Hey hay, yuk mampir baca cerpen ku. Like dan komen yah 🤭❤️❤️
_________________________$$___________________
"Hancurkan Goa Naga itu dia harus kita musnahkan agar tidak menjadi bencana di masa depan...!!" seru seorang raja bernama Raja Ronald.
Semua di sana terkejut, bukankah pasalnya selama ini mereka selalu memuja naga itu karena dirinya bisa membuat tanah di kota mereka menjadi subur bahkan mereka hampir mati karena kekeringan menyebabkan mereka krisis ekonomi dan tiba-tiba seekor Naga datang membantu mereka.
"Tapi raja, dia adalah pahlawan kita bukankah kita menganggapnya sebagai dewa kita?" protes seorang menteri tidak sependapat dengan seruan sang raja membuat raja Ronald murka.
"Apa kalian tidak tahu seperti apa ramalan kota kita di masa depan?" tanya raja Ronald emosi, para jajaran istana angin menunduk takut. "Para penyihir mengatakan bahwa kota kita tengah di kutuk dan akan hancur di masa depan... dan hanya membunuh Naga itu maka kutukannya akan terpatahkan" sambung sang raja. Membuat semua atensi di sana menatap penuh tanda tanya ke arah raja.
Mereka bertanya-tanya apakah benar yang di katakan oleh raja Ronald? namun juga tidak mungkin pemimpin mereka berbohong sedangkan raja Ronald sangat mengagung-agungkan dewa Naga.
Seorang ketua Mentri umum berdiri menunduk hormat pada raja ia lantas berujar "Baiklah baginda raja, lalu kapan kita akan menyerang Naga itu?... kita harus mempersiapkan pasukan serta kekuatan kita... karena bagaimanapun juga dewa Naga bukanlah tandingan kita".
Semua di sana mengangguk atas saran yang di berikan ketua menteri umum, terlihat raja Ronald berpikir sejenak. "Saya akan meminta para penyihir untuk bersama-sama menyatukan kekuatan mereka. Dan pasukan kita akan membakar Goa Naga" jawab raja Ronald.
"Baiklah Baginda raja kami setuju atas rencana raja"
"Maaf Baginda raja, kapan kita akan menyerang Dewa Naga itu?" tanya seorang Menteri lainnya.
"Besok lusa adalah hari yang tepat untuk penyerangan, itu sesuai dengan prediksi ramalan bintang kuno" jawab raja Ronald yang duduk di atas kursi singgasananya.
"Kalau begitu kami akan mempersiapkan apa yang harus kita lakukan saat penyerangan nanti".
"Mohon Baginda raja, izin kami undur diri" para petinggi kerajaan lantas berdiri lalu kemudian menunduk hormat. Raja Ronald hanya menganggukkan kepala sebagai isyarat persetujuan. Dan mereka semua langsung keluar dari ruangan tersebut.
Tak jauh dari ruang pertemuan antara raja dan para menteri juga panglima kerajaan tengah berdiri seorang gadis kecil, ia tidak sengaja lewat dan mendengar isi percakapan raja Ronald. Dia adalah princess Asean putri kandung raja Ronald.
Gadis kecil yang baru menginjak 4 tahun itu, terlihat tangannya terkepal kuat mendengar rencana dari sang ayah membuatnya murka. Dia memang tidak suka pada Dewa Naga karena orang-orang selalu memujanya namun kini mereka malah ingin membunuhnya. Bukankah para manusia itu munafik?! setelah mendapatkan apa yang mereka miliki kini membuang jauh-jauh Tuhannya.
"Aku harus menolong Dewa Naga" gumamnya bersungguh-sungguh. Ia berjalan sembunyi-sembunyi melirik ke kanan juga ke kiri, memastikan bahwa prajurit juga pelayan yang menjaganya tidak melihatnya.
Hingga sampai di luar gerbang putri Asean bernapas lega. Goa Naga itu berada di atas gunung sangat tidak mungkin jika anak sekecil dirinya berjalan ke atas gunung sendirian. Namun tekadnya sudah bulat, mau tidak mau ia harus menolong Dewa Naga.
Putri Asean sesekali berlari kecil agar dirinya tidak di tangkap oleh prajurit ayahnya hingga dirinya tidak sengaja bertabrakan dengan seorang pemuda tampan.
"Maaf kaka ganteng Sean tidak sengaja..., karena Sean sudah minta maaf Sean pergi dulu"
"Tunggu!" seru pria tersebut. Dan Sean seketika menghentikan larinya.
"Kau mau kemana gadis kecil?" tanyanya lembut melebarkan bibirnya membentuk sebuah senyuman manis membuat putri Asean terhipnotis.
"Mau ke bukit kakak tampan" jawabnya dengan suara cemprengnya.
"Bukit? bukankah di sana tempat Naga tinggal. Apa kau tidak takut hewan buas memakanmu hmm...?" tanyanya dengan alis berkerut.
"Tidak! Sean tidak pernah takut! sekarang ini Dewa Naga harus di tolong dia berada dalam bahaya" jelas Putri Asean yang ingin cepat-cepat pergi dari sana namun lagi-lagi laki-laki itu menghentikannya.
"Gadis kecil, di sana sangat jauh, juga sangat berbahaya. Kau mungkin akan bertemu hewan buas" jelasnya lembut menatap dalam wajah putri Asean.
"Sean tidak takut!" teriak putri Asean berkacak pinggang melotot ke arah pria tampan di depannya.
"Hehehe gadis kecil yang menarik" batin pria tersebut.
"Aku bisa mengantarmu" ujarnya tiba-tiba.
"Kau bukan orang jahat kan?" tanyanya memicing curiga membuat pria itu sedikit menarik ujung bibirnya.
"Tutup matamu aku akan membawamu ke Goa Naga" pria itu langsung menggendong putri Asean ala bridal style dan putri Sean seketika menutup matanya tanpa membantah.
Putri Sean dapat merasakan hembusan napas juga sepertinya ia sedang terbang namun ia tidak berani membukanya alhasil ia hanya mampu merasakannya.
Tidak lama mereka sudah sampai dan pria itu menurunkan putri Asean masih dengan memegang bahunya.
"Kita sudah sampai kamu bisa membuka matamu" titahnya namun tidak ada respon dari gadis kecil di hadapannya.
"Putri, bangun!" lagi-lagi hanya dengkuran halus yang menjawab membuat pria itu terkekeh lucu.
"Dasar" pria itu kembali mengangkat tubuh putri membawanya masuk ke dalam Goa. Lantas meletakkan tubuh putri di atas batu berukuran sedang. Sedangkan dirinya tiba-tiba berubah menjadi hewan besar berwarna Hijau keemasan juga memiliki sayap yang besar. Yah pria itu adalah seekor Naga yang di cari-cari oleh putri Asean namun entah kenapa putri malah tertidur di pelukan Naga.
.
.
.
.
.
Hari yang di tunggu-tunggu oleh raja Ronald dan warga di kota Asean akhirnya tiba. Mereka akan melakukan penyerangan secara terang-terangan. Raja yang penuh ambisi itu akan menghancurkan siapa saja termasuk seekor Naga karena kabarnya Naga itulah yang akan menurunkan posisinya.
Raja Ronald tahu bahwa putrinya menghilang namun yang ia pikirkan hanyalah membunuh Dewa Naga itu. Dan sekarang pasukan raja Ronald sudah berjalan menuju Goa Naga.
Di lain tempat, tepatnya di sebuah Goa. Putri Asean baru bangun dari tidur panjangnya. Seketika ia membulatkan bola matanya.
"Dewa Naga!" gumam Putri sedikit heran. Bukankah dirinya bersama pria tampan kenapa ia terbangun di dalam goa Naga.
"Kau sudah tiga hari tertidur dan baru bangun" jawab Naga membuat Putri Asean terkejut ia tiba-tiba teringat akan kejahatan ayahnya.
"Dewa Naga harus pergi dari sini! kau dalam bahaya!" teriak putri tiba-tiba.
"Kenapa? ini adalah rumahku" jawab Naga.
"Ayahku dan pasukannya akan datang membunuh Naga. maka dari itu aku datang menyampaikan berita ini" jelas Putri Asean dengan wajah serius.
"Aku bisa menghancurkan mereka" jawab sang Naga sombong.
"Bodoh! kau bisa mati" ketus putri menatap tak suka pada Naga yang begitu angkuh.
Tiba-tiba terdengar gerakan pasukan perang yang sangat besar jumlahnya juga alat-alat tempur. Naga terbang keluar melihat warga Asean yang begitu banyak.
"Di sana Naga pembawa sial! kita serang sekarang" teriak mereka bersemangat. Mereka melempar bola api besar yang sudah di campur oleh sihir. Dan lemparan bola api yang banyak seketika membakar Goa seperti kayu bakar yang terkena siraman bensin.
Naga itu sangat marah apalagi melihat rumahnya terbakar.
"Akan ku bunuh kalian semua" teriak Naga marah. Ia memang tidak bisa melawan sekarang karena kekuatannya sedikit terkuras habis. Sang Naga terbang ke arah putri Asean mengangkatnya menggunakan kakinya dan terbang keluar.
"Aku akan membawa putri Asean sebagai kompensasinya" ujar Naga dan terbang jauh.
"Hey! lepaskan putriku! kurang ajar!" teriak raja Ronald namun sia-sia.
.
.
.
.
.
.
.
14 tahun kemudian
Tidak terasa putri Sean tumbuh menjadi gadis cantik juga sangat baik ia tinggal bersama sang Naga, Naga yang akan di bunuh oleh ayahnya malah menjaganya selayaknya seorang ayah kandung. Membuat putri Sean benar-benar menyukai dan menyayangi Naga itu.
Dragon Gold adalah panggilan sayang putri untuk Dewa Naga dan Naga tersebut sangat menyukainya.
"Princess kau jangan keluar, aku akan mencari makanan untuk kamu" kata Naga.
"Tidak! aku harus ikut" jawab putri tegas.
"Tidak bisa, kau tetap di sini" Naga itu lantas mengepakkan sayapnya dan terbang ke atas sebelum sang Princess melompat ke tubuhnya.
"Gold! hey kembali kau!" namun percuma saja berteriak karena sang Dewa Naga sudah pergi menjauh.
Tujuan Naga adalah ke kota Asean, ia akan membalaskan dendamnya.
"Maafkan aku princess" gumam sang Naga. Yang sudah berada di atas bukit tinggi ia bisa melihat jelas bagaimana kehidupan di kota Asean.
"GOAAAAARRRR"
Auman Naga itu mengagetkan orang-orang di kota Asean membuat mereka ketakutan.
"Akkkhh Dewa Naga kembali"
"Dia pasti akan membalas dendam, lari! semuanya lari!!"
Teriak orang-orang ketakutan, Naga itu lantas menyemburkan api dari dalam mulutnya membakar rumah juga pohon-pohon. Naga membuat kekacauan di kota Asean, hingga berita pemberontakan sampai di telinga raja Ronald.
"Siapkan pasukan sekarang, kita akan menyerang musuh!!" titah raja Ronald pada semua petinggi kerajaan. Mereka bergegas mempersiapkan apa yang di butuhkan.
Hingga semua selesai dan berjalan menuju ke arah Naga.
"Benar kata ramalan, kota ini akan hancur dan itu di tanganmu!" kata raja Ronald.
"Sudah salah kami memujamu seperti Dewa" sambungnya lagi dan hal itu membuat Naga menjadi marah.
"Kau yang dulun raja Ronald! tidak ku sangka kau adalah pria sekaligus raja yang picik" jawab Naga tersebut.
"Tunggu apalagi serangg!!!" murka raja Ronald. Dan prajurit menyerang Naga dengan bola api juga anak panah yang beracun.
"GOAAAAARRRR"
"GOAAAAARRRR"
Naga itu menyemprot api dari mulutnya hingga sebagian prajurit perang tewas terbakar.
"Sial" umpat raja Ronald. Mengambil busur juga panahnya yang legendaris. Ujung anak panah yang sudah di mantrai oleh kekuatan sihir itupun mengarahkannya pada Naga.
SREEET
Semua di sana terkejut mendapati seorang wanita cantik mendapatkan panah di dada kanannya.
"Princess" lirih Naga dengan air mata yang menetes. Putri Asean ternyata ikut terbang mencari sang Naga, tidak terpikirkan bahwa firasatnya benar. Naga dan ayahnya bertarung, saat melihat ayahnya akan memanah ke arah Naga dan dengan cepat putri Asean terbang ke arah sang Naga hingga anak panah itu menembus daging putri Asean.
Putri Sean mendapatkan kekuatan terbang dari sang Naga, dia lupa mengunci Goa tempat mereka tinggal alhasil membuat Sean bisa keluar.
"My little princess" sang Naga menatap tajam ke semua orang napasnya memburu mengeluarkan asap.
"GOAAAAARRRR"...
"GOAAAAARRRR"
"GOAAAAARRRR"
Naga itu menggila seperti tengah kerasukan setan. Menghancurkan semua rumah juga pohon-pohon. Ia membakar habis semua bahkan menghabisi semua yang di sana bahkan raja Ronald sekalipun.
"My little princess" gumamnya lirih. Sang Naga lantas membawa terbang putri Asean ke dalam Goa tempat tinggal mereka selama ini. Meletakkan tubuh lemah putri di atas batu tempat tidurnya.
"Kamu harus hidup" ujar sang Naga. Dan putri hanya tersenyum lembut, mengulurkan tangannya menyentuh pipi sang Naga.
"A-aku su-sudah tidak kuat la-lagi, to-tolong le-lepaskan dendam la-lam itu, ku mohon Gold" lirih Putri Asean terbatuk-batuk. Luka di dadanya benar-benar membuatnya sulit bernapas sedangkan darah terus keluar.
"Tidak my princess!" jawab Naga tegas. Sang Naga berubah wujud menjadi seorang pria tampan. Ia lalu memangku kepala putri di atas pahanya.
"Kamu harus bertahan, aku akan menolongmu" putri itu menggeleng masih dengan senyum merekah di wajahnya.
"Be-berjanjilah un-tuk me-melepaskan de-ndam la-lam i-itu" pria itu mengangguk setuju. Cairan kristal jatuh dari pelupuk matanya membasahi pipi putri.
"Te-terima kasih Gold, a-aku sa-sayang kamu"...
Saat mengatakan itu putri Asean langsung menutup matanya. Naga yang tidak bisa menerima kepergian putri berteriak kencang.
"Tidaaaaakk! princess jangan tinggalkan aku. Hiks, hiks, hiks". sang Dewa Naga memeluk erat tubuh putri hingga tiba-tiba sebuah pohon tumbuh di atas batu membuat tubuh Naga itu membeku.
"My princess" lirihnya masih dengan cairan bening, menatap pohon yang berasal dari tubuh putri Asean.
"Daun yang sangat harum, sangat indah jika namanya adalah daun Dila"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TAMAT