Tiap malam selalu terdengar suara yang memilukan. Suara rintihan disertai isakan tangis yang terdengar dari telinga para pengawal juga para dayang di istana. Istana yang berdiri di sebuah kerajaan yang makmur dengan perekonomian yang stabil, semua itu berkat usaha seorang raja yang terkenal adil juga tegas.
Raja Shoun namanya, seseorang yang berwajah tampan juga memiliki kepribadian yang menyenangkan. Namun, itu hanya berlaku di luar istana. Seperti kata pepatah ‘Jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja’. Begitu pun dengan Raja Shoun. Perilakunya sangat bertolak belakang jika berhadapan dengan rakyatnya.
Di dalam istana, dia sangat kejam juga semena-mena dengan siapa pun termasuk sang istri. Ratu Mhihun sering menjadi korban kekejaman sang suami. Tingkah Raja Shoun tambah menjadi ketika Ratu Mhihun mengalami keguguran sehingga mereka harus kehilangan buah hati yang telah lama ditunggu kehadirannya.
“Kau memang tidak berguna! Tidak ada gunanya kau hidup di tempat ini!” ucap Raja Shoun dengan tatapan tajam menghunus pada Ratu Mhihun yang tadi tidak sengaja menumpahkan minuman dan mengenai pakaian sang raja.
“Ma… maaf.”
“Apakah permintaan maafmu dapat mengembalikan pakaianku yang ternoda?”
Ratu Mhihun hanya menunduk dan terdiam, wajah snag raja saat ini sangat menyeramkan. Melihat ratu yang hanya diam, membuat Raja Shoun naik pitam. Dia mengangkat cangkir tinggi-tinggi dan melemparkannya tepat pada kepala Ratu Mhihun.
Semua orang yang menyaksikan hal itu terdiam di tempat mereka. Bahkan beberapa di antara mereka sampai menahan napasnya. Tidak ada seorang pun yang berani melerai pasangan suami istri itu. Ratu Mhihun masih terdiam, bahkan darah yang mengalir di kepalanya tak dia rasakan.
Hanya air mata yang keluar dari kedua mata indahnya, sementara mulutnya masih terkunci rapat. Raja Shoun yang makin geram, akhirnya meninggalkan snag ratu di sana. Keluar dari ruangan itu diikuti para pengawalnya.
“Jangan bantu dia!” perintah Raja Shoun pada semua orang di sana.
Ada beberapa orang yang hendak mendekati snag ratu, tetapi setelah mendapat perintah seperti itu, mereka semua serentak berhenti. Setelah kepergian Raja Shoun, barulah sang ratu perlahan bangkit. Tangannya gemetaran memunguti pecahan beling yang berserakan di lantai.
“Anda harus segera diobati, Yang Mulia,” ucap salah seorang di antara mereka yang merasa tidak tega.
“Tidak apa-apa, tadi Raja memerintahkan untuk tidak menolongku,” jawab Ratu Mhihun.
Setiap malam Ratu Mhihun selalu datang ke kuburan sang anak. Menemaninya, terkadang juga mengobrol atau membacakan dongeng. Aktivitas itu Ratu Mhihun lakukan agar sang buah hati tidak merasa kesepian di tempat ini. Dengan isak tangis yang tidak pernah bisa dibendungnya, ratu akan membacakan berbagai kisah. Namun, mala mini Ratu Mhihun datang dalam keadaan yang sangat berantakan.
Pakaiannya bahkan belum ganti sejak insiden sore tadi. Luka di kepala juga belum diobati. Ratu Mhihun sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Dia sudah sangat lelah dengan kehidupannya. Orang- orang berpikir hidup di dalam istana juga menjadi seorang ratu adalah anugerah, padahal mereka semua salah.
Hidup di istana tidak seindah itu, sangat banyak tekanan di dalam istana. Belum lagi memiliki seorang suami yang sangat kejam. Sudah sangat lama Ratu Mhihun ingin berhenti, tetapi rasa cinta pada sang suami mengalahkannya.
Kini sang ratu bersimpuh di depan kuburan sang buah hati. Mereka belum sempat bertemu, tetapi ikatan itu sangat kuat ratu rasakan. Buah hatinya masih terus hidup di dalam hati Ratu Mhihun.
“Maaf, Bunda datang terlambat,” ucap Ratu Mhihun, tangannya membelai rerumputan yang didalamnya terdapat jasad sang buah hati.
“Maaf, tiap kali datang Bunda selalu menangis.”
“Apakah kau kesepian di sana? Ingin sekali Bunda menemanimu di sana. Bolehkah Bunda ikut bersamamu? Agar kau tidak lagi kesepian,” ucap Ratu Mhihun dengan senyuman manisnya.
👸👸👸