Hana menulis di diarynya.
Dear diary,
Hari ini ketemu malaikat tak bersayap yang turun dari surga. Tadi pagi aku kelupaan bawa dompet. Hampir aja aku nggak bisa makan siang di kantin. Tapi untung aja ada yang tolong aku. Ia bayarin makanan aku. Tapi aku lupa nanya namanya. Mungkin nanti kalau aku ketemu lagi, aku bakal tanya namanya.
Hari berikutnya Hana menulis lagi di diarynya
Dear diary,
Hari ini aku ketemu lagi malaikat tak bersayap itu. Namanya Joshua. Saat aku mau gantiin uangnya, ia bilang nggak usah. Sebagai gantinya ia minta ditemenin pergi ke pantai. Saat kami di sana, kakiku terkilir. Ia langsung menggendongku menuju ke mobil.
Aku bisa mendengar detak jantungnya. Sangat cepat. Apa karena aku terlalu berat?
Hari berikutnya Hana menulis lagi.
Dear diary,
Akhir-akhir ini bila Joshua berada di dekatku, jantungku langsung berdegup kencang. Bila kulit kami bersentuhan, aku langsung deg deg deg. Apa ini cinta?
Di lembar selanjutnya Hana menulis lagi.
Dear diary,
Perasaanku ke Joshua itu perasaan cinta. Aku ingin menyatakan cintaku tapi aku takut ditolak. Nanti hubungan persahabatan kami akan jadi canggung. Aku harus bagaimana?
Tanpa sengaja Hana meninggalkan diarynya di kelas. Ada yang menemukannya. Pria itu membaca diary Hana.
Ia menuliskan sesuatu di sana.
Hana kebingungan saat melihat diarynya tidak berada di tasnya. Ia langsung menuju ke ruang kelas. Ia menemukan diarynya di sana.
Syukurlah.
Hana takut bila ada yang membacanya.
Malamnya Hana hendak menulis lagi di diarynya. Ia terkejut melihat tulisan di sana.
Apa kau mau menjadi pacarku (dicoret) istriku (dicoret) ibu dari anak-anakku?
Hana mengenali tulisan itu. Tulisan Joshua.
Hana menulis sesuatu di diarynya.
Keesokkan harinya Hana memberikan diary itu ke Joshua. Joshua membacanya.
Aku mau jadi pacarmu.
Aku mau jadi istrimu.
Aku mau jadi ibu dari anak-anakmu.
Joshua melihat ke arah Hana. Mereka saling tersenyum satu sama lain.