Jam 16.30 aku bersiap-siap, hari ini kami sekelas akan berkumpul di rumah salah satu teman mu, makan bersama dalam rangka perpisahan, tahun ini kami akan lulus dan akan menempuh jalan nya masing-masing.
Aku berjalan keluar rumah menghampiri pablo (sepeda motor ku), aku melompat ke atas motor dan mulai ku nyalakan sepeda motor ku, sedetik kemudian aku melaju perlahan meninggalkan rumah.
Aku sangat menikmati perjalanan ku kali ini, aku sengaja memacu sepeda motor ku perlahan, semilir angin membelai lembut wajahku, di sepanjang jalan, di kanan dan kiriku pemandangan indah ku dapatkan, daun-daun di pepohonan melambai-lambai menemani perjalanan ku.
jam 17.00 aku telah sampai di rumah teman ku, di halaman rumah nya sudah banyak sepeda motor di parkirkan, pastilah mereka semua sudah di dalam rumah fikirku. Aku berjalan menuju rumah teman ku itu, benar saja dugaan ku mereka semua sudah duduk bersila melingkar. Aku sampai di depan pintu salah satu teman ku menyambutku dengan sebuah pertanyaan.
" Woy dari mana saja bro, jam segini baru sampai?"
" Nyantai dulu tadi" jawab ku singkat
" Kaya gak tau aja lo, dia kan selalu telat" salah satu teman ku menyahut
Aku tak mempedulikan apa yang mereka katakan, ku lepas sandal ku di depan pintu lalu aku duduk di tempat yang masih kosong.
Semuanya sudah di sini?" Teman ku bertanya, sebut saja namanya rama
tak ada satupun dari mereka yang menjawab.
" Sudah bro, yang terakhir kan gue"
Aku menjawab singkat
Rama mengangguk
Mata ku menganggap kejadian yang sangat ku benci, mereka semua asik menatap layar ponselnya masing-masing
Sehinggalah tidak ada percakapan diantara kita semua ataupun guyonan-guyonan. Suasana saat itu begitu hening.
" bro tolong ambilkan gitar itu"
aku menyuruh teman ku, gitar itu di belakang nya.
Dia tak menjawab dan juga tak bergerak mengambilkan gitar yang ku maksud, mungkin dia tak mendengar ataupun terlalu fokus pada ponselnya.
" Woy!" Dengan nada agak meninggi aku memanggilnya untuk yang ke dua kali
" Iya-iya, santai dong"
" Lo di panggil dari tadi ngak respon, ambilin gitar di belakang lo itu"
Dia mengambilnya lalu memberikannya padaku, aku yang melihat gitar itu, langsung muncul sebuah ide di kepalaku, maka dari itu aku menyuruh teman ku itu mengambilkannya.
Gitar sudah di tangan, tanpa aba-aba tangan ku menari-nari memetik dawai gitar. Aku menyanyikan sebuah lagu dari Virzha yang berjudul tentang rindu, tentu saja liriknya sedikit ku ganti menyesuaikan suasana saat itu.
Ku hanya diam
Mengengam, menatap layar hp ini
Menanti chat darimu setiap saat
Ku bernyanyi dengan suara agak keras, berharap mereka sadar. Rupanya mereka tak menggubris sindiran yang ku lontarkan, tiba-tiba saja timbul ide baru di kepala ku langsung saja ku gunakan ide itu.
"Bro gue punya cerita seru ni, mau denger gal lo?" Aku berbicara pada teman di samping ku
"Cerita? Boleh juga" dia menjawab singkat sembari asyik menatap layar ponselnya.
Aku mulai bercerita dengan berteriak, sehinggalah sedikit menarik perhatian mereka semua, yang tadinya menatap layar ponsel kini tatapan mereka semua tertuju padaku.
Aku mulai bercerita
"Tahun 1945 pada bulan april pasukan soviet telah menduduki kota berlin jerman, pasukan di bawah pimpinan komandan Georgey zhukov, waktu itu di iringi bayu senja yang bertiup pasukannya menyisir setiap sudut kota berlin untuk membersihkan sisa-sisa pasukan nazi Jerman, mereka terus berjalan hingga sampai di sebuah reruntuhan bangunan, salah satu anak buah komandan Georgey zhukov yang bernama Dimitrov melihat seorang anak kecil, ia berdiri layu bagaikan sekuntum bunga yang mulai mengering, kemudian Dimitrov hendak menghampiri anak kecil itu tetapi temannya melarang, takut jikalau ini adalah jebakan dari pasukan nazi Jerman yang tersisa, bisa saja di balik reruntuhan itu terdapat pasukan nazi yang siap mengacam mereka dengan moncong senjata nya.
Dimitrov berusaha meyakinkan rekannya itu bahwasanya ini bukanlah jebakan, jika ada pasukan nazi yang tersisa pastilah mereka akan melarikan diri.
Dimitrov menghampiri anak kecil itu, sedangkan rekan-rekan satu tim bersiap dengan kuda-kuda dengan moncong senjata teracung. Dimitrov mencangklong AK-47 nya kemudian menghampiri anak itu, Dimitrov berbicara kepada anak itu dengan bahasanya karna hanya bahasa itu yang dia kuasai, rupanya anak itu juga mengerti apa yang Dimitrov ucapkan.
Kemudian Dimitrov mengulurkan tangannya dengan lembut,
"Ayo nak, aku tak akan menyakiti mu"
Sebelum anak itu meraih tangan Dimitrov, dari belakang seseorang berteriak keras, dengan membawa senjata AK-47.
"Biar ku bunuh si nazi kecil sialan ini!"
Rekan Dimitrov sangat benci dengan nazi Jerman, anak itu di seret kemudian membantingnya ke tanah, anak itu tak berbicara ia hanya menunduk ketakutan.
Moncong senjata ada di hadapannya, rekan Dimitrov itu hendak menarik pelatup tetapi sebelum ia melakukannya Dimitrov mendorong nya sehingga ia tersungkur ke tanah.
"Bangsat!, Apa maksudmu?, Kau ingin melindungi nazi sialan ini, mereka ini sangatlah kejam!"
"Tidakkah kau melihatnya dia hanyalah anak kecil yang tak berdaya, kau masih ingin membunuhnya."
"Memang dia masih kecil, kita harus mengalahkan musuh yang besar, tetapi jangan sampai kita mengabaikan hal yang kecil, kobaran api yang kecil lama kelamaan akan membakar sesuatu yang lebih besar begitu pula dengan anak ini, suatu saat pasti dia akan menghancurkan kita."
Dimitrov diam tak menjawab nya, kemudian ia membantu anak kecil itu bangun, rekan Dimitrov berang lalu mengamuk. Ia memukul wajah Dimitrov pukulan itu membuatnya tersungkur, Dimitrov segera bangun ia membalas perbuatn rekan nya itu, terjadilah perkelahian diantara mereka. Rekan-rekan lain yang melihat pertikaian itu berusaha untuk memisahkan mereka, namun amarah sudah menguasai dua pemuda itu, biarpun rekan-rekan yang lain berusaha memisahkan tetap saja tak bisa.
Tak lama berselang komandan Georgey zhukov datang dan menghampiri dua pemuda yang bertikai itu.
"Sudah! Hentikan omong kosong ini"
Mereka yang mendengar itu langsung mengetahui siapa yang datang menghampiri mereka, Dimitrov dan rekan nya kemudian menghentikan perkelahian mereka, berdiri tegap di hadapan komandan nya itu.
"Apa yang terjadi sehingga kalian bertikai seperti anak kecil yang merebutkan bola"
"Maaf atas kelakuan kami pak, aku hanya berusaha menghindarkan anak kecil itu dari kematian" jawab Dimitrov
Mata komandan Georgey zhukov tertuju pada anak kecil itu, ia kemudian terjadi perbincangan di antara mereka.
"Nak.. siapa dan dari mana asal mu?"
"Namaku kalastikov dan aku berasal dari uni Soviet"
"Lalu bagaimana kau bisa ada di Medan peperangan seperti ini"
"Aku juga tak mengerti, tiba-tiba saja aku terlempar ke tempat mengerikan seperti ini, tadinya aku sedang membantu ayah ku mengambil kayu bakar di hutan, tiba-tiba aku terperosok ke dalam lubang dan lubang itu membawa ku di sebuah tempat yang sangat aneh, tempat itu damai tak ada peperangan seperti saat ini, orang-orang nya berpakaian rapi dan sangat sibuk, dan mereka mempunyai sebuah benda aku tak tau benda apa itu, mereka selalu membawanya kemanapun benda itu selalu mereka genggam, tetapi dari benda itu mereka seakan mendapat kebahagiaan."
Semua orang yang ada di situ terkejut mendengar cerita itu tak terkecuali komandan Georgey zhukov, tetapi ia menyimpulkan bahwa itu hanyalah imajinasi nya belaka.
"Lalu kenapa kau bisa di tempat ini"
"Saat aku berjalan melihat-lihat sekeliling ku yang terasa sangat aneh, tanpa sadar ada sebuah lubang di depan ku dan aku kembali terperosok lalu aku ada di tempat seperti ini,"
"Hahahahahahha"
Tawa keras dari mereka memenuhi udara saat itu.
"Kenapa kalian tertawa suatu saat pasti kalian akan mengerti dengan apa yang aku alami ini, aku berharap bisa kembali ke tempat itu dan bisa menjadi benda yang aku sebutkan tadi"
Sementara anak itu selesai bercerita matahari pun jatuh, gelap kini telah tiba dan mereka semua kembali dan membawa anak kecil itu
Demikianlah cerita ini, kiranya kalian dapat menyimpulkan sendiri apa yang ingin saya sampaikan