Hana POV
Saat aku SMA ...
"Jelek ... Gendut ... Hidup lagi ..."
Kata-kata yang sangat menusuk hatiku. Apalagi saat kata-kata itu keluar dari mulut pria yang aku sukai. Setelahnya pria itu berpacaran dengan perempuan tercantik di sekolah.
Manusia tentu saja melihat fisik.
Aku melihat diriku di depan cermin.
Aku memang jelek.
Haruskah aku melakukan operasi plastik?
Supaya aku terlihat seperti artis-artis Korea yang cantik.
Aku mencari info di google "biaya operasi plastik".
Biaya operasi hidung Rp 10.000.000,-
Biaya operasi pipi Rp 15.000.000,-
Biaya operasi dagu Rp 30.000.000,-
Total sudah Rp 55.000.000,-
Belum lagi biaya perawatannya.
Uang dari mana?
Untuk bayar uang sekolah aja sering telat.
Saat aku membaca efek operasi plastik, ada yang wajahnya malah jadi hancur. Ada yang meninggal.
Syukuri apa yang ada.
Hidup adalah anugrah.
Terdengar lagu Jangan Menyerah dari band d'Masiv.
Betul.
Aku harus mensyukuri wajahku.
Mungkin wajahku tidak cantik seperti perempuan lain tetapi setidaknya aku masih bisa bernafas melalui hidung.
Aku masih bisa memakan makanan kesukaanku melalui mulut.
Saat aku kuliah ...
Rasa rendah diriku karena wajahku masih ada. Tapi aku berusaha melupakannya. Aku melakukan perawatan kulit dengan menggunakan pelembab, masker, dan lain-lain. Walaupun itu tidak membuatku cantik tapi setidaknya terawat. Aku juga berusaha menerapkan pola makan yang sehat agar tidak terlalu gemuk.
Seorang pria mendekatiku. Aku hanya menjauh. Aku tak ingin mengalami sakit hati. Kalau memang aku harus melajang karena wajahku, aku harus menerimanya.
Tapi pria itu terus mendekatiku. Aku masih tetap menjauh. Sampai akhirnya ia bertanya "Apa kita bisa bicara berdua saja?"
"Kau bisa bicara di sini." Aku hanya takut tersakiti lagi. Aku tak ingin menangis lagi.
"Mengapa kau selalu menjauhiku?" Tanya pria itu.
"Apa kau membenciku?" Tanyanya sekali lagi.
"Aku tidak membencimu."
"Lalu kenapa?"
"Aku hanya ..." Aku mengajaknya ke sebuah tempat yang agak private. Aku tak ingin orang lain mengetahui masa laluku.
"Aku ..." Aku menceritakan semuanya. Tak terasa air mataku menetes. Mengingat hal yang sudah aku kubur dalam-dalam.
Jari-jari pria itu mengusap air mataku.
"Maafkan aku membuatmu mengingat hal itu. Seandainya kita bertemu saat itu ..."
"Tapi aku bukan dia. Aku tidak melihat wanita dari fisiknya saja. Jangan merasa rendah diri. Kau punya kepribadian yang hebat dan aku menyukaimu sedari dulu. Beri aku kesempatan."
Aku menatap matanya dalam-dalam. Ada kesungguhan di sana.
Haruskah aku mempercayainya?
Aku memutuskan untuk mempercayainya. Ia kemudian mengenalkanku pada ayah dan ibunya.
Ia serius?
Ayah dan ibunya sangat baik padaku. Aku seperti punya orang tua kedua.
Sampai akhirnya ia datang ke rumah dan meminta persetujuan orang tuaku untuk menikahiku.
My love ...
Terima kasih untuk semua cintamu.
Cinta yang menghancurkan tembok di hatiku.
Mari kita memulai hidup yang baru.
Hidup yang berbahagia bersama anak-anak kita nantinya.
Amin ...