Mengisahkan tentang perjalanan singkat Euis, bersama kedua temannya yang bernama Santi dan Cecep. Sudah dari jauh - jauh hari mereka bertiga mempunyai janji untuk pergi bermain ke tempat yang lumayan jauh dari pedesaannya. Lebih tepatnya, mereka ingin sedikit menantang diri. Berkelana penuh petualang, ke tempat yang belum pernah mereka jangkau. Sebut saja, ketiga anak itu adalah tokoh nakal, pembangkang, yang memiliki rasa ingin tahu begitu tinggi.
Hingga suatu waktu, tepatlah sampai pada hari yang sudah mereka nantikan. Masing - masing dari mereka membawa bekal, begitu juga peralatan yang sekiranya mereka butuhkan. Bak ingin melaksanakan sebuah perkemahan, peralatan masak pun tidak lupa mereka bawa. Disaat sibuknya bersiap - siap, orang tuanya pun juga tengah sabik gencar memarahi anaknya yang pungus itu. Keras kepala, tidak mau menurut, susah diatur. Tekadnya memang kuat, hingga siapapun tidak dapat mengalahkan ego mereka.
Tepat pukul sembilan siang, mereka bertiga berangkat menuju tempat yang belum tentu tertuju. Pikir mereka, yang terpenting jalan aja dulu. Niatnya juga ingin berpetualang, siapa tahu nanti mereka akan mendapatkan hal - hal unik dan menarik, pikirnya. Disebalik itu, Faiz anak dari seorang Pak RW, yang masih punya ikatan pertemanan dengan ketiga anak itu, mendadak bungkam. Merasa dirinya tidak dianggap, setitik noda dendam timbul di hati Faiz. Rasa ingin Faiz mengikuti mereka, lantas timbul niat jahil dalam benaknya. Pikirnya, menakut - nakuti mereka adalah suatu ide yang bagus.
Euis, Santi, dan Cecep sedari tadi hanya berjalan - jalan tidak tentu arah. Pasalnya, mereka belum menemukan tempat yang cocok untuk disinggahi. Pemandangan di sekitar mereka juga cukup indah, tidak pantas kiranya hanya sekedar dilewati tanpa mau menikmati. Jadi mereka memutuskan untuk menikmati saja setiap perjalanan, tanpa terburu - buru ingin mencari tempat tujuan. Tanpa mereka sadari juga, dari belakang terdapat sosok gencar yang sudah lama mengikuti mereka. Tampilan fisik yang sedikit kumal, kucel, seperti tidak terurus. Terlihat sesekali dia mengepalkan tangan, seolah merasa benci dengan orang - orang yang ada di depannya.
Di tengah perjalanan panjang mereka, Santi tiba - tiba merasakan kakinya sakit tanpa ampun. Euis mencoba bertanya, tentang apa yang dirasakan Santi. Tapi Santi tidak mau menjawab. Dia hanya bisa mengaduh, kakinya benar - benar terasa sakit. Sementara Cecep tidak tinggal diam, mencoba melihat dan menerka rasa sakit apa yang dirasakan Santi. Santi terus memegangi kakinya, menunjuk ke arah telapak kaki yang ia rasakan begitu sakit. Melihat hal itu, tersirat ekspresi penuh rasa puas di wajah seseorang. Dari jauh, sosok yang sedari tadi terus mengikuti, tampak memberi acungan jempol kepada salah satu dari ketiga orang itu. Merasa satu per satu rencananya berhasil, senyum smirk menyimpul tepat di kedua bibirnya.
Santi mencoba berdiri, dengan kaki yang masih terasa sakit. Rupanya telapak kaki Santi tertancap dua buah paku. Cukup dalam, meskipun dia memakai sepatu. Cecep merasa panik, segera mungkin dia mencoba mencabut paku itu, dan mengobati sebisanya. Sementara Euis dengan tampilan wajah datar, seperti sedikit pun tidak ada rasa iba di hatinya. Mendadak pergi meninggalkan mereka berdua, dengan alibi ingin mencari dedaunan herbal untuk Santi. Padahal langkahnya tertuju kepada seseorang, yang sedari awal sudah menjadi rekan untuk melancarkan aksinya.
"Dari tadi lo ngikutin?"
"Ya, sesuai rencana kan?"
"Bagus. Tapi lo bisa mastiin kan, gak ada yang tahu tentang semua ini?"
"Soal itu, gue gak bisa mastiin. Tapi udah gue usahain kok buat menjamin semuanya berjalan dengan lancar dan aman."
"Oke, tunggu apa lagi. Sekarang posisinya udah pas banget, buat hancurin mereka berdua. So, let's come on action!"
Tidak dapat disangka, Euis dan rekannya itu yang diketahui bernama Aji. Tengah mengeluarkan celurit dan pisau belati tajam dari dalam tasnya. Bersiap sewaktu - waktu untuk mengibas dan menusuk kedua temannya itu dari belakang. Usut punya usut, Euis dan Aji ternyata memiliki dendam pribadi terhadap Santi dan Cecep. Lebih tepatnya Euis! Karena Aji hanya menjadi budak atau suruhan Euis, yang kebetulan juga memiliki sedikit masalah hidup dengan mereka. Dari awal Euis memang sudah merencanakan semua ini, rencana untuk melenyapkan kedua sahabatnya itu. Euis akan sangat kewalahan melakukannya sendiri, dan dengan sangat terpaksa ia meminta bantuan Aji. Sudah lama Euis menyimpan dendam terhadap Santi dan Cecep, yang selalu kelihatan asik berdua tanpa dirinya. Bagi Euis, hal seperti itu sangat menyakitkan. Dimana kita seolah dibutuhkan, tapi tidak pernah dihargai. Kumpul bertiga, keenakan asiknya cuman berdua, yang satunya lagi dipaksa asik sendiri. Jujur saja, Euis tidak sanggup jika harus terus diperlakukan seperti itu. Hingga tumbuhlah sebuah perasaan yang tidak seharusnya dimiliki setiap insan, dendam. Itulah yang Euis rasakan, benci, iri, dendam yang tak berkesudahan, tapi berujung ingin melenyapkan.
Sudah tinggal beberapa langkah lagi mereka tuntas melancarkan aksinya. Namun tiba - tiba seseorang berteriak dari belakang.
"SANTI, CECEP, AWAASSS!"
Menggagalkan rencananya. Euis terkejut, begitu juga dengan Aji. Namun tidak dengan Santi dan Cecep, yang sedikit pun tidak menoleh pada sumber suara. Santi masih setia mengaduh dan menangisi rasa sakitnya. Sementara Cecep yang terus berusaha mengobati dan menenangkan Santi. Jadi mereka sedang asik dengan kegiatannya, tanpa menghiraukan teriakan Faiz dari seberang sana. Sedari tadi Faiz sudah tahu betul gerak - gerik mereka berempat. Bahkan dia tahu apa yang direncanakan Euis dan Aji.
Rencana Faiz untuk mengikuti Euis, Santi, dan Cecep memang benar - benar terjadi. Tapi tidak dengan dengan rencana jahilnya, untuk menakut - nakuti mereka bertiga. Tadinya memang ingin Faiz berbuat nakal, menjahili mereka. Menuntaskan kekesalannya karena tidak diajak pergi, Faiz berniat ingin menjadi sosok seperti hantu, dan akan membuat mereka takut. Segala peralatan sudah ia bawa, untuk berdandan seseram mungkin. Tapi rencana yang satu itu, ia urungkan. Kala melihat seseorang juga telah lebih dulu mengikuti mereka bertiga. Gerak - gerik yang sedikit mencurigakan, sengaja tidak Faiz tegur, karena pikirnya lebih baik melihat dulu apa yang ingin ia lakukan. Namun ternyata, Faiz tidak pernah menyangka Euis dan Aji akan merencanakan sesuatu yang sesarkas, sesadis, dan sekeji itu.
Euis dan Aji yang mengetahui dirinya sedang terancam oleh keberadaan Faiz, sesegera mungkin mereka menyusun siasat yang lebih buruk. Mereka kini berbalik arah, menuju Faiz yang tengah berdiri melongo cengo. Tidak tahu kalau ternyata semua rencana Euis dan Aji akan berbalik pada dirinya. Faiz berniat ingin berlari, tapi jalan terlihat buntu. Merupakan kesempatan emas bagi Euis, melempar pisau belati tepat mengenai mata Faiz. Sesaat berlangsung, tubuh tegap Faiz ambruk runtuh diatas tanah. Menyisakan tetesan aliran darah segar mengucur dari sudut matanya. Dengan mulut yang menganga lebar, berterusan tertesi oleh aliran darah itu.
Tanpa merasakan apa - apa, Euis mencabut pisau itu dari mata Faiz dengan paksa. Tidak ada dalam dirinya rasa ngeri, ngilu, takut, ataupun kaget dengan perbuatannya. Bola mata Faiz ternyata ikut tercabut oleh pisau itu. Tanpa beban kembali, Euis mengambil bola mata Faiz dari pisau belatinya. Sempat menggenggam dan memainkan bola mata itu, sampai akhirnya Euis membuangnya ke sembarang arah. Euis kini tengah dibutakan oleh perasaan dendamnya. Seolah kerasukan, Euis melihat ke belakang dengan mata nyalang. Mendapati Aji yang tampak lesu tak berdaya, melihat perbuatan Euis yang pikirnya begitu sadis. Awalnya Aji memang ingin membantu Euis, tapi dengan melihat Euis sekeji itu berulah melenyapkan nyawa, Aji jadi dibuat tak kuasa sendiri.
Euis benar - benar kesal dengan Aji. Bukannya membantu, dia malah asik terdiam menyaksikan. Dalam ekspektasi Euis, Aji sudah tuntas melenyapkan kedua orang dibelakangnya. Tapi ternyata, Euis melihat Santi dan Cecep masih dalam keadaan bernyawa, dan mereka sama sekali belum menyadari apa yang sebenarnya tengah terjadi.
"Gak guna, lo!"
Sungguh dibuat greget dengan seorang Aji. Euis mengambil celurit yang dipegang Aji, lantas mengaplikasikannya pada tangan Aji yang dirasa tidak berguna itu. Seketika, sebuah aliran darah kembali mengucur dari potongan tangan Aji. Potongan tangan Aji terpisah, dan terpental cukup jauh dari tubuhnya. Kali ini Euis merasa sedikit ngilu melihat hal itu, dan kepalanya mulai bergeming sedikit merasa pusing. Dalam hatinya mulai timbul rasa takut, aneh, dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan dirinya sendiri.
Euis terduduk lesu, tubuhnya terasa kaku. Kepalanya benar - benar terasa pusing bukan main. Dalam pikirannya seolah berkecamuk hal - hal aneh, yang tidak dapat dijelaskan. Namun aliran darah, potongan tangan, dan bola mata yang tertancap pada pisau, begitu dominan seolah memutar dalam memorinya. Mencoba menetralkan perasaan, Euis kembali berdiri. Ingin melanjutkan aksi intinya, dan menuntaskan dendam yang belum padam. Namun tiba - tiba semuanya terasa berputar. Dalam pandangannya, Faiz dan Aji seolah berjalan menghampirinya. Lalu kemudian,
"DAAARRRR!"
Euis terkejut dengan suara itu. Suara yang terdengar begitu nyaring, dan hampir saja memekakan telinganya. Ia benar - benar tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, Faiz dan Aji terus saja mendekatinya. Mereka berdua meraih tangan Euis, lalu kemudian menggoyang - goyangkannya, seolah ingin tangan Euis copot. Terus saja mereka menggoyangkan tangan Euis tanpa henti. Euis bingung, sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan dan inginkan. Jika ingin mematahkan tangan Euis, pikirnya kenapa tidak memakai celurit saja, yang sudah jelas - jelas tergeletak tidak jauh darinya.
"DAAARRRR!" suara itu kembali terdengar, dan entah dari mana sumbernya.
"Euis, Euis, ieuh gugah! Euis, Euis, Euis, engal ugah! Eh, kunaon cenah budak teh nya, ni hese - hese teing. Euis ieuh, engal ugah! Euisss!"
Euis terbangun, celingak - celinguk merasa bingung. Melihat sekelilingnya, tanpa berkedip. Merasakan suasana yang berbeda dari sebelumnya. Seorang wanita dengan memakai daster kuning motif bunga, tengah menggoyangkan lengannya tanpa beban. Menyuruhnya bangun, entah bangun dari apa, pikirnya.
"Aneh, perasaan tadi Aji sama Faiz yang memegang tanganku. Kenapa sekarang tiba - tiba berubah jadi wanita ini." gumam Euis dalam hati.
"S-s-s-siapa kau?" tanya Euis, sedikit gugup.
"Astagfirulloh, ieuh engalkeun ugah! Diluar hujan angin dordar gelap, palaur. Hayu engalkeun kaluar, urang kana teras. Ieu bumi hawatos, bilih katingang kai, Euis!"
"DAAARRRR!"
"ASTAGFIRULLOH!"
Kesadaran Euis sekarang sepenuhnya sudah terkumpul. Dia sekarang tahu, bahwa dirinya ternyata tengah tertidur, dan apa yang dialaminya tadi adalah mimpi.
"Astagfirulloh, ampun paralun Emak, amit - amit teing! Teu hoyong ngimpi kitu - kitu deui Euis mh, alim! Ya Allah, naudzubillah. Amit - amit gusti!"
"Kunaon kitu, ari Euis ngimpen naon atuh tadi?"
"Euis ngimpen janten psikopat, Emak!"
"Euleuh - euleuh, astagfirulloh. Naon atuh psikopat teh Euis?"
"Pembunuh Mak. Untung we aya hujan angin dordar gelap, sareng Emak engal - engal ngaugahkeun Euis. Nuhun pisan, Mak! Pami henteu kitu, Euis bakal janten ngabunuh Si Santi sareng Si Cecep."
"Aeh, saha deui atuh Si Santi jeung Si Cecep teh?"
"Ah atos Mak, teu kengeng diungkit deui. Euis puyeng! Moal tiasa paham deuih Emak mah, kalah kumaha ge."
--------·•●●•·--------
TAMAT
--------·•●●•·--------