Hana POV
Aku masih ingat saat aku pertama kali bertemu dengannya. Dia sungguh mempesona. Seperti ada cahaya di sekitar kepalanya. Seketika itu juga aku jatuh cinta.
Tapi ...
Aku harus sadar diri.
Ia banyak penggemarnya.
Banyak wanita yang lebih cantik dariku yang ingin bersamanya.
Aku mundur teratur.
Aku merasa tidak layak untuknya.
Aku hanya bisa mengagumi dirinya dari jauh.
Aku bahkan tidak berani mendekatinya untuk sekedar berkenalan.
Hari-hari berlalu ...
Tapi pandanganku tak pernah lepas darinya.
Saat mata kami saling bertemu, aku langsung mengalihkan pandanganku.
Suatu hari ia mendekatiku. Jantungku berdebar-debar. Berdetak tidak karuan. Apa ini yang dinamakan cinta?
Sampai akhirnya jarak kami hanya 20 cm.
"Ada daun kering di atas kepalamu," ucapnya sambil mengambil daun kering.
"Terima kasih."
Dari situ hubungan kami berlanjut. Kami merasa cocok.
Dan saat ini aku berjalan menuju altar dengan gaun terindahku. Melihat dia yang sedang tersenyum menanti diriku. Senyum yang sama saat aku bertemu dengannya pertama kali. Senyum yang membuat aku jatuh cinta padanya.