Aroma kue yang baru selesai dipanggang menguar memenuhi ruangan. Tanganku bergerak cepat menukarnya dengan loyang yang lain. Lantas berharap tak ada pelanggan dalam dua menit ini.
Kling... Klang... Suara lonceng itu membuatku terkejut.
"Selamat datang.." Sambut salah satu pegawaiku yang berada di depan.
Suara orang mengobrol terdengar pelan, tampaknya mereka berdiskusi sesuatu di konter.
"maaf, senior pelanggan itu ingin bertemu denganmu"
"baik, tolong kau minta Randi menggantikanku menyelesaikan tart ini"
"baik" Jawabnya yang bergegas menemui Randi di meja seberang.
Suara Randi yang mengoceh membuatku hampir tertawa. Anak itu memang tak pernah mau ku beri bagian pekerjaanku meskipun kami seumuran.
"silahkan senior" ucap salah satu pelayan dengan tenang.
Aku pelan melangkah ke konter depan. Berharap tidak ada mendung yang datang hari ini.
"maaf menyita waktu anda."
"tidak masalah nona. Ada apa mencariku?"
"jangan terlalu formal Rio. Ada sesuatu yang ingin ku minta saran padamu."
"tentu, apa itu?"
"aku ingin belajar baking sebenarnya ..." ucap gadis berambut coklat sepinggang itu membuatku menahan tawa.
"ufff... lalu? apa yang harus ku sarankan untukmu nath?"
"itu... bisakah kau mengajarkanku?"
"tentu saja... semua bisa kau serahkan padaku."
"maaf menyita waktumu"
"tidak apa, datanglah kemari jika kau luang. aku akan mengajarkanmu beberapa resep sederhana"
Selesai berpamitan, gadis itu pergi dengan senyum mengembang di wajahnya. Aku pelan kembali ke dapur untuk memastikan pekerjaan Randi.
"seenaknya kau!?!"
"maafin gue, kebetulan juniorku yang kemari dan ingin bertemu. seorang gadis cantik, ku harap kau bisa mengajarkannya beberapa hal ketika aku sedang ada urusan."
"kau ini demen bikin orang susah..."
"ahaha... kau juga bukan?"
Randi pelan menekuk bibirnya kebawah. Membuatku tertawa lepas dan mengacak rambutnya kasar lantas kembali melanjutkan pekerjaan.
Aku tak begitu kenal dengan juniorku satu itu. Namun aku berani bertaruh bahwa dia melakukan hal itu pasti ada tujuannya. Suara denting pesan masuk terdengar dari komputer yang melayani pemesanan online.
Mataku pelan membacanya dan mencatat informasi sebelum menyerahkan ke anak buahku yang berada di dapur. Memerintahkan mereka untuk menyelesaikan pekerjaan.
"maaf bisa tolong bagian ini?"
"ah baik senior"
semua orang mulai bekerja di dapur memenuhi pesanan. Beberapa juniorku juga bekerja di galeri depan melayani pembeli yang berkunjung ke toko atau membantu mereka membuat pesanan secara offline.
Tanganku juga tak berhenti memastikan order sesuai dengan daftar, sesekali membantu juniorku membuat adonan.
"terima kasih pekerjaannya hari ini. karena toko hari ini memiliki sisa roti dari jatah penjualan satu hari, silahkan kalian ambil sesuai kebutuhan. roti hari ini free!!"
"TERIMA KASIH SENIOR ATAS ARAHANNYA HARI INI!!" kor semua anak yang tampak bersemangat.
"wah.. pasti adikku akan menyukai ini ... senangnya!!"
"dirumah roti gandum sudah habis.. ini luar biasa!"
"semoga esok secerah hari ini !!"
Aku pelan mengambil roti untuk ku makan dan ku bagikan pada anak-anak yang mengamen di pinggir jalan besar. Sudah menjelang malam, biasanya mereka akan berkumpul di satu titik dan berhenti dari mengamen.
"ri.. makasih hari ini"
"tentu ... mau ikut dengan ku setelah menutup toko. kebetulan hari ini kita dapat lebih banyak sisa."
"malam ini tidak dulu. ada yang harus ku lakukan di rumah. "
"hati-hati di jalan ran! jangan ngebut!"
Aku pelan mengunci pintu toko dan bergegas ke parkiran mencari mobilku satu-satunya. Aku pelan melirik jam pada dashboard mobil, berharap masih bisa bertemu mereka di tempat biasa.
Jalanan kota mulai lenggang, tak lagi penuh seperti pagi hari ketika anak-anak berangkat sekolah. Aku pelan memarkir mobil di tempat biasa dan mengambil dua kantong karton besar berisi roti dan air mineral untuk bocah-bocah itu.
"kak rio!!!" pekik salah satu anak yang berteriak dan berlari ke arahku.
"kakak!!" pekik yang lainnya begitu sadar aku telah berdiri tak jauh dari mereka.
gadis kecil itu sudah memeluk kakiku, aku pelan tersenyum dan melihat anak-anak yang lain mulai berlari mendekat.
"ayo makan malam!"
pekikku yang membuat anak-anak berlari semakin kencang. Aku tersenyum tipis melihat anak-anak itu kembali bersemangat.
"kakak kok lama hari ini?"
"maaf grace, hari ini banyak pekerjaan jadi agak terlambat."
"kak randi mana? biasanya ikut?"
"dia lagi ada urusan di desanya... jadi kali ini tidak ikut"
Beberapa anak-anak mulai menyerbu kantong dan mencari kue kesukaan mereka. Aku pelan mengambil salad buah dingin favoritku dan duduk diatas kardus sambil menonton anak-anak menikmati makan malam mereka. Kantong satunya sudah ku amankan agar mereka bisa tetap sarapan esok paginya.
"krimnya manis!!" pekik salah satu anak yang mengambil strawberry slice cake. Aku tersenyum tipis. Meskipun besok aku tak yakin akan sarapan tepat waktu atau tidak.
Anak-anak bersorak senang melihat banyak kue enak di depan mereka. Waktu semakin larut, aku berpamitan dan memberi mereka satu kantong breakfast set berupa tiga roti berisi aneka daging, satu kotak jus apel, dan satu kotak susu 500ml.
Aku pelan mengemudikan mobil kembali ke apartemen. Beberapa toko 24 jam maupun restoran masih terlihat ramai. Aku pelan merapatkan mobil di parkiran basment yang kosong dan membawa kantong kertas berisi roti keras untuk ku makan bersama sup krim.
TING... Suara lift terdengar dan pintunya membuka. Aku pelan melangkah masuk dan menekan angka untuk menuju koridor apartemenku. CKLAK... Aku pelan memutar kunci dan membuka pintu kemudian menguncinya dari dalam.
Aku pelan meletakkan belanjaan di atas meja dapur dan melepas jaket tipisku. Menyisakan hodie berwarna abu muda. Tanganku pelan menggeser halaman resep digital di tablet, mencari resep yang cocok untuk diajar kan pada juniorku.