“ Apa ayah, MENIKAH.?” Pekik Nathasya memandangi ayahnya, Hermawan hanya lemah menganggukan kepala, sesekali ia memperbaiki letak kaca matanya.
“ Nak, ayah sudah tua. Penyakit ayah juga sering kambuh. Ayah tidak ingin setelah kepergian ayah hidupmu luntang-lantung.” Nathasya anak semata wayang dari pernikahan Hermawan dengan Ratih.
Tuhan berkehendak lain, saat Ratih melahirkan Nathasya ia meninggal dunia akibat pendarahan hebat. Selama ini Hermawan lah yang berperan ganda, menjadi sosok Ayah dan juga ibu untuk anaknya.
“ Ayah, aku ingin kuliah.” Gadis itu baru saja lulus dari SMA dan berniat kuliah di universitas yang telah lama ia dambakan. Tapi mendengar permintaan ayahnya seperti mimpinya akan redup.
“ Nak, kau bisa menikah sekaligus kuliah. Kau hanya perlu mengatur waktu.” Nathasya hanya bisa merenung setelah Hermawan beranjak dari sisinya. Pernikahan belum pernah terpikir sebelumnya, lalu dengan siapa ia akan di nikahkan.? Apa ia akan di nikahkan dengan Reza pacarnya, tapi hubungan mereka juga belum diketahui oleh Hermawan.
Esoknya ada tamu yang datang ke rumah Hermawan, sepasang suami istri dan seorang anak lelaki.
Assalammu’alaikum..
Salam itu menghentikan Nathasya yang dari tadi sibuk membaca novel. Sebelum ia melihat siapa yang datang Hermawan sudah lebih awal menyambut mereka. Sepasang suami istri itu tak asing lagi baginya, tapi anak lelaki itu baru pertama kali ia lihat.
“ Nathasya kemari nak.” Hermawan memanggil anak gadisnya.
“ Ini Niko calon suamimu anak semata wayang kami.” Bu Cici memperkenalkan anaknya, lelaki itu hanya terdiam, wajahnya masam seperti ada beban dipunggungnya.
“ Selama ini Niko tinggal dengan pamanya di Bandung, makanya kalian belum saling kenal.” Pak Bagas ikut menjelaskan, setelahnya Nathasya tidak tahu lagi apa yang mereka bahas, yang begitu jelas terdengar acara pernikahan mereka tidak akan lama lagi digelar.
“ Walaupun kita menikah tapi gue ngak suka sama lo.” Sebuah pesan di WA dengan no baru, Nathasya tahu itu pesan dari Niko.
“ Lo kira gue mau sama lo, kalau bukan karena perjodohan, gue ogah nikah. Asal lo tahu gue punya pacar yang jauh lebih baik dari lo.”
Karena penasaran Nathasya mencari tahu tentang Niko dari facebook, dengan kata kunci nama lengkap. Sebuah akun ia temukan dangan poto profil gambar Niko, ia klik bagian bio dua tahun jarak usia mereka, menandakan Niko lebih tua darinya, di bagian album banyak poto lelaki itu dengan gadis yang sama. Pacarnya cantik, lirih Nathasya.
Saat saksi berkata sah, saat itu pula pernikahan mereka sudah resmi. Tidak banyak yang diundang hanya beberapa orang saja, pernikahan mereka sengaja ditutup-tutupi begitulah permintaan Nathasya dan Niko, agar teman-teman mereka juga tidak ada yang tahu. Semenjak saat itu Nathasya tinggal bersama keluarga Niko, pak Hermawan dengan berat hati ditinggal oleh putrinya, semua ia lakukan demi masa depan Nathasya.
“ Jaga diri baik-baik ayah.” Begitu pesan Nathasya padanya, mereka saling berpelukan sembari berurai air mata.
Kamar Niko sengaja di dekor bu Cici dengan hiasan kamar pengantin, Niko sudah berdebat denganya tapi bu Cici tetap bersikeras untuk menghiasnya, agar malam pertamanya berbeda ledek bu Cici pada putranya.
Karena merasa lelah diperjalanan Nathasya memutuskan untuk lekas tidur, belum sempat ia memejamkan mata wajah Niko sudah berada sejengkal darinya, hingga Nathasya kaget dan mendorongnya kuat, tubuh itu terpelanting di lantai.
“ Ini kasur gue, lo tidur dilantai.” Hardiknya kasar matanya melotot menatap Nathasya, gadis itu tak bicara lagi dan tidur seperti yang dititahkan, kantuk yang menyerang membuatnya malas melayani kemarahan Niko suaminya.
“ Bangun,,,, dasar cewek pemalas.” Niko mengguncang tubuh Nathasya, karena jam sudah menunjukkan pukul 07:45 menit. Matanya sedikit terbuka, Nathasya hampir lupa kalau hari ini mereka akan mendaftar di kampus swasta terbesar di kota ini.
“ Non, tuan Niko sudah lebih awal berangkat.” Ucap Minah karena melihat Nathasya masih berdiri di beranda rumah megah milik keluarga Bagas. Gadis polos yang mendengar hal itu hanya bisa diam dan tersenyum simpul, ia masih bingung dengan situasi kota ini.
“ Bik, temani aku ke kampus ya.” Rengeknya pada Minah, perempuan yang sudah lama mengabdi pada keluarga Bagas itu hanya bisa menolak dengan halus, dan berlalu pergi meninggalkanya. Dengan memberanikan diri Nathasya berusaha menaiki taxi memberikan secarik alamat. Bersyukur karena ia sampai tepat waktu tanpa halangan apapun.
“ Nathasya.” Suara itu menghentikan langkahnya, ternyata Reza.
“ Za, kamu daftar kuliah disini juga.” Lelaki berbadan tegap itu mengangguk bahagia karena tak menyangka akan berjumpa dengan Nathasya dan kuliah di kampus yang sama, dari kejauhan sepasang mata mengawasi mereka.
“ Za, Nathasya. Kita ketemu disini , ngak nyangka kita bisa satu kuliah bareng.” Renata menghampiri keduanya setelah memperhatikan mereka dari kejauhan. Ketiganya sama-sama bahagia, karena berada di kampus yang sama walau pada jurusan yang berbeda.
Siang itu Reza menawarkan diri untuk mengantar pulang Nathasya, tapi gadis itu menolak dan masih memilih menaiki taxi. Tanpa sepengetahuan Nathasya Reza membuntutinya dari belakang, alangkah terkejutnya Reza karena melihat kekasihnya itu turun di halaman rumah mewah.
“ Jadi yang itu cowok lo, yang lo bilang lebih baik dari gue. Cakepan gue kemana-mana kali.” Niko bicara setengah mengejek, lelaki itu tampak puas setelah melihat kenyataan bahwa Reza bukan bandinganya.
“ Dari segi fisik lo memang menang, dari kepribadian Reza jauh lebih baik.” Nathasya berusaha membela kekasihnya, ia tak mau lelaki yang sudah dipacarinya selama tujuh bulan itu kalah dihadapan orang yang baru dia kenal beberapa hari.
“ Terserah lo deh, mama papa sudah berangkat ke luar kota jadi malam ini lo tidurnya di kamar tamu. Jangan dikamar gue.” Niko dengan bola basket ditanganya berlalu pergi meninggalkan Nathasya. Gadis itu hanya diam terpaku, bagaimana bisa hidupnya jadi serumit ini.
Suara ponsel mengagetkanya, ada panggilan vidio dari WA.
“ Hay ayah, ayah baik-baik saja.?” Dari arah seberang tampak Hermawan tersenyum lebar karena melihat putrinya hidup semakin membaik. Tidak seperti selama ini, mereka hanya bisa hidup sederhana. Ponsel dengan fiture bisa Vidio Call an itu pemberian pak Bagas pada pak Hermawan agar bisa melepas rindu pada Nathasya walau jarak jauh sekalipun.
“ Ayah baik-baik saja, bagaimana kabar suami dan mertuamu.?” Mendengar kata “suami” membuat Nathasya menginggat Niko, ingin sekali ia bercerita kalau lelaki itu amat sering membuatnya jengkel.
“ Mereka baik-baik saja ayah.” Kini keduanya asyik membahas hal lain, sesekali mereka tertawa. Nathasya begitu rindu pada ayahnya, walau perpisahan mereka belum begitu lama, tiba-tiba air matanya menetes.
“ Nak, suatu hari nanti semoga kamu jadi orang yang bahagia.” Begitu ucapan pak Dermawan sebelum panggilan vidio itu berakhir.
Siang itu di kampus
“ Nathasya, aku main ke kost kamu ya.” Reza bicara setelah memilih duduk dihadapannya. Nathasya yang mendengar permintaan Reza hanya bisa mencari alasan, bagaimana mungkin Reza akan berkunjung ke rumah Niko, suaminya.
“ Za,, aku tinggal dirumah orang sekalian jadi asisten rumah tangga. Kalau mau ketemuan kita jumpa di luar aja ya. Soalnya yang punya rumah galak.”
“ Jadi yang kemarin rumah majikan kamu.”
“ Kamu ngikutin aku.?”
“ Iya maaf Sya, aku penasaran kamu tinggalnya di mana, jadi aku ikutin.” Rasa aman di hati Nathasya berkurang, bukan tidak mungkin kalau suatu hari nanti Reza nekad bertamu ke rumah pak Bagas, dan semuanya akan terbongkar.
Pak Bagas dan bu Cici belum pulang juga dari luar kota, selama itu pula Niko dengan leluasa selalu nge prank Nathasya, sore itu Niko sengaja mentitahkan istrinya untuk membuka dekorasi kamarnya, padahal dia tahu bahwa gadis itu masih lelah karena baru selesai membantu pekerjaan bik Minah.
“ Lo bongkar ya dekorasi kamar gue, pengap gue liatinya. Nikahnya juga bohongan kamar di buat dekorasi segala.”
“ Kenapa harus gue sih, itu kan kamar lo.” Nathasya tak mau kalah, pada akhirnya juga tetap mengalah karena ia sadar diri tinggal di rumah Reza.
Satu per satu tirai bunga mulai ia tanggalkan, melepas bagian yang
menempel pada dinding kamar, tiba-tiba bangku yang dia jadikan pijakan oleng seketika. Masih untung karena ia jatuh ke kasur, akan tetapi tubuhnya menindih seseorang, bibir mereka saling bersentuhan. Debaran darahnya mulai tak normal, itu Niko suaminya. Nathasya bergegas berdiri dan meninggalkan Niko, ia tak perduli lagi dengan pekerjaanya yang masih terbengkalai. Sejak saat itu pula mulai ada perasaan yang berbeda.
“ Bik, sudah hampir jam 23.00, Niko belum pulang juga.?” Tanya Nathasya pada bik Minah yang hendak memasuki kamar, wanita yang sudah berumur setengah abad lebih itu hanya menggelengkan kepala dan berkemas hendak tidur.
Diruang tamu Nathasya masih menunggu kepulangan Niko, yang ia dengar saat lelaki itu telponan bahwa ia diundang untuk datang ke acara pesta ulang tahun teman satu fakultasnya. Mulai ada rasa khawatir dihatinya, takut terjadi sesuatu pada lelaki itu. Seperempat jam lagi menunjukkan pukul 24.00 malam. Pintu rumah terketuk, alangkah terkejutnya Nathasya melihat Niko bersama Renata.
“ Kamu tinggal disini Nathasya.?” Renata bertanya sembari tetap mengendalikan Niko agar tidak terjatuh dari pelukanya. Lelaki itu mabuk berat.
“ Aku jelasin lain kali ya.”
“ Aku tunggu penjelasan kamu.” Renata berlalu pergi, ada rasa cemburu dihatinya.
Niko lelaki yang ia incar akan diurus perempuan lain malam ini. Meskipun itu temanya sendiri, rasa penasaran juga tak kunjung enyah dari pikiranya mengapa bisa Niko dan Nathasya satu rumah. Sebelumnya Nathasya tidak pernah cerita memiliki saudara orang yang kaya.
Nathasya berusaha memapah Niko menuju kamar, bau alkohol begitu menyengat sehingga wanita itu mual mencium baunya. Baju yang dikenakan Niko basah terkena muntah, bagaimana ia tidur dengan kondisi yang kotor pikirnya.
“ Dia suamimu jadi tidak ada salahnya kau ganti pakaianya.” Begitulah bisik dalam hatinya, lama juga Nathasya mempertimbangkannya, hingga akhirnya ia membuka satu persatu pakaian Niko.
Sudah pasti ia sangat gugup dan malu, berlahan gadis itu membersihkan tubuh Niko dan menganti pakaianya. Tanganya seperti tertarik kuat, hingga matanya sangat jelas memandangi wajah Niko. Genggaman tangan itu belum juga terlepas, Nathasya memutuskan tidur disamping Niko.
Saat subuh tiba, Niko mulai sadar diri. Pengaruh alkohol semalam sudah hilang. Ia mentap Nathasya yang masih tertidur pulas. Niko tahu gadis itu yang telah menjaganya semalaman. Ia pandangi wajah Nathasya begitu sendu, hatinyapun mulai merasakan hal yang aneh. Dengan sadar sebuah ciuman ia layangkan pada kening Nathasya, bukankah gadis itu sudah menjadi istrinya sebulan yang lalu.
“ Tunggu.” Sebuah titah singkat menghentikan langkah Nathasya, gadis itu menoleh ternyata Renata.
“ Ada apa Rena.?” Yang ditanya hanya diam sekejap sebelum memandang sekeliling.
“ Kenapa kamu bisa satu rumah dengan Niko.?”
“ Aku satu rumah sama Niko, karena aku asisten rumah tangga di sana. Kamu tahu kan untuk kuliah ayahku tidak mungkin sanggup membiayai, jadi aku kuliah sambil kerja.” Perasaan legah dihati Renata muncul, yang ia khawatirkan tak terjadi. Tapi bukankah rasa suka dan nyaman bisa ada jika sering bertemu, pikirnya lagi.
“ Aku dan Niko sekarang dalam tahap PDKT, tolong cari tahu ya apa yang disukai sama Niko. Karena minggu depan ia ulang tahun.”
Niko ulang tahun, bagaimana mungkin Nathasya tidak tahu ulang tahun suaminya sendiri. Gadis itu mulai mencari tahu dari akun facebook Niko, tapi sudah tak ditemukan lagi. Hampir saja ia putus asa, tapi teringat pada buku nikah disana tertera tanggal lahir mereka masing-masing.
Tapi sore sabtu itu Niko sudah berkemas rapi. Nathasya sangat yakin kalau Niko akan merayakan ulang tahunya dengan Renata, mau apa lagi. Nathasya terlambat, ia tidak punya hak untuk melarang suaminya dengan wanita lain, bukankah ia juga masih memiliki kekasih. Malam itu Nathasya menghabiskan waktu dengan kegalauan hal-hal aneh terlintas begitu saja dibenaknya. Bagaimana kalau Niko dan Renata ciuman, bagaimana kalau mereka jadian.
Saat kakinya mulai melangkah menuju kamar suara pintu terbuka menghentikan langkahnya. Niko sudah kembali, tepat pukul 24:00. Nathasya tak percaya, bukankah hal romantis seharusnya terjadi di jam sekarang. Niko mendekatinya, perasaan Nathasya mulai tak karuan, apa yang akan terjadi tanyanya dalam hati. Niko dengan berani mencium bibirnya, Nathasya tak berani membalas perlakuan itu ia hanya mematung. Di luar hujan mulai turun.
“ Selamat ulang tahun.” Ucapnya lirih setelah Niko melepaskan ciumanya, matanya masih belum berani memandang lelaki itu. Malam ulang tahun Niko akhirnya bersama Nathasya.
Nathasya mencari Renata, ia ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi semalam. Gadis yang dicari itu santai duduk di kantin kampus.
“ Bagaimana semalam Rena.?” Nathasya berusaha duduk disampingnya.
“ Aku sudah mengutarakan isi hatiku pada Niko, tapi katanya dia sudah punya pacar. Padahal aku juga mau jadi pacarnya karena dia orang kaya.”
“ Gue dari awal juga sudah tahu.” Niko kini berada diantara mereka, dan memilih duduk di sebelah Nathasya, begitu dekat. Reza yang melihat dari kejauhan terbakar api cemburu.
“ Kenapa sih Nathasya duduk dengan lelaki lain begitu dekat.” Hardiknya pada Nathasya saat mereka sudah menjauh dari tempat ramai. Nathasya sama sekali tidak menyangka, hal sepele bisa membuat mereka bertengkar hebat.
“ Kamu yakin Za, itu lelaki lain bagi Nathasya. Mereka tinggal satu rumah status tidak ada tapi biasa saja kan mereka melakukan hal-hal aneh.” Renata datang menjadi provokator, membuat amarah Reza semakin meledak.
“ Apa? Satu rumah. Jadi kamu bohongin aku?, kamu bilang kamu bekerja jadi asisten rumah tangga.”
“ Iya, aku memang asisten rumah tangga di rumah Niko.”
“ Nanti sore kita selesaikan masalah ini.” Begitu Reza pergi, Renata ikut pergi. Nathasya akhirnya tahu bagaimana sebernya watak Renata yang ia kira teman. Sama sekali tak ada rasa khawatir dihatinya, Reza seperti bukan prioritasnya lagi. Tapi semua masalah ini harus diselesaikan baik-baik bathinya.
Pesan di WA menunjukkan sebuah alamat, Nathasya berlalu pergi ponsel ia letakan di atas meja, Niko mangawasinya curiga. Selang beberapa menit Niko mencari tahu apa yang akan dilakukan Nathasya sebuah petunjuk ia dapatkan dari ponsel milik istrinya.
“ Mari masuk Nathasya.” Kini Reza sudah berubah begitu lembut, tidak seperti tadi siang. Nathasya mengikuti langkah Reza, dikost itu tampak sepi. Nathasya tidak mau berpikir aneh, Reza kini mengunci pintu.
“ Za, pintunya ngak usah dikunci.” Kini Nathasya mulai was-was melihat gelagat Reza yang aneh. Lelaki itu kian mendekatinya.
“ Hanya kita berdua, aku butuh bukti kalau kamu dan Niko tak pernah melakukan hal apapun dibelakangku.”
“ Maksudnya.?” Nathasya benar-benar mulai panik melihat Reza membuka baju, ia berusaha berlari tapi Reza lebih kuat dan mendorongnya ke atas matras. Tubuh Nathasya tak berdaya, air matanya mengucur deras. Tiba-tiba saja sebuah pukulan mendarat di wajah Reza, Niko datang sebagai penyelamat Nathasya. Setelah mendapatkan alamat itu Niko tak mengulur waktu lagi untuk membuntuti Nathasya, beruntung ia datang di waktu yang tepat.
“ Laki-laki bajingan, beraninya lo mau menjebak perempuan.” Wajah Reza kembali mencicipi tinjuan dari Niko.
“ Lo ngak ada urusan, dia pacar gue.”
“ Dia cuma pacar lo, tapi gue suaminya. Gue punya hak buat laporin lo ke polisi.” Reza hanya terdiam, tak percaya kalau Nathasya selama ini menghianatinya.
“ Jelasin Nathasya.” Reza semakin marah, dia merasa tertipu.
“ Maaf Za, sebenarnya aku dan Niko sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Kami menikah atas dasar perjodohan. Awalnya memang aku tidak mencintainya tapi sekarang perasaanku berubah. Maaf Za, aku sudah bohongin kamu. Dan aku juga mau jelaskan ini semua makanya aku mau datang kemari. Ternyata kamu mau menjebakku.”
“ Perempuan penipu, pergi dari sini.” Reza menangis meraung. Sebenarnya Nathasya tak tega melihatnya tapi mengetahui apa yang hendak diperbuat Reza juga membuatnya benci pada lelaki itu.
Disepanjang perjalanan Niko dan Nathasya hanya terdiam, Nathasya merasa bersalah karena melibatkan Niko dalam urusanya, ia juga malu karena pernah membanggakan Reza dihadapan Niko yang nyatanya ingin merusaknya.
“ Malam ini tidur dikamar gue.” Hanya itu yang dikatakan Niko pada Nathasya saat mereka berada pada mulut pintu, Nathasya menggangguk tanda mengerti.
Nathasya mendapati Niko sudah duduk dibibir kasur, lelaki itu sedikit tersenyum melihat kedatanganya. Nathasya memberanikan diri duduk disampingnya. Kini mereka bertatapan.
“ Lo ngak punya hubungan lagi dengan siapapun.?”
Niko memulai percakapan malam itu, hanya ingin sebuah kepastian bahwa semuanya baik-baik saja bila dijalani.
“ Ngak, gue hanya punya hubungan pernikahan sekarang. Walau gue tahu pernikahan ini seperti kebohongan, kalau lo.?”
“ Gue juga ngak punya hubungan apapun dengan gadis manapun.”
“ Yang gue liat di fb lo deket sama cewek.”
“ Ngak usah dibahas, itu mantan doang. Lagian fb itu udah gue nonaktifin.” Akhirnya Nathasya tau kenapa waktu itu dia tak menemukan akun Fb Niko lagi.
“ Maksud lo perasaan lo sudah berubah itu apa.?” Kali ini pertanyaan yang membuat Nathasya malu harus menjawabnya, sama halnya ia seperti mengungkapkan perasaanya. Nathasya tak langsung menjawab, tapi melihat Niko yang mulai berani menggenggam tanganya seperti petunjuk bahwa mereka sudah saling memahami.
“ Gue sayang sama lo.” Setelah bicara demikian Nathasya tertunduk malu, sampai Niko mengelus pipinya.
“ Gue juga sayang sama lo. Lo istri gue.” Niko kini memeluknya begitu erat. Nathasya juga melingkarkan tangan pada punggung Niko.
“ Besok mama papa pulang, gue bakal usulin resepsi pernikahan kita digelar. Gue cemburu kalau cowok-cowok dikampus ngerasa lo masih jomblo.” Nathasya kini berani merebahkan tubuhnya pada bahu Niko, ia tak menduga bahwa ceritanya akan seindah ini, seperti FTV.
Malam itu mereka habiskan dengan bercumbu, ini malam pertama yang tertunda.
Resepsi mereka digelar dengan mewah, mengundang teman-teman yang sempat mereka hindari. Keduanya saling bertukar cincin, waktu akad dulu mereka tidak mau ada pemakaian cincin karena pasti akan banyak pertanyaan. Tapi hari ini mereka bangga memakainya, pak Hermawan merasa doanya terkabul karena putrinya sudah bahagia.
Mengapa waktu itu mereka dijodohkan, karena keluarga Bagas berhutang budi pada almarhumah istri Hermawan. Mendiang istrinya sudah menyelamatkan Niko yang saat itu hampir tertabrak truk. Pengasuhnya lalai, dan Niko berjalan menyebrangi jalanan yang masih berusia kurang dua tahun.
“ Kalua kau lahiran dan anakmu perempuan, aku ingin dijodohkan dengan putraku. Aku yakin anakmu pasti punya hati yang baik sepertimu.” Saat itu istri Hermawan sedang mengandung Nathasya tujuh bulan.
“ Lekas beri kami cucu.” Bisik bu Cici pada Nathasya dan Niko yang membuat keduanya tertawa dan berpelukan. Reza dan Renata juga menikmati suasana itu, keduanya semakin akrab.
“ Seprtinya aku suka sama kamu.” Reza mengutarakan isi hatinya, tak menunggu persetujuan ia mencium tangan Renata yang sudah berusaha mengobati sakit hatinya semenjak berpisah dari Nathasya.
Cinta memang tak tahu pada hati siapa ia akan berlabuh.