METAMORPHOSIS
Siang hari itu di atap sebuah sekolah menengah atas, sepasang murid laki-laki dan perempuan tampak terlibat sebuah pertengkaran.
“Jelaskan padaku apa maksudnya dengan video ini?!” tanya seorang gadis sambil menunjukkan ponselnya pada pemuda di depannya. Rambut hitam panjangnya berkibar tertiup angin kencang, begitu pula dengan roknya.
“Itu aku memangnya kenapa?” jawab si pemuda dengan raut wajah tak berdosa. Dia berdiri santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
“Lalu siapa gadis yang bersamamu di video ini? Apa dia pacar barumu?” Cecar gadis itu lagi dengan wajah bersemu merah menahan emosi.
“Memangnya kenapa?”
“Brighton! Apa kau gila! Kenapa kau selingkuh dariku?!” bentak si gadis dengan ekspresi antara kecewa dan tak percaya.
“Selingkuh? Heh, jangan delusional! Sejak kapan kau jadi pacarku? Sudah ya aku pergi! Aku masih ada kelas! ” Pemuda yang dipanggil Brighton malah tersenyum meremehkan.
“BRIGHTON! Hiks! Setelah apa yang kita lakukan bersama, kau memperlakukanku seperti ini? Hiks ... Lalu selama ini kau anggap aku apa?” Si gadis mulai menangis terisak namun Brighton tak menunjukkan rasa penyesalan sedikitpun.
“Aku memang tidak menganggapmu apa-apa! Salahmu sendiri kenapa kau sangat murahan! Hanya karena kita pernah tidur bersama bukan berarti ini kita pacaran!”
PLAKK!
“Kau! Dasar br*ngsek! B*jingan!”
Tamparan keras mendarat di wajah Brighton sebelum gadis itu berlalu dengan diiringi isak tangis. Cap tangan warna merah tergambar jelas di pipinya namun dia hanya mengusapnya sebentar sebelum mengedikkan bahunya acuh.
Namanya Brighton De’Angelis, wajahnya tampan rupawan dan saking tampannya banyak orang menyebutnya cantik. Rambutnya hitam legam, kulit putih bersih dengan tinggi 175 cm dan postur cukup atletis bagi pemuda seusianya. Begitu sempurna penampilannya dia seperti seorang idola atau pemuda yang keluar dari manga atau manhwa. Selain terlahir dari keluarga kaya raya Brighton juga diberkahi dengan kecerdasan di atas rata-rata. Maka tidak heran jika dirinya menjadi pemuda dambaan murid perempuan di sekolahan ini.
Sayangnya wajah yang rupawan itu tidak dibarengi dengan kepribadiannya. Banyak rumor beredar tentang dirinya bahwa dia seorang playboy kelas kakap alias f*ckboy yang sudah merenggut keperawanan banyak gadis di sekolah ini. Anehnya hal itu tak memadamkan niat para gadis untuk berkenalan dan berkencan dengannya.
Bagi mereka menaklukan hati seorang Brighton adalah sebuah tantangan dan berkencan dengannya adalah sebuah kemenangan, sayangnya pada akhirnya yang mereka dapatkan hanyalah kekecewaan. Britghton sendiri hanya menganggap semua itu permainan. Dia tak pernah berminat untuk menjalin hubungan cinta yang serius, di usianya yang masih remaja ini yang dia inginkan hanyalah bersenang-senang.
***
BRUKKK!
“OUCH sialan! Lihat-lihat kalau jalan! Apa kau ini buta?” Bentak Brighton pada seseorang saat mereka tak sengaja bertabrakan di tengah jalan. Saat itu dirinya baru saja turun dari tangga di koridor, tubrukan yang keras membuat debum keras saat bokongnya menghantam lantai dingin sekolah.
“Ah, maaf! Maafkan saya!” Seorang pria berkacamata tebal dengan rambut ikal kelimis dan setelan jas lapuk membungkuk sopan. Dia lalu sibuk mengumpulkan buku-buku dan kertas yang berceceran di jalan dan memasukannya kembali ke dalam tasnya.
“Apa kau tidak apa-apa, dik?” tanya si pria penabrak dengan nada khawatir, dari lensa kacamatanya yang tebal dia menatap Brighton penuh perhatian. Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Brighton berdiri tapi malah mendapat hardikan kasar.
“Cih! Tak perlu sok akrab dan sok baik padaku!” ucap Brighton dengan ketusnya. Namun saat keduanya berdiri berhadapan Brighton baru tersadar, tubuh pria ini jauh lebih tinggi darinya. Ditambah lagi dari penampilannya yang dewasa, dia jelas bukan murid di sekolah ini.
“Apa yang kau lihat? Dasar creepy!” Brighton bersungut-sungut sebelum kemudian berlalu pergi.
***
“ANAK-ANAK! MOHON PERHATIANNYA KESINI! Di mohon duduk tenang, perkenalkan Pak Isaac Iverson akan menjadi guru baru disekolah ini. Kalian semua harus patuh dan hormat padanya! Mengerti!” Suara cerewet dari wanita paruh baya yang merupakan Kepala Sekolah terdengar diantara riuh rendah dan cekikikan para siswa.
“Jadi dia guru baru? Tampangnya aneh, menggelikan sekali!” Komentar seorang siswi sambil berbisik dan cekikikan dengan teman sebangkunya.
“Apa kalian ada pertanyaan?!” tanya wanita itu.
“Iya, Selina! Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Pak Guru! Apa bapak sudah menikah atau punya pacar?” Seorang gadis berambut merah kecoklatan mengangkat satu tangannya ke udara. Dari pertanyaannya dan gaya berpakaian seragamnya yang terlalu seksi dan urakan, dia tampak seperti gadis nakal dan pemberontak.
“Be-belum, saya masih single!” Isaac menjawab dengan malu-malu, saking gugupnya dia membetulkan lecak kaca matanya berulang kali.
“Tentu saja dia masih perjaka! Siapa juga yang mau jadi pacarnya! Hahaha!” celetuk Brighton yang dibarengi tawa teman satu gengnya.
“Lihat kacamata tebalnya! Dia jadi seperti serangga! Kau tahu? Belalang sembah! Hahaha!”
“Pak guru! Gaya fashion bapak kuno sekali? Bapak suka belanja dimana, sih? Apa di toko loak?”
Kalimat ledekan saling bersahutan dari penjuru kelas. Brighton duduk di bangku paling belakang menatap guru baru itu dengan senyuman puas. Tak lama kelas kembali riuh seperti di pasar, pesawat kertas dan pulpen melayang di udara. Siswa-siswi di kelas ini terlihat tak mengenal kata hormat pada guru ataupun spontan santun, mereka tak mengindahkan sama sekali dua orang pengajar yang berusaha menertibkan mereka.
***
“Kau lihat sendiri, Isaac? Beginilah kondisi di kelas F ini! Murid-muridnya dikenal sangat bandel, terutama pemuda bernama Brighton! Dia adalah biang onar di kelas ini. Kami sudah memberinya detensi berulangkali tapi pemuda itu tak pernah kapok. Semua karena orang tuanya yang merupakan donatur terbesar sekolah ini. Aku harap kau bisa bertahan mengajar disini setidaknya sampai satu semester!” Itulah kalimat yang diucapkan wanita kepala sekolah itu sebelum berlalu pergi, meninggalkan Isaac sendirian di dalam kelas yang kacau seperti kapal pecah.
***
Beberapa hari berlalu, Isaac tampak sudah terbiasa dengan situasi di sekolah ini dimana tidak ada murid yang menghargainya sebagai guru. Di sekolah swasta elit ini profesi guru tak lebih dari hanya pesuruh para murid. Dia bahkan sering menjadi target buli dari murid-murid nakal. Dia pernah dikunci di dalam toilet, kehilangan tasnya dan disembunyikan dalam tong sampah, bahkan dicorat-coret kap mobilnya dengan tulisan tak senonoh. Demi pekerjaan, Isaac mencoba bersabar dari semua perlakuan murid nakal itu, terutama dengan murid bernama Brighton, namun suatu saat kesabarannya habis.
“Jadi setelah larva berada dalam fase kepompong, selanjutnya mereka akan berubah menjadi kupu-kupu...”
Hari itu jam pelajaran biologi, Isaac sedang menerangkan sambil menggambar skema metamorfosis di atas papan tulis. Suara murid menguap dan mengobrol terdengar dibelakangnya namun Isaac tak peduli, dia memilih fokus dengan materi yang diajarkannya.
“BANG BANG BANG!” Suara rington lagu berirama hiphop terdengar begitu keras menginterupsi dan mengagetkan Isaac hingga kapur tulis yang dipegangnya patah.
“Halo? Ya? Ada apa Alicia?” tanya Brighton pada seseorang yang meneleponnya.
“APA? KAU HAMIL?! Sudah pasti bukan aku ayahnya! Aku kan selalu pake penga- ... Hei, apa yang kau lakukan, kembalikan ponselku!” Bentak Brighton aral pada si perebut ponselnya. Namun dia kemudian terdiam saat menyadari siapa orangnya.
“Sebaiknya kau matikan ponselmu saat jam pelajaran dan fokus pada materi!” Geram Isaac mencoba menahan amarah. Tangannya yang memegang ponsel juga terlihat gemetar hebat.
“Huahm! Habisnya kelas ini membosankan!” balas Brighton dengan cueknya sambil bersandar ke kursi dan meregangkan kedua tangannya malas.
“ Apa kau tidak sadar? Caramu mengajar kuno sekali, hanya menulis terus di papan tulis dan bicara sendiri! Meskipun gambarmu bagus tapi semua yang kau ajarkan bisa aku temukan di google!”
“Iya benar! Tidak berguna!” Murid yang lain mulai ikut menimpali.
“Untuk apa orang tuaku membayar mahal iuran sekolah ini jika gurunya seperti Bapak!”Komentar murid yang lainnya bersahutan, mereka ikut mendukung Brighton dan menyudutkan Isaac. Dalam situasi itu Isaac hanya terdiam tak bisa membalas perkataan murid-muridnya, dan suasana kelas kembali ricuh seperti di pasar.
***
“Aku tidak suka dengan pak guru itu! Dia menyebalkan dan membosankan! Bagaimana dia bisa diterima masuk sekolah ini?” Ujar Brighton suatu hari di waktu istirahat makan siang. Seperti biasa dia sedang nongkrong bersama rekan-rekannya di atap sekolah.
“Kalau aku baca latar belakangnya, dia adalah seorang profesor ahli biologi tepatnya entimologi dari Universitas bergengsi di negara ini. Seharusnya dia menjadi dosen tapi anehnya dia malah memilih menjadi guru di SMA ini.” Komentar seorang teman Brighton yang berpenampilan paling ‘nerd’ dengan rambut cepak dan kacamatanya.
“Aku tak peduli latar belakangnya! Pokoknya dia harus segera dipecat! Aku tak suka caranya dia menatapku!” cetus Brighton dengan nada kesal.
“Tapi bagaimana caranya?” tanya rekan yang lainnya.
“Aku tahu caranya!” Brighton tersenyum simpul saat ide brilian muncul dalam pikirannya.
***
Keesokan harinya di jam sepulang sekolah.
Isaac berdiri sendirian di depan pintu laboratorium Kimia, matanya menatap ragu dan cemas sebelum kemudian dia memberanikan diri memutar knop pintunya. Di melangkah masuk ke dalam ruangan yang terlihat sepi dan gelap, deretan kursi disusun terbalik di atas meja panjang. Bau khas dari berbagai bahan kimia samar tercium di udara datang dari deretan botol di rak dinding. Isaac mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan sebelum kemudian terbelalak saat menemukan seorang gadis familiar menunggunya disana.
“Pak Guru!” panggil gadis itu dengan riang. Dia menghampiri Isaac dan tiba-tiba saja memeluknya.
“Apa yang ingin kau bicarakan Selina? Kenapa kau ingin bertemu disini?” tanya Isaac antara cemas dan curiga. Dia merasa tak nyaman dengan situasi ini. Berdua di ruangan yang sepi bersama murid perempuan yang terkenal sebagai gadis agresif.
“Aku ingin mengatakan sesuatu pada pak guru ... sejak pertama kali melihat bapak, aku jatuh cinta!”
“Apa maksudmu?” Isaac mengkerutkan alisnya dan menatap tak percaya.
“Kalau bapak tak percaya, bapak boleh melihat langsung isi hatiku!” ujar Selina sambil kemudian dia tiba-tiba membuka kancing di dadanya dan melucuti sendiri pakaiannya di depan Isaac.
“Tu-tunggu dulu, Selina ada apa ini? Apa yang kau lakukan? Pakai bajumu kembali!” Isaac mendadak panik, dia tersadar dirinya sedang dijebak dan benar saja detik selanjutnya hal yang paling tak dia inginkan terjadi.
“KYAAA! TOLOOONG!!! DIA MENCOBA MEMPERKOSAKU! TOLOONG!”
Jantung Isaac seolah berhenti berdetak saat gadis bernama Selina berteriak begitu keras hingga jeritannya terdengar seisi sekolah. Kecemasannya bertambah saat sekelompok pemuda muncul dari balik tumpukan kursi sambil tertawa terbahak, salah satu diantaranya memegang kamera yang jelas dalam posisi menyala.
“Kerja bagus Selina! Dasar guru mesum! Tempatmu bukan di sekolah ini!” ujar Brighton sambil tergelak.
***
Hari berikutnya di ruangan kantor kepala Sekolah.
“Saya bersumpah! Saya tidak melakukannya! Saya dijebak! Ibu bisa melihat sendiri di rekaman CCTV sekolah ini jika gadis itu yang mengajak saya lebih dulu ke sana!” Isaac mati-matian berusaha membela diri. Rahangnya mengeras dan matanya memerah menahan emosi yang membuncah dalam dadanya.
“Maafkan saya Pak Isaac, meskipun anda terbukti tidak bersalah, kami tak bisa mempekerjakan anda disini! Ini adalah sekolah swasta dimana segala keputusan ditentukan oleh para donatur dan pemegang saham yaitu para orang tua. Saya doakan anda akan mendapatkan perkerjaan di tempat lain!”
Kalimat yang diucapkan sang wanita kepala sekolah tak meringankan beban dalam hati Isaac. Dia merasa keadilan sama sekali tak berpihak padanya.
***
“Hahaha! Dasar guru bodoh! Melihat gadis hanya memakai bra saja wajahnya langsung merah seperti kepiting rebus! Sepertinya dia memang masih perjaka ting ting! Hahaha!”
Sore itu di atap sekolah suara tawa Brighton dan teman-temannya terdengar begitu keras. Dia tampak puas dengan rencananya yang berlangsung sukses. Hanya dalam hitungan hari guru baru pria itu dipecat dan tak terdengar lagi kabarnya.
“Dengan video seperti itu, dia akan sulit mencari pekerjaan sebagai guru dimanapun! Duh, kasihan sekali!” Komentar Selina terdengar seperti ikut prihatin namun raut wajahnya tak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun.
***
Tak lama kemudian video itu menjadi viral tak hanya di lingkungan sekolah tapi juga ke seluruh negeri. Reaksi Isaac saat panik terciduk gerombolan para siswa bahkan menjadi meme di internet. Belakangan dia dikenal sebagai ‘insect teacher’ atau ‘guru serangga’ karena penampilannya yang terlihat menggelikan dengan kaca mata lensa tebalnya. Menjadi tersangka pelaku pelecehan seksual adalah skandal yang tentunya mencoreng karir dan nama baiknya, pada akhirnya Isaac menghilang seolah ditelan bumi, akun sosial medianya pun menghilang tak ditemukan lagi.
***
Satu semester berlalu, situasi sekolah kembali berjalan seperti biasa. Suatu ketika di malam minggu Brighton memutuskan untuk bersenang-senang dengan temannya. Usianya belum genap 18 tahun namun berpesta di klub malam ataupun mabuk-mabukan bukanlah hal baru baginya.
Malam semakin larut, terlalu banyak alkohol dalam sistem sarafnya membuat kepala Brighton pusing. Dia berjalan sempoyongan sendirian meninggalkan teman-temannya yang sibuk dengan kencannya masing-masing. Entah kenapa malam ini dia merasa bosan dan tak tertarik pada gadis teman kencannya. Lagipula baginya semua gadis sama, terlalu mudah untuk bertekuk lutut padanya, tidak ada tantangan lagi. Hidupnya serba mudah, segala sesuatu yang dia inginkan disodorkan di hadapan mata, namun entah kenapa Brighton merasa dirinya sangat hampa.
“Huekkk! Blergh!”
Tak sanggup menahan rasa mual, Brighton muntah di dekat tong sampah sebuah gang kecil yang gelap belakang klub malam. Dia mengeluarkan seluruh isi perutnya sebelum kemudian bersandar ke dinding dan selonjoran di aspal dingin saking lelahnya. Tiba-tiba bau busuk tercium hidungnya membuatnya kembali mual. Dari aromanya yang tak sedap ini bukan bau muntah ataupun sampah melainkan bau busuk seperti bangkai. Walaupun kepalanya masih pusing Brighton berusaha bangkit berdiri namun karena hilang keseimbangan dia berpegangan pada tong sampah di dekatnya.
“A-apa ini?”
DEG! Sesuatu yang berada di dalamnya membuat wajah Brighton yang semula merah karena mabuk menjadi pucat pasi. Tanpa sengaja dirinya melihat seonggok mayat gadis telanjang meringkuk di dalam tong sampah. Dari rambutnya yang panjang dengan warna merah kecoklatan, entah kenapa Brighton seperti mengenalinya. Brighton mengerjap dan memberanikan diri mengamati sosok itu dengan seksama.
“Apa mungkin dia itu ... Selina?” Mata Brighton terbelalak horor saat menyadari bahwa gadis ini memang Selina. Dia membuka mulut mencoba berteriak memanggil namun mimpi buruknya datang tanpa terduga, seseorang datang dari belakang membekap mulutnya dan mendekap tubuhnya erat.
“HMPH!!!” Brighton mencoba berteriak dan meronta sekuat tenaga tapi percuma. Yang keluar dari mulutnya hanya suara jerit tertahan dan semakin dia berontak, semakin kuat cengkeraman sosok itu di tubuhnya.
“Oh lihat siapa ini? Akhirnya serangga kecil yang kutunggu datang juga!” Bisik suara itu yang terdengar begitu familiar. Brighton sudah lama tak mendengarnya tapi dia masih bisa mengenalinya. Sekujur rambut di tubuhnya berdiri dan jantungnya berdegup kencang tak karuan. Brighton kembali meronta hebat, sialnya sesuatu dalam sarung tangan si penyerang membuatnya merasakan kantuk luar biasa. Tanpa bisa memberi perlawanan berarti, pandangan Brighton perlahan menjadi kabur dan menggelap.
***
Entah berapa lama Brighton tak sadarkan diri, dia terbangun di sebuah kamar berpencahayaan minim. Kamar dengan interior feminin dan childish dengan wallpaper, seprai, bantal serta kelambu warna pink dan penuh renda. Di tambah lagi dengan pernak pernik boneka seperti teddy bear dan juga boneka anak perempuan berbaju lolita terlihat di lemari dan setiap sudut ruangan.
“Kau sudah bangun?” tanya suara yang baru datang. Wajah Isaac yang familiar muncul dari sudut ruangan yang gelap, dia tersenyum lebar namun tatapan matanya begitu kosong dan hampa.
“Pa-Pak guru?” panggil Brighton dengan suara serak. Dia berusaha bangkit dari posisi tidurnya namun sial, rupanya kedua tangan dan kakinya terikat ke tiap sudut tempat tidur. Mimpi buruk Brighton belum usai,dirinya ternyata sudah berada dalam keadaan telanjang. Pikirannya menjadi liar, batinnya berharap lelaki ini tak melakukan hal gila pada tubuhnya namun sepertinya percuma.
“Akhirnya ... kau memanggilku juga dengan sebutan itu. Aku sangat senang mendengarnya...” ucap Isaac masih dengan senyuman mengerikan. Dia duduk di tepi ranjang jemarinya menarik dagu Brighton dan menatapnya dalam.
“A-APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU, DASAR MANIAK?!” Brighton menggertakkan giginya dan gemetar, sentuhan tangan pria ini begitu dingin di kulitnya membuatnya bergidik ngeri.
“Sepertinya kau memang tak pernah memperhatikan kelasku. Tentu saja aku ingin membantumu untuk bermetamorfosis!” Isaac menjawab dengan kalimat ambigu, jawabannya membuat batin Brighton semakin berkecamuk, perasaannya tak karuan antara bingung, cemas dan takut.
“Metamorfosis? METAMORFOSIS APA?” tanya Brighton, air mata panas menggenangi pelupuk matanya namun dia menahan diri untuk tak menangis. Dia adalah laki-laki tangguh, biasanya dialah yang membuat gadis menangis bukan sebaliknya.
“Apa kau tahu? Kau adalah murid paling cantik di sekolah! Lebih cantik dari para gadis, terutama gadis murahan seperti Selina!” Isaac mulai berkelakar.
“APA KAU GILA? AKU INI LAKI-LAKI! APA KAU GAY? MENJIJIKAN! LEPASKAN AKU SEKARANG JUGA!” Teriak Brighton dengan nada putus asa, “Ayahku dan Polisi akan mencarimu! Mereka akan menangkapmu dan memenjarakanmu dan memberimu hukuman mati!” geramnya lagi sambil menggertakan gigi.
“Apa itu penting? Bagiku kau spesimen cantik yang sempurna! Kau akan menjadi masterpiece-ku!” Jawab Isaac sambil bangkit dari ranjang. Dia kemudian menuju sebuah laci dan mengambil sebuah jarum suntik berisi cairan aneh berwarna biru dari sana.
“Ti-tidak! TIDAK! JANGAAAN!”
***
“Sudah kuduga! Kau memang yang tercantik dan paling sempurna, Brittany De’Anggelis!”
Isaac tersenyum puas saat dia membetulkan letak pita di rambut panjang pemuda dalam balutan lolita dress di hadapannya. Dia merapihkan gaun yang Brighton kenakan dan mengecup dahinya lembut, bau formalin yang pekat membuat hidungnya mengernyit namun dia kembali tersenyum. Isaac dengan hati-hati memasukan tubuh pemuda yang sudah kaku dan mengeras itu ke dalam peti kaca dengan tulisan “My Butterfly Collection #7” di samping manequin cantik hasil awetan lainnya.
“Baiklah, sekarang sekolah mana lagi yang bisa kudatangi...” gumamnya sambil membuka website lowongan kerja di layar laptopnya.
TAMAT
AN : Visual Karakter
Brighton De'Angelis : V (Taehyung) - BTS
Isaac Iverson : Lee Dongwook (actor)
Bagi yang suka cerita menegangkan bergenre thriller/detektif, mampir yuk ke karyaku "The File Of B" Kisah seorang gadis detektif 17 tahun bernama Billie, yang nekat menyamar demi mengungkap berbagai kasus kejahatan. Volume 1 sudah terbit bisa PO tanggal 10-28 September 2021 di akun shopee @atpress2014
Penasaran? Yuk, baca dulu bukunya!