Arion Dirgantara,, tak ada seorang pun yang tak mengenal nama itu. Seorang badboy kualitas premium di SMA Nusa Bangsa. Mengapa premium?? Tentu saja karena ia memiliki tingkat ketampanan yang melebihi batas normal manusia, atau bak seorang dewa. Selain itu, kecerdasan yang ia miliki pun jauh di atas rata-rata,, membuatnya mendapat julukan Einstein lokal. Tak hanya tampan dan cerdas, bahkan ia berasal dari keluarga terpandang.
Namun siapa sangka dibalik semua kelebihannya, ia malah lebih dikenal karena sifat buruknya. Melanggar aturan sekolah, bolos sekolah, balapan liar, tawuran,, merupakan makanan sehari-harinya. Bersama dengan keempat temannya yang tak kalah tampan darinya, mereka berlima dijuluki sebagai Black Crow! Barangsiapa berani mengusik mereka berlima, maka malapetaka akan datang menyapa...
............................................................
Sepulang sekolah, seperti biasa Arion dan keempat temannya tak langsung pulang ke rumah. Mereka berlima memilih nongkrong di basecamp, yang terletak di belakang sekolah mereka.
Saat mereka tengah asyik nongkrong, tiba-tiba dari kejauhan tampak seorang gadis dengan wajah yang tampak sangat marah menatap mereka berlima.
"Rionn!!" teriak gadis berseragam SMA tersebut, ia langsung berlari ke sekumpulan orang yang tengah nongkrong itu.
"Gawatt!!" ucap keempat teman Rion kala melihat gadis tersebut berlari ke arah mereka.
"Ar! Buruan bangun! Woyy!!" Deon mencoba membangunkan Rion. Namun Rion tak kunjung bangun. Hingga seketika gadis tadi kini sudah ada di sebelah mereka. Gurat kemarahan tampak jelas di wajah gadis itu.
"Ekhemm!!" gadis itu berdehem, mengejutkan keempat teman Rion.
"Eh-Ria.." sapa Deon gugup.
"Tambah cantik aja deh.!" timpal Ale menggoda gadis bernametag Aria tersebut.
***Aria Aradella, atau kerap dipanggil Ria. Ia merupakan tetangga sekaligus sahabat Arion sejak kecil. Bisa dibilang mereka bersahabat karena orang tua mereka merupakan sahabat karib. Aria dan Arion,, nama yang terbilang mirip. Arion sering protes pada mamanya mengapa nama mereka dibuat mirip,, singkat jawaban orang tuanya, karena mereka akan menjodohkan Arion dengan Aria.. Hal ini tentu saja membuat Arion kesal. Maka dari itu ia sering kali mengganggu Aria agar Aria marah dan membencinya.
Namun karena Aria orang yang ceria dan paham betul terhadap Arion, ia tak pernah membencinya. Memang sering mereka berdua ribut dan marahan, namun itu hanya bertahan tak lama. Dan satu yang perlu dikagumi dari Aria.. Ia merupakan satu-satunya orang yang berani terhadap Arion!!***
Seketika Ria menatap tajam keempat teman Rion. "Kalian kan yang hasut Rion buat bolos sekolah?!" bentak Ria pada mereka. Keempat nya langsung terkejut, saling tatap satu sama lain.
"Eng-enggak kok, Ria! Kita aja juga baru pulang seko-" belum selesai Jojo menjawab, Ria langsung memotongnya.
"Halah, nggak usah bohong deh! Tadi Ria dikasih tau Bu Rini kalo kalian bolos jam matematika!!" bentak Ria lagi. Ria melangkahkan kakinya mendekati Vito yang sedari tadi diam menunduk.
Vito yang melihat Ria mendekat ke arahnya langsung melangkah mundur. Namun hal itu percuma, karena Ria terus saja melangkah maju ke arahnya.
"Vito, anak baik.. Coba jujur deh sama Ria.. Siapa yang ngajakin kalian buat boloss..?" tanya Ria halus, namun terdengar sangat menyeramkan. "Vitoo..." panggil Ria karena Vito hanya diam.
"Vito!" nada bicara Ria naik satu oktaf. Membuat keempat teman Arion terkejut.
"Itu.. Rion yang ajakin kita bolos..!" ucap Vito menunjuk Arion yang masih terlelap dengan earphone ditelinganya.
Mendengar ucapan Vito membuat Deon, Ale, dan Jojo menepuk jidat mereka. "Habis sudah.." gumam ketiganya.
Wajah Ria memerah, menahan amarah. Ia langsung menatap Arion yang masih asyik dengan tidurnya. Langkah kakinya tertuju ke arah sofa tempat Rion berbaring.
"Ekhem!!" Ria berdehem, kedua tangan nya sudah terlipat di depan dada.
Tak ada reaksi dari Arion, membuat amarah Aria meledak. Dengan secepat kilat, tangannya langsung menarik earphone dari telinga Arion.
"Rionnnn!!!" teriak Aria tepat di telinga Arion. Hal ini tentu saja langsung membangunkan Arion dari tidurnya. Kupingnya serasa langsung budeg, sakit tentunya. Ia langsung berdiri, mata tajamnya langsung menatap Aria.
Aria tak merasa takut sedikit pun. Ia tak kalah menatap tajam pada Arion. Saat Arion hendak marah, tiba-tiba tangan Aria menarik telinganya dengan kuat.
"Ashhh!!!" Arion berteriak kesakitan saat telinganya di jewer oleh Aria.
"Apa?? Mau marah, iya?! Kamu itu dibilangin susah banget sih!! Mau, aku aduin ke mama kamu, biar kamu nggak dikasih uang saku, iya?!! Udah dibilangin jangan bolos.. massiihhh aja bolos!! Dasar bandell!!" oceh Aria terus menarik telinga Arion.
"Auw auw.. Sakit, Ria.. Lepasin nggak?!" titah Arion, berusaha melepas tangan Aria dari telinganya. Namun percuma saja.. tangan Aria itu bagaikan capit kepiting,, sekalinya kena capit, tak akan bisa untuk lepas.
"Nggak bakal aku lepasin, sebelum kamu janji nggak akan bolos lagi!! Buruan janjii!!" jeweran Aria bertambah kuat, membuat Arion makin meringis.
Sementara itu, ketiga teman Arion malah cekikikan kala melihat bos mereka tak berdaya melawan seorang gadis. Seorang badboy seperti Arion, yang ditakuti oleh semua orang,, takut dengan gadis mungil Aria??
"Bwahahaaha!!" tawa keempat teman Arion menggelegar.
Seketika Arion melotot tajam pada mereka berempat. Membuat tawa tadi langsung lenyap digantikan keadaan yang mencekam.
"Ayo, buruan janji!! Kamu mau telinga kamu putus, hmm??" ucapan Aria terdengar sangat horor di telinga mereka berlima.
Saat Arion hendak mengucapkan janjinya, tiba-tiba datang sekelompok geng motor ke basecamp mereka.
Bruumm.. Brummm...
Sontak Aria menoleh ke suara bising tersebut. Begitu pula dengan Arion dan keempat temannya. Tampak salah satu anggota geng motor itu melepaskan helm nya.
"Wah wah wah... Jadi selama ini, kalian takut sama banci kayak dia?! Kalian lihat noh.. ngakunya cowok, tapi takut sama cewek,, Bwahahaha!!!" laki-laki yang tampak seperti kapten geng itu tertawa mengejek, diikuti oleh anggota geng yang lainnya.
Sontak Aria langsung melepaskan tangannya dari telinga Arion. Ia pun langsung bersembunyi di belakang Arion.
"Mau apa kalian ke sini?! Cari mati kalian, hah?!!" bentak Deon yang tersulut emosi.
"Eits.. santai dong bro.. kita kesini karena ada urusan sama tuh orang!" kapten geng itu menunjuk Ale yang berdiri di samping Arion. Sontak mereka semua menatap Ale penuh tanya.
"Gue? Ngapain kalian nyari-nyari gue?! Gue nggak ada urusan sama kalian!!" bentak Ale menunjuk satu-persatu anggota geng tersebut.
"Cih!! Marco! Roni!!" teriak kapten geng itu memanggil dua orang tersebut. Seketika yang dipanggil langsung melepas helm, tampaklah wajah mereka berdua yang babak belur dan penuh lebam.
"Lo kan yang udah mukulin mereka berdua?!" bentak sang kapten kepada Ale.
Ale tampak menatap kedua orang tersebut. Mencoba mengingat-ingat apakah ia pernah memukul mereka berdua. Hingga akhirnya ia pun teringat kejadian dua hari lalu.
Sementara itu, Aria langsung gemetar kala melihat orang bernama Marco dan Roni itu. Kedua tangannya langsung mencengkeram erat lengan Arion.
Arion yang merasa aneh dengan tingkah Aria pun langsung berbalik ke belakang, menatap wajah Aria. Kedua tangannya terulur untuk mengusap pipi gadis itu.
"Lo kenapa, hm?? Cerita sama gue.." ujar Arion menatap kedua mata Aria.
Mata Aria langsung berkaca-kaca. "Ale nggak salah.. Me-mereka berdua yang jahat!!" tunjuk Aria ke arah Marco dan Roni.
Arion menatap kedua mata Aria dalam-dalam. Hingga akhirnya ia tau inti permasalahan ini. Menurut pemikirannya, pasti mereka berdua pernah mengganggu Aria,, dan Ale lah yang menyelamatkan Aria.
Arion pun langsung merangkul pundak Aria. "Sorry bro, kalo temen gue udah mukulin temen lo.. Tapi seharusnya lo juga kasih tau ke temen lo, jangan pernah ganggu cewek orang kalo nggak mau kena pukul.." papar Arion dengan nada mengancam. "Thanks karena udah lindungin Aria.." sambungnya menepuk pundak Ale.
Ale pun tersenyum, beruntung karena Arion tahu kejadian yang sebenarnya.
"Cih! Mana ada kita gangguin cewek orang!!" ucap Marco tak terima.
"Oh, ya.. Kalian lupa atau pura-pura lupa?? Kalian nggak liat cewek di sebelah gue?? Kalian gangguin dia kan??" sinis Arion, tak melepaskan rangkulannya.
Kapten geng tersebut menatap Aria dengan tatapan menjijikkan. "Oh,, jadi dia cewek lo?? Boleh juga.." ujarnya menyeringai.
"Sialann!! Maksud lo apa?!!" bentak Jojo yang kini juga emosi.
Kapten geng tersebut memberikan aba-aba pada anak buahnya. "Serangg!!" teriak salah satu anggota geng tersebut.
Seketika terjadilah baku hantam, antara Arion dan keempat temannya melawan geng beranggotakan dua belas orang itu.
Aria langsung bersembunyi di belakang sofa, menutup kedua telinga dan memejamkan matanya.
Bugh!
Bughh!
Bugh!
Para anggota geng mulai berjatuhan, tak mampu menandingi Arion dkk. Dalam sekejap Arion telah menumbangkan dua orang sekaligus, yang tak lain adalah si Marco dan Roni. Kini semua anggota geng tersebut telah mereka taklukan.
Kedua mata Arion kini menelisik mencari sang kapten tadi. Hingga akhirnya ia menemukan yang ia cari. Namun naasnya, Aria berada di tangan sang kapten. Sebilah pisau berada tepat di leher Aria, siap untuk melukai Aria kapan pun.
"Lo maju selangkah aja, maka nyawa cewek lo bakal hilang!!" ancam sang kapten tersebut.
Wajah Aria tampak pucat, keringat dingin telah membasahi sekujur tubuh dan wajahnya. Kedua kakinya bahkan gemetar. "Ri-on.." lirih Aria gemetar ketakutan. Kedua matanya sudah berkaca-kaca sejak tadi.
"Apa mau lo?!" Arion mencoba membuat kapten itu lengah.
"Lo biarin gue sama anak buah gue pergi,, dan.. Cewek lo serahin ke gue!!" jawab kapten dengan seringaiannya.
Arion tersenyum getir mendengarnya. Kedua matanya melirik sekilas Vito yang sudah ada di belakang kapten geng itu.
"Oke, gue bakal lepasin kalian semua.. Tapi gue nggak bakal serahin cewek gue..!" tegas Arion, langsung mengkode Vito.
"Oo..ternyata lo nggak sayang sama nyawa cewek lo,, Oke!" Baru saja kapten geng itu hendak melukai Aria, sebuah tendangan dari belakang langsung mengenai kepalanya.
Bughh!!
Arion langsung menarik Aria ke pelukannya. "Lo nggak papa kan??" tanya Arion menatap Aria dari bawah sampai atas, memastikan Aria tidak terluka.
Aria tak menjawab. Air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk mata, kini mengalir deras di pipinya.
"Huuaa!!!!" Aria menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Arion.
'Perasaan nggak ada luka deh!' batin Arion bingung melihat Aria menangis.
"Ta-tadi... pi-sau.. Huuaa!!!" jerit Aria semakin menjadi-jadi. Arion yang melihat sikap Aria yang menurutnya manis itu pun malah tersenyum. Ia pun mendekap Aria sambil terus menenangkannya.
Sementara Arion dan Aria sedang berpelukan, keempat teman Arion hanya bisa menatap mereka berdua saja. Tak percaya,, bahwa seorang Arion bisa romantis seperti itu.
"Romantisnya..." gumam Jojo langsung memeluk lengan Deon yang berdiri di sampingnya.
Bughh!!
Deon langsung mendaratkan bogeman nya di perut Jojo. "Romantis pala lo!!"
.
.
**The End**
(Helloo.. readerss🥰 Jangan lupa di like dan komen yahh... Ayo terus dukung author supaya tambah semangat dan bisa jadi lebih baik lagi..🤗)
Love You all😘😘