Sepanjang hidupku saat ini... Aku bahkan belum merasakan cinta..? Bahkan pada saat umurku yang sudah masuk sweet seventeen, tujuh belas tahun ini... belum juga menemukan nya. Bukannya tidak ada yang mau... Tapi, karena memang belum laku saja...
Namun, semuanya berubah saat aku bertemu Dia... Namun, sangat disayangkan.. Kami berbeda zaman..
Seingatku.. sekitar dua tahun lalu.. saat umurku baru mau memasuki lima belas tahun.. aku baru saja lulus sekolah menengah pertama.. dengan perawakan tubuh yang tinggi, rambut lembut, hidung tidak pesek juga tidak mancung.. sedang lah... mata yang indah, dan wajah yang tampanᕦ( ͡͡~͜ʖ ͡° )ᕤ
sebenarnya aku kira saat itu hanyalah mimpi disekolah.. Tepat dijam pelajaran guru masuk kedalam kelas. Baru saja masuk. Tetiba.. aku mengantuk. Menguap, yah.. aku setiap menguap mataku terpejam.
Saat aku membuka mataku.. Aku sudah tidak duduk di bangku kelas ku. Aku duduk dibangku. Bukan. Tapi, kursi panjang, semacam sofa tapi lebih kearah kayu..? didepanku ada meja setinggi lutut kursi dengan gelas-gelas diatasnya. dan beberapa kendi. Aku sedang kebingungan. Yang membuat ku sangat-sangat terkejut. Ada tangan putih, lembut mengelus dagu dan pipiku... aku langsung saja lompat minggir. Ada seorang wanita cantik dengan kembenan.. Maksudnya.. hanya mengunakan baju kain tanpa lengan dengan bagian bahu terbuka.. rok dengan belahan setinggi pahanya. Rok nya saja tu dah selutut, itu masih ditambah belahan. Hei! Aku ini lelaki perjaka tahu!
"Aku janji akan membuat pengelana senang hari ini~" dengan nada yang halus menatap mataku, yang padahal aku masih dengan sangat kebingungan. Pasti terlihat dimataku.
Dia langsung menarik tanganku kearah suatu tempat, sepertinya lebih kedalam sebuah ruangan. Aku terkejut dengan penampilan ku saat melewati sebuah cermin menempel di dinding.
WHAT?! apa-apaan ini? kenapa pakaian ku seperti ini? seperti orang jaman bahela. (jaman dulu)
"kenapa? jadi tidak? kang... "
Aku menatapnya..
"nah, ayo! "
dia menarik ku kesuatu ruangan dengan pintu satu. Saat sudah masuk terdapat kurau meja dan kasur.
"Kamu. bekerja disini? " ucapku saat aku mulai menyadari sesuatu
"eh,? iya.. sudah lama.. "
"berapa orang yang sudah dilayani? " tanya ku lagi duduk di kasur
"mungkin sudah lebih dari sepuluh orang? " dia mendekam yang masih dengan nada bicara yang halus dan lembut. Mungkin pikirnya ini hanya sebuah basa-basi
"Apa kamu tidak pulang menemui keluarga kamu? "
"ah~ saya sudah tidak punya lagi seorang bapak~" ucapnya menaruh lututnya diantara kedua kaki ku, dikasur.
"lalu ibu mu? " menatap matanya yang sudah terlalu dekat
"ibu saya? saya kemari untuk ibu saya~ Jadi ka kang baik-baik ini saya ya, jika nanti ditanya... " dia lebih mendekatkan diri.
Aku menahannya.
"aku akan bilang kepada orang yang akan bertanya padaku, bagaimana pelayanan mu.. Namun.. berhentilah dari pekerjaan ini, " ucapku sambil menggenggam kedua bahunya.
"apa? " dia langsung menarik kepalanya sedikit kebelakang
"iya.. kembalilah kepada ibumu.. kalau kamu ternyata tidak bilang apa pun kepada ibu mu tentang pekerjaan mu.. aku yakin, beliau pasti akan terkejut sampai menangis saat dia mengetahuinya"
matanya menatapku seperti sedang bertanya-tanya.
"bagaimana caraku keluar? " masih dengan posisi yang sama.
"aku akan bilang langsung kepada bosku"
"tidak semudah itu" dia menurunkan kakinya, "ibu besar tidak bisa dengan mudah diluluhkan"
rupanya mereka memanggilnya dengan ibu besar. Apakah dia BESAR?
"aku akan membelimu. Bagaimana? "
"ka kang fikir, ka kang itu orang kaya?! Ka kang mungkun hisa saja membeli ku. Tapi, tidak dengan harga murah"
"memang berapa harga diri mu itu? "
"h_.. terakhir kali ada seorang bangsawan membeli pelayan disini dengan harga seribu keping emas"
"lumayan juga.. ya? "
"lumayan? itu mahal! itu keping yang sangat banyak! " dia bersungut-sungut
"tunggu aku disini lagi besok. Dan kamu yang harus datang kepadaku.. kalau bukan kamu... aku akan membebaskan yang lain"
dengan sok nya aku bilang begitu.. kenapa? Karena aku tahu tampang dan perasaanku.. Bahwa aku adalah seorang bangsawan yang tinggal di pesisir pantai. Dari mana aku tahu? karena aku pernah membaca cerita dongeng dari buku yang diberikan ibuku sebelas tahun yang lalu.
Aku keluar dari tempat itu, yang sebelumnya aku bilang bahwa pelayanan nya sangat luar biasa dan aku senang.
Sebenarnya.. Aku yakin ini hanyalah mimpi... lagi pula aku juga sudah sangat rindu pada mendiang Ibu.. dan juga rindu mendengarkan Ibu membacakan dongeng ini lagi...
Saat aku pergi ke pesisir pantai yang aku ingat-ingat dalam dongeng.. Akhirnya aku sampai. Bisa dibilang aku adalah seorang juragan disini.
Luar biasa! Pemandangan yang belum sama sekali aku lihat! Bagaimana mungkin air lautnya bercahaya silau namun, indah seperti itu? Padahal ini masih sore. Sunset yang tepat berada di ujung lautan, langit yang berubah warna menjadi jingga, burung burung yang pulang ke sangkarnya. Pantulan cahaya matahari sore benar-benar menakjubkan!... Andai aku bisa mengabadikan momen ini..... Sayang sekali.
Hembusan angin laut tiba-tiba menjadi sangat kencang. Air laut berombang-ambing menjadi gelombang besar! Apakah akan tsunami?
BRRAAASSS! Air menimpaku.
"Hoi! bangun! Dari jam pelajaran ke lima sampai ke tujuh masih aja tidur! tau gak kau itu di Alpa tau! "
kesadaranku yang belum sepenuhnya sadar, masih nengerjap-ngerjapkan mata, kepala ku saja belum aku angkat dari tangan dan meja.
"Hoi! dengar tidak sih?! "
"Akhirnya.... aku rindu kasur ku" aku langsung merebahkan tubuhku ke kasur. Rasanya lelah sekali... seperti melakukan perjalanan panjang.
Awalnya aku memang hanya menganggap itu hanyalah mimpi belaka. Yah, meskipun selalu terjadi disetiap mimpi ku... Sebenarnya itu menyenangkan.. namun, tetap saja melelahkan.. Setiap aku terbangun aku selalu memikirkan cara bagaimana aku bisa meloloskan gadis cantik nan imut itu. Aku juga selalu berfikir... Akan aku taruh, bukan. Akan aku berikan tempat tinggal dimana?
Hingga aku tanpa sadar selalu ingin terus, terus, dan terus tertidur agar aku selalu bisa bertemu dengan gadisku. Aku ingin menjaganya. Aku ingin selalu ada buat dia. Karena ini mimpi.. Jadi aku hanya menikmatinya sesaat. meski akan terus bertemu juga. Hingga semuanya terpecahkan. Aku bisa membebaskannya. Memberikannya tempat tinggal. Dengan syarat. Mengubah identitasnya. Penampilannya. Aku memberitahukan.. Berpenampilan lah seperti apa yang kau mau, bukan seperti biasanya atas kemauan orang lain. Karena kamu berhak atas dirimu sendiri.
Beberapa berlalu... Kami akhirnya mengatakan perasaan satu sama lain. Aku sangat senang! sangat-sangat senang! aku punya cewek yang c sangat cantik tik juga imut! Tapi, saat aku tersadar itu hanyalah mimpi.
Rasanya sudah lama sekali kami menjalin hubungan. Kalau didunia nyata sudah setengah tahun. Namun tiba-tiba dia mau berbicara serius. Aku sudah berdebar.. Jangan-jangan dia mau kalau aku menikahinya? aku sih mau, sangat mau malah. Tapi, aku ingat ini hanyalah mimpi. Itu jelas tidak mungkin. Jadinya aku me-iya-kan ketika dia ingin bicara serius pada ku. Sayang di sayangkan.. Ternyata bukan seperti ekspetasi ku.. Bukan seperti yang aku inginkan. Dia justru meminta hubungan kami ini disudahi. karena dia sudah bertemu seorang pria yang jauh lebih baik dari ku. Lebih kaya. Lebih pengertian dariku. Itu ucapnya. Aku jelas saja terkejut. Aku meng-iya-kan saja... toh kami memang tidak bisa benar-benar bersatu.. Namun, aku memberikan nya sebuah syarat. "Temui aku kepada kekasih baru mu" itu yang kuucapkan tepat bersama deburan ombak pasang dan angin bertiup kencang, yang membuat rambutnya menutupi sebagian wajahnya.
Aku bertemu pria itu. Memang benar dia lebih sempurna.
"salam Kang. Aku serahkan kekasihku padamu. Aku rela kan dia bersamamu.. Tapi dengan syarat. Kau! (aku menunjuk tepat didadanya) Harus menjaga dia. Menghormatinya. Menyayanginya. menafkahi nya, menafkahi segala apapun itu! Jangan pernah sakiti dia! jangan sampai kau! membuat dia menitiskan air mata kesakitan! Kalau Kau! melakukan itu. Aku akan datang tepat dihadapan mu! Dan akan langsung membunuhmu. Mengerti? " Pria itu mengangguk.
Sebenarnya... selama diperjalanan.. Dia mengatakan hal yang tidak terduga.
"Maaf Akang... aku melakukan ini atas apa yang kau katakan tiga hari yang lalu.. Aku tidak percaya itu. Tapi Kang! Aku masih sayang sama Akang.. Aku masih cinta sama Akang! Tapi Akang mengatakan itu. Dan menyakinkan aku. Maaf Akang... Tapi! Akang harus janji ya! Kalau yang Akang katakan tiga hari lalu itu hanyalah tipuan dan hanya candaan. Tolong datang ke hadapanku... dan bawa aku kembali! " dia mengatakan itu sambil menahan air matanya keluar.. Dan aku hanya menjawab "iya" Sambil menatap matanya, tanpa berani memeluknya.
San sekarang semua itu Sirna dan Hilang di umurku yang sudah memasuki tujuh belas tahun ini sudah melupakan mimpi indah sekaligus menyakitkan itu.
Di umur ke dua puluh tiga tahun. aku bekerja di sebuah perkantoran CEO ditempatkan bekerja adalah seorang wanita cantik.. Katanya~
Katanya begitu.. Wanita Karier, Cantik, imut, namun tidak sebaik kelihatannya, sekaligus Anak kedua dari pemilik perusahaan terbesar di negara ini. Ditambah lagi.. CEO kami ini beritanya masih lajang. Aku tidak lah peduli.
Saat Rapat dimulai.. Aku yang sebelumnya tidak pernah diajak Rapat sebelumnya.. hanya penyiap bahan mentah kini diajak keruangan rapat. Ini benar-benar membuat jantungku berdebar!
Diruang rapat CEO masuk kedalam ruangan.. dengan celana hitam jas hitam dengan kemeja putih. Ditambah dasi hitam bermotif garis. Ditambah dengan gaya rambut di kuncrit.
Pertama kali aku melihatnya sepertinya tidak asing.. Sepertinya aku pernah bertemu dengannya.
Selasai Rapat.. CEO cantik menyapa aku duluan. Dan bilang, "Apa kabar? Bus a kita bicara berdua secara individu? "
Jam istirahat kantor Ia mengajak aku pergi ke atap kantor dan bilang bahwa dia adalah "Saya adalah salah satu keturunan dari seorang wanita yang sangat mencintai anda. Dia melukiskan wajah anda. Dan keluarga kami tetap menyimpannya meski sudah lebih dari seratus tahun. Dan gambarannya tidak pernah hilang, hancur, ataupun pudar sama sekali. Karena Nenek buyut dari buyut saya.. Melukis wajah anda dibatu persegi dengan sangat jelas" Ibu CEO langsung menunjukkan foto di Smartphone yang ia bawa tepat di hadapan saya.
"boleh saya lihat, bu? "
"tentu saja"
aku mengambil smartphone dari tangannya dan melihat dengan seksama..
BENAR! Ini wajahku ketika aku berada didalam mimpi. Tunggu!
"dari mana anda tahu kalau ini saya? bisa jadi lukisan ini hanyalah seseorang yang mirip dengan saya"
"Tidak.inisudah saya pastikan. Ketika lamaran kerja kamu berada diatas meja HRD. saya langsung mencari tahu tentang siapa dirimu. Dan meminta orang rumahmu untuk mencari buku harian yang selalu kamu tulis. Dan akhirnya ketemu. Sekarang. Bagaimana jika anda datang kerumah besar kami untuk melihat ukiran sebuah tulisan untuk anda"
karena aku penasaran aku menjawab kalau aku ingin ikut.
Dan tak aku sangka-sangka.. bahwa kekasih dalam mimpiku itu menuliskan sebuah surat diatas batu.. bertuliskan 'bahwa aku masih ingin kau kembali.. Tapi saat aku mencarimu mereka bilang kalau kau sudah tiada.. tepat setelah kita berpisah dia hari kemudian. Jika benar kamu bukan dari sini aku harap kamu bisa membaca surat ini. Bahwa aku masih menginginkanmu'
sepucuk surat batu itu membuat aku sangat terharu. sampai nenituskan airmata. meski tercampur dengan rasa bingung. Betapa cengeng nya aku,.
Keesokannya Ibu CEO kembali menemuiku. dan menyerahkan sebuah amplop besar berisi surat surat didalamnya. Surat sebuah kepemilikan. sebuah Harta dan pulau pribadi.
"Dan anda harus tau.. surat-surat ini diberikan dari keturunan anda langsung "
"Apa? "
"Jangan bilang anda lupa bahwa anda sudah membuat keturunan kepada beliau? malah anda sudah mati duluan"
'kata-kata anda sedikit menusuk ibu ceo'
"berarti..... waktu itu? "
"iya. anda jadi seorang ayah setelah wafat. dan kembali ke zaman ini"
......
#CintaBedaEra Zaman bahelak