”Suatu saat akan saya buat pesantren besar yang semua oprasionalnya saya tanggung sendiri. Pesantren itu nanti ada Masjid besarnya dengan alarm yang bunyinya keras sebelum adzan berkumandang. Biar para santri kalau salat subuh langsung bangun,” kata Ilham.
Pagi itu dapur rumah Ilham sudah penuh dengan asap. Bak sebuah konser suara kayu bakar bernyanyi menemani Ibu Ilham memasak. Asap mengebul keluar dari lubang dinding yang terbuat dari gedek. Tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari menuju dapur sambil berteriak minta makan.
”Apa to le, minta makan kayak orang kesurupan ngono (begitu),” kata Minah Ibu Ilham sambil mengelap kringatnya yang sebesar butiran jagung karena kepanasan memasak di depan tungku.
”Laper Buk, lauknya apa ya,” tanya Ilham sambil nyengir pamer gigi ke Ibunya.
”Tahu bacem le,” jawab ibunya singkat.
”Tiap hari makan bacem terus Buk, bosan aku,” merengut pada Ibu.
”Kalau bosen tidak usah makan to le, gitu kok repot,” Ibu tersenyum menatap Ilham.
Ilham tidak menjawab perkataan Ibunya, hanya tertunduk sambil mencubit-cubit kemejanya. Matanya sayu dan tubuhnya melemas seperti bunga layu yang tidak pernah disiram air.
Ibu yang melirik Ilham terbawa suasana. Hatinya teriris karena tidak bisa memehuni keinginan anaknya. Namun, dalam pikirannya adalah membuat Ilham kuat dan tegar. Sebab, keluarga mereka tidak mampu. Bahkan, untuk memastikan hari ini bisa makan saja sudah bagus.
”Ingat le, ada ayat yang berbunyi :
“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa (kematian) dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”(Q.S. AL-Baqarah 155).
Ibu berusaha menguatkan Ilham dengan ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an.
”Iya Buk Ilham Ngerti, Ilham akan lebih bersyukur lagi,” katanya sambil mengambil nasi dan lauk tahu bacem.
”Cepet dimakan siap-siap sekolah,” perintah ibu.
Beberapa saat kemuduian Bapak Ilham keluar dari kamar dan menuju dapur.
”Makan yang banyak le, kamu sebentar lagi SMP lho nanti kalau lulus mau lanjut kemana,” tanya Bapak.
”Pesantren Kyai Rahmat Pak!!!,” jawab Ilham mantap.
***
Mentari tenggelam, malam datang dengan bintik-bintik indah bercahaya di langit. Tak ada suara mencolok dalam rumah Ilham. Hanya terdengar suara jangkrik dan tikus yang merayap melewati panci-panci. Ilham adalah anak semata wayang Pasangan Giman dan Minah. Keduanya sama-sama bekerja serabutan. Namun, keduanya sepakat bahwa pendidikan anak adalah yang terbaik untuk mereka.
”Ilham minta masuk pesantren Kyai Rahmat Buk,” kata Ayah sambil menerawang langit-langit rumah yang banyak terdapat sarang laba-laba.
Mendengar Suaminya membuka percakapan Minah hanya terdiam sambil menata baju dan memasukannya ke dalam lemari kayu buatan sendiri. Dia terus menata baju sambil berfikir bagaimana mencari uang untuk anaknya yang ingin masuk pesantren. Dalam pikiran minah yang gemar menggunakan daster kembang berwarna kuning dengan jilbab merah itu keinginan anaknya harus terwujud. Sebab, selama ini dalam pelajaran agama Ilham paling jago dari pada teman-temannya.
”Jangan diam saja nah minah, bantu suamimu berfikir,” Ayah Ilham bersuara keras memecah lamunan Minah.
”Aku juga lagi mikir ini mas, Piye (Gimana),” balas Minah singkat.
”Soalnya masuk pesantren Kyai Rahmat itu kan tidak murah to Pak. Banyak yang harus dipikirkan nanti biaya bulanannya, uang gedung, lha kita ini buat makan saja sulit. Kalau tidak bisa ya masukan ke Sekolah Negeri saja pak yang gratis,” tegas Minah.
”Bagaimanapun keinginan anak itu harus kita usaha dulu mewujudkannya, nanti liat nilai Ilham dulu. Kalau bagus dan memungkinkan saya carikan utang biar dana masuk Pesantren Kyai Rahmat bisa terpenuhi,” nego Ayah Ilham, Giman.
***
Gerbang berwarna hijau menyihir mata Ilham, dia seakan tak ingin berkedip dan memilih mematung di depan gerbang Pesantren Kyai Rahmat. Pesantren besar di Sukoharjo yang dia kagumi dan jadi pusat pembicaraan teman-teman Sekolah Dasar (SD) dulu. Saat ini Ilham dan rekan sebaya memang sedang sibuk memilih sekolah lanjutan yakni Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau setaranya.
”Wuih gede banget Jok,” Kagum Ilham.
”Iya Ham, Kok bisa ada bangunan gedene (besarnya) se-kampung gini,” balas Joko sepakat.
”Aku harus masuk sini Jok, Harus!!!,” yakin Ilham.
”Iyo Ham, Sakarepmu (terserah kamu),” Joko Pasrah.
Ilham yang masih terpaku berdiri di depan gerbang pesantren mengacungkan tangannya ke sisi barat. Tak sampai lima menit tangannya menunjuk ke sisi timur pesantren tersebut. Semangatnya menguap di depan gerbang pesantren. Segala pengetahuannya dia muntahkan pada Joko.
”Disisi barat itu ada asrama santri putra dan sisi timur santri putri. Lha itu yang ditengah itu bedug besar Ko. Sekarang tidak pernah digebug itu katanya sudah rusak,” mulut Ilham terus berkicau.
”Kamu tahu banyak yo Ham,” balas Joko.
Tak lama setelah berbincang mereka akhirnya masuk dalam pesantren tersebut melihat syarat-syarat pada papan pengumuman depan pesantren.
”Syarate berat Ham, bisa gila belajarnya pusing aku,” Joko mengeluh.
”Aku enggak jadi ikut kamu daftar yo,” Joko terus menerus mengoceh tentang syarat yang terpampang di papan pengumunan.
Sayangnya, ocehan Joko sama sekali tidak didengarkan Ilham. Sebaliknya, Dia malah tersenyum melihat syarat yang terpampang dalam papang pengumuman tersebut. Jarinya seperti seorang penjelajah yang sedang mengeksplorasi hutan atau pegunungan, terus menunjuk kata demi kata dalam syarat itu.
”Baca Qur’an aku bisa Jok, jujur mengikuti tes masuk aku sanggup Jok, siap tinggal dalam pesantren ini oke Jok,” baca Ilham semangat.
Tiba-tiba Joko menarik tangah Ilham dan membawa telunjuknya pada syarat terakhir untuk masuk pesantren tersebut. Melihat syarat itu Ilham tidak bersemangat, tubuhnya membungkuk, kemudian dia memutar badannya berjalan pulang bersama Joko.
”Ojo lemes ngono to Ham (jangan lemas begitu Ilham),” Joko mencoba menyemangati Ilham.
Ilham hanya tersenyum kecut medengar kata-kata Joko. Dalam hatinya yakin bila semua syarat bisa dilewatinya. Namun, syarat terakhir itu membuatnya berat untuk mengatakan pada orang tuanya.
***
Malam itu, Ayah, Ibu, dan Ilham duduk bersama di teras rumah mereka. Ilham tak menggunakan sandal jepit. Mengusir kebosananya dia bermain dengan kakinya, Dug…Dug…suara lantai rumah yang masih beralaskan tanah itu menarik perhatian ayah Ilham, Giman.
”Sendalnya dipakai sana,” menegur Ilham.
Tak banyak bicara ibu langsung berdiri mengambilkan sandal untuk Ilham. Dia berjalan masuk ke ruang tengah mengambil sandal Ilham yang bergambar tokoh superhero jepang, Power Ranger.
Melihat ibunya keluar, Ilham hanya menunduk. Tak semangat mengambil sandal favoritnya tersebut. Tingkah laku Ilham itu membuat ayah dan ibunya heran. Biasanya anak semata wayang mereka tidak pernah selemas itu.
”Susah ya Pak jadi orang tidak punya, mau sekolah saja kepentok biaya,” kata Ilham membuka pembicaraan.
”Apa to le,” tanya Ayah.
Ilham terdiam tak mau bercerita banyak pada ayahnya tentang syarat terakhir itu. Namun, melihat perilaku Ilham ini Giman sudah paham yang dimaksud anaknya adalah biaya masuk pesantren Kyai Rahmat.
”Mikir bayaran masuk Pesantren,” tebak Ayah.
Kepala Ilham langsung terangkat, matanya menatap ayah dan ibunya. Sementara, Ibu hanya tersenyum kagum melihat anaknya yang memikirkan untuk masuk ke pesantren sampai segitunya.
”Tenang nak, kami sudah siapkan biaya buat kamu masuk, tugasmu tinggal belajar yang rajin saja,” Ibu menambahkan.
”Yang benar Buk, Tapi itu sampai Rp 15 juta. Dapat uang dari mana,” Ilham menelisik.
Ilham curiga lantaran ayah dan ibunya hanya bekerja serabutan. Apalagi untuk makan setiap hari saja susah. Dana Rp 15 juta tentu menjadi hal yang berat, belum lagi soal uang bulanan untuk hidup di Pesantren.
”Gak ah, Ilham ndak mau mbebanin Bapak sama Ibuk,” kata dia.
Mendengar kata-kata Ilham, mata ibu memerah. berkaca-kaca. Air matanya tiba-tiba saja ingin keluar. Bak sungai yang terus diguyur hujan, air mata itu tak terbendung dan membanjiri pipinya yang sudah kriput. Kedua tangan Ibu memegangi tangan Ilham lalu memeluknya.
Dalam pikiran Ibu, untuk anak seumur Ilham bagaimana bisa berfikir se-dewasa itu. Mengerti kesusahan Ayah dan Ibunya. Ilham yang dipeluk Ibunya tanpa sadar juga meneteskan air mata. Ketiganya terbawa suasana dan saling berpelukan. Malam itu menjadi malam spesial di mana ketiganya saling menguatkan.
”Sudah, Ilham siapkan saja belajar masuk Pesantren. Soal biaya tanggung jawab Bapak dan Ibuk,”
***
Hari baru, pengalaman baru, saat ini Ilham sudah bisa melewati gerbang hijau dan bergelar santri Pesantren Kyai Rahmat. Peci, baju lengan panjang putih, celana kain panjang biru. Penampilannya religius wajahnya berseri. Kegiatan hariannya juga berubah, kini lebih disipilin apalagi soal salat, mengaji, membahas tajwid, dan lain sebagainya.
Adzan subuh berkumandang, Ilham dan Udin masih tertidur lelap. Keduanya memang sering terlambat salat subuh. Namun, lama kelamaan keduanya sudah terbiasa dengan pola hidup baru itu.
Srek…Srek…suara gesekan sarung terdengar nyaring, busa dari detergen semakin menutup tangan Ilham. Bukan hanya ditangan, separuh pipi Ilham juga tertutup busa detergen. Seperti biasa, setelah salat subuh kegiatan para santri adalah mencuci baju.
”Ham, kamu mencuci kok busanya sampai ke muka haha,” Udin tertawa.
”Biarin aja Din, penting cuciannya bersih kan,” balas Ilham.
Udin mengambil sedikit air dari ember berwarna hitam dan melemparnya ke Ilham. Sambil mencuci baju keduanya saling bercanda.
”Eh Ham, kamu sudah kerjakan tugas dari Ustad Wahid,” tanya Udin.
”Belum Din, nanti malam aku lembur sekalian,” sambil mengibaskan sarungnya.
”Eh awas dong, ngibasin sarung seenaknya kena nih,” Udin marah.
Malam harinya di kamar santri putra, Ilham dan Udin masih membahas soal Ustad Wahid. Idola mereka itu memang mengagumkan. Sebab, menjadi salah satu Ustad teladan dengan banyak prestasi.
”Hebat ya Ustad Wahid, besok aku juga akan seperti dia Din. Bisa hafal Al-Quran, dapat penghargaan bina lingkungan. Ada lagi impianku buat pesantren sendiri gratis lagi. Bisa minterin orang kan pahala,” Ilham mengoceh.
”Kita ini buat bayar bulanan di Pesantren aja sulit Ham, jangan tinggi-tinggi mimpinya bisa ketabrak pesawat terbang lho,” canda Udin.
”Kamu mikirnya cupet banget Din, di dunia ini ada banyak jalan menuju Roma. Kalau mau berusaha pasti bisa,” Ilham menjawab serius.
***
Setahun berlalu, kehidupan Ilham semakin mantap di pesantren. Dia mulai bisa beradaptasi sebagai seorang santri. Bahkan, dia termasuk anak berprestasi yang memiliki nilai bagus dalam setiap pelajaran.
”Pinter kamu Ham, nilaimu bagus tuh apalagi dalam pelajaran Tajwid, dan pelajaran sosial sempurna tuh,” puji Udin.
”Udah biasa aja dong,” Ilham dingin.
Saat sedang berbincang dengan Udin, tiba-tiba terdengar suara seorang berlari. Hash…Hash suara nafas Kholik penjaga Pesantren terdengar kencang. Dia berlari menuju kamar Ilham. Saat itu sebelum salat subuh.
Tok…Tok…
Wajahnya pucat, bibirnya bergetar. Sambil menyincing sarungnya dia memanggil Ilham. Mengabarkan hal penting tentang keluarganya.
”Assalamualaikum Ilham,” keringat Kholik menetes sebesar biji jagung.
”Waalaikumsalam Kholik, Ayyul khidmah (ada yg bisa dibantu),” tanya Ilham.
Kholik tidak langsung menjawab dia hanya terdiam. Bibirnya serasa berat mengatakan kabar duka tersebut. Sebab, dia tahu selama ini pemicu semangat prestasi Ilham dalam belajar adalah keluarganya. Jari-jari Kholik terus mengetuk daun pintu. Matanya tak berani menatap langsung Ilham. Bibirnya bergetar.
”Ayyul khidmah (ada yg bisa dibantu),” tanya Ilham kembali dengan suara keras.
Menatap Ilham akhirnya Kholik memberanikan diri memberitahu kabar duka tersebut.
”Ilham, eee, eee,” katanya.
”Kenapa Kholik,” telisik Ilham penasaran.
” Inalilahi wainalilahi rojiun Ilham, Ayahanda mu dan calon adikmu,” Kholik berkata lirih.
Mendengar berita itu, Ilham terpaku. Dia tak bisa berkata-kata. Matanya memerah berkaca-kaca. Tanpa sadar air mata yang sudah tak bisa dibendung lagi. Suara tangisnya memang lirih, namun saat itu hatinya benar-benar sakit. Serasa ditusuk bahkan tercabik-cabik. Bibirnya berucap lirih sangat lirih.
” Inalilahi wainalilahi rojiun, Inalilahi wainalilahi rojiun, Inalilahi wainalilahi rojiun, Inalilahi wainalilahi rojiun,” menenangkan diri Ilham hanya mengucapkan berulang-ulang. Dia masih terpaku berfikir apa yang harus dilakukan.
Udin yang melihat Ilham dalam kondisi Shock menghampirinya. Dia menenangkan Ilham. ”Ham sudah tenang, nanti aku urus semua perizinan untuk kamu pulang. Aku juga akan ikut kamu pulang,” kata dia.
***
Malam itu sunyi, hanya Ilham dan Ibunya. Mereka hanya terdiam di dapur rumah yang reot.
”Buk kenapa tidak bilang ayah punya riwayat sakit paru-paru. Ibu juga merahasiakan kehamilan Ibuk, calon adik Ilham juga sudah meninggal. Ibuk keguguran,” brondong pertanyaan Ilham membuka pembicaraan.
”Itu sudah keputusan Ayahmu Le, Tole. Dia menjual tanah belakang dan laku Rp 30 juta. Yang Rp 15 juta buat kamu masuk pesantren dan sisanya untuk bayar uang bulananmu di Pesantren. Jadi untuk biaya berobat hanya seadanya. Sudah le, ini sudah takdir. Percaya saja sama jalan Allah,” Ibu menangis.
”Yang penting kamu terus saja sekolah buat yang terbaik. Jangan disia-siakan perjuangan Ayahmu. Ini masih ada uang tabungan untuk biaya kamu Sekolah,” lanjut Ibu menyemangati.
***
Setelah kejadian kematian Ayahnya, Ilham terus belajar dengan serius dalam Pesanren. Dia membuat perjanjian langsung dengan Kyai Rahmat untuk belajar dengan baik dan menjadi seorang Hafiz. Tak ada hari tanpa belajar, dibawah pohon pisang, dalam kamar pesantren, istirahat. Setiap jam dimanfaatkan dengan baik oleh Ilham. Dalam benaknya Ayahnya yang menjadi motivator terbaik untuk hidup. Dia memiliki prinsip bahwa orang tak mampu juga bisa sekolah.
Dari tahun ke tahun Ilham terus berkembang sampai dia lulus Universitas. Dia menjadi pengusaha di bidang percetakan dan seorang pemuka agama. Dia memiliki berbagai usaha dan akhirnya bisa membangun sebuah pesantren seperti keinginannya. Semua biayanya gratis dan seleksi masuk juga dibuat untuk anak tidak mampu yang berprestasi.
***
Suara tepuk tangan menggema di sebuah Aula Pesantren Giman. ”Pesantren ini saya namai dari nama Bapak Saya. Para Santri, Bapak saya itu orang yang mengedepankan pendidikan, saya harap kalian bisa mencontoh dan belajar sungguh-sungguh. Saya juga berasal dari keluarga tak mampu. Tapi dengan semangat saya dan motivasi saya bisa melangkah jauh seperti sekarang ini. Kalian juga jangan pernah minder. Semangat belajar saja,” kata Kyai Ilham membuka acara penerimaan santri baru di Pesantrennya.
Pesantren Giman itu akhirnya terkenal dengan santri-santri pintar dan sukses. Banyak orang yang ingin belajar disana dan belajar dari kisah hidup Kyai Ilham. ”Alhamdulillah, Pesantren ini berguna untuk banyak orang,” kata Ilham sambil menatap langit di halaman Pesantrennya.