"Aku tahu. Kita bertemu dan kita berpisah dengan cukup menyakitkan. Tapi, bagaimana jika keadaan memaksa?"
Aku mencorat-coret buku kecil yang jarang aku bawa. Entah kenapa aku menulis ini tapi, ini serasa menyedihkan kalau pun terjadi pada siapa saja. Termasuk diriku.
Aku sedang duduk-duduk di sebuah cafe yang tak jauh dengan apartemen yang kamarnya sedang aku sewakan. Ponselku berdering membuyarkan lamunanku. Jarang sekali aku menggunakannya.
"Hah..." itu adalah suara yang tidak terpikirkan olehku.
"Ha...lo?" Kataku. Lalu sebuah teriakan yang membuatku bergetar hebat jauh di seberang telepon.
"Aaaahhkk..! nak... maafkan ibu nak..." suara ibuku disertai dengan tangisan seseorang disana.
"Hiks... kak... tolong kami... hiks... hiks..." kata saudariku yang tak dapat menahan tangisnya.
"Tunggu...! Apa yang terjadi...?!" Kataku memaksa untuk bersikap tenang di tempat umum.
"Pelanggan. Seorang gadis akan meneleponmu, kurung dia. Maka kau bisa membebaskan mereka." Katanya.
"Apa-apaan!?" Kataku menahan amarah.
"Aaahhk...! Kak..." teriakan itu membuatku pasrah. "Jika tidak, jaminannya adalah nyawa mereka. Catat ini di bukumu. Disini, kau sedang diawasi." Katanya.
"Hah... apa... yang kau inginkan?" Kataku. Aku hanya bisa menyiapkan kertas untuk ditulis.
"Kurung gadis itu di kamar pintu dengan lambang not. Lalu, naiklah bus dengan angka 1434 dan ambillah barang yang nanti diberikan. Selang 1 hari, berikan itu padanya. Jangan sampai kau ketahuan." Lalu telepon itu ditutup.
Teleponku kembali berdering. Tak membiarkan aku beristirahat dengan apa yang terjadi.
"Halo? Apa benar anda yang menyewakan sebuah kamar?" Tanya suara yang ada diseberang sana. Terdengar seperti seorang gadis.
"Iy-ya tentu." Kataku sambil menghela nafas.
"Bisa kita bertemu dan melihat-lihat kamar yang sedang anda sewakan?" Tanyanya.
"Ya! Dan tidak perlu formal." Aku langsung menutup telepon itu setelah mengatakan hal itu.
Pertama kali bertemu dengannya, aku merasa kasihan padanya. Siapa yang tega mengurung gadis ini? Dia naif atau mungkin polos dan apa adanya. Hanya saja aku adalah orang yang akan mengurungnya.
Aku melakukan semuanya, semua hal yang bisa aku lakukan untuk membebaskan keluargaku. Naik bus dan membuat jadwal kunjungan untuk gadis itu. Tapi, disaat yang bersamaan aku merasa bahwa aku adalah orang yang jahat. Dia begitu manis. Saat aku berbincang dengannya aku merasa nyaman.
Jika saja aku punya cara lain untuk menyelamatkan kedua pihak... atau memang ada cara? Malam ini aku mencoba untuk begadang hanya untuk memikirkan cara agar semua kembali normal.
Tapi, rencanaku sia-sia. Tubuhku lemah setelah begadang sehingga aku tak begitu waspada dia akan bebas begitu saja. Lalu pintu yang telah ia kunci terbuka. Senyumku melebar namun, perasaanku tak enak.
"Apa kau berubah--" saat aku melangkah keluar pintu, sebuah pukulan dari benda tumpul mengarah ke kepalaku. Aku hanya bisa menatap samar apa yang terjadi dan menutup mataku sebentar.
"Kau gagal." Kata seseorang yang tahu bahwa mungkin aku akan mendengarnya. Aku berusaha untuk bangun namun, tubuhku terikat. Mereka mengikatku tanpa celah. Hanya menyisakan kepala dan leher dan telapak tangan juga kaki. Tubuhku di baringkan di atas ubin yang dingin ini.
"Jadi... dia terus berteriak dan alasan lainnya tentu kau gagal. Yah, inilah akibatnya." Lalu dia memutar sebuah kursi. Wajah ibuku terlihat membiru dengan mulut yang berbisa.
Sontak aku kaget melihat hal yang aku takutkan. Aku mencoba untuk menghampiri ibuku. Walau nyawanya sudah tidak ada dalam raga tersebut. Tapi, aku lemah. Aku tak sekuat yang mereka harapkan. Aku bukan pria yang kuat seperti ayahku 7 tahun lalu. Walau kini beliau telah lama pergi.
"Di-dimana... adikku...?" Kataku. Suaraku serak. Air mataku berjatuhan membasahi ubin yang dingin ini.
"Jaminan lainnya. Jika kau patuh dan tak bergerak, maka kau bisa membebaskan adikmu." Katanya.
"Apapun! Apapun akan aku lakukan! Uhuk, uhuk!" Kataku. Dadaku sesak dan suara ini hampir menghilang.
"Hei, hei. Tenanglah. Jikalau begitu, ada beberapa racun dalam makanan yang akan disediakan selama sebulan. Kau hanya harus memakannya. Itupun dalam dosis kecil." Katanya. "Apa kau keberatan? Jaminannya adalah nyawa adikmu lho!" Sambungnya. Aku hanya terdiam.
"Dan setelah satu bulan, jika kau memuntahkan apa yang sudah tersaji sebanyak 7 kali maka, kau juga akan dikurung. Selamanya. Sementara adikmu bebas. Setuju?" Tanyanya.
Dengan berat hati aku mengangguk pelan. Cuma satu alasan aku setuju. Adikku bebas. Yang berarti aku hanya perlu muntah 7 kali bukan?
"Aku ada permintaan." Kataku.
"Apa itu?" Tanyanya.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal pada gadis itu jika aku tak mampu bertahan hidup..." kataku menundukkan kepalaku.
"Oh, tentu saja boleh!" Katanya. Aneh, itulah dalam benakku. Malam itu mereka membiarkanku bertemu dengannya. Tapi setelah aku keluar dari apartemen, mereka langsung menyergapku. Aku hanya pasrah. Dan mengikuti alur cerita darinya.
Aku melakukannya dengan sempurna. Berselang beberapa hari saja dari waktu aku muntah. Aku disini hanya disuapi makanan beracun dan menatap ibuku yang telah tiada selama sebulan itu.
Setidaknya kuburkanlah dia, sialan! Umpatku.
"Bagus! Sempurna!" Tiba-tiba aku tersentak dengan suaranya. Aku tak bisa membuka mata dengan jelas. Aku sudah tak bisa meraba dengan baik.
"Aku tak menyangka lho, kau bisa bertahan selama ini!" Katanya sambil menjambak rambutku. "Sekarang, karena hak istimewa, kau akan di kurung di tempat yang lumayanlah untuk beristirahat. Lalu adikmu sudah bebas tentunya. Aku tak ingin dia merasakan pedihnya dunia jadi, aku membebaskannya dengan peluru di kepalanya." Sambungnya.
Apa katanya? Pikirku.
"Sebenarnya, disana ada petunjuk dimana kunci cadangan disimpan. Bahkan senjata api! Ikutilah permainan dan kau akan bebas bersama wanita itu!"
Lalu aku di seret dan menatap tubuh ibuku yang perlahan mulai menjauh. Aku tak bisa mempertahankan kesadaranku dan menutup mataku. Mungkin aku tak sengaja menitikkan air mataku lagi.
"Aaaahhkk..." teriakan itu... aku kenal dengan suaranya. "Siapa kalian?! Kalian yang berbuat semua ini padaku, kan?!" Sambungnya.
Bruuk! Braak!
Tubuhku dilempar ke lantai yang sedikit lebih hangat. Setelah pintu di banting, ada sentuhan hangat yang membelai pipiku. Seseorang mengangkatku dengan kepayahan. Mungkin seorang wanita? Aku lalu menepis pemikiran itu.
Beberapa hari kemudian,
Aku perlahan-lahan mulai bisa merasakan indra perabaku. Aku ingin membuka mataku tapi, sinarnya sedikit cukup menyilaukan. Samar-samar aku ingat siluet apa yang ada dihadapanku sekarang. Itu adalah bayangan gadis itu.
"A-ah..." kata pertama yang aku keluarkan.
"Apa... sekarang kau sudah sadar?" Tanyanya. Bayangannya menghalangi cahaya. Baguslah, sekarang aku mulai membiasakan mataku dengan keadaan sekitar.
"Mungkin." Jawabku.
"Aku bukannya mengurusmu tanpa alasan ya! Aku ingin pertanggung jawaban! Bebaskan aku dari sini!" Katanya.
"Aku... akan berusaha..." kataku yang masih dengan suara yang hampir menghilang. "Maaf..." kataku lagi.
"Kalau kau ingin minta maaf, bebaskan aku!" Katanya. Aku hanya bisa tersenyum.
"Sarapan! Aku akan menyiapkannya." Lalu dia pergi.
Beberapa waktu kemudian. Aku berusaha bangkit dari kasur ini namun, tak ada hasilnya. Tak bisa menggerakkan tubuh dengan sempurna. Lalu dia datang dengan mangkuk juga aroma sedap dari sebuah sup.
"Makanlah!" Katanya. Lalu sesendok demi sesendok melayang ke mulutku. Suapannya lembut tak seperti yang selama ini aku alami. Makanan yang bisa membuatku lega bahwa disana tak ada racunnya saat aku memakannya.
"Tunggu. Bolehkah aku pergi ke ruang tamu." Kataku berbisik.
"Ap-- kau sedang sakit!" Teriaknya.
"Kau ingin bebas?" Tanyaku susah payah bersuara padanya.
"Baiklah jika kau memaksa!" Katanya. Aku melihat ekspresi khawatir pada wajah cantik itu. Selama ini dialah yang merawatku rupanya. Dia mengangkatku perlahan dan aku berusaha agar tak terlalu membebaninya dengan sedikit berjalan.
Setelah sampai di sofa yang menghadap piano dia memposisikan caraku duduk agar nyaman. Lalu selimut memdarat di tubuhku agar aku merasa hangat. Tapi tidak ada kehangatan sama sekali.
"Lalu apa?!" Katanya dengan suara yang agak kesal.
"Ceritakan apa saja yang kau alami." Kataku lirih. Bukan karena itu saja. Aku ingin melihat perubahan apa saja dalam ruangan ini. Namun, sama sekali tak ada.
"Cuma itu?! Harusnya...! Ihk...! Sudahlah sarapan dahulu!" Ucapnya menahan amarah.
Dia berbicara berbagai macam hal. Keadaan frustasinya, kesepian hingga ingin menggila untuk sesekali. Aku merasa bersalah padanya. Aku berkali-kali ingin meminta maaf tapi, dia langsung menyumpal mulutku dengan lembut oleh suapan demi suapan yang hangat itu.
Siang, sore lalu malam. Dia memperlakukanku dengan lembut. Tak pernah ada yang melakukan tindakan selembut ini padaku selain ibu. Dia berbicara keadaan yang membuatnya bingung walau hanya saat awal dia menginap disini.
"Sebenarnya, saat pertama kalinya juga, aku menemukan empat kartu itu. Begitulah." Katanya. "Aku kira kau yang menculikku. Tapi ternyata tidak?" Tanyanya.
"Ya. Begitulah." Kataku. "Jika kau tak punya musuh atau sesuatu yang seperti itu, maka ini hanyalah sebuah permainan pertaruhan." Sambungku.
"Apa?! Sudahlah! Ini sudah malam. Tidurlah dikamar!" Bentaknya.
"Tidak." Kataku.
Tidak sampai aku menemukan jawaban dari semua petunjuk itu. Batinku.
"Lalu, kalau kau kedinginan bagaimana?!" Katanya. Sebenarnya, ucapannya saja yang bersuara keras tapi, tidak dengan perhatiannya.
"Disini tak ada botol untuk air hangat. Kalau gelas akan tumpah kalau tanganmu masih lemah!" Protesnya.
"Kau." Jelasku.
"Apa?" Dia menatapku.
"Kau juga hangat." Kataku menyeringai. Aku memang mengigil kedinginan sedari pagi. Bibirku tak bisa aku kendalikan dengan baik. Sehingga getarannya cukup terlihat jelas.
"Huh! Modus!" Ketusnya. "Ya sudahlah!" Lalu dia mengambil selimut yang lebih tebal dan menyelimutiku. Sementara dia duduk berdekatan denganku. Malah terlalu dekat. Sampai aku kaget dia memelukku.
"Padahal aku cuma bercanda." Kataku berbisik.
"Diam!" Katanya. Malam itu, aku tak bisa tertidur. Aku mencoba memecahkan kodenya.
Pertama, sederhana dan rumit itu berbeda. Jadilah seperti air. Kedua, sederhana dan rumit itu sama. Hal kecil itu sangat penting. Yang ketiga, sederhana namun rumit. Budak tetaplah budak. Dan yang keempat, Rumit namun sederhana. Not yang bermasalah. Itu artinya...
Buku mempunyai istilah jendela dunia. Maka kita lihat, apakah dalam buku ada petunjuk untuk keluar dari sini? Pikirku. Kalau begitu, buku dengan judul 'water in no matter' yang memiliki gambaran detail dan menghipnotis mereka agar tak berhenti membaca buku itu.
Tapi, buku tetaplah buku. Bukan kesalahan, namun kita yang harusnya menemukan dan memecahkan masalah tersebut. Lalu aku berdiri terpincang untuk melihat apakah dugaanku benar atau salah.
Membuka beberapa halaman dan menemukan senjata api beserta surat di dalamnya. Dalam surat tertulis.
'Untuk kau yang menemukan surat ini.
Akhiri dengan ini. Kau hanya akan terus terlibat dengan mereka. Mereka awalnya menepati janji namun, mereka hanya mengukir kata untuk menutupi kebohongan.
Jadi... walaupun ini satu-satunya jalan... kau harus memberanikan dirimu...
Salam, untuk seseorang yang selalu di permainkan oleh orang yang tidak bermartabat.'
Tidak... mungkin... aku harus melakukan ini. Batinku. Tapi, aku juga tak ingin dia menderita. Aku kembali duduk dan menyembunyikannya di belakang punggungku. Lalu aku memeluk erat dirinya. Dingin kembali menyertaiku.
Paginya, aku merasakan sentuhan hangat lainnya selain tubuhku. Tangannya menyentuh pipi yang sudah basah karena air mata. Entah apa yang aku tangisi sampai dia mengelapnya karena saking banyaknya. Lalu tangannya mulai turun dan menyentuh bibirku.
Aku, yang tadinya hanya menutup mata untuk menikmati kehangatan tangannya, terperanjat. Lalu seketika dia menarik tangannya.
Jangan bilang... aku mulai berpikir mengada-ngada. Pikirku.
"Jangan berpikir mesum!" Katanya. "Aku cuma... huh! Sarapan saja!" Sambungnya dengan wajahnya yang memerah.
Tidak. Jangan mencintaiku. Kau hanya akan tersakiti lebih dalam.
"Aku punya satu permintaan." Kataku. Aku harus segera mengakhiri ini.
"Apa itu?" Tanyanya.
"Kau bisa bermain piano? Tolong mainkan satu lagu untuk ku." Kataku.
"Setelah ini sarapan! Ya?" Tanyanya padaku.
"Tentu." Kataku setuju. Sementara tanganku di belakang masih gemetar untuk menembaknya.
Dia melantunkan nada-nada yang indah. Lagu yang familiar karena lagu itu dari Yiruma yaitu river flow in you. Lembut, menenangkan. Tangannya bergerak dengan indah dan cahaya matahari malah membuatnya semakin cantik. Aku malah jadi tambah jatuh cinta padanya.
"Bagaimana?" Tanyanya.
"Indah. Aku lupa menanyakan namamu. Boleh aku tahu?" Tanyaku. Baru aku sadar aku tak tahu namanya.
"Huff, baru menanyakan nama. Notas. Notas incorrectas Itulah namaku." Dia menyilangkan tangannya ke dada.
"Salam kenal." Dengan cepat tanganku menembak tepat di dadanya.
Dor!
"Apa yang kau..." dia berbisik. Tapi aku kurang yakin dengan perkataannya. Aku tak bisa menahan tangis lagi.
"Selamat tinggal."
Dor!
Peluru kini menembus tengkorakku. Aku tak bisa mencintaimu lebih lagi. Cukup. Kehadiranku membuatmu menderita.
Terima kasih untuk segalanya. Notas.
(Plot yang tertinggal)
Setelah itu,
"Aku mencintaimu juga, Carlos." Katanya.
Nama Carlos kini hanya di atas batu nisan.