Latar cerita diambil dari 25 tahun kemudian dari masa sekarang. Tentu dengan semakin berkembangnya zaman, teknologi pun juga ikut berkembang dengan sangatlah pesat. Terutama dalam bidang perusahaan game online. Para pengembang game online berlomba-lomba membuat permainan mereka sendiri, dan saling bersaing satu sama lain. Ditambah lagi dengan munculnya sebuah perangkat lebih canggih yang disebut dengan VR(Virtual Reality).
Virtual Reality(VR) adalah alat yang bisa digunakan untuk menonton video atau film, dan bahkan juga bisa digunakan untuk memainkan permainan daring. Alat ini telah dikenal secara luas oleh hampir semua orang, dan juga sering digunakan oleh para peminat game online atau permainan daring. Karena dengan alat ini, para pengguna akan diberikan pengalaman yang sangat realistis ketika menonton sebuah video, dan juga ketika memainkan sebuah video game.
Namun, sebuah perusahaan game online ternama di Jakarta, Indonesia. Tampaknya ingin membuat sebuah sejarah baru dalam dunia teknologi. Mereka telah resmi meliris sebuah perangkat baru yang diberi nama "Virtual Gear". Virtual Gear tersebut memiliki desain yang sangat berbeda dari alat bernama Virtual Reality yang lebih dahulu diketahui banyak orang. Bahkan lebih kecil dan simpel, karena bentuknya yang selayaknya kacamata.
Di kala pertama kali namanya mencuat ke publik. Banyak orang yang bingung dan bertanya-tanya apa bedanya alat tersebut dengan Virtual Reality(VR). Namun pertanyaan mereka semua terjawab oleh Profesor Adiwidia, sang pencipta dari mahakarya tersebut. Ia mengatakan ke publik, bahwa perangkat ciptaannya ini sangat berbeda dengan alat yang disebut dengan Virtual Reality(VR). Perbedaannya sangat jelas dari fitur dan cara penggunaannya, yang di mana Virtual Gear hanya diperuntukkan bagi para peminat game online.
Profesor Adiwidia juga mengutarakan, bahwa hanya permainan-permainan khusus yang dapat dimainkan menggunakan alat ciptaannya itu. Tentunya, semua permainan tersebut adalah permainan yang dikembangkan oleh perusahaannya sendiri. Salah satunya adalah permainan daring terbaru yang sedang naik daun berjudulkan "Death Game".
Death Game adalah permainan yang dikembangkan oleh perusahaan milik Profesor Adiwidia. Permainan tersebut memiliki genre aksi, battleroyale, bertahan hidup, dan tembak-tembakan, yang tentunya sangat diminati bagi kalangan anak muda zaman sekarang.
Ditambah lagi, mekanisme dan grafis dari permainan tersebut yang sangatlah menarik dan disorot oleh hampir semua influencer ternama, itu cukup untuk membuat nama Death Game mencuat sangat drastis di mata publik.
Mekanisme dan grafis yang disajikan sangatlah realistis. Bahkan menggunakan senjata api di dalam permainan, itu sudah sama dengan menggunakan senjata api di kehidupan nyata. Grafis yang disajikan pun sangatlah memanjakan mata. Apalagi permainan tersebut dimainkan menggunakan Virtual Gear, yang di mana para pengguna seolah akan dibawa ke dalam dunia permainan tersebut.
Profesor Adiwidia sendiri sangat mengistimewakan permainan ciptaannya itu. Walaupun ia dan perusahaannya telah berhasil membuat lebih dari puluhan permainan online. Namun tampaknya ia sangat mengidolakan salah satu permainan ciptaanya yang berjudulkan Death Game tersebut.
...
Beberapa bulan telah berlalu sejak perilisan perangkat ciptaan Profesor Adiwidia, beserta permainan istimewanya. Angka penjualan perangkat Virtual Gear beserta permainan berjudulkan Death Game itu melonjak sangat drastis. Bahkan toko-toko yang menyediakan produk permainan tersebut untuk dijual pun sampai kehabisan stok mereka.
Walau sempat terjadi beberapa kritik keras mengenai beberapa pengguna yang menggunakan pengalaman bermainnya untuk melakukan tindakan kriminal di dunia nyata. Tetapi tampaknya Profesor Adiwidia tidak begitu menghiraukan semua kritik dan kecaman itu.
"Sepertinya ... jika ku tambahkan sedikit racikan lagi, permainan itu akan menjadi permainan yang sangat seru dan menarik untuk dilihat," gumam Profesor Adiwidia ketika duduk di ruangan pribadinya, dan di hadapannya terdapat beberapa bungkus kotak dari Death Game beserta logonya yang menggambarkan kengerian dari permainan tersebut.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan ...?" batin seorang wanita yang berdiri tepat di luar kaca jendela ruangan milik Profesor Adiwidia. Wanita tersebut adalah mantan sekertaris sang profesor. Meski tidak lagi bekerja untuk Profesor Adiwidia, ia tampaknya mendapatkan tugas untuk memantau sang profesor itu.
...
Di hari berikutnya, Death Game mendapatkan sebuah pembaruan yang mengharuskan semua pemain menginstal pembaruan tersebut. Dalam pembaruan yang terbaru, terdapat sebuah "quest event" yang mewajibkan para pemain menjalankan quest atau misi tersebut.
Semua pemain tampak sangat antusias ketika mengetahui kalau misi yang diberikan sangatlah mudah, yaitu cukup membunuh total 10 musuh dengan tembakan tepat di kepala. Hadiah dari misi tersebut pun juga bukanlah main-main, karena hadiahnya sejumlah uang tunai sebesar 2,5 miliyar bagi pemain bertahan.
Cukup dengan beberapa menit saja setelah pembaruan diluncurkan untuk video game online tersebut. Angka total akun yang memainkan melonjak secara drastis dalam satu waktu, bahkan melebihi angka normal dari permainan biasa dengan genre yang sama. Hal itu pun sangat membuat Profesor Adiwidia cukup puas dengan hasil yang ia dapatkan, karena jauh diluar perkiraannya.
"Apa yang terjadi?! Setelah aku memainkannya, dan saat aku mencoba di mode latihan. Tetapi rasa sakit dari tembakan yang diterima oleh karakter permainanku dapat dirasakan oleh diriku di dunia nyata? Bahkan itu menciptakan sebuah luka bakar pada kulitku."
Sebuah akun Twitter dari seorang influencer pun mengunggah pengalamannya setelah memainkan Death Game dengan Versi yang terbaru menggunakan Virtual Gear-nya.
Hanya beberapa detik saja setelah tweet tersebut diunggah. Secara tiba-tiba tweet tersebut lenyap menghilang begitu saja tanpa jejak lagi, seolah dihilangkan atau dihapus dengan sengaja oleh pihak asing.
Mungkinkah pengalaman yang diunggah pada akun Twitter tersebut adalah salah satu fitur dari pembaruan yang sengaja ditambah dalam Death Game?
Hal tersebut tentu membuat para media penasaran dan bertanya-tanya, hingga membuat topik itu viral dan diangkat oleh berita televisi nasional.
Hanya selisih dua jam kemudian setelah tweet tersebut hilang, dan televisi menyiarkan berita tidak enak mengenai Death Game ciptaan Profesor Adiwidia. Secara tiba-tiba terjadi sebuah penyerangan bersenjata di sebuah pos polisi dan sebuah mall yang terletak tepat di pusat kota Jakarta. Pelaku penyerangan bersenjata adalah sekelompok anak muda dengan sebuah alat seperti kacamata, yang ternyata alat tersebut adalah Virtual Gear ciptaan Profesor Adiwidia.
Namun anehnya, para pelaku saling menembaki satu sama lain seperti dikendalikan oleh alat tersebut. Bahkan sampai beberapa di antara mereka tewas di tempat akibat tembakan yang mengenai tepat di kepala mereka. Sontak itu membuat heboh semua orang, termasuk dengan pihak kepolisian yang langsung menerjunkan banyak aparat untuk menangani situasi.
Kekacauan di pusat kota pun terjadi. Seketika mall tersebut, dan lokasi-lokasi penyerangan lainnya dibanjiri oleh darah dari para pelaku yang saling membunuh. Semua tubuh dari pelaku terdapat banyak lubang luka tembak, dan alat Virtual Gear tiba-tiba saja meledak setelah mereka tewas tak bernyawa.
***
Profesor Adiwidia tampak hanya duduk manis sembari menikmati secangkir tehnya, yang mungkin akan menjadi teh terakhir yang ternikmat untuknya sebelum tertangkap. Ia melihat berita penyerangan itu melalui televisi pada ruangan pribadinya.
"Aku tidak menyangka kau akan memiliki ide seperti itu," cetus seorang wanita berdiri di depan pintu ruangannya seraya menggelengkan kepalanya. Wanita tersebut adalah mantan dari sekertaris Profesor Adiwidia.
"Permainan yang menarik, bukan? Lihat! Mereka sedang bersaing satu sama lain demi mendapatkan uang dari misi itu!" sahut Profesor Adiwidia yang lalu tertawa terbahak-bahak seakan puas dengan apa yang ia lihat.
"Kau benar-benar sudah sangat gila ...!" gumam wanita itu yang lalu langsung berjalan pergi menjauhinya begitu saja. Ia tampak tidak ingin lagi berurusan dengan profesor gila itu, dan ingin segera menyelesaikan tugasnya.
Profesor Adiwidia tampak tidak mengacuhkan perkataan yang didengarnya dari mantan sekertarisnya itu. Lagi-lagi dirinya tampak sangat puas dengan hasil dari ciptaannya yang jauh diluar prediksinya.
"Dasar, orang-orang zaman sekarang memang sangat mudah jika dipancing dengan nominal uang!" gumam Profesor Adiwidia ketika mengingat kembali saat sebelum dirinya memasukkan pembaruan dan misi seperti itu.
"Baiklah, kalau begitu. Saatnya memberikan misi selanjutnya, yaitu ... menyerang istana negara! Sekaligus memberikan sedikit pesan untuk para aparatur di sana, atau bahkan sedikit pesan untuk pemerintah."
"Hufftt ...!"
"Beruntung sekali aku berada di zaman ini, zaman di mana teknologi bisa dimanfaatkan dengan mudah. Zaman di mana teknologi bisa digunakan untuk apapun, aku jadi bisa menggunakannya sesuai dengan apa yang aku inginkan!"
"Sekarang tinggal menunggu ruanganku ini dipenuhi oleh aparat yang akan meringkus ku."
"Mungkin sudah saatnya untuk kembali ke tempat asal?" Profesor Adiwidia memegang sebuah alat berbentuk kacamata yaitu Virtual Gear alat ciptaannya. Sesaat kemudian dirinya sedikit menoleh dan melihat ke sebuah berita pada surat kabar lama yang tergeletak samping mejanya.
Berita pada surat kabar tersebut adalah berita lama yang sudah berlalu selama bertahun-tahun. Pada surat kabar lama itu tampak menyebarkan sebuah berita tentang ditangkap dan dipenjarakannya seorang ilmuwan karena penemuan gilanya.
Nama dari ilmuwan itu tidak disebut dan tidak diketahui, bahkan tidak ada yang mengetahuinya kecuali beberapa pihak yang meringkus ilmuwan gila itu.
Jadi, kira-kira siapakah ilmuwan gila pada berita surat kabar lama itu?