Air hujan menjadi portal ku menuju masa depan.
Ditengah jembatan dan hiruk pikuk sebuah kota hujan turun dengan deras, jalanan berlubang membentuk genangan air yang bergetar, ditengah jalanan ramai ibukota sebuah mobil sedan melaju dengan cepat membuat genangan air terciprat ke segala arah, tubuhku menjadi basah terkena air yang terciprat, sepatu yang licin membuat kakiku tergelincir, aku terjatuh tepat di sebuah selokan dalam yang penuh akan air yang mengalir deras, semua menjadi gelap.
Aku memasuki sebuah ruang hampa, hanya ada gelap dan hitam, sampai aku menemukan sebuah cahaya, aku berusaha meraih cahaya itu, mencoba untuk keluar dari ruang hampa ini, saat keluar aku melihat mu ada di depan ku, mata kita saling bertatapan.
" Siapa kamu? " Satu kata yang terucap dari mulut kami berdua, aku berdiri dengan labil di sebuah trotoar asing, aku melihat ke sekitar banyak gedung-gedung pencakar langit yang sangat tinggi menjulang, suasana disini pun terasa aneh, aku bertanya kepada dia orang yang kala itu ada di depanku " ini dimana?, Kenapa semua tampak sangat aneh dan berbeda? ".
" Harusnya aku yang bertanya kenapa pakaian mu nampak sangat aneh? " Ia menjawab pertanyaan ku dengan pertanyaan yang lain, kembali ku lihat sekeliling dan aku baru menyadari semuanya tampak sangat modern dan canggih, aku kembali bertanya kepada nya " tahun berapa sekarang? ", Dia menjawab " 2123 bulan lima lokasi Tokyo, kenapa kau bertanya tahun berapa sekarang apa kau tidak memiliki WL?", Apa itu WL?.
" Apa! 2123, bagaimana bisa? Bukankah ini tahun 2023? " Jujur saja aku merasa sangat terkejut bagaimana mungkin sebuah selokan bisa membawaku ke masa depan?, " Hei nona apa kau tidak waras? " Lagi-lagi ia menjawab pertanyaan ku dengan pertanyaan lain " heh dasar aneh ", dia mulai berjalan pergi meninggalkan ku " tunggu! Jangan pergi, a-aku bukan berasal dari sini percayalah, aku berasal dari satu abad sebelumnya ", " apa tidak mungkin! ".
Dia nampak sangat tidak percaya akan apa yang aku katakan, " lihat lah ini, Handphone ku masih menunjukan waktu tahun dan tanggal yang sama " aku memperhatikan Handphone basahku kepadanya saat itu lah dia baru mempercayai ku, " tidak dapat dipercaya ini memang Handphone keluaran 2023, apa kau benar-benar berasal dari masa lalu?,,,, Kemari ikut lah denganku " dia menarik tanganku dan berjalan pergi meninggalkan tempat awal aku datang, ia mengajak ku ke sebuah rumah, semua barang di sini nampak sedikit berbeda.
" A-aku dimana sekarang?, Rumah siapa ini? " Tanyaku dengan wajah penuh kebingungan, " oh maaf aku belum memberitahu mu ya, ini rumahku dan namaku Hidane, nona siapa namamu? " Tanya nya sembari mengulurkan tangan tanda pertemanan, " Namaku Akarui Mirai, kamu bisa memanggilku Mirai ", " Mirai?, nama yang bagus, oya kamu bilang tadi berasal dari masa lalu bukan,,," tanya nya dengan nada yang tiba-tiba menjadi penuh semangat.
" Ya, tepatnya 100 tahun yang lalu " jawabku, " bagaimana kau bisa ada di sini?, apa di masa lalu ada mesin waktu?,,, " Apa dia reporter? Aku mulai kesal di tanya ini itu terus menerus, " aku tidak yakin tapi aku rasa air hujan yang membawaku kemari." Jawabku dengan penuh keraguan, " jadi begitu ya,,,,apa kamu sudah menemukan cara untuk kembali? " Pertanyaan terus terucap dari mulutnya ini sedikit menyebalkan, " kau ini banyak bertanya ya,,," jawabku sedikit kesal " oh maaf aku menganggu ya?, Otakku memproses sebuah informasi lebih aktual dan cerpat, kadang aku bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu orang lain,,,,, " ekspresi nya berubah menjadi wajah sedih dan tertekan.
" Maaf jika aku salah bicara,,," kataku meminta maaf atas perkataan yang menyakiti hatinya, lalu ku lihat sebuah proyek robot di meja nya, aku bertanya kepada nya " apa kau suka membuat robot? ", " Oh itu, ya untuk mengisi waktu luang, tapi entah apa yang salah robot buatan ku tidak pernah selesai dan sempurna " aku berniat menghibur nya kenapa malah membuat nya semakin murung, " tidak ada yang sempurna di dunia ini, apa kau tau apa yang kurang, kemari lah biar aku tunjukan , kabel merah ini seharusnya tidak kau sambungkan ke kabel bewarna hijau karena sifat nya berbeda, bagaikan magnet Utara dan Utara mereka tidak akan menyatu,,,".
Perlahan aku menjelaskan kesalahan yang ia perbuat, walau dengan ekspresi wajah dingin dan datar kali ini aku memberi penjelasan kepada orang lain tanpa berfikir untuk mengutuk nya, " berikan aku obeng,,,," beberapa menit kemudian "YA2 SIAP BERTUGAS", " wow bagaimana kamu melakukannya, Teknologi di zamanku jauh lebih canggih dari pada milikmu,, " orang ini sedang menyindir ya, "entahlah aku juga tidak tau melihat nya aku mengingat sesuatu tentang apa yang di ajarkan orang tuaku dulu,," kataku dengan tenang, " dulu?, Lalu sekarang,,,", " mereka telah mati.", " Oh maaf menanyakan nya ", " tidak apa bukan salahmu, lagipula mereka mati karena perbuatan mereka sendiri ".
Selama satu pekan aku berada di tempat yang asing bersama dengan orang asing yang baru saja ku kenal, aku rasa Hidane orang yang menyenangkan, aku mulai nyaman bersamanya, dan aku mulai takut jikala hujan tiba-tiba datang dan membawa ku kembali.
" Mirai " panggil nya, " selama sepekan ini kau selalu berada di rumah bersamaku,,, bagaimana jika kita sesekali keluar,,jika kau mau " apa dia mengajakku berkencan, wajahnya merona, " ok, ayo sesekali berkeliling tidak masalah bukan ", dia membawa ku berkeliling ke berbagai tempat, dari pameran robot hingga rumah makan modern semua kami datangi, Dia yang aku pikir menyebalkan malah menjadi penyandar kenyamanan, jika Tuhan mengizinkan aku tidak ingin kembali ke masalalu.
Di jalan yang sama saat pertama kali kami bertemu wajahnya semakin tersipu malu, " Mirai,,, aku tau ini terlalu cepat tapi ku rasa,,aku mulai jatuh cinta kepada mu,,," apa!. Dulu ada seseorang yang mengatakan hal yang sama, tapi ternyata perasaan cintanya hanyalah sebuah omong kosong belaka, " apa kau yakin mungkin perasaan yang kau anggap sebagai cinta bukanlah cinta yang sebenarnya." Hujan tiba-tiba menguyur dengan deras sebuah kubangan langsung terbentuk tepat di bawah kaki ku, aku mulai jatuh kembali kedalam ruang hampa, tapi Hidane terus memeluk erat tubuhku, " tidak Mirai jangan pergi, jika kau pergi aku akan kembali sendiri,,, " setakut itukah dia kehilangan ku?.
Air hujan membuat pegangannya licin dan hal itu membuat ku terjatuh, aku kembali memasuki ruang dimensi hampa, saat membuka mata aku telah berada di trotoar tempat terjatuh sebelumnya, melihat ke sekeliling ku sadari , bahwa waktu tlah kembali, kota lama rumah lama dan jembatan lama tempat dimana awal mula diriku ada, mengingat Hidane tidak lagi ada menemani ku dengan clotehan reporter nya, entah mengapa hati kecilku mulai terasa sakit, apa dia juga merasakan hal yang sama disana?.
Setelah hari aneh itu, ku coba melalui hari-hari dengan biasa, seperti tidak terjadi apa-apa dalam hidupku, tapi tetap saja ingatan akan Hidane tidak bisa lepas dari angan-angan, semakin lama rasanya aku semakin rindu pada dirinya, hari-hari aku lalui sambil mengharap sang hujan akan segera datang, setidaknya untuk yang terakhir kalinya aku ingin melihat Hidane.
Tidak disangka hujan benar-benar datang, itu artinya portal ku untuk kemasan depan telah terbuka, ditengah guyuran hujan lebat aku berjalan menuju kubangan air dan melompat kedalamnya, dimensi hampa kembali muncul, kali ini aku muncul tepat di depan rumah Hidane, melihat wajah murung nya hatiku terasa sakit, apa yang terjadi kepadanya?, " Hidane! " Teriakku dari luar rumah membangkitkan semangat nya kembali, " Mirai apa itu kamu?" ia berlari keluar dengan cepat, " Mirai aku merindukan mu,,, jangan pergi lagi, tinggallah disini bersama ku " apa tinggal disini, padahal niatku kemari hanya ingin melihat nya dan mengucapkan selamat tinggal, air mata ku mulai mengalir dan membasahi pipi, " Hidane maaf aku kemari hanya untuk mengucapkan selamat tinggal,,,", "apa!".
" Mirai apa kau membenci ku? ", " Tidak. Tapi dunia kita berbeda, saat hujan kembali datang aku akan pergi meninggalkan mu untuk selamanya,," bukan maksud hati ku menyakiti mu, tapi hal ini telah salah sejak awal, tidak seharusnya aku ada disini, dan tidak seharusnya aku bertemu dengan nya, jika terus begini apa tidak akan terjadi masalah nantinya?, Jika hujan kembali datang itu berarti saatnya untukku pergi.
Aku kembali ke rumah Hidane, suasana hening dan canggung tidak terelakkan lagi, ingin ku pecah kecanggungan ini, " Mirai,,, jika kau tidak terkena air hujan atau masuk ke kubangan air, bukankah kau tidak akan kembali?" Hidane memulai percakapan, " tapi apa itu mungkin?, Saat ini musim hujan sedang terjadi lagi pula jika nanti hujan turun dan secara tidak sengaja aku menginjakkan kaki di sebuah kubangan air maka aku akan kembali untuk selamanya.", " Kalau begitu jangan pernah menginjakkan kaki di kubangan air!" Hidane,, " selama kubangan tidak kau injak maka kau tidak akan kembali bukan", aku merasa sangat bingung harus bagaimana aku tahu hati Hidane pasti sangat sedih, walau sebenarnya aku tidak ingin kembali, tapi masih ada seorang adik yang harus aku hidupi.
Aku berjalan menghampiri nya, dan ku pegang pipi lembut nya " Hidane, menurut prakiraan cuaca masih ada waktu tiga hari sebelum hujan selanjutnya datang, selama tiga hari aku akan menemani mu,,,", " benarkah,,, " aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan nya, " Baiklah Mirai ikut lah bersama ku,,, " dia mengajakku ke sebuah bengkel pembuatan robot-robot nya, " selama tiga hari yang tersisa kita membuat sebuah alat komunikasi yang bisa selalu menghubungkan kita bagaimana? ", aku tertegun melihat kegigihannya, " ya aku akan lakukan apa yang Hidane mau " aku hanya bisa tersenyum ke padanya.
" Hidane, kenapa kau sampai mau melakukan ini?,,", Tanpa disangka dia menjawab pertanyaan ku dengan sebuah ciuman dari mulut ke mulut, " karena aku mencintaimu Mirai ", saat itu aku baru menyadari bahwa dia serius akan perasaan cinta nya, wajahku dibuat merona dengan ciumannya.
Tiga hari kini berlalu, hujan benar-benar turun dengan deras, hujan turun saat aku dan dia berada di trotoar tempat pertama kali aku datang, " Mirai aku benar-benar mencintai mu,,, " dia terus menangis dan memeluk erat tubuh ku, " Hidane, selamat tinggal, doakan saja Tuhan berbaik hati mempertemukan kita. ", "Mirai!!", saat membuka mata aku telah kembali ke zaman dimana aku dilahirkan, yang tersisa dari masa depan hanyalah alat komunikasi yang aku dan Hidane ciptakan, mulai sekarang kami akan selalu terhubung satu sama lain dengan alat ini sambil mengharap Tuhan berbaik hati membuka portal ini kembali.
beberapa tahun berlalu, aku berdiri di trotoar tempat portal itu terbuka, saat menanti bus datang hujan datang lebih dahulu menghampiri ku, siapa yang menyangka setelah sepuluh tahun portal ini tertutup hari ini portal ini terbuka, " hah apa ini mimpi Tuhan terimakasih banyak ", ku hubungi adikku " adik! ", " kakak ada apa? ", " Adik jaga dirimu baik-baik aku merestui hubungan mu dengan pacar mu jangan merindukan ku aku akan pergi untuk selamanya" , " apa Kaka. " telfon terputus, " Hidane aku datang ".
kembali ku masuki ruang hampa, cahaya kembali terlihat, saat keluar yang aku lihat pertama kali adalah Hidane yang berdiri sambil memandangi trotoar dengan wajah sedih nya " Hidane! ", " Mirai, hah aku tidak bermimpi kan ", " tidak bodoh ini aku " dia langsung memeluk erat diriku " Mirai kali ini kamu tidak akan pergi lagi kan ", " ya aku akan menemanimu selamanya di sini mulai sekarang ".
Tamat.