku membulatkan mataku, ada air mata yang meleleh keluar. Sebuah tarikan membuatku terkejut.
Salah satu polisi itu membawaku pergi dari sana, lalu polisi lain mengamankan pria itu. Air mataku tidak mau berhenti keluar, pikiranku kini dipenuhi oleh pria yang beberapa waktu ini menyanderaku.
🪓🪓🪓