Nama ku Rima, dan aku sedang berjalan seorang diri di antara gelapnya malam dan redupnya lampu jalan. Masih dengan seragam sekolah SMK ku aku melangkah dengan cepat, satu gang lagi aku sampai di rumah ku.
Tapi entah bagaimana, sebuah cahaya begitu terang dan menyilaukan mata muncul di hadapan ku. Aku memejamkan mata karena cahaya itu begitu mengganggu penglihatan ku.
Dan saat aku membuka mata.
"Hah, dimana ini?" tanya ku sambil memutar badan terus melihat ke sekeliling ku.
"Bukannya tadi sudah malam? kenapa jadi siang lagi?" tanya ku tak mengerti.
"Aku dimana?" pertanyaan itu terus muncul di kepalaku.
Hingga aku melihat seekor kuda lewat di sampingku dan orang yang menunggangi kuda itu jatuh di hadapanku.
Mataku tentu saja membulat sempurna karena pakaian yang dikenakan oleh si pria berbadan tegap itu.
"Tolong aku!" ucapnya lalu dia pingsan.
Aku semakin bingung apa yang harus kulakukan, aku mendengar suara langkah kaki kuda lain di belakang.
"Jangan-jangan pria ini dalam bahaya!" gumam ku.
Dengan sekuat tenaga aku menyeret pria itu ke arah semak-semak yang berada tidak jauh dari tempat ku berdiri saat ini.
Benar saja banyak sekali orang-orang berpakaian sama dengan pria yang sedang terluka ini sedang menunggang kuda dan mencari kesana kemari.
"Seperti nya dia lolos, kita pergi!" seru seseorang membawa pedang sangat panjang.
Aku merasa sangat keheranan, apa aku sedang ada di lokasi syuting film kolosal. Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku mengusir pikiran yang tidak tidak. Jika benar lokasi syuting maka akan ada kamera kan? dan sejauh mataku memandang hanya ada hutan dan tidak ada apapun lagi.
Aku melihat luka di dada pria itu, kebetulan aku membawa sebuah syal karena ibuku tahu aku akan pulang malam karena tugas kelompok jadi dia membawakan aku syal untuk dipakai saat pulang.
Aku pun membalut luka pria itu dan kebetulan juga aku selalu membawa obat merah karena aku juga sering terjatuh. Beberapa luka kecilnya bahkan aku plester.
Aku tertawa sendiri melihat apa yang aku lakukan pada pria bertubuh kekar yang sedang terbaring di depanku ini. Aku bahkan membuat simpul pita pada Syal yang aku balutkan kepadanya.
"Ekh.." terdengar erangan dari pria itu.
"Astaga, wajahnya tampan sekali!" gumam ku.
Aku mundur dengan mengangkat bokong ku ke belakang dan menjauh dari pria itu karena dia mulai bangun dan membuka matanya.
"Siapa kamu?" tanya nya dengan sikap waspada.
Aku menelan saliva aku dengan sangat sulit, karena pria itu mengambil pedang yang ada di pinggangnya.
"Hei, aku bukan orang jahat! aku bahkan sudah membalut luka mu. Lihat!" ucap ku sambil menunjukkan hasil karya ku.
Dia melihat beberapa plester yang aku tempel dan perban yang aku bebatkan di tubuhnya.
"Terimakasih!" ucapnya.
Aku mengangguk kan kepalaku dengan sangat cepat sambil tersenyum.
"Iya sama-sama." jawab ku.
Aku menyadari pria itu sedang memperhatikan aku dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Kamu bukan rakyat Pajajaran?" tanya nya.
Aku terkejut, Pajajaran? rakyat? hah... aku dimana?
"Para pemberontak itu pasti akan kembali ke mari sebaiknya kita pergi!" serunya sebelum aku bisa menjelaskan dari mana asal ku.
Pria itu kemudian bersiul, dan ajaibnya aku udah yang tadi meninggalkannya kembali datang menghampirinya.
Dia menaiki kuda itu dan mengulurkan tangannya kepada aku, aku belum sempat membalas uluran tangannya dan dengan cepat dia menarikku dan menaikkan aku ke atas kuda. Cukup lama kami berada di atas kuda. Aku sungguh terlalu takut untuk membuka suara, Aku bahkan baru pertama kali ini naik kuda.
Kami telah tiba di sebuah gapura yang sangat besar, dan aku hanya pernah melihat gapura seperti ini dalam film atau digambar di dalam buku sejarah.
"Sang Prabu, syukurlah anda selamat!" ucap seseorang yang menundukkan kepalanya dan menghampirinya diikuti oleh beberapa orang yang sama-sama menundukkan kepalanya seperti menyembahnya.
Si pria itu turun dari atas kuda dan dia menggendongku untuk turun juga. Bawa ratu ke kamar nya dan ganti pakaian nya.
"Hah.." ucap ku cengo.
Tanpa meminta persetujuan ku, pria itu akan menjadikan aku ratunya.