Hidup di kota, mungkin sebagian orang akan berfikir tentang baik-baiknya saja. Kota indah, hidup maju, perekonomian terbantu.Mereka melupakan kesulitan apa-apa saja yang akan dihadapi nantinya.
Tiga tahun hidup di kota membuatku banyak belajar. Disini manusia hidup tanpa kemanusiaan. Mereka bersaing demi siapa yang akan bertahan hidup lebih lama. Tak peduli sekalipun caranya salah, asalkan bersama uang mereka aman. Motto hidup yang aku tertawakan sampai sekarang. Anehnya semua itu benar adanya.
Aku Chloe, gadis desa yang awalnya tak tahu apa-apa. Hidup sesuai batasan-batasan asas kesusilaan. Tapi semenjak ke kota aku merasa memang harus merubah semuanya. Sikapku, cara hidupku, dan prinspiku. Semua tak lain demi bertahan hidup. Tentu saja kunci utamanya uang. Dan dari sini aku melewati batasan. Apa istilah untuk berpacaran dengan suami orang? Ah, iya pelakor. Bisa dibilang begitu.
"Kau menunggu lama?" Aku bersingut kesal menatap pria yang baru saja sampai di depanku. Jas nya sedikit basah karena hujan diluar. Ku tebak pasti dia buru-buru kemari.
Aku diam tak menjawab sebagai wujud kekesalan ku. "Maafkan aku." Ucapnya. Aku masih diam enggan menanggapi. Dengan melipat tangan di depan dada aku memalingkan pandangan.
"Istriku merepotkan, dia tadi bersikukuh ingin ikut. Maafkan aku ya?" Ucapnya.
Aku menghela napas. "Kau harus membayar, Jim." Jimin tersenyum hingga tercipta lekungan sabit dari kedua matanya. "Tentu saja, apapun demi dirimu, love." Ujar Jimin.
Terkadang aku berfikir pria seperti Jimin adalah pria yang harus aku jauhi. Pria yang rela melanggar janji suci pernikahan demi kesenangan semata. Tapi lama mengenal Jimin membuatku sadar. Pria itu baik, sangat baik. Ia hanya kesepian dan kebetulan aku ada untuk membuat hatinya hidup kembali.
Aku memegang lengan Jimin. Kami hendak berkencan hari ini. Jimin itu pria yang manis. Ia tahu caranya menyenangkan pasangan. Andai saja diriku tak datang terlambat mungkin sekarang diriku lah yang menyandang status Nyonya Park.
Kami hendak masuk mobil sampai seseorang dengan cepat menghampiri kami. Dengan tidak sopannya menampar wajah Jimin hingga menimbulkan bunyi nyaring.
"Jadi ini kelakuan mu Jim?" Aku tersenyum tipis, tidak usah dipertanyakan lagi siapa wanita yang tiba-tiba datang membawa emosi. Sudah pasti ia istri dari Jimin. Oh, aku tidak menduga drama seperti ini akan terjadi di kehidupan nyata.
"Aku bisa menjelaskan, dengarkan aku." Bahkan setelah ditampar dan dipermalukan di depan umum seperti ini, Jimin masih sanggup berkata tanpa menaikkan oktaf suara.
"Kau ingin menjelaskan apa? Bahwa kau berselingkuh? Kau jahat sekali Jim." Wanita itu sudah menangis. Aku mencoba menahan diri untuk tidak ikut campur sampai nanti aku diperlukan. Memilih menjadi pengamat tidak buruk.
Jimin mengepalkan tangannya untuk meredam emosi. Mereka sedang berada di luar, ku lihat beberapa orang berhenti untuk mendengar apa yang sebenarnya terjadi. Tidak bisakah mereka pulang saja? silahkan bertengkar di rumah. Aku sebenarnya tidak peduli. Saat Jimin memilih istrinya nanti aku juga tidak terlalu peduli. Itu hak nya. Aku sadar hanya penghibur, aku dan Jimin kita saling menguntungkan. Aku butuh uang, dia butuh seseorang untuk menemani sepinya. Kita begitu, saling menguntungkan.
"Iya, aku berselingkuh. Kau sudah lihat sendiri kan? Sekarang apa?" Tanya Jimin dengan kilat memerah. Seumur hubungan kami, aku tak pernah sekalipun melihat kilatan seperti itu dari Jimin. Ia teramat lembut untuk sekedar berkata lantang.
Wanita itu sepertinya tidak terima, terlihat dari ia yang menatapku murka. Secara tiba-tiba melayangkan tangannya hendak menamparku. Untung saja sensor reflek ku bergerak cepat menahan tangannya. "Nyonya, hati-hati dengan tangan mu." Ucapku.
"Kau, wanita macam apa kau? Kau merebut suami ku." Aku terkekeh kecil sembari menghempaskan tangannya.
"Jangan berlagak seperti korban Nyonya. Kemana saja selama ini sampai suami mu lari ke pelukan wanita lain kau baru tau?" Tanya ku mengejek. Ia terlihat semakin murka.
"KAU BENAR-BENAR TIDAK TAHU DIRI, DIBAYAR BERAPA KAU, SAMPAI MAU MENEMANI SUAMI ORANG?"Nadanya benar-benar naik. Seumur hidup aku tak pernah dibentak seperti ini di depan umum. Ini sedikit melukai harga diriku. Hey, dia pikir aku murah? Baik, biar ku tunjukkan murah sebenarnya.
"Hana tutup mulut mu!" Ucap Jimin memperingati. Aku memegang lengan Jimin seolah berkata tidak apa-apa.
"Kenapa kau malah membela pelacur ini?" Oke, ini sudah terlalu berlebihan. Aku menegakkan wajahku.
"Nyonya Hana, biar ku perjelas ya. Jimin kesepian apa anda tau? Oh iya, pekerjaan anda pasti banyak sekali ya?Apa uang bulanan yang Jimin berikan kepada anda kurang, hingga anda memilih bekerja sendiri? Oke, biar bagaimanapun anda adalah korban disini." Aku mengangguk-anggukan kepala. "Lantas sekarang bagaimana? Suami mu sekarang adalah kekasihku. Bukankah egois menyalahkan orang lain ketika dirimu juga salah?" Tanya ku.
Hana terdiam. Tapi kilatan matanya jelas menandakan ia sangat-sangat tidak terima diperlakukan seperti ini. "Kau memang murahan."
"Anda memang benar, tapi suami mu malah mencari kenyamanan di wanita murahan ini. Jimin kesepian dan dia datang padaku, aku tidak merebutnya. Kami saling membutuhkan." Ucapku santai. Aku memang tidak membenarkan perbuatan ku, tapi memaki orang di depan umum juga bukan tindakan tepat. Manusia memang tempatnya salah.
"Sekarang begini, biarkan Jimin yang memilih. Kalau dia memilih anda, saya akan pergi. Tapi kalau dia memilih tetap bersama saya, mohon maaf." Aku menatap Jimin, begitupun Hana. Jimin terlihat bingung. Aku memang tidak berharap banyak, memang kedudukan Hana lebih kuat.
Tapi saat tangan Jimin malah menggenggam ku, disitulah aku terpaku. "Aku mencintainya, Hana maafkan aku." Ucapnya dengan menunduk. Aku menatap Jimin lama. Apa aku sedang diperjuangkan sekarang?
"Jim!"
"Hana, maafkan aku. Kau pikir pernikahan itu tentang apa? Aku dulu memang mencintai mu tapi sepertinya kau tidak bisa melepaskan karirmu. Lima tahun kita bersama, tapi kau bahkan menolak memiliki anak sebab kau ingin terus mengejar karir mu. Hana, harus sampai kapan aku menunggu? Saat aku melihat teman-teman ku, aku merasa iri. Bagaimana mereka bisa terus bersama istri mereka sementara aku? Menemui istri sendiri susah sekali." Hana terdiam begitupun aku. Jimin mengeluarkan semua keluh kesahnya dengan mata berkaca-kaca. Tersirat luka mendalam dalam setiap katanya.
"Lalu aku bertemu Chloe, awalnya memang aku tidak serius dengannya. Tapi Chloe memberikan semua yang tak kau berikan kepadaku. Dan entah sejak kapan aku mulai serius dengan perasaan ku kepadanya. Maafkan aku." Aku tercengang, ku pikir Jimin memang hanya main-main. Ku pikir kita memang hanya saling memanfaatkan semata. Dia butuh hiburan, aku butuh uangnya. Tapi ternyata selama ini Jimin menyimpan rasa mendalam kepadaku.
"Maafkan aku Hana, aku akan urus surat cerai kita secepatnya."
Jimin membawaku untuk memasuki mobilnya. Meninggalkan Hana.
Ku lihat Jimin yang menyetir dengan serius. Ku tahu pikirannya kacau. Biar bagaimanapun pasti sulit bagi Jimin. Aku pun tak berani membuka suara.
"Aku serius dengan ucapan ku tadi." Ucap Jimin tiba-tiba membuat lamunan ku buyar. Ia menepikan mobilnya lanjut menatapku, lalu menggenggam tangan ku erat.
"Chloe aku serius dengan perasaan ku. Semua mengalir begitu saja."
"Jim, bukankah ini kesalahan? Kita tak mungkin berhubungan serius."
"Kenapa? Kau tidak yakin dengan ku?" Tanya Jimin.
"Mungkin?" Ucapku ku ragu.
"Kalau begitu aku akan meyakinkan mu."Ucap Jimin lalu kembali menjalankan mobilnya. Jadi aku harus bagaimana? Sedih atau tertawa? Semua keluar dari rencana awal.
Tapi yasudahlah, jalani saja.