Jimin pov
"Ini undangan pernikahan kami." Teman wanita sejak kecilku memberikanku undangan pernikahannya.
Ia ditemani oleh calon suaminya yang juga merupakan temanku sejak kecil.
Kami bertiga sudah berteman sejak kecil.
Flashback
"Saranghae, Jimin." kata teman wanita ku.
Ia menyatakan cintanya kepadaku.
"Maaf, aku tidak mempunyai perasaan cinta kepadamu." Aku menolaknya.
"Aku hanya menganggapmu teman."
Bukan. Bukan kalimat itu yang ingin aku ucapkan.
Aku juga mencintaimu, itu yang ingin aku ucapkan kepadanya.
Tapi kalimat itu tidak bisa aku katakan kepadanya. Karena teman priaku juga mencintainya. Kami berdua mencintainya.
Kalau aku mengatakan, aku juga mencintainya, itu hanya akan menyakiti teman priaku dan merusak hubungan persahabatan kami.
Ia pun berjalan meninggalkanku dengan air mata yang menetes di wajahnya.
Melihat air matanya, membuat hatiku teriris. Aku ingin memeluknya. Aku ingin menghapus air matanya.
Tapi aku menahan diriku. Semuanya demi persahabatan kami.
***
Saat ini aku duduk di bangku undangan.
Ia berjalan menuju ke arah altar. Ia sangat cantik dengan gaun pengantin yang ia kenakan.
Ia ditemani oleh ayahnya berjalan menuju ke sisi suaminya.
Ia dan suaminya akan mengikat janji suci.
Seharusnya ...
Seharusnya aku yang berada di sampingnya.
Seharusnya untukku lah senyum bahagianya saat ini.
Seharusnya akulah yang mengucapkan janji suci dengannya.
Seandainya aku bisa kembali ke masa lalu. "Na do saranghae" itulah yang akan aku ucapkan untuknya.
Sekarang aku hanya bisa mendoakan kebahagiaan mereka.
I wish I can say "I love you too" that day