"Aku suka kamu dan aku tau, kamu juga suka aku kan? Bukankah kita sudah sama. Kenapa kita nggak jadian aja sih? Yuk pacaran yuk. Eemuuaaahhh...", kataku di depan Evan yang hanya diam tersenyum.
"Meelll.. Ayo buruan bangun. Telur ceplok pake petai cincang sudah siap"
"Iya Buukkk.. Melly mandi dulu", aku berteriak dari dalam kamar, sembari menyimpan foto Evan di dalam lemari bajuku.
"Pake kecap juga lhoo..", ibu menambahkan.
"Siap Ibu Ratu"
Itu ibuku. Wanita kuat yang tulangnya tak pernah keropos. Ototnya juga tak pernah melar. Tulang rusuk yang setia kepada tulang punggung, suaminya, ayahku.
Keluarga kami memang bukan ASN. Kami sama sekali tidak mungkin mengandalkan pemerintah untuk jaminan hari tua. Sehingga seluruh keluarga harus siap bekerja. Karena tak ada uang pensiun nantinya.
"Mbak Mell mana Buk?", ini adekku yang paling kecil, Desi.
"Masih males - malesan di kamar", jawab ibuk.
"Idih, mentang - mentang hari libur. Di kamar mulu, pasti lagi halu", tambah Disa. Disa dan Desi kembar. Mereka hanya beda satu tahun denganku, kami juga satu sekolahan. Aku masih kelas 2 SMA. Jadi aku harus hati - hati ketika di sekolah, kalau tidak mau orangtua marah - marah di rumah.
"Mari makaannn...", kataku sambil menusuk sepotong telur dengan garbu.
"Ayah mana Mell?"
"Oh iya, bentar Buk. Mell panggil dulu"
"Nggak usah, ayah sudah di sini. Ayah baru bersihin tanaman kamu Mell. Semakin banyak serangga kecil yang nempel di daun. Beberapa hari ini kamu nggak sempat ke kebun ya? Rumput liarnya juga sudah mulai banyak", kata Ayah.
Oh iya, aku punya hobi yang mungkin jarang dilakukan anak seusiaku. Gardening. Bunga dan sayuran yang bisa ditanam di polibag, aku suka. Aku menanam banyak di kebun kecil belakang rumah.
Kami tinggal di pusat kota. Sehingga nggak punya banyak tempat untuk bertanam. Kotaku terlalu dipenuhi semen dan tumpukan batu bata alias gedung dan perkantoran.
"Umm.. Nanti biar Mell bersihin sendiri habis sarapan Yah"
"Yah, Buk, Mbak Mell di sekolah udah punya pacar lho", kata Desi.
"Dih, apaan sih? Enggak. Mbak Mell nggak punya pacar kok. Setidaknya belum"
"Bener Mell?", tanya ibuk kepo.
"Enggak, Buk. Swear"
"Bohong.. Punya kok. Disa dan Desi tau, kalian sering ketemu kan? Weeee.eekkk..", wajah Disa nyebelin kayak bebek.
"Ya udah makan dulu aja yuk. Ayah sudah lapar. Tapi ngomong - ngomong, pacar kakakmu ini ganteng nggak?"
"Ayaaaahh..", kataku.
Semua tertawa dengan wajah menjengkelkan di atas piringnya masing - masing. Mereka puas sepertinya melihatku yang sedang sebel dan cemberut.
"Permisi", suara seorang laki - laki terdengar di depan pintu.
"Iya", jawab ibuk.
"Naaahh.. Itu Buk. Itu pacar Mbak Mell", Disa menunjuk ke arah pintu.
"Loh, Evan. Kamu kok di sini?", tanyaku kaget setengah mati.
"Van, sini masuk", kata ibuk.
"Ibuk kenal...?", aku dan si kembar adalah the best choir ever.
"Evan ini kos di rumahnya Mbak Asih. Rumah ujung yang jualan sayur itu. Ibuk sering ketemu dia. Sini, masuk Van. Kita sarapan bareng yuk", ibuk ramah.
"Makasih Tante", kata Evan sambil senyum - senyum.
"Bentar - bentar, ini gimana ceritanya sih Buk?"
Ibuk melirik ke arah Evan.
"Pagi Om, maaf sebelumnya", Evan mulai bercerita disambut anggukan kepala ayah. "Aku kos di rumah Mbak Asih masih sekitar 5 hari ini. Kamu ingat nggak ada berita tentang toko kain yang terbakar beberapa minggu lalu?"
"Ingat", kataku sambil mengangguk.
"Setelah musibah itu, pemilik pabrik mengalami banyak kerugian. Sehingga, sebagian besar karyawannya dirumahkan. Termasuk ayahku. Sehingga semua fasilitas yang dipinjamkan kantor, harus dikembalikan. Termasuk kendaraan"
"Terus?", Desi kepo.
"Karena aku orang kampung, rumah jauh dari sekolah, dulu aku berangkat-pulang naik sepeda motor sendiri. Tapi sekarang terpaksa harus cari kos di dekat sekolahan. Karena kendaraan yang ada dipakai ayah untuk bekerja"
"Memangnya sekarang ayah kamu kerja apa?", tanya ayah sambil mengaduk kopinya.
"Serabutan Om. Apa aja. Kadang ayah juga bantu pakde di sawah. Yang penting menghasilkan Om"
"Om dan Tante ikut menyesal atas kejadian yang menimpa ayah kamu, Van", kata ibuk.
"Iya Te. Makasih", Evan tersenyum ganteng.
"Kamu sekolah yang bener, yang pinter. Biar nanti bisa jadi orang sukses. Kamu bantu ayah kamu"
"Pasti Om"
"Ya udah, makan dulu yuk. Keburu dingin. Kamu suka petai Van?"
"Enggak Tante. Maaf"
"Jangan deket - deket sama Mbak Melly lho Mas. Dia hobi banget makan petai. Pasti mulutnya bau banget", celetuk Desi.
"Ih, apaan sih", aku sebel.
"Kalian pacaran kan?", tiba - tiba Disa bertanya sambil menunjuk kami berdua dengan garbu di tangan kirinya.
"Enggak", aku dan Evan kompak.
Lagi - lagi mereka tertawa bersama.