Tubuh ini terkendalikan oleh sesuatu, sesuatu yang di sebut sebagai cinta. Ia mengekang tubuh ini, mengendalikan jiwanya juga. Tak dapat di kendalikan oleh pikirannya. Matanya tertutup kabut cinta, mulutnya di bungkam janji-janji manisnya, tangannya di borgol oleh rasa ingin memiliki, kakinya di arahkan menuju hal gila yang di sebut neraka dunia.
Semua di kontrol oleh orang yang ia cintai. Tidak boleh begitu, tidak boleh begini, jangan begitu, jangan melakukan itu, cukup diam, jangan banyak tanya, nikmati alurnya, dan masih banyak lagi.
Orang itu memberikan rasa penyesalan yang membuatnya kalut dalam pikirannya sendiri membuat dia membenci dirinya. Rasa sedih, kesal, kecewa semuanya bercampur jadi satu yaitu dirinya. Tidak ada jalan untuk keluar yang ada hanya jalan untuk masuk lebih dalam lagi menuju neraka dunia.
Kebohongan demi kebohongan ia telan mentah-mentah karena rasa penyesalan itu membuatnya tak bisa melakukan apa-apa hanya bisa diam dan menerima sebagai hal yang seharusnya ia terima.
Ia pikir hidupnya akan berakhir secepat itu ternyata tidak. Tuhan masih ingin memberinya cobaan. Hidupnya yang semula telah hancur semakin hancur. Ia seperti masuk ke dalam jurang tanpa ujung yang membuatnya harus merasakan rasa sakit yang luar biasa tanpa ujung.
Rasa sesak bertubi-tubi ia dapatkan, ia hanya bisa memukul dadanya sekencang mungkin berharap sesak itu hilang namun ternyata tidak. Meski begitu orang itu tak memberinya istirahat sedikit pun, walau itu istirahat yang berarti istirahat untuk terakhir kalinya.
Nafasnya terburu-buru, ia baru saja mencoba lari dari kenyataan namun ternyata tak bisa karena sebuah magnet menariknya ke tempat semula. Magnet itu adalah magnet kehidupan. Magnet sialan yang tak henti-hentinya menarik ia agar sadar bahwa tak akan ada artinya perjuangannya itu. Hanya ada rasa sedih yang semakin mendalam tak ada habis nya.
Ia masih tidak sadar bahwa cintanya yang menarik ia ke kehidupan yang tak pernah ia bayangkan. Sedangkan kekasihnya ada bagian utama dari penyesalan tak berujung untuknya.
Sekarang matanya tidak tertutup kabut cinta lagi. Karena telah di cungkil oleh rasa cintanya membuatnya buta dari segalanya. Perasaan di utamakan dari pada logika. Logikanya di buang entah kemana, tapi sayangnya perasaannya telah di beri racun agar ia semakin tersesat. Ia tersesat di dalam lautan penuh racun cinta.
Hidupnya seperti boneka... di kendalikan. Namun ia masih berharap ada keajaiban dari Tuhan yang membuatnya bisa hidup bahagia. Dan akhirnya doanya di jawab ia mendapatkan kebahagiaannya namun sayangnya hanya sebentar karena selanjutnya hidup menjadi lebih buruk dari sebelumnya.
Tak hanya di kendalikan sang kekasih, sekarang semua di keluarganya mengendalikan nya agar tak bersama sang kekasih. Mereka saling mengendalikan ku. Keluargaku bilang untuk jangan dengannya karena mereka telah punya calon yang lebih baik sedangkan kekasihku mengancamku agar tak meninggalkannya. Jujur ia mencintai kekasihnya lebih dari apapun.
Ia sudah mencoba mengatakan pada mereka namun mereka tidak peduli. Sama-sama saling mengendalikan dia dengan aturan yang bentrok. Dia bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Logikanya berkata bahwa ia harus memikirkan dirinya namun hatinya berkata ia harus mengikuti sang kekasih. Sungguh membuatnya bingung.
Ternyata tak di sangka semua itu malah membuat dia menjadi semakin tertekan. Sesak.. sesak.. dia butuh oksigen!! namun seperti tuli mereka tak memperdulikan perasaannya.
Dadanya sakit seperti tersumbat kain. Pertengkaran mereka bukannya membuat ia menjadi lebih baik namun malah membuatnya jatuh semakin dalam. Mereka seperti mendorongnya agar semakin jatuh.
Lagi dan lagi ia berdoa semoga ada pelangi setelah hujan. Tak di sangka bukannya hujan itu di gantikan oleh pelangi namun hujan itu malah semakin deras. Pipinya telah memerah akibat gesekan tangannya yang berkali-kali mencoba menghapus air matanya yang tak kunjung berhenti mengeluarkan air mata.
Ia menjadi putus asa. Dia merasa bahwa Tuhan tak pernah menolongnya. Ia mencoba mengingat kebaikan apa yang ia dapatkan selama ini. Namun bukannya kebaikkan yang ia ingat namun malah rasa sakit yang ia dapatkan karena mengingat kejadian menyedihkan. Tuhan tak menolongnya, ia sudah selalu berdoa dan mencoba yang terbaik tapi Tuhan malah seperti buta. Tuhan membiarkannya sengsara.
Rasa itu membuatnya benci akan Tuhan. Ia bahkan lupa bahwa kelahiran nya ada sebuah kebaikan Tuhan dan oksigen yang ia hirup adalah berkat Tuhan. Sesuatu yang simple namun di lupakan.
Sekarang semua seperti perkataannya yang menghina dan mengatakan Tuhan tak memberinya rahmat dan cinta kasihnya. Ia kini telah terkubur oleh tanah. Cinta itu juga menjadi bagian utama yang membuatnya sekarang tiada.
Perkataan adalah Doa. Jadi jangan berkata sembarangan. Semua butuh waktu, agar kau mendapatkan hal yang indah. Percayalah bahwa hal indah pasti akan di berikan padamu pada waktu yang tepat. Karena Tuhan tau apa yang terbaik untukmu.
Cinta memang indah. Cinta bisa menjadikan hidup lebih berwarna bila yang di cintai adalah orang yang tepat jika tidak cinta bisa juga menjadi racun mematikan bila bertemu dengan orang yang salah. Terkadang perasaan di butuhkan di beberapa kondisi bukan di segala kondisi. Gunakan logika dan perasaanmu di waktu yang tepat karena jika tidak merekalah yang akan membuatmu jatuh ke dalam jurang penyesalan.
Waktu memang tak bisa di putar jadi yang perlu kira lakukan adalah mencoba agar kejadian bodoh dulu tak terulang lagi di masa sekarang dan masa depan. Jangan menyesali yang lalu, menyesallah bila sekarang kau malah membuang waktu untuk menyesali hal lalu. Bayangan masalah lalu memang adalah salah satu hal sulit untuk di lupakan tapi setidaknya berdamai lah dengan masa lalu mu.
Tidak semuanya hal dapat di kendalikan. Hal tak terencana akan selalu ada di hidupmu. Kemarin, Hari ini, lusa, dan di masa depan itu pasti akan ada.