Pertemuan Pertama Dengannya
"Hem, bagaimana cara ngomongnya yah? Gue juga bingung mau cerita dari mana dulu," jawab gue sambil merapikan buku.
"Ayolah Rey, masa Lu gak ingat sama sekali sih," jawab sahabat gue yang bernama Kay.
"Iyah nih, pasti Lu malu kan cerita sama kita," sahut si mulut lamis yang bernama Anna.
"Bukannya gue gak mau cerita, tapi gue itu 'bingung harus ceritain mulai dari yang mana," sahut gue menekan kata bingung.
"Kalau gitu ceritain pas awal lu ketemu sama Dion," sahut Anna di barengi anggukan dari Kayra.
✨✨✨
Nama gue Reynia Judith. Gue bukan anak yang baik, cantik, pinter, apalagi Famous. Sekarang adalah hari paling sulit dalam hidup gue kenapa? Yah karena gue harus pindah sekolah. Huh, gue itu tipe orang yang pendiem dan gak suka ngomong, tapi gue pengen punya temen, duh gimana sih konsepnya?
"Anak-anak tolong perhatikan sebentar, ada berita bagus nih untuk kalian," ucap guru dengan suara lantang.
"Ada apa sih pak? Sekarang bukan pelajaran bapak," jawab anak laki-laki berandalan.
"Hus, Agus lu mau di tonjok lagi," sahut anak cewek yang serem.
"Ada anak baru yang datang dari luar kota, jadi bapak mau kalian akrab dengannya dan mau membantunya," jawab guru itu sambil nyuruh gue dateng.
"Halo kenalin nama gue Reynia Judith. Asal sekolah gue di SMAN BK".
"Wow, gue gak salah kan? Bukannya itu sekolah elite yah? Ngapain dia pindah ke sekolah bobrok kayak gini," sahut cowok rambut ikal.
"Hush," sahut anak di sebelah.
"Oke Rey silahkan duduk di samping Jay," ucap pak guru yang gue jawab anggukan.
Sebenarnya gue sedikit aneh sih karena banyak anak natap gue tajam, tapi mau gimana lagi gue gak bisa compline ke mereka. Oke jangan ngurusin mereka Rey. Inget teman sebelah jadiin dia teman oke!.
"Halo nama gue Rey siapa nama Lu," ucap gue sambil ngodorin tangan.
1 detik, 2 detik, 3 detik, 10 detik. Sumpah tangan gue keburu kesemutan. Baru hari pertama aja gue di cuekin sama ni orang apalagi seterusnya. Gue ngerasa lemah, letih, lesu yang buat gue ngantuk.
"Hey, kalau ada guru bangunin gue oke," sahut gue sambil lihat anak itu mengangguk.
Brak
"Nani? Nani? Nani?," gue bangun dengan kepala pusing.
Sumpah siapa sih yang nggangu tidur orang. Dengan mengumpulkan kesadaran, gue lihat siapa sih yang berani nggangu orang lagi enak tidur. Eh buset! saat gue mendongak gue udah lihat guru killer yang udah siap ngomel.
"Kamu anak baru itu yah? Baru aja masuk tapi kenapa udah bikin masalah? Lain kali ibu gak mau tahu kalau kamu tidur di kelas mending kamu gak udah sekolah...," ucapnya panjang x lebar x tinggi.
"Baik Bu," jawab gue lesuh. Sumpah gini-gini gue malu guys. Masa hari pertama sekolah gue di kacangin, di marahin guru, dan di ketawain anak sekelas.
Setelah pelajaran berkahir gue beranikan diri buat tanya sama teman sebangku gue. Gue pasang wajah ramah dan senyuman lebar "Hey, ngapain Lu gak bangunin gue sih?".
Dia diam seribu bahasa.
"Hey, Lu ngerti apa maksud gue?".
~"Gue ini udah nahan emosi buat gak seplak kepala Lu, jadi jawab kek". Maunya sih ngomong kayak gitu tapi gue ngerasa gak enak hati.
"Halo teman sebangku, gue kan tanya sama Lu, bukan sama udara, jadi jawab dong," sahut gue kesel.
Mungkin karena lama menunduk dia merapikan rambutnya yang panjang. "Bodo ama-- what the duck". Sumpah mata gue gak rusak kan? Bisa-bisanya gue lihat teman sebangku gue bercahaya sampai-sampai ada bunganya gitu. Bener-bener deh, pasti ini akibat gue temenan sama kakak gue yang suka nonton Komik.
Tapi, tapi, beneran deh. Waktu dia benerin rambut poninya yang panjang dia ganteng banget. Ekhem, bukan berarti gue suka yeh sama dia. Ekhem, fokus Rey.
Jam istirahat berbunyi. Gue yang dari tadi lihat teman sebangku di datangin sama anak-anak yang lain. "Woy! Anak baru, ngapain lu lihat Dion terus? Lu naksir yah sama dia?," tanya anak berkuncir kuda.
"He anak baru Lu gak mau ke kantin?," Tanya anak perempuan cantik.
"Duluan aja," gue jawab dengan singkat. Untuk beberapa saat anak-anak lihat gue aneh tapi mereka langsung pergi saat gue memiringkan kepala.
"Eh nama Lu Dion yah? Ngapain Lu gak ngomong?," Jawab gue sambil rebahan.
"Dion itu nama Lu kan? Apa nama lengkap Lu".
Hadeh, percuma juga gue ngomong sama tembok. Iyah sih gue akuin kalau wajahnya ganteng, tapi kalau secuek gini sih gue juga gak mau. Karena perut gue sagat laper akhirnya gue memutuskan ke kantin.
"Eh--". Belum aja gue melangkah gua udah mau jatoh. Untung aja Dion nolongin gue. OMG, gue diberkati Tuhan. Sekarang gue ngeliat malaikat.
"Eh--Lu gapapa?", Ucapnya cool.
Entah mata gue yang rusak atau pikiran gue udah tercemar oleh kakak gue. Sekarang gue lihat malaikat yang bercahaya dengan berbagai bunga yang berada di sekelilingnya. Gue bener-bener gila karena jatuh cinta pada pandangan pertama sama si tembok.