Aku berpikir saat ini, berpikir bagaimana cara ampuh untuk membalas dendam terhadap 3 murid yang sering membullyku.
Ide untuk membalas dendam tersebut kosong melompong, bagai kerang tanpa sebutir mutiara. Hanya soal nanti aku menemukan ide tersebut, dan rasa terimakasih dalam diriku akan aku sampaikan pada orang yang membuatku menemukan ide tersebut.
💣💣💣
Namaku Nevan, umur 12, kelas 6 SD. Aku sering dibully oleh 3 murid sekelasku hanya karena aku satu-satunya murid di kelasku yang memakai kacamata. Mereka bertiga yang sering membullyku adalah Owen, Liam, dan Juan. Mereka bertiga memang terkenal nakal, bar-bar, jarang mengerjakan PR, suka gelud, dan sering dimarahi oleh guru.
Saat ini adalah pelajaran IPS, dan kami sedang belajar mengenai politik adu domba yang dilakukan Belanda terhadap Indonesia.
Guru IPS sedang menerangkan materi tersebut, di tengah suasana yang mendung.
Aku mendengar dan memperhatikan guru dengan saksama. Ketika ia menjelaskan mengenai materi itu, aku menyimaknya dengan amat serius.
Tunggu!
Aku menemukan ide!
Aku bisa membalas dendam terhadap mereka dengan teknik adu domba!
Sebentar...
Bagaimana caranya ya? Mereka pasti tak akan percaya pada hasutan dariku.
Ah, benar juga!
Tapi aku tak menyerah begitu saja, aku akan cari caranya sampai dapat!
💣💣💣
Aku bergegas pulang.
Pokoknya aku harus cari cara!
Kalau tidak...
"Aaaaww" Aku terjatuh ke depan di atas lantai lorong sekolah.
Dan aku tahu apa penyebabnya.
Liam, dia yang menjatuhkan aku dengan menggunakan kaki kanannya ketika aku hendak keluar dari kelas. Dan Liam tidak sendirian, ia ditemani Owen dan Juan.
"Mampus!" Timpal Owen.
"Kenapa gak sekalian kacamatamu ikut pecah tuh, kena lantai?" Ujar Juan.
Aku tak memedulikan mereka, aku berlari, bergegas pulang.
Ya. Kalau tidak, mereka akan terus membullyku.
💣💣💣
Ketika aku sedang di kamar.
Suara notifikasi WA tiba-tiba berbunyi. Pandanganku teralih dari buku PR, bergegas melihat hp ku.
Rupanya ada nomor telepon tidak dikenal yang telah mengirim pesan padaku! Ia menulis, "Hei kau, murid berkacamata!"
Rasa penasaran menghampiri diriku. Aku mengetik seperti ini, "Maaf, ini dengan siapa ya?"
Orang itu sedang mengetik. Beginilah tulisan yang ia ketik:
"Aku tahu kamu adalah Nevan."
"Umur 12."
"Kelas 6 SD."
"Aku hacker!"
Jantungku berdegup kencang. Hei, bagaimana ia bisa mengetahui identitas aku begitu saja! Siapa dia sebenarnya? Apa tujuannya ia berbuat seperti itu padaku.
Sayangnya, aku percaya begitu saja, tak berpikir panjang.
Lanjut, dia berkata seperti ini setelahnya:
"Hei kau, murid berkacamata."
"Aku tuh adikmu!"
Seketika suara tawa terdengar di kamar adikku. Astaga, ternyata dia yang berbuat hal ini padaku!
"Ya ampun dek!" Aku bersungut-sungut sambil masuk ke kamar adikku.
"Maaf atuh, kak. Aku tuh lagi gabut banget nih, gak ada kerjaan, hehehe."
"Iya deh, aku maafin."
Aku meninggalkan kamar adikku.
Eh, tunggu sebentar!
Ya, AKU MENEMUKAN IDE!
Aku bisa mengadu domba, menghasut mereka lewat no. WA yang sama sekali tidak dikenal oleh mereka. Lalu aku menghasut mereka dengan berpura-pura menjadi Juan!
Benar juga!
Dengan semangat aku kembali ke kamar adikku, memeluk dia erat-erat.
"Makasih ya dek. Sungguh terima kasih!" Aku mengucapkannya dengan penuh rasa sungguh-sungguh.
"Loh, kamu kenapa sih?" Tanya adikku heran.
"Pokoknya terima kasih aja!" Aku mengulang kalimatku.
Adikku semakin heran padaku, lebih heran lagi ketika aku mendadak keluar dari rumah.
"Kak, kamu mau ke mana?"
"Mau beli kartu kuota!" Ucapku lantang.
Adikku membuatku mendadak memiliki ide, sungguh. Tanpa berlama-lama lagi, aku bergegas membeli kuota. Setelah itu kembali ke rumah, memasang kartu kuota yang aku beli barusan. Lalu menyalakan daya hp. Membuat kloning aplikasi WA. Mendaftar no. WA menggunakan nomor kartu kuota yang baru aku beli itu. Selesai.
Waktunya aksi ini dimulai.
Inilah curahan dendam atas diriku yang kelam.
💣💣💣
Aku masuk ke kelas dengan penuh keberanian.
Lalu kedua mataku menatap sebuah pertengkaran.
"Woi, Liam. Apa maksud kamu bilang aku gendut gak guna, hah?" Owen terlihat amat marah pada Liam.
"Sejak kapan woi, kamu yang bilang aku kulit hitam jelek!" Liam tak terima.
"Kaga oi!"
"Heh, Juan sendiri yang kasih tau ke aku!"
"Juan juga kasih tau gitu ke aku!"
Tiba-tiba datanglah Juan.
Waktu yang tepat.
"Heh, Juan. Bener kan kalau Liam bilang padaku bahwa aku gendut gak guna!
"Juan, Owen bilang padaku kalau aku berkulit hitam jelek. Benar kan! Toh kau sendiri yang bilang seperti itu padaku!"
Seketika Juan terkejut bukan main.
"Loh, aku tidak bilang seperti itu pada kalian, sungguh! Kita kan teman."
"Lantas apa ini!" Owen menunjukkan hp nya yang menunjukkan chat WA itu.
"Loh, i... itu siapa!" Juan terkejut melihatnya.
"Loh, ini kan kamu! Oh, jangan bilang kalau kau kemarin mengerjai kami!" Owen marah besar pada Juan.
"Benar juga! Heh Juan, apa ini semua hanya tipuan?" Liam ikut marah.
"Ti... tidak!"
"BOHONG! AKU TAK AKAN PERNAH BERKATA SEPERTI INI PADA OWEN!"
Mereka bertiga bertengkar hebat, didepan kelas.
Kini aku duduk di kursiku, sambil menatap mereka.
Saat ini, dalam hatiku, aku sedang tertawa jahat, melihat mereka yang kini tiada lagi ada arti akur.
Dendamku terbalaskan di sini, hari ini, pagi ini.
Sungguh hari yang paling menyenangkan bagiku.
Adu domba ini sungguh luar biasa, sebab aku menghujat Liam dan Owen dengan menyamar menjadi Juan, bukan diriku sendiri yang menghujat mereka.
Sejak saat itu, mereka bermusuhan selamanya, dan tidak berselera lagi untuk membullyku.
Aku menjalani kehidupanku di sekolah dengan bahagia, tiada setitik rasa sakit dalam hati.
Rasakan itu, wahai kalian bertiga... mwuhuhuahahahaha...
~ TAMAT ~
Follow IG ku: @rainhard.frealdo
Follow MLBB ku: TheCircleOfFire. ID: 635724455
Jangan lupa untuk membaca cerpen karya saya yang lain di bawah ini ya :) 👇🙏
Jangan lupa juga untuk membaca novel pertama saya: "Dunia Langit". 🙏🙏