Suar berjalan tertatih tatih menuju bukit. Walau dengan menahan sakit pada sekujur tubuhnya tapi ia akhirnya sampai juga dipuncak bukit. Suar berdiri diatas batu, dan ia berteriak sekencang kencangnya. Perlahan airmatanya berguguran membasahi pipinya. Ia terisak meratapi nasib nya.
Setelah puas meratapi dirinya, Suar duduk. Ia merogoh ke saku celananya dan terlihat bungkusan rokok ditangannya saat ia keluarkan dari saku. Ia mengambil sebatang dan membakar rokok itu dengan lihai. Ia berbaring dengan santai diatas batu sambil terus menghisap rokoknya. Ingatan nya kembali ke 9 tahun lalu. Di bukit ini, ia merayakan ulang tahunnya tanpa kue ulang tahun, tanpa apapun. Hanya seseorang disana bersama nya.
---
Hari itu Suar pertama kali merayakan ulang tahunnya tanpa kedua orangtuanya. Ya itu adalah ulang tahunnya yang ke 13. Dan ia baru saja pulang dari pemakaman kedua orangtua nya. Ia menangis terseduh seduh diatas bukit itu tanpa tau ada yang melihatnya.
Seorang bocah tak dikenal muncul dari ilalang. Suar berhenti menangis dan hanya memperhatikannya. Bocah itu menaiki batu tempat Suar duduk dan menunduk tepat dihadapan Suar. Ia menatap Suar dengan tatapan yang tidak dimengerti oleh Suar yang baru beranjak remaja.
" apakah kau tau? cantik tidak boleh menangis " Bocah tak dikenal itu mengusap pipinya lalu menciumnya lembut. Spontan tangan Suar menampar pipi bocah itu.
" huuuuuuuuhuhuhuhu, huhu huhuhu " Bocah tak dikenal itu menangis.
Suar hanya diam dan menatap bocah itu, ia berpikir jika dibiarkan bocah itu akan berhenti menangis. Dan benar saja,bocah itu berhenti menangis. Dengan malu malu ia menunjukan wajahnya
pada Suar.
" apa kau tau? cantik tidak boleh kasar. " ucap bocah itu kemudian
" aku tidak tau " jawab Suar sambil menggeleng. Kedua nya saling menatap dan tertawa malu.
Itu adalah pertemuan pertama mereka dan setiap hari selama sebulan mereka mulai bertemu dibukit itu tanpa harus membuat janji.
---
ah " Suar mendesah berat, ia sangat merindukan bocah itu. Ia menyesal karena tidak menanyakan nama bocah itu. Setiap liburan sekolah ia selalu menunggu, berharap bocah itu datang berlibur bersama keluarganya. Namun, bocah itu tak pernah datang lagi. Hingga lulus SMA pun, ia masih berharap bertemu lagi dengan bocah itu. Walaupun jika nanti bocah itu tidak mengenalinya.
Suara krasak krusuk ilalang disekitarnya tak mengusiknya sama sekali. Ia terus menikmati rokok nya dan dunia dalam pikirannya.
" Kenapa aku sangat merindukannya? ah, dasar bocah sialan. " Suar berbicara dalam pikirannya. Ia masih bergulat dengan pikirannya tentang bocah itu, hingga tak menyadari seorang pria sudah berdiri dihadapannya.
" Apa kau tau? cantik tidak merokok. " Suar terdiam, otaknya pun seolah berhenti berpikir. Pria itu menunduk dihadapan Suar dan mengambil rokok yang masih menyelip dibibirnya. Suar masih terdiam, kini otaknya mulai bekerja. Dan satu orang yang sudah sering terlintas dibenaknya, kini memenuhi isi kepalanya lagi. Ya kalimat yang sering diucapkan bocah itu. Apa kau tau?
Suar masih mencoba menata pikirannya tapi tiba tiba bibir pria itu menyentuh bibirnya dengan lembut. Suar kaget bukan main, ia terbelalak.
Bruk...
Suar mengayunkan tinju nya pada wajah pria itu. Tidak sia sia ia belajar tinju saat SMA dulu.
Auw, auw.
Pria itu menjerit sambil memegang bagian wajahnya yang terkena tinjunya Suar.
auw auw auw. Pria itu terus menjerit menarik perhatian Suar.
Suar hanya menyaksikan tingkah pria itu dengan tersenyum.
" ya itu dia " Suar berbicara dalam pikirannya.
" Dasar bocah sialan " umpat Suar masih dalam pikirannya.
Suar mendekat kepada pria itu, pria itu langsung terdiam. Keduanya saling menatap beberapa detik, lalu Suar mengusap pelan lebam pada wajah pria itu. Pria itu masih terdiam, menunggu.
" apa kau tau? Kau tidak boleh sembarangan mencium gadis cantik, jika tidak ingin dipukul. " ucap Suar menatap tajam pada pria itu.
Pria itu hanya terpaku menatap gadis yang hanya berjarak beberapa senti darinya.
Beberapa detik kemudian keduanya saling tersenyum dan tertawa.
***Tamat