"Oppa ... Kok bisa masuk?" Hana yang sedang berbaring di ranjang karena demam terkejut melihat kakak senior di kampusnya masuk tiba-tiba ke dalam kamarnya.
"Maaf ... Aku sedari tadi sudah mengetuk pintu tetapi tidak ada jawaban. Aku kawatir kalau kau pingsan. Jadinya aku minta pengurus apartemenmu untuk membuka pintu." Kakak senior Hana menjelaskan sambil menggaruk kulit kepalanya dan memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Hana hanya diam. Di satu sisi ia merasa senang kakak senior yang ia suka datang. Di satu sisi ia takut. Sekarang kondisinya tidak begitu baik.
Soo Bin membuka bungkusan plastik yang berisi bubur. Ia menyuapi Hana.
"A-Aku bisa makan s-sendiri." Hana terbata-bata. Bagaimana tidak kakak senior yang selalu tidak peduli dengannya malah berada di depannya. Menyuapi dirinya lagi.
Soo Bin lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air hangat dan memberikannya ke Hana.
"Kau sudah minum obat?" Soo Bin meletakkan telapak tangannya ke pelipis Hana.
Masih terasa panas.
"Belum ..." Hana yang sedari pagi demam tinggi memang tidak bisa berjalan untuk membeli obat.
Soo Bin lalu mengambil obat demam yang ia beli di apotik dan memberikannya ke Hana untuk diminum.
"Nama obatnya apa, oppa?" Hana punya alergi obat. Jadi ia harus berhati-hati saat meminum obat.
"M." Soo Bin menyebut sebuah merk.
"Oppa ... Mianhae. Aku tidak bisa meminumnya. Aku alergi dengan obat merk M."
"Merk apa yang bisa kamu minum?" Soo Bin bertanya.
"Merk S."
Soo Bin lalu memakai jaketnya keluar dari apartemen Hana. Ia membeli obat yang bisa Hana minum. Hana melihat Soo Bin yang pergi tanpa pamit.
Oppa pergi?
Apa ia sakit hati denganku karena tidak mau meminum obat darinya?
Hana hanya mengira-ngira. Ternyata dugaannya salah. Soo Bin membeli obat yang bisa Hana minum.
"Gamsahamnida, oppa." Hana meminum obat yang baru saja dibeli Soo Bin.
Soo Bin menemani Hana sepanjang malam. Ia takut demam Hana semakin tinggi. Ia menempelkan kompres biru di pelipis Hana.
Keesokkan harinya demam Hana sudah turun. Hana merasa agak sehat.
"Kalau aku sudah sehat, aku akan melakukan apa saja untuk oppa." Hana sangat berterima kasih. Dirinya yang hanya tinggal seorang diri ada yang menemani dan merawatnya di saat ia sakit.
"Apa saja?"
"Apa saja yang aku sanggup untuk aku lakukan."
"Jadilah pacarku."