Sejak hari itu, aku dirundung rindu. Disetiap do'aku selalu terselip keinginan untuk kembali bertemu denganmu. Apakah takdir menyetujuinya? Apakah takdir akan mempertemukanku dengannya? Aku harap jawabannya adalah iya.
***
Aku berlari menembus jalan becek setelah diguyur hujan semalaman untuk segera sampai di sekolah. Hari ini upacara, jika aku terlambat maka akan mendapatkan hukuman. Ini salahku, kedua orang tuaku sudah memperingatkan untuk berhenti bermain hp dan bergegas tidur. Namun hp itu sudah berhasil menjeratku dalam permainannya, saking asiknya berseluncur di dunia maya, aku sampai lupa waktu dan istirahat. Bangun-bangun sudah pukul setengah tujuh pagi, saat akan pergi sekolah mendapat ceramah dari orang tua.
Aku biasa berangkat sekolah dengan berjalan kaki, karena jarak antara rumahku dengan sekolah yang tidak begitu jauh. Namun, kali ini berbeda.. Sungguh.. Rasanya jarak antara rumahku dan sekolah bertambah berkali-kali lipat, terasa sangat jauh dan melelahkan.
Sampai di depan pintu gerbang, dia sudah tertutup. Aku menghela nafas berat.
"Kita pakai gerbang belakang" ujar seseorang dibelakangku, aku menoleh dan melihat seorang lelaki bertubuh tinggi yang sedang menatapku serius. Aku menenggak ludah dan mengangguk mengikuti ucapannya.
Jujur saja aku takut dengan gerbang belakang, disana ada dua anjing yang berjaga dan sangat galak. Aku pernah lewat sana dan berakhir di kejar hingga nangis kejer.
Aku malu jika mengingatnya, lupakan saja.
Sesampainya di depan gerbang belakang, lelaki tersebut menangkupkan kedua telapak tangannya hingga membentuk seperti mangkuk.
"Naiklah duluan".
"Apa tidak apa-apa?" dia mengangguk. Aku pun melakukannya kemudian duduk di atas tembok gerbang, kemudian disusul olehnya. Kami bertos ria lalu tertawa, namun...
"Hei! Turun kalian!".
Teguran pak satpam itu membuat tawa kami terhenti. Kami menoleh serentak ke belakang.
***
Kenapa hari ini matahari terasa sangat panas? Aku berdiri bersama lelaki ini seraya hormat di depan tiang bendera. Di lantai tiga sekolah, teman-teman kami menertawakan kami. Aku hanya bisa menghela nafas berat.
Selesai dihukum aku pergi ke kantin untuk makan siang. Disana aku kembali bertemu dengan lelaki itu. Dia... Terasa tidak asing di mataku, suaranya lembut menenangkan juga seperti pernah aku dengarkan.
"Siapa dia?" gumamku heran.
"Dia Vlay, lelaki kutu buku sekolah ini" tiba-tiba ada yang menyahut gumamanku, aku menoleh ke sumber suara, ternyata Rayu. Dia teman sekelasku.
"Kutu buku? Apa dia sering ke perpus?" Rayu mengangguk.
"Apa memang benar kalian itu orang yang sama?" batinku.
***
Minggu ini aku pergi ke swalayan untuk membeli bahan makanan, saat hendak mengambil makanan di rak paling atas, tinggi badanku yang tidak seberapa ini hanya bisa berharap bisa menggapainya. Tanganku terjulur berupaya mengambilnya.
Tiba-tiba kaleng yang ingin aku ambil jatuh mengenai kepalaku, pusing. Untung saja kalengnya tidak pecah. Lalu, benda di depanku tiba-tiba tertarik ke belakang.
"Seringlah olahraga melompat, hingga tinggimu sama denganku, supaya tidak dikira kakak-adik jika kita bersanding di pelaminan. Kita bertemu lagi, Niyu" aku tertegun mendengar ucapannya.
"Tunggu..!" aku berlari mengejarnya, ia berhenti lalu menoleh.
"Kamu... Vlay?" dia mengangguk.
"Terima kasih sudah membantuku" dia mengangguk lagi kemudian pergi. Aku tersenyum senang.
***
Pertemuan pertamaku dengannya membuat kisah yang tiada habis rasanya, setiap mengenang maka jantung akan berdebar-debar. Senyumannya mampu membuat hatiku meleleh bak es krim yang didiamkan di ruang terbuka.
Sejak hari itu, aku merasa menjadi pengagum rahasiamu. Memantaumu dari jauh dan tersenyum bila kau bahagia.
Bertemu denganmu menurutku adalah sebuah anugerah, anugerah dari Tuhan yang sangat indah.
Terima kasih, Tuhan...
End
-Jangan lupa like!
-Jangan lupa komentar!
Terima kasih😊