Akhir-akhir ini, Shilo membuatku kesal.
Kenapa dia selalu menatapku seperti itu?
Apa yang dia inginkan?
Jadi kuputuskan untuk menanyakan langsung padanya.
Ketika jam mata kuliah berakhir, aku menghampiri dan menawarkannya untuk ikut makan bakso denganku.
Shilo mengiyakan.
Sesampainya disana, kami menikmati beberapa mangkok bakso.
Disela-sela menikmati makanan, aku bertanya padanya.
“Apa kau suka padaku?” Tanyaku mendekatkan wajah.
Uhuk, uhuk!
Saat bulatan bakso hampir mendarat di tenggorokan, Shilo dengan cepat memuntahkannya akibat pertanyaanku yang mengagetkan jiwa.
“Kau! Bisakah aku menelan baksonya dulu?! Lagipula, kau juga tidak perlu mendekatkan wajahmu seperti itu!”
“Hahaha. Maaf aku tidak sengaja.Pfft” Ucapku meledeknya.
“Aku tidak bisa menjawabnya sekarang”
Huh.
Itu bukan jawaban yang aku inginkan. Tapi sudahlah, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.
.
.
.
.
Hari-hari terus berlanjut.
Aku yang sedang sibuk maskeran, tiba-tiba mendapat telepon dari Shilo.
Dia sakit dan memintaku untuk merawatnya.
Lah? Kenapa harus aku? Dia kan bisa ke rumah sakit? Memang aku Dokter?
Aku dengan rasa khawatir pun langsung bergegas menuju rumahnya.
Setibanya disana, kulihat Shilo sudah lemas dan tidak berdaya. Suhu badannya tinggi.
Aku lalu memberikannya obat yang sudah kian kubeli di apotek sebelumnya.
Setelah itu, aku membantunya berbaring di ranjang dan mengompres kepalanya dengan air hangat.
Ingin rasanya pulang, namun keadaannya membuatku tidak tega untuk meninggalkannya sendirian.
“Halo ma, Ria gabisa pulang malam ini. Temen Ria sakit keras” Ucapku pada Mama melalui telepon.
Hoamm.
Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 12 malam.
Mataku menjadi sangat berat dan aku pun tertidur di sofa.
Selesai