Mas tolong jaga anak-anak, hari ini aku mau mencuci baju ke danau," pinta Ayu kepada Suhar--suaminya.
Suhar tampak kesal ketika Ayu meminta menjaga kedua anaknya. Suhar tengah asyik memainkan ponselnya.
"Aku mau tidur, capek!" Suhar membanting HP nya lalu ia menutupi dirinya dengan selimut.
"Bangun, Mas. Tolong jaga anak-anak Aku mau nyuci sebentar." Ayu mengguncang tubuh Suhar.
"Apa kamu tuli?" Suhar bangun membuka selimutnya. "Aku mau tidur, capek. Bawa saja anak-anak bersamamu."
Tidak ada pilihan lain Ayu membawa kedua anaknya. Ia takut Mas Suhar mengamuk.
Ayu dan Suhar tinggal di tengah-tengah kebun kelapa sawit. Jika musim kemarau sumur yang ada di dekat rumah Ayu airnya kering. Maka Ayu akan mencari air ke danau untuk mencuci, mandi, dan lain-lain.
Danau yang dimaksud adalah danau bekas galian tambang emas. Galian itu membentuk danau dan dalamnya sekitar 10 meter paling rendah 5 meter.
Di daerah Ayu banyak tambang emas ilegal tak heran jika di gurun-gurun pasir banyak galian atau lobang besar yang membentuk danau.
Ayu membawa kedua anaknya Fahrul dan Icha. Di tangan kanan Ayu ember besar berisi pakaian kotor, dan di punggungnya Ayu sambil menggendong Icha.
Fahrul berusia tiga tahun setengah dan Icha dua tahun setengah.
Ayu berjalan kaki mengikuti jalan setapak ke arah danau. Setelah sampai di danau Ayu meletakkan embernya dan menurunkan Icha.
Hamparan pasir putih menyilaukan mata begitu luas dan banyak danau buatan. Ayu memilih danau yang berukuran agak kecil guna memudahkan Ayu mengambil airnya. Jarak 10 meter terdapat danau yang paling besar dan juga sangat curam sangat dalam.
Di samping danau yang Ayu pilih pun sama ada danau berukuran besar.
"Abang jaga dedek,ya. Mama mau nyuci."
Bocah kecil itu mengangguk, "Iya, Ma."
Ayu mulai mengambil air di danau itu dan merendam pakaian kotornya.
"Mainnya jangan jauh-jauh. Jangan dekat-dekat danau nanti nyemplung," kata Ayu menasehati Faisal.
Ayu pun mulai mengucek bajunya satu persatu sambil memantau kedua anaknya.
Setelah pakaian dikucek, Ayu membelakangi Fahrul dan Icha untuk membilas baju dengan mencelupkan pakaian ke bibir danau satu-persatu hingga selesai.
Tanpa disadari Icha berlari ke arah danau besar dan ia telah sampai di danau betapa girangnya anak kecil itu. Rasa penasaran Icha membuatnya mendekati danau lebih dekat lagi dan naas kakinya terperosok di pinggir bibir danau hingga ia tergelincir tubuhnya berguling-guling ke bawah lalu tercebur.
Mengetahui sang adik tidak ada di sisi-nya maka Fahrul mencari ke danau besar itu. Alangkah terkejutnya Fahrul melihat Icha megap-megap tenggelam di air.
Fahrul berinisiatif menolong Icha ia menuruni pasir dengan cara berperosotan. Sudah sampai di air danau Fahrul menjulurkan tangannya ke arah Icha akan tetapi Icha semakin ke tengah membuat Fahrul kesulitan dan ketakutan Ia pun nekat menceburkan diri untuk menolong adiknya.
Namun sayangnya, Fahrul belum bisa berenang dan ia pun sama nasibnya sama seperti Icha megap-megap di tengah danau tangannya menggapai-gapai ke atas berusaha meminta pertolongan.
Icha mulai melemas dan tak memberontak lagi tubuhnya mengapung. Sedangkan Fahrul berusaha berteriak memanggil Ayu.
"Mama! Dede tolong, Ma!" teriak Fahrul pilu.
Fahrul memanggil lirih karena sulit bernafas. Jarak danau 10 meter membuat Ayu sang Ibu tidak mendengar teriakan Fahrul.
"Mama tolong Fahrul!"
Tubuh Fahrul mulai melemas. Melintas lah empat orang laki-laki di pinggir tebing danau itu.
"Astagfirullah, ada anak kecil!" teriak salah satu dari mereka. Keempat orang tersebut menuruni pasir dengan menerjunkan diri berusaha menolong Fahrul dan Icha yang sudah di tengah danau dengan posisi telungkup.
Fahrul tak lagi bergerak tubuhnya mengapung lemas karena ia banyak terminum air danau.
Menyadari kedua anaknya tidak ada Ayu berlari mencari dan memanggil Fahrul dan Icha.
"Fahrul, Icha, di mana kalian!"
Ayu panik tubuhnya bergetar ia menangis mencari kedua anaknya. Ayu cemas Ia berlari lari ke setiap danau. Ketika sampai di danau yang paling besar Ayu terkejut dengan adanya ramai-ramai orang berenang dan mengangkat tubuh kecil.
Ayu sok anak yang diangkat adalah kedua anaknya Icha dan Fahrul. Ayu meraung dan menangis histeris.
Keempat orang tersebut membawa tubuh Fahrul dan Icha ke atas. Fahrul digendong dengan kaki di atas kepalanya di bawah agar air yang tak sengaja ia minum keluar semua.
Takdir berkata lain Icha sudah meregang nyawanya Fahrul pun demikian.
Ayu menyesali dan menangis terus berteriak-teriak menyebut Icha dan Fahrul.
Dipeluknya tubuh tak bernyawa itu Icha dan Fahrul. Tubuh dingin dan bibir pucat.
Keduanya telah tiada meninggalkan Ayu dan Suhar.
Selesai