Evelyna, gadis 18 tahun yang hobinya adalah mager (malas gerak) terpaksa harus bekerja sama dengan seorang rider kasta tertinggi. Evelyna terpaksa melakukannya dikarenakan dia berhasil menjuarai kompetisi teknik mesin tingkat nasional. Dia diberi tugas plus hadiah istimewa, yakni bisa belajar dan mengamati secara langsung, tentang mesin dan komponen yang digunakan dalam ajang balap motor. Mungkin cukup membingungkan, orang pemalas seperti dia bisa menjuarai kompetisi teknik mesin yang memerlukan orang-orang terampil dan rajin.
Tapi, meskipun dia adalah cewek mager yang punya banyak kebiasaan buruk, dia juga punya kelebihan. Dia mempunyai IQ tinggi, bakat, dan kecerdasan yang di atas rata-rata. Berbeda dengannya, Fabio Quartararo, seorang rider kelas atas yang biasa bergerak cepat dan sigap. Lalu, bagaimana dengan kerja sama mereka?
=•=•=•=•=•=•=•=•
Saat ini, aku berada di tengah hutan. Aneh sekali. Bagaimana bisa gadis mager dan nolep sepertiku bisa berada di sini? Yang lebih aneh lagi, aku menggunakan wearpack dan juga helm, tapi tak ada motor di sini. Tunggu dulu! Wearpack yang tidak asing. Di mana aku pernah melihatnya? Jangan-jangan..
"Hey kau!" seru seorang laki-laki dari belakangku. Refleks, aku membalikkan tubuhku ke belakang. Dia adalah si pemilik wearpack.
"Kembalikan wearpack itu! Itu punyaku," ucapnya sambil berjalan mendekat ke arahku.
"Maaf, a..aku juga tidak tau, bagaimana aku bisa menggunakan ini." ucapku pelan, kuharap dia mengerti. Dia tetap tidak berhenti, dia malah menyeringai.
"Aku membutuhkannya untuk saat ini. Tolong di lepas." ucapnya. Aku membelalakkan mataku mendengarnya. Bagaimana bisa aku melepaskan ini? Lapisan dalamnya aku hanya pakai pakaian yang tipis.
"Hey, kau mendengarku?" tanyanya lagi. Kali ini, dia sudah berada tepat di hadapanku. Dia juga membuka kaca penutup helm yang aku gunakan.
"Jangan sentuh aku! Jangan mendekat! Kyaaaa! Jangan!" aku berteriak supaya dia membatalkan niatnya.
=•=•=•=•
Aku terbangun dari mimpi burukku. Huh. Hampir saja, untung hanya mimpi. Aku terbangun di sebuah ruangan yang bukan kamarku yang sebenarnya. Saat ini, aku berada di tempat yang tidak terlalu aku kenal. Ruangan yang telah mereka sediakan untukku. Nanti kalian akan mengerti.
Aku melihat smartphone milikku. Saturday, 2021 September 18th. 05.13 AM. Di sini masih pagi, dingin pula. Aku berada di San Marino, Italia. Untuk apa? Untuk belajar. Aku tak terbiasa dengan suhu di daerah ini, jadi aku selalu mengenakan jaket. Aku mengeratkan jaketku, niatnya aku mau tidur lagi. Malas sekali mau beraktifitas saat udara sedang dingin seperti ini.
Aku kembali merebahkan tubuhku. Baru saja memejamkan mataku beberapa detik, sudah ada seseorang yang mengetuk pintu. Dengan langkah berat, dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, aku pun membukakan pintu. Kulihat seorang laki-laki berusia 22 tahun berdiri di depan pintu ruanganku. Laki-laki yang ada dalam mimpiku tadi.
"Evelyna, kepala kru memintaku untuk mengajakmu jalan-jalan. Sebab dia bilang kau sudah belajar dengan keras, jadi dia ingin kau istirahat dulu dan refreshing." ucapnya. Dia adalah Fabio Quartararo, salah satu rider di tim pabrikan ini.
"Jalan-jalan? Malas sekali. Daripada jalan-jalan, lebih baik tidur lagi." ucapku dalam hati. Aku ingin menolaknya, tapi..
"Hey, kau mendengarkan aku kan? Ayo, aku akan mengajakmu track walking." ucapnya dengan nada bersemangat. Bagaimana bisa dia bersemangat di pagi-pagi buta seperti ini?
"Track walking?" tanyaku pelan, pura-pura tidak mengerti.
"Iya, jalan-jalan keliling sirkuit. Ayolah, kalau kau menolak, nanti kepala kru akan marah padaku." ucapnya dengan alasan yang dibuat-buat. Aku tau itu.
"Hmm sebentar, aku mau ke kamar mandi dulu." aku berujar sambil berjalan ke arah toilet sekaligus kamar mandi.
"Di sana toilet laki-laki, untuk perempuan ada di sana."
Aku menghentikan langkahku mendengar perkataannya. Aku dibuat bingung olehnya. Aku pun terpaksa berbalik.
=•=•=•=•=•
Jam setengah enam pagi, kami berdua sedang berjalan di atas sirkuit. Aku berjalan di belakangnya. Jarak kami berdua sekitar lima meter. Aku berjalan dengan malas. Sedangkan dia, berjalan disertai lari-lari kecil.
"Evelyna, ayo cepatlah sedikit." ucapku sambil berbalik menghadap aku, dan berjalan mundur. Dengan terpaksa, aku pun mempercepat langkah kakiku.
Baru berjalan sekitar dua puluh meter, aku sudah ngos-ngosan. Jantungku berdetak cepat. Sebelah perutku juga terasa agak sakit. Aku pun beristirahat dan duduk di atas aspal sirkuit.
"Hey, kenapa kau berhenti?" tanya Fabio sambil berjalan ke arahku.
"Aku lelah. Aku ingin istirahat sebentar." balasku. Dia berdiri di depanku.
"Kita baru berjalan dua ratus meter dan kau sudah lelah?"
"Dua ratus meter itu terasa dua kilometer bagiku, tau?" jawabku dengan agak ketus.
"Hah, itulah mengapa kau harus banyak bergerak. Kau tau tidak, kalau berjalan itu bisa memperpanjang umur?"
"Tau,"
"Hehe.. Untung saja hari ini sirkuitnya belum digunakan. Bagaimana kalau sudah digunakan? Bayangkan apa yang akan terjadi padamu kalau kau duduk di atasnya. Haha!" ucapnya disertai tawa.
"Apa yang kau katakan? Dasar mesum!" aku langsung berdiri hendak mengejarnya. Itu mungkin candaan, tapi terasa nyelekit bagiku. Julukan 'El Diablo' kurasa memang benar-benar cocok dengannya.
=•=•=•=•=•
Siang harinya, sekitar jam dua.
"Evelyna, bangun!" ucap Fabio sambil sedikit mengguncang tubuhku. Refleks, aku langsung berdiri. Tapi karena saat itu aku baru bangun tidur, aku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai.
"Aduuuh.." ucapku sambil meringis kesakitan. Aku baru tau kalau aku ketiduran saat masih berkutat dengan komputer di sana. Hal itu biasa bagiku, aku itu pelor.
Belum lagi, di depanku, Fabio berdiri di sampingku tanpa membantuku untuk berdiri. Aku menatapnya dengan tatapan yang aku sendiri sulit mengartikan.
Di depanku, Fabio berdiri dengan menggunakan wearpack berwarna hitam biru dongker. Dia juga sudah menggunakan sepatu khusus balapan. Tapi, dia sengaja membuka bagian depan wearpack yang dia gunakan, dan dia juga tidak menggunakan pakaian lagi untuk lapisan dalamnya!
"Apa yang kau lihat?" tanyanya membuyarkan lamunanku. Yang benar saja, aku melamun untuk memperhatikan tubuhnya?
"Hmm tidak," balasku dengan sedikit gumaman, dan kemudian mengalihkan pandanganku.
"Katakan, ada apa kau menemuiku?" tanyaku, aku ingin dia langsung to the point saja.
"Kau hampir melewatkan waktu makan siang. Sebaiknya kau cepat makan," jawabnya. Melewatkan waktu makan? Sudah biasa bagiku. Tapi, jangan ditiru ya.
"Aku sudah makan," jawabku dengan tenang, sambil berdiri dan kemudian duduk di kursi yang aku gunakan tadi.
"Makan apa?"
"Itu," balasku sambil mengedikan daguku ke arah samping meja kerjaku. Ada satu kotak, yang isinya adalah camilan manis-manis, ada cokelat, permen, wafer, dan biskuit rasa coklat juga ada. Semua itu adalah camilan kesukaanku. Tapi kotak itu, isinya hanya tinggal bungkusnya saja.
"Apakah kenyang? Kau hanya ngemil terus, bagaimana kalau kau sakit nanti?"
"Aku kan tidak pernah bekerja berat, jadi aku tidak membutuhkan banyak karbohidrat. Lagipula, aku ingin menghemat energi."
"Kau memang menghemat energi, tapi kalau seperti itu, kau bisa boros uang. Belanja hanya untuk beli camilan yang tidak mengenyangkan."
"Itu kan bagimu, kalau bagiku lain lagi."
"Dan kau juga makan camilan yang manis. Bagaimana kalau sakit gigi nanti, siapa yang susah?"
"Aku selalu menggosok gigi tiga kali sehari tak pernah telat."
"Fabio, ayo bersiap!" seru seseorang dari luar ruangan. Suara itu berhasil menghentikan perdebatan kami.
"Hmm, aku hampir terlambat karenamu." ucap Fabio lirih, tapi aku masih dapat mendengarnya.
"Dasar Taro." aku berucap dalam hati, kurasa dia lebih cocok dipanggil 'Taro' daripada Fabio. Taro, singkatan dari Quartararo. Para penggemarnya juga ada beberapa yang memanggilnya demikian.
=•=•=•=•=•=•=•
Skip keesokan harinya, hari Minggu, di mana live race akan segera dimulai. Aku hanya menonton dari garasi, sedangkan Fabio sudah berada di dekat garis start bersama dengan beberapa rekan timnya.
Dia duduk di atas jok motor yang biasa ditungganginya, dia memakai topi dan kacamata hitam, sambil minum. Sedangkan rekan timnya yang lain masih sibuk memasangkan ban dan mengecek mesin motor.
Aku hanya diam, hingga suatu ketika, saat kamera sedang menyorot wajah Fabio, dia melambaikan tangannya sambil tersenyum. Aku sedikit menjulurkan lidahku sambil memasang tatapan aneh saat melihatnya, meskipun melalui perantara kamera.
"Ada apa, Nona Evelyna?" tanya seseorang yang merupakan anggota kru yang lain. Aku baru ingat, kalau aku tak sendirian di sini. Ah sial, aku jadi malu sendiri.
"Eh, ngg. Tidak apa-apa. Hehe.." jawabku disertai dengan tawa kecil yang dibuat-buat. Aku terlalu geer, padahal Fabio melambaikan tangannya untuk semua fans-fansnya. Dan bukan aku tentunya. Lagipula, aku tak mengidolakan dia. Aku lebih suka yang dari Asia, hehe. Siapa hayo? Tanya aja sama author.
Eh by the way, aku sudah minta tanda tangannya dan itu bikin aku senang banget. Kemarin waktu selesai track walking sama Fabio, aku ketemu dia.
"P.. permisi, boleh aku minta tanda tangan?" tanyaku saat aku bertemu dengannya kemarin. Dia tersenyum, kemudian..
"Tentu saja," ucapnya. Aaah aku tau dia itu orang yang sangat ramah. Kemudian aku langsung memberikan buku catatan kecil yang spesial. Setelah dia memberiku tanda tangan, aku ingin menyimpannya. Tak lupa, aku juga minta berfoto dengannya. Sampai rumah nanti, aku ingin memajangnya.
"Ehem!" suara seseorang berdeham yang membuat aku lupa kalau tadi aku bersama Fabio.
"Evelyna, kau tidak ingin tanda tanganku?" tanya Fabio padaku. Aku berpikir sejenak.
"Iya, aku juga mau." jawabku sambil mencari halaman buku yang masih kosong dan bersih. Aku memberikannya pada Fabio.
"Evelyna, siapa rider favoritmu?" tanpa kuduga, Fabio menanyakan itu padaku. Hmm, aku tau harus menjawab apa.
"Tentu saja, satu-satunya rider favoritku adalah dia." ucapku sambil memasang wajah sumringah. Menatap seorang rider lain dari tim satelit yang sudah berada cukup jauh dari kami. Tampak, Fabio memasang wajah agak kesal.
"Hmm lalu ini?" tanyanya sambil mengembalikan buku catatanku.
"Untuk adikku, dia sangat mengidolakan kamu, El Diablo."
"Adikmu laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki," jawabku. Begitulah perbincangan singkat kami, haha. Aku jadi merasa sedikit tidak enak telah membuatnya sedikit kecewa.
Kembali ke keadaanku saat ini. Ketika lampu hijau menyala, Fabio langsung menarik gas, melakukan start dengan sebaik-baiknya supaya tidak ada rider lain yang mendahuluinya.
Tapi, ada rider lain di depannya. Rider yang sama-sama dari tim pabrikan. Dengan ganas, Fabio langsung mendahuluinya dari kanan. Dia terdepan, dia juga harus mempertahankan posisinya supaya tidak melorot. Menjaga keseimbangan motor supaya tidak mengalami ban slip atau kehilangan daya cengkeram. Tentu saja semua hal itu membutuhkan konsentrasi yang maksimal. Sekalinya lengah, ada akibatnya.
Aku ingin tau, seberapa deg-degan mereka ketika melakukan race. Kalau aku pasti sangat tegang. Menonton saja aku sudah tegang, apalagi jika menjalaninya.
Eh tunggu! Fabio sudah jauh sekali jaraknya dengan rider di belakangnya. Jaraknya sekitar dua detik jika dihitung dengan satuan waktu. Fabio bahkan menarik gas motornya sampai di atas 300 km per jam. Mungkin karena gaya balapnya itu, mereka jadi memberinya julukan El Diablo yang artinya iblis.
Jujur saja, dia itu luar biasa. Teman-temanku sampai bilang, "kau beruntung sekali bisa mencoba satu tim dengan Fabio." itulah yang mereka katakan. Dan juga, di sini aku tak sendirian. Ada dua rekanku yang lain. Mereka mengunjungi tim yang berbeda. Sebelumnya, universitas kami sudah membuat persetujuan dengan pihak mereka, dan mereka menerimanya dengan senang hati.
Satu setengah jam kemudian, sekitar jam setengah empat sore. Ketika race utama sudah selesai. Dan saatnya bagiku untuk pulang ke negaraku. Aku telah mengemasi barang-barangku tadi pagi, jadi bisa agak santai.
Kami sengaja memesan tiket pesawat yang punya jadwal penerbangan malam. Aku lebih suka waktu malam. Sekarang aku akan berangkat ke bandara. Ketika baru keluar dari ruangan sambil membawa koperku.
"Akhirnya aku bisa terbebas dari Fab-" aku tak melanjutkan ucapanku setelah aku melihat orang yang aku maksud. Dia berada di depanku saat aku baru keluar lewat pintu.
"Apa?" tanyanya.
"Tidak apa-apa." jawabku singkat. Saat aku hendak lanjut berjalan, dia menarik tanganku. Tapi aku tidak refleks terjatuh atau apa, aku diam saja.
"Apa?" kini, aku yang bertanya.
"Kau mau pulang?"
"Iya, kenapa?" tanyaku lagi sambil menarik tangan kananku yang dia genggam tadi.
"Hati-hati di jalan." ucapnya pelan.
"Hah?"
"Aku bilang, hati-hati di jalan." Fabio mengulangi perkataannya.
"Kau tidak bilang, aku juga sudah tau. Aku kan tidak sendirian." balasku. Kemudian dia..
"Ini," ucap Fabio sambil memberikan sebuah kotak padaku. Kotak berwarna biru tua, dengan lambangnya Fabio.
"Apa ini?" sebelum menerimanya, aku bertanya.
"Pizza."
"Hah, sungguh ini untukku? Rasa apa?"
"Iya ini untukmu, pizza yang banyak sayurannya." jawabnya sambil tersenyum puas. Aku tau dia berbohong. Aku pun menerima pemberiannya.
"Terima kasih, Pak Fabio."
"Apa kau bilang?"
"Aku bilang Pak Fabio. Kenapa?"
Fabio menyeringai, kemudian mencubit hidungku dengan gemas.
"Awh, sakit. Dasar bad boy." ucapku sambil mengusap hidungku yang sepertinya memerah. Dia malah tertawa kecil.
"Aku heran padamu. Kau itu suka ngemil, kau malas bergerak, tapi kau tidak gendut."
"Hah, tentu saja. Aku punya cara rahasia." ucapku sambil tersenyum lebar. Eh kurasa, saking lebarnya aku tersenyum, lesung pipiku sampai terlihat. Bagaimana ini? Seharusnya ini jadi rahasia.
"Hmm ah iya. Aku harus pulang. Merci Fabio. Sampai jumpa." aku berbalik sambil sekilas melambaikan tangan padanya. Setelah itu, aku pun mulai melangkahkan kaki keluar dari tempat ini.
"Sampai jumpa." balasnya sambil melambai juga.
"Terima kasih, Eve." samar-samar, aku mendengarnya mengatakan terima kasih. Tapi, untuk apa?
-Tamat-
=•=•=•=•=•=•=
Eh kok jadi fanfic ya? Harusnya kan tentang bad boy. Tapi, menurut kalian, dia udah cukup bad boy belum?
Jangan lupa like dan komen ya! Cerpen ini tak bermaksud apapun. Terima kasih bagi yang sudah dukung aku^^
Cover : Instagram