"Randi, siapa gadis itu?"
Di sebuah taman komplek perumahan yang sepi, terdapat tiga orang memakai seragam putih abu-abu. Sepasang kekasih yang bergandengan tangan dan seorang gadis yang menatap keduanya dengan perasaan berkecamuk.
"Pacarku," jawab lelaki itu dengan santai. Ia tidak peduli gadis dihadapannya mulai merasa emosi.
"Lalu aku?!"
"Pacarku juga," timpal Randi seolah hal yang ia ucapkan sama sekali bukan masalah.
Lantas, gadis itu merasa hatinya tercabik-cabik. Di hari ulang tahunnya, di hari yang istimewa ini, bukannya mendapat kejutan ataupun hadiah dari sang kekasih. Dirinya malah mendapati Randi bergandengan tangan dengan gadis lain.
"Apa kamu bercanda?" gadis itu mencoba tersenyum positif, meyakinkan diri bahwa hal yang dilihatnya hanya sandiwara belaka. "Abis ini pasti ada kejutan, kan?"
Randi menghela napas seraya menyisir rambutnya ke belakang, "Apa aku keliatan lagi becanda?"
Lelaki itu menunjukkan tangannya yang terpaut gadis di sampingnya, "Aku pacaran sama kamu terus aku pacaran sama dia. Kalo kamu ngga suka, kita bisa putus kok."
Mata heterocromia milik Randi menatap lurus gadis di hadapannya tanpa emosi.
Harapannya pupus, laki-laki dihadapannya memang brengsek dan tidak bisa ia harapkan lagi. Ia mengeratkan kepalan tangannya, mencoba untuk tidak menangis.
"Oke, kita putus." Mengumpulkan amarah sekaligus rasa sedih, gadis itu berteriak. "Tapi seharusnya kamu minta maaf sama aku!"
Randi berdecak kesal, merasa terganggu akan teriakan mantannya itu. "Aku ngga pernah minta maaf selama aku hidup, dan kamu engga cukup istimewa untuk mendapatkan kata maaf dariku."
Mendengar ucapan pria yang pernah mewarnai hari-harinya di sekolah, membuat rasa sakit semakin menumpuk. Akhirnya ia menyadari suatu hal, dengan suara bergetar ia berucap "Kamu pasti engga pernah suka sama aku."
Randi terkekeh pelan, seolah ia mendengar lelucon yang tak berarti.
"Aku emang ngga pernah bilang kok. Aku cuma nawarin kamu jadi pacar aku. Dan..." Pria itu membuat bentuk pelangi dengan kedua tangannya, "taraa, kita jadian deh."
'Plakk!!!'
Dengan sekuat tenaga, gadis itu menampar pipi Randi. Napasnya memburu karena amarah, matanya memerah dan tergenang air mata, suara penuh kebencian keluar dari mulutnya. "Brengsek!"
Gadis itu berlari meninggalkan mereka berdua yang terpaku menatap bayangan yang semakin menjauh.
Reva, gadis yang tetap bersama Randi, memeriksa bekas tamparan di wajah lelaki yang lebih muda satu tahun darinya itu.
"Hm... tenaga dia boleh juga." Reva mengambil kantung es dari tasnya yang sudah ia persiapkan sejak Randi memutuskan hal ini. Kemudian ia memberikan kantung es kepada Randi, "wajar sih, kamu emang brengsek."
Randi menempelkan kantung es ke pipinya yang terasa perih, "Kakak ngikutin aku kesini berarti setuju sama apa yang aku lakuin."
"Mon maaf ya, kakak pura-pura jadi pacar kamu demi tiket konser. Bukan karena setuju sama hal yang kamu lakuin. Btw ini udah tujuh kali bulan ini, jangan lupa tambahin uang buat fanmeeting juga."
"Ya, nanti ku transfer." jawab Randi tanpa beban. Mereka berjalan menuju bangku taman menikmati semilir angin di sore hari dan cahaya jingga yang mulai bersinar lembut.
Reva menatap adik semata wayangnya, ia merasa khawatir akan tingkah laku Randi yang sering bergonta-ganti pacar. Semata-mata ia lakukan karena rasa bosan.
Sejak kecil, Randi bisa melakukan apapun yang ia mau. Berbagai kegiatan akademik maupun non-akademik telah ia coba satu per satu. Hanya saja, ia bukan orang yang tekun. Randi sering merasa bosan akan suatu hal. Dan ia juga sering egois hanya karena rasa bosan mendatanginya.
Seperti yang terjadi beberapa menit yang lalu. Randi memutuskan hubungan secara sepihak dan menjadi orang jahat di hubungan mereka.
Sebagai kakak, Reva tidak bisa menasehati Randi. Karena ia sangat tahu bahwa adiknya tidak akan menurut berapa kalipun dinasehati. Ia hanya bisa menunggu suatu peristiwa yang dapat menyadarkan adiknya.
"Randi," Lelaki itu menoleh ketika kakak perempuannya memanggil.
Dua mata heterocromia itu saling menatap, satu dengan tatapan tegas dan satu lagi menatap lembut. Tangan Reva terulur membenarkan letak rambut adiknya, "Kakak harap, semoga kamu bisa dapet hal yang kamu sukai dan engga akan kamu tinggalin hanya karena bosan."
Seperti biasa, Randi hanya tersenyum tak menanggapi.
***
Festival Sekolah.
Randi bosan.
Dia menatap langit biru yang cerah di atas sana. Merasa pengap karena tak ada angin, ia melonggarkan dasinya. Tubuhnya terlentang di atas rooftop, tak peduli bajunya kotor karena debu. Randi menyendiri di tengah maraknya festival sekolah.
Randi baru masuk SMA selama tiga bulan, tapi ia sudah bosan. Kemarin ia putus dengan pacar ke... ah entahlah, intinya dia baru saja putus.
Sebentar lagi ia harus turun untuk menampilkan sebuah lagu bersama rekannya. Gitar akustik yang sudah menemaninya sejak kecil tergeletak di samping tubuh Randi. Menunggu untuk dimainkan pemiliknya.
Tapi sebelum itu, Randi ingin mengosongkan pikirannya terlebih dahulu supaya rasa bosan saat bermain gitar tidak muncul di atas panggung.
Pintu terbuka menampilkan seorang gadis dengan buku di tangannya. "Kamu yang namanya Randi?"
Lelaki itu mengangkat kepalanya menatap gadis itu, "Ya, kenapa?"
"Disuruh ke lapangan sama panitia, katanya bentar lagi giliran kamu tampil."
Mendengar hal itu, Randi beranjak dari tempatnya kemudian mengambil gitar dengan tangan kanan. "Oke, thanks."
Gadis berambut hijau itu melangkah pergi karena tugasnya untuk menyampaikan sudah selesai.
Randi baru sadar dia mematikan ponselnya. Pantas saja panitia mengirim seseorang untuk memanggilnya.
Lelaki itu pun menuruni anak tangga menuju lapangan. Tapi langkahnya terhenti ketika telinganya mendengar alunan merdu yang dihasilkan piano.
Randi kenal betul lagu yang dimainkan. Vivaldi - Spring.
Lelaki itu terpesona akan suara menyegarkan yang membuatnya teringat perasaan musim semi. Ia mempercepat langkahnya menuju panggung yang berada di tengah lapangan. Jantungnya mulai berdegup kencang, rasa penasaran yang sudah lama mati kini kembali hadir di hatinya.
Randi sangat ingin tahu siapa yang bisa memainkan lagu itu dengan sempurna.
Dan kini, ia sudah tahu siapa. Vienna, gadis yang terbalut gaun one piece putih dengan empat garis yang menghiasinya, duduk dengan nyaman sambil menggerakkan jari-jarinya sehingga terlihat menari di atas tuts piano.
Raut serius terlihat di wajahnya dan sesekali senyuman sehangat mentari tercetak di wajah sawo matang itu.
Randi tertegun. Hampir saja ia melepaskan gitar di tangannya.
Telapak tangannya menyentuh dadanya dengan pandangan yang tak bisa dialihkan dari gadis cantik itu.
Randi belum menyadari bahwa ia sedang jatuh cinta.
Sejak saat itu, Randi mencoba mendekati Vienna. Di mulai dari berkenalan dengannya, belajar bersama, bermain musik bersama, dan melakukan hal-hal kecil bersama.
Namun, percakapan mereka terkadang terhenti di suatu titik.
"Tau ngga sih, Naruto katanya mati." Celetuk seorang lelaki ketika Randi datang ke kelas Vienna untuk sekedar menyapa.
Mendengar hal itu, Vienna beranjak dari duduknya dan mendekati para lelaki itu. "Kata siapa?"
"Kemaren, liat di forum. Katanya yang udah baca manga Boruto, Naruto bakal mati."
"Iihh!!! Jangan nyebar hoax kalo kamu belum liat langsung. Pokoknya aku engga terima kalo Naruto mati! Yakali dia udah berusaha dari kecil sampe bisa jadi Hokage tapi ujung-ujungnya mati. Ugh!! Makanya aku engga suka Boruto gini nih, karakter yang di Naruto engga ada spesialnya sama sekali!"
Randi terdiam menatap Vienna yang terlihat menggebu-gebu membicarakan hal yang tidak ia mengerti. Naruto? Boruto? Hokage? Ini pertama kalinya lelaki itu mendengar istilah itu.
Selain itu, baru kali ini Randi melihat sisi lain Vienna yang selalu terlihat lembut. Dia terlihat benar-benar tidak terima atas apa yang kedua lelaki itu bicarakan.
"Musuhnya aja beda, wajarlah. Waktu jamannya Naruto, musuh mereka sama-sama manusia. Paling yang beda cuman Kaguya doang, dan itu pun mereka sampai mati-matian ngelawannya."
"Itu karena mereka udah ngelewatin beberapa hari perang. Coba generasi Boruto ikut perang dunia ninja, apa mereka masih sanggup ngelawan Kaguya abis ngalahin dari musuh paling lemah sampe madara?"
Randi yang terbiasa memimpin rapat diskusi, tidak bisa menyela karena ia tidak mengerti konteksnya. Ia hanya bisa berdiri di samping sambil memikirkan apa yang mereka bicarakan.
Merasakan kehadiran Randi, Vienna menatapnya. "Menurut kamu aku bener kan, Randi?"
Mendapat pertanyaan tiba-tiba, Randi terkejut. "Apa?"
"Ini, tentang Naruto. Dia engga bakal mati, kan?"
"Ah... itu, menurutku..."
Ucapan Randi terdengar tidak percaya diri, hal itu sangat berbeda dengan Randi yang biasa ia kenal. Kemudian ia menyadari suatu hal, "Oh iya, aku lupa kamu engga ngerti anime. Gak usah dijawab juga ngga apa-apa."
Lantas, ucapan Vienna membuat jantung Randi terasa tertusuk ribuan jarum. Ia merasa tidak dibutuhkan oleh gadis itu. Apalagi tatapan Vienna yang seolah menyayangkan keadaan Randi yang tidak mengerti hal yang mereka bicarakan.
Seolah mengabaikan keberadaan Randi, ketiga siswa itu kembali melanjutkan diskusi mereka.
***
Hari ini, Randi memutuskan untuk menyatakan perasaannya. Walaupun hal yang mereka sukai tidak selalu sama, Randi yakin hubungan mereka akan baik-baik saja. Bahkan, tadi malam pun mereka masih sempat mengucapkan selamat malam.
Randi sudah menyiapkan bunga mawar favorit Vienna dan coklat karamel yang biasa gadis itu beli sepulang sekolah.
Ia bersiap lebih dari biasanya. Melangkah menuju sekolah, mengharapkan hasil yang sudah pasti.
Sebagai seorang lelaki, Randi memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Tidak ada gadis yang menolak pesonanya, Randi bahkan berusaha mengikuti apa yang disukai Vienna untuk mendapatkan hatinya.
Jadi sudah jelas pernyataan cintanya akan diterima.
Bel yang menandai berakhirnya aktivitas belajar mengajar terdengar merdu di telinga Randi. Ia sudah mendapatkan janji untuk bertemu dengan Vienna di area belakang sekolah.
Sesampainya disana, Randi melihat Vienna. Senyuman merekah di wajah lelaki itu ketika dia bergegas mendekatinya.
Namun, gadis itu terlihat sedang berbicara dengan seorang lelaki. Randi tertegun melihat wajah paling ceria Vienna yang tidak pernah ditunjukkan padanya. Lelaki itu merasa bahagia melihatnya, namun pemandangan tangan mereka yang saling bergandengan membuatnya terganggu.
Randi mencoba berpikir positif, mungkin saja dia kakaknya walau ia tidak pernah mendengar bahwa Vienna memiliki kakak laki-laki.
"Vienna, siapa dia?"
Mendengar suara yang dinantikan, Vienna menghadap Randi. "Oh, hai Randi. Kenalin dia pacarku, Leo."
"Apa?" Randi terkejut mendengar hal itu, "kamu pasti becanda."
Vienna terkekeh pelan, "Apa aku keliatan becanda? Aku ngga pernah bilang hal ini, karena yah... kamu engga begitu istimewa buat tahu hal ini." Kemudian tatapannya berubah datar tanpa emosi di dalamnya. "Kamu cuma cowok brengsek yang egois."
Gadis itu melihat bunga mawar dan kotak yang familiar di tangan Randi. "Apa itu buat aku?"
Masih belum pulih dari rasa terkejut, Randi tidak bisa menjawab dengan benar. "Ah... ini..."
"Mending kamu kasih ke orang lain, aku alergi bunga sama karamel." Vienna tersenyum lembut seolah hal yang ia lakukan tidak akan menyakiti siapapun.
Randi menatap Vienna tak percaya. Gadis yang selalu terlihat lembut dan sehangat mentari kini terasa dingin dengan kata-kata yang menusuk hati.
Ini pertama kalinya ia menyukai seseorang. Ini pertama kalinya ia tidak bosan bersama dengan seseorang selama lebih dari satu bulan. Ini pertama kalinya ia ingin gadis itu tetap berada di sisinya.
Tapi, kenapa hal ini terjadi?
"Oh, satu lagi. Leon mau bilang sesuatu sama kamu, aku pergi duluan."
Randi tidak terima dicampakkan. Vienna yang ia kenal juga menyukainya. Pasti menyukainya. Melepaskan bunga dan kotak karamel di tangannya, Randi mencoba menghentikan Vienna untuk pergi.
"Vienna, apa maksud kamu?! Kamu pasti becanda!"
Belum sempat menggapai tangan Vienna, Randi sudah ditarik oleh kekuatan yang besar dari belakang.
"Mau kemana kamu? Urusan kita belum selesai," Randi tertegun melihat tatapan Leon. Ia mengenali tatapan tajam dan mengerikan itu. Randi sudah tahu, dia tidak bisa menghadapinya sendirian.
Dia adalah Leon. Lelaki yang terkenal akan keahliannya dalam bela diri. Tapi Randi tidak akan menyerah semudah itu.
"Beraninya kamu mendekati pacarku setelah mencampakkan adikku. Aku dengar kamu cowok yang brengsek, tapi tidak tahu bahwa kamu sebusuk ini."
Hari itu, terjadi perkelahian yang membuat gempar seluruh sekolah. Perkelahian yang akan diingat siapapun. Dan membuat orang-orang semakin takut kepada Randi. Sehingga pria itu dijauhi oleh seluruh siswa.
TAMAT
***
Tambahan
"Randi, ikuti aku."
"Kamu... gadis yang di atap waktu itu. Jangan dekati aku, aku ini cowok brengsek dan pantas di jauhi semua orang."
"Terus?"
"Apa?"
"Maksudku, memangnya kenapa? Cowok brengsek juga harus diobati jika terluka."
"..."
"..."
"Siapa kamu?"
"Aku Misya. Dan coklatnya apa mau dibuang gitu aja?"
"Ah... sepertinya iya."
"Mubazir, mending dikasih ke orang lain. Sini, aku siap nampung coklat."
***
Yang penasaran sama kisah Randi dan Misya, boleh cek cerpen aku yang judulnya "Kamu... Cinta Aku, kan?"
Terimakasih sudah membaca! 🤗